LOADING

Type to search

Antara Dua Pilihan: Berada atau Diadakan

COLUMN FEATURED

Antara Dua Pilihan: Berada atau Diadakan

INCOTIVE 31/08/2018
Share

teks: Lulu Nuari
Ilustrasi: Nuraulia Mugniza

Saya bukan golongan murid ilmu fisik atau produk pengamat semesta. Saya berhenti dipaparkan dengan hukum-hukum newton sejak empat tahun lalu berbarengan dengan saya berhenti memakai rok abu-abu lima hari dalam seminggu. Tetapi enam tahun dihadirkan dalam setiap penuturan ilmu dasar fisika di sekolah membuat saya lebih banyak tertarik di bidang tersebut dibanding cabang ilmu lain (mungkin pengecualian untuk sosiologi dan seni rupa), lalu muncul lah orang-orang yang bertanya “kenapa ga masuk teknik aja?”, tetapi nanti saya cuma bisa memberi jawaban rancu yang kurang memuaskan, jadi bagian itu kita lewat dulu saja bagaimana? Yang mau saya bahas kali ini tentang momentum, at least pemahaman minim saya tentang hal tersebut. Tapi bukan, bukan ilmu pastinya yang mau saya bicarakan, saya kurang pintar kalau itu.

Sebuah tulisan membantu saya paham tentang apa itu momentum. Segala objek yang bergerak memiliki momentum. A mass in motion. Momentum tidak akan berubah tanpa adanya gaya dari luar yang dipengaruhi atau mempengaruhinya, maka disebut sebagai sistem tertutup. Energi yang ada dan terus menggerakkan objek dalam keteraturan sistem tertutup disebut sebagai impetus. Bahkan Buridan dalam salah satu postulat-nya mengatakan Tuhan, dalam menciptakan alam semesta ini, menempelkan impetus pada setiap orbit dan materinya sehingga mereka terus bergerak tanpa Ia perlu menggerakkannya lagi. Mudahnya, Newton’s cradle. Jadi intinya, segala hal di dunia yang kita kenal ini punya momentumnya masing-masing. Jika berdasarkan Newton, maka besarnya tergantung pada massa dan kecepatan objek tersebut.

Lalu ketika suatu momentum berbenturan dengan momentum lainnya, maka yang terjadi adalah pembentukan suatu momentum baru. Segala hal di dunia ini tidak bisa kabur dari takdir momentumnya. Materi dan antimateri yang saling bersentuhan melahirkan alam semesta dalam bentuk paling primitifnya, uap air bergandengan dengan udara dingin dan inti awan menyebabkan hujan jatuh dari atmosfir lalu menumbuhkan akar-akar pohon, Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam dan dijadikan saling kasih lalu mereka bersenggama dan memulai garis keturunan manusia di bumi; tapi tidak, pembentukan momentum tidak melulu besar, tidak perlu juga besar. Kadang yang dibutuhkan justru dua momentum yang sedemikian kecil dalam hitungan milisekon untuk menyebabkan perubahan momentum besar pada suatu sistem tertutup.

Lagipula hukum lain perihal momentum adalah besarnya bergantung pada tiap kerangka referensi. Contoh, Romeo dan Juliet sedang duduk diam dalam kincir ria yang sedang berputar. Seorang pengamat yang berdiri di luar kincir ria mengganggap Juliet memiliki momentum karena ia punya massa dan ia bergerak. Namun menurut Romeo, Juliet tidak bergerak sehingga Juliet tidak punya momentum. Berbeda lagi apabila si pengamat berada dalam pesawat yang sedang bergerak di samping kincir tersebut dengan kecepatan yang lebih lambat. Maka disimpulkan momentum bersifat relatif terhadap kerangka referensi si pengamat. Suatu momentum yang dianggap kecil oleh seseorang, bisa jadi merupakan hantaman momentum paling dashyat yang pernah dialami oleh seorang lain dalam sistem tertutupnya.

Seorang manusia bermomentum, dan manusia lain bermomentum. Mereka bergerak aktif dengan dorongan impetus dalam aturan sistem tertutupnya masing-masing pada ruangan sempit yang disebut universe. Dengan jutaan manusia di Bumi, bayangkan betapa rentan sistem-sistem tertutup itu untuk saling berbenturan satu sama lain hingga pembentukan momentum baru pun menjadi tidak terelakkan. Kadang momentum baru yang terbentuk itu sangat besar, kadang hampir tidak berarti perubahannya. Tetapi perubahan momentum yang dibentuk oleh objek A saat ia bertabrakan dengan objek B, belum tentu sama besarnya dengan saat objek A bertabrakan dengan objek C. Lagipula hukum kerangka referensi menjadikan momentum A mungkin jauh lebih besar apabila diamati oleh objek C dibandingkan saat ia diamati oleh objek B. Pada akhirnya segala sesuatu di dunia ini bersifat relatif dan bersandar pada takdirnya, begitu juga momentum.

Mungkin hal itu juga yang terjadi saat dua manusia tertentu saling bertatap untuk kali pertamanya dan menjadikan ion-ion bermuatan listrik positif memasuki membran sel-sel neuron optikus, lalu menciptakan potensial aksi yang membawa stimulus penglihatan ini ke lubuk otak untuk diterjemahkan dalam bentuk abstraknya lewat sistem emosi di sekujur badan; dan seluruh proses maha hebat itu menghabiskan tidak lebih dari tujuh milisekon. Mereka beruntung karena momentum mereka saling bersandar pada takdir yang menjadikan mereka bergerak oleh satu impetus pada suatu sistem tertutup bersama. Tetapi kadang, dua manusia dapat terus berbenturan momentum sepanjang hidupnya dan—tetap—tidak terbentuk lompatan momentum baru yang cukup kuat untuk mengubah sistem tertutup yang diisinya. Maka satu-satunya hal wajar untuk dilakukan oleh kedua manusia itu selanjutnya adalah saling melepaskan pilihannya satu sama lain dan mulai mencari momentum baru yang dalam kerangka referensinya bermuatan lipatan kali lebih hebat untuk mempengaruhi sistemnya.

Bersamaan dengan selesainya kontemplasi yang sedari lama tidak kunjung menemukan titik arti hingga akhirnya kini menemukan titik terangnya, ia lalu menutup buku tulisnya dan tersenyum. Perempuan itu mengangkat kepalanya dan melayangkan pandangannya ke sosok laki-laki yang sudah dari lama duduk disana, tidak jauh dari tempat duduknya sendiri. Layaknya tiga jam terakhir yang habis berlalu tanpa laki-laki itu menyadari keberadaan dirinya, sementara ia setengah mati menahan renjana yang menggebu-gebu—lima tahun terakhir juga habis berlalu tanpa laki-laki itu tahu keberadaan perasaan lebih yang perempuan itu miliki terhadapnya. Tetapi lima tahun bukan waktu yang sebentar, lima tahun sudah bisa menyiapkan anak yang baru lahir untuk masuk sekolah dasar—untuknya, lima tahun adalah batas waktu terpanjang yang dibutuhkannya untuk menutup lembar buku tulisnya, dan perasaannya. Mungkin orang itu tidak akan pernah tahu, atau tahu, sudahlah, kini ia hanya ingin berjalan dalam momentumnya sendiri tanpa berupaya mengejar-ngejar momentum lain yang tidak memandangnya sebagai momentum yang tepat untuk bergerak dalam sistem tertutup bersama. Ia lalu membereskan buku-buku di hadapannya, memasukkannya ke tas, berjalan menuju pintu—dan bangga saat ia tidak lagi menengok ke belakang ketika keluar dari coffee shop favoritnya.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *