LOADING

Type to search

Antiporno: Film Semi Porno yang Feminis

FEATURED SELECTION

Antiporno: Film Semi Porno yang Feminis

Share

“Antiporno adalah sebuah film pendukung feminis dengan bentuk yang para ‘feminis’ paling benci”

Satu sutradara kontemporer yang terkenal berani menjelajah tema-tema seksualitas dengan cara paling tak biasa. Sutradara itu adalah sang jenius asal negara timur, Sion Sono. Sering disebut sebagai pembuat film paling subversif yang bekerja di sinema Jepang saat ini. Sang sutradara membangun portofolionya dengan film-film yang absurd yang membahas hal sosial yang tabu di masyarakat. Salah satunya “Love Exposure”, film romance yang ia buat pada 2006 tentang cerita anak pendeta yang menemukan talentanya dalam memotret foto-foto underskirt dengan sentuhan kung-fu. Namun jangan terkecoh dengan premisnya, ini beneran film romance.

Bahkan “Love Exposure” juga mengandung pesan-pesan tentang keimanan, religi, dan tentunya, seksualitas. Hal terbaik dari film ini dan karya Sion Sono lainnya adalah ia mengerti cara memberi konklusi, sehingga film-filmnya walaupun ambigu, pada akhir film penonton akan mengerti apa yang sang sutradara ingin sampaikan. Beda dengan film-film “aRtHoUsE” lainnya yang biasanya menceritakan ceritanya seambigu mungkin agar para elitis atau para snob-film bisa memberikan penjelasan sotoy mereka dan merendahkan kalian apabila kalian tidak setuju dengan pendapat mereka (I’m looking at you, 2001: A Space Odyssey fans).

Maka dari itu tak heran jika pada tahun 2016 silam Nikkatsu mengundangnya untuk ikut serta merilis film dalam serial “Roman Porno Reboot Project” mereka. Kalian bisa cari tahu sendiri apa itu Roman Porno, namun jika dijelaskan secara singkat; it’s porn. Softcore porn, lebih tepatnya. Sejarahnya genre softcore porn (atau Pink Film) meledak dalam popularitas pada tahun 1970-an hingga 80-an di Jepang, bahkan bisa dibilang Nikkatsu bisa menjadi studio film paling tua dan bergengsi di Jepang karena kontribusi mereka dalam era tersebut.

Sion Sono, beserta empat sutradara bergengsi lainnya memberikan kontribusi mereka dalam proyek reboot ini. Namun karya Sion Sono lah yang justru paling menarik perhatian dan bukan karena adegan seks-nya yang mantap atau ceritanya yang ekstra panas. Justru Sono memberikan Nikkatsu kebalikan dari apa yang mereka inginkan. Film tersebut berjudul “Antiporno” (Anchipurono), dan judulnya saja sudah menggambarkan film ini dengan baik.

Awalnya bercerita tentang seorang novelis wanita bernama Kyoko yang egois, narsistik, dan sangat kasar, bermonolog di dalam studionya, bugil, sembari berusaha mencari ide baru untuk karya selanjutnya. Ia berbicara dengan elegan dan pede tentang wanita yang bebas adalah wanita yang terbuka dengan seksualitasnya dan tidak mengikuti perintah pria, memberikan aura wanita yang percaya diri dan tidak tunduk pada patriarki. Tak lama kemudian asistennya yang kaku dan terlihat lebih tua, Noriko, mengetuk pintu dan mulai membacakan jadwal sang novelis untuk hari ini.

Antiporno

Sifat wanita “prim and proper” yang ditunjukan Noriko membuat Kyoko geli, sehingga sang novelis memperlakukan asistennya dengan kejam, menyerangnya secara fisik maupun lisan bahkan memaksanya untuk menungging dan menggonggong seperti anjing. Lalu datanglah seorang jurnalis, fotografer, dan tiga pembantunya yang eksentrik ikut serta menyiksa sang asisten dengan salah satu asistennya yang mengenakan strap-on mulai memerkosanya atas perintah Kyoko.

Scene yang aneh ini, ditambah adegan-adegan masochistic-nya, penampilan karakternya yang outworldly, dan dialog yang absurd seperti sang asisten yang ingin “belajar menjadi pelacur” membuat scene ini sangat tidak nyaman untuk ditonton. Namun di saat film baru seperempat jalan dan kita mulai ingin menyerah nonton, “Antiporno” mulai membuka salah satu lapisannya: Kyoko membongkar karakternya dengan muntah saat scene tersebut semakin intens sehingga seorang sutradara yang kesal teriak “Cut!”.

Ini adalah scene dimana sebuah tim produksi yang berisikan lelaki semua sedang membuat film porno. Setelah ini “Antiporno” akan terus membuka lapisnya dan berkali-kali menipu penontonnya, memaksa emosi kita untuk mengikuti alur film dan ilusi-ilusi yang ia berikan, sampai akhirnya kita sampai di titik dimana esensi dari film ini terpapar dengan jelas. And it’s sad.

“Antiporno” adalah lawan dari film porno. Sebuah antitesis, jika boleh sotoy. Exploitation Film yang memvisualisasikan bagaimana industri porno di Jepang mengeksploitasi wanita sembari menunjukan bahwa dalam dunia patriarki, wanita hanya berharga jika ia bisa memuaskan kebutuhan seksual lelaki. Walaupun dipasarkan sebagai softcore porn, tema-tema seperti objektifikasi wanita juga ilusi kesetaraan dan kebebasan gender menjadi pesan utama dalam film berdurasi 1 jam ini.

Dari cerita Kyoko yang berasal dari keluarga konservatif yang adiknya belum lama bunuh diri karena orang tuanya tidak menerima keterbukaan seksualnya, hingga keputusan Kyoko untuk menjadi aktris porno karena ia ingin bebas dari label “culun” karena keperawanannya, sampai-sampai meminta seorang pejalan kaki asal untuk memerkosanya agar keperawanannya hilang.

Antiporno, melalui Kyoko, kurang lebih menceritakan keadaan perempuan di Jepang yang rela menjadi objek seks agar dianggap “menarik” oleh lelaki dan juga oleh dunia. Ini juga menjadi arti dari dialog mengapa semua wanita di film ini ingin menjadi pelacur; karena pelacur adalah objek seks paling dicari lelaki, dan menjadi pelacur berarti menjadi orang yang dibutuhkan.

Selain visual dan pesan yang terkandung di dalam setiap frame, satu hal yang harus diakui sangat baik dari Antiporno adalah performa pemerannya. Wabil khusus pemeran utama Ami Tomite sebagai Kyoko. Film yang penuh dengan keabstrakan ini sebenarnya berdasarkan kehidupan karakter Kyoko dan dikonsepkan seperti mimpi buruk terjorok yang sedang dialami oleh gadis 18 tahun yang kasian ini.

Dengan berbagai emosi yang ditunjukan Kyoko, Tomite berhasil memainkan semuanya dengan baik dan semakin menghidupi karakternya. Hal lain yang harus diberi tepuk tangan adalah keberanian Tomite dan lawan mainnya, Mariko Tsutsui, dalam beberapa adegan yang sangat berani. Adegan telanjang dalam sinema tidak pernah mudah, ditambah lagi fakta bahwa ini sebuah film Sion Sono. Namun Ami Tomite menunjukan profesionalitas tingkat dewi dan membawakan semuanya dengan elegan untuk mendukung pesan yang Sono dan “Antiporno” ingin ceramahkan.

Penuh kejutan, visual unik yang membekas di otak selamanya, acting yang luar biasa, dan juga pesan kesetaraan gender yang kuat. Antiporno adalah sebuah film pendukung feminis dengan bentuk yang para “feminis” paling benci. Sebuah kritik halus kepada industri pornografi dan juga pembuka mata untuk lelaki mesum dimanapun.

Sebuah film yang mempunyai banyak scene panas mantan trainee AKB48 dan Gravure Idol (Ami Tomite), juga scene seks lesbian aktris veteran (Mariko Tsutsui), yang anehnya saat scene itu muncul yang tumbuh dari dalam celana kita hanyalah rasa bersalah dan geli, memaksa kita untuk menjawab pertanyaan moral penting: “is this really okay?

Tags:
Bintang Adinugroho

Tujuan hidup babang hanyalah dua di dunia ini: menjelek-jelekan unit musik lokal kesayangan anda dan menyayangi gadis-gadis anime.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *