LOADING

Type to search

A Brief Tale of a Long Search: Sebuah Pengalaman Eksistensialisme ala Loner Lunar

FEATURED SELECTION

A Brief Tale of a Long Search: Sebuah Pengalaman Eksistensialisme ala Loner Lunar

Abyan Hanif 18/10/2019
Share

“Kalo Warpaint bikin album pas Emily, Theresa, Jenny dan Stella lagi dilanda kebingungan pasti hasilnya bakal identik sama album ini”

Akhirnya selang lima bulan sejak rilisan single pertama mereka yang berjudul “War in My Mind”, akhirnya tepat pada tanggal 27 Agustus 2019, Loner Lunar merilis “A Brief Tale of A Long Search” yang merupakan album penuh pertama mereka dan juga sebagai lagu-lagu pendukung “War in My Mind” agar pesan dari Loner Lunar tersampaikan secara utuh kepada para pendengarnya.

Berdasarkan rilisan pers yang dikirim oleh Loner Lunar, album “A Brief Tale of a Long Search” bercerita tentang pertanyaan eksistensial dari masing-masing personilnya yang timbul karena perasaan-perasaan seperti kesendirian, keputusasaan, kemarahan, duka yang mendalam.

Pertama kali saya mendengarkan secara penuh album perdana dari Loner Lonar adalah ketika acara pra-dengar yang diadakan di Musat pada Jumat, 20 September. Ketika itu, suasana ruangan dibuat seintim mungkin dimana sekitar 30 orang yang datang ditempatkan pada suatu ruangan yang tidak besar dengan lampu yang sengaja dimatikan ketika album tersebut akan diputar. Kesan yang paling saya rasakan ketika itu adalah kesepian, walaupun berada di satu ruangan kecil yang dipenuhi oleh sekitar 30 orang, tetap saja saya merasakan kesepian.

Acara pra-dengar Album Loner Lunar di Musat. Foto oleh Larissa Atmawati.

“Modulasi mengawang-ngawang yang aneh nan misterius pun menambah kesan tak punya tujuan dan keterasingan yang sesuai dengan tema yang diangkat oleh Loner Lunar pada album ini”

Dimulai dari track pertama yang berjudul “Loner”, kesan hampa, kehilangan arah, dan kebingungan mulai menjejali telinga saya melalui dentingan synthesizer atau bass dari Emir Mahendra dan melodi gitar dari Ivan Rivaldi atau Julian Pratama dengan delay dan reverb tebal dibelakangnya, ditambah dengan nada vokal dari Jasmine “Kane” Ansori yang terkesan setengah-setengah, semangat engga tapi sedih juga engga.

Ketika dentuman floor dan kick dari Kevi Tumbuan muncul, mulai jelas arahnya menjadi tembang yang semangat dengan sedikit sentuhan optimisme yang seakan membisikan kalimat ‘Semua akan baik-baik saja’ dalam bahasa musik. Track kedua diisi oleh lagu ‘Aru’. Ya! Judul tersebut memang terinspirasi dari studio rekaman dengan nama yang sama juga menjadi tempat rekaman lagu tersebut. Pensuasanaan dari lagu ini kurang lebih hampir sama dari lagu sebelumnya, namun pada lagu ini beat drum-nya menggunakan drum digital pada awal lagu yang saya pribadi sedikit kurang sreg. Selain itu, synthesizer yang menghasilkan ambience-ambience yang ditempatkan lebih di depan sehingga perasaan mengawang lebih kental terasa pada lagu ‘Aru’.

Track ketiga giliran tembang favorit saya pada album ini, yang juga merupakan single pertama yang dirilis oleh Loner Lunar yaitu “War in My Mind”. Saya merasa bahwa lagu ini memiliki peran integral di dalam album “A Brief Tale of a Long Search”, dimana semua pesan yang ingin disampaikan oleh Loner Lunar sudah disinggung melalui lagu ini. Judulnya pun sudah jelas menggambarkan isi dari album perdana ini.

Selain sisi konsep, komposisi dan aransemen pada lagu ketiga ini juga sangat menarik menurut saya. Vokal dari Jasmine yang powerfull didorong dengan dentuman drum yang ‘rame’ merupakan faktor utama yang menjadikan “War on My Mind” menjadi lagu favorit saya pada album ini.

Lagu keempat diisi oleh “Escape”, fokus saya langsung tertuju pada bassline dari Emir yang sangat groovy dan juga vokal dari Jasmine yang lagi-lagi membuat saya terpesona. Suasana yang saya rasakan di lagu ini adalah harapan yang tinggi dengan semangat yang kembali berkobar lagi ditandai dengan part akhir dari lagu tersebut.

Dilanjut dengan lagu kelima berjudul “The City (You’re Missing From Me)” yang merupakan lagu tersedih dan terdalam menurut saya, perasaan kehilangan secara kental terasa pada lagu ini, entah itu kehilangan seseorang, perasaan, atau sesuatu dan hal tersebut sangat relevan bagi saya.

Track keenam merupakan tempat yang pas untuk “Soon”, setelah dicekoki oleh lagu bertempo cepat, pada lagu “Soon” tempo pun diturunkan. Dengan drum yang terasa sedikit di-swing membuat lagu ini cocok untuk bermalas malasan di kosan sambil menangis memeluk bantal.

Lalu, lagu ketujuh diisi oleh .Fin, sedikit kaget bahwa ternyata Baskara atau Hindia ikut berpartisipasi dalam lagu tersebut. Usut punya usut, kalau tidak salah pada saat pra dengar, lagu ini merupakan materi dari Hindia yang sedikit menjelaskan kenapa warna pada lagu ini terasa berbeda.

Lagu terakhir diisi oleh “Lost/Found” yang berkolaborasi dengan Eky Rizkany atau Reruntuh. Entah kenapa saya langsung terbayang jika Honne nongkrong bareng Sigur Ros pasti lagunya bakal kaya ini. Dengan dentingan piano yang sangat cocok dijadikan sebagai lagu penutup.

 “Materi yang digarap secara serius dan tidak asal-asalan oleh Loner Lunar dan mixing-an yang menawan membuat Loner Lunar sukses menyampaikan keluh kesah mereka secara utuh kepada para pendengarnya.”

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati album perdana dari Loner Lunar ini walaupun ada sedikit nilai kurangnya, seperti warna musik yang cukup monoton. Namun hal tersebut dibantu dengan kolaborator seperti Hindia dan Reruntuh yang seakan menambahkan warna baru dalam album tersebut.

Modulasi mengawang-ngawang yang aneh nan misterius pun menambah kesan tak punya tujuan dan keterasingan yang sesuai dengan tema yang diangkat oleh Loner Lunar pada album ini.

Pada akhirnya, materi yang digarap secara serius dan tidak asal-asalan oleh Loner Lunar pada album “A Brief Tale of A Long Search” dan mixing-an yang menawan membuat Loner Lunar sukses menyampaikan keluh kesah mereka secara utuh kepada para pendengarnya. Nilai positif tersebut menjadikan album ini sebagai album terbaik kedua pada tahun ini versi saya, setelah album “For C. Marlowe” dari Lamebrain.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *