LOADING

Type to search

2017: Ajang Saling Serang Kepercayaan dan Identitas

COLUMN

2017: Ajang Saling Serang Kepercayaan dan Identitas

Siti Adela 24/12/2017
Share

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Kurang dalam kurun waktu seminggu, tahun 2017 akan resmi meninggalkan cangkangnya dan beringsut menyongsong fase berikutnya. 2018, tahun yang disinyalir tidak akan lebih baik dibanding pendahulunya. Eits, jangan keburu bersedih. Siapa tahu kebaikan akan datang karena kasihan melihat Anda yang tertimpa kesialan sepanjang tahun. Kali ini, saya tidak akan menyertakan prediksi, mengingat meramal jauh di luar kemampuan hamba sahaya ini.  Sebagai gantinya, retrospeksi berupa uraian akan diberikan khusus untuk para pembaca setia Incotive.

Setiap kali Desember menyapa, bahasan mengenai retrospeksi selalu laku bak kacang goreng. Media  sibuk mengulas “Top 10” versi masing-masing yang sebenarnya merupakan suatu pengulangan yang melelahkan. Tentunya Anda juga bisa menulis narasi retrospeksi sendiri. Hal inilah yang akan menjadi dasar penentu resolusi Anda di tahun depan. Khusus untuk 2017, kilas baliknya menyajikan beberapa hal menarik.

Tak sedikit yang bilang tahun ini bobrok namun penuh unsur jenaka. Bikin senewen, tetapi berakhir dengan tawa sebagai simbol ejekan atas kebodohan yang tertera. Dunia boleh mengutuk sekaligus menertawakan Donald Trump karena kebijakannya yang cenderung egosentris dan bodoh.  Tidak ada yang lebih rasional dari rencananya untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko dan menerapkan travel ban pada beberapa negara di Timur Tengah. Metode “contemporary diplomacy” yang digunakan oleh Trump melalui media sosial lebih mirip cuitan seorang ABG yang gampang kesal. Tidak ada seni diplomatisnya sama sekali!

2017 IG 2.png

Sentimen-sentimen terhadap orang kulit berwarna dan LGBT semakin santer diucapkan, membuat isu-isu cultural appropriation dan ekspresi rasisme yang diwujudkan melalui humor menjadi super sensitif. Representasi tokoh LGBT dalam pop culture dianggap sangat penting untuk mewakili kaum minoritas. Mungkin terdengar seperti remeh-temeh, buat apa orang sampai repot-repot mengurusi hal terkecil dan marah bila keinginannya tak tercapai?

Bagi aktor yang suka “bermain-main” dengan perempuan, siap-siap apes. Pasalnya, 2017 adalah tahun yang suram bagi para pelaku pelecehan seksual. Kebanyakan pelaku berkilah tidak mengetahui bahwa aksinya dahulu termasuk dalam kategori melecehkan. Di Hollywood, nama Harvey Weinstein melambung bukan karena karyanya, melainkan banyaknya tuduhan yang ditimpakan padanya. Setiap minggu, paling tidak ada satu sampai dua berita mengenai dirinya dituduh sebagai pelaku pelecehan seksual. Tidak hanya Weinstein, artis besar seperti Kevin Spacey serta Melanie Martinez juga tersandung kasus ini. Tidak sedikit yang menilai bahwa “saling tuduh-menuduh”. Hal tersebut membawa agenda di belakangnya sengaja menjatuhkan harkat martabat sang tertuduh atau mengangkat pamor sang penuduh. Di Internet, Anda bebas untuk menetapkan pendirian: percaya atas dasar solidaritas atau justru meninggalkannya karena umumnya tuduhan tersebut dibangun tanpa bukti yang konkrit.

2017 IG 3.png

Lain lagi dengan Indonesia. Tone konfliknya klasik, tetapi ia bagaikan senjata yang dipersiapkan sebaik mungkin. Semakin lama ujungnya semakin runcing. Sebagian sudah keabisan akal menghadapi kelompok-kelompok tertentu yang gemar memanggil lawannya dengan “cebong” – sebuah panggilan yang mengibaratkan betapa kerdilnya otak Anda. Ada-ada saja konfliknya. Terakhir yang sedang ngetop adalah kemelut yang menyelimuti masyarakat terhadap MK yang dianggap “melegalkan” zina hingga video dakwah mengenai larangan mengucapkan Selamat Hari Ibu. Seolah-olah masalah mengucapkan Selamat Natal belum usai, sudah dibumbui kembali oleh berbagai rempah-rempah yang tak kalah ‘panas’.

2017 IG 4.png

Should we rely on Internet way too much? I don’t think so.  Namun, akui saja – kekuatannya dalam menggiring opini publik patut diacungi jempol. Nyatanya massa untuk acara demo terkenal di ibukota digerakkan oleh akun-akun media sosial yang senantiasa ramai menyuarakan idenya. Berbagai dalil dan sunah disuarakan untuk meraih tujuan yang telah diidam-idamkan. Rasanya memang tidak afdol kalau minimal embel-embel “politik” hilang dari agenda pembahasan Anda, utamanya hal-hal yang menyangkut identitas dan kepercayaan.  Sesuatu yang sangat dekat dengan hati sanubari, kemudian dicabik-cabik oleh segelintir orang yang tidak Anda kenal. Kalau kata seorang pedangdut kondang, sakitnya tuh disini!

Dunia maya diibaratkan sebagai wilayah tak bertuan. Hukum rimba otomatis berlaku disini. Minim batas teritorial karena tidak ada yang berhak untuk mengklaim batasnya sendiri. Asik saja berseloroh hingga salah satu pihak merasa tidak nyaman. Ia telah ada sebagai saksi dari segala macam pergerakan sosial. Mulai dari coretan-coretan ketidakpuasan netizen terhadap suatu pihak hingga demo besar-besaran. Banyak kepala, banyak pula isi otaknya. Tidak mungkin menyatukan semua ide karena perbedaan yang signifikan satu sama lain, menyisakan jarak yang tidak bisa dijembatani oleh sekadar itikad baik.

Mungkin akan bertentangan dengan tujuan di atas, tapi saya mau memasang sebuah ramalan (yang pasti!). Diperkirakan perseteruan ini akan tetap berlanjut hingga satu pihak mau “kalah” dengan mengakui kelebihan lawan alias rela dipermalukan. Antara menyerah dengan keterbelakangan, atau mengikuti grand-narrative yang diciptakan masyarakat sedemikian rupa. Tidak akan menyelesaikan masalah sih, hanya akan memperkuat ego yang menang saja. Sifat dasar masyarakat yang saling curiga dan mudah berselisih terus menjadi hambatan utama bagi orang-orang idealis: gambaran akan perdamaian masih jauh dari jangkauan mata telanjang.

Akhir kata, semua akan kembali lagi kepada kita, otak dari segala macam tindakan. Dimanakah sikap berani mengatakan yang benar dan berani bertanggungjawab? Kenyataan bahwa sebagian masyarakat cacat dalam membangun argumen yang logis begitu nyata dan mengkhawatirkan. Apa mau dikata,  wacana pengadaan tipe soal esai dalam UN SMA saja sudah bikin siswa kalang kabut. Apalagi waktu kuliah? Kemudian satu hal yang sangat menganggu sanubari saya, pemaksaan keyakinan tidak akan membuat Anda lebih baik dari individu lainnya, apalagi mengutuk. Toh kita ini siapa? Hanya titik kecil  dalam sebuah galaksi, tak berdaya di hadapan Sang Pencipta. Maha Agung, Maha Kuat; sewaktu-waktu Ia akan menggulung alam semesta dengan sekejap mata. Hasta la vista, semoga semua makhluk berbahagia.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *