LOADING

Type to search

Aransemen Penuh Jiwa Arya Novanda dalam “Soul-Less”

DAILY FEATURED

Aransemen Penuh Jiwa Arya Novanda dalam “Soul-Less”

Janji Syahzar 27/06/2020
Share

Tahun lalu, seorang rekan saya merekomendasikan satu video musisi blues Indonesia. Hal yang saya ingat dari video tersebut hanyalah adegan seorang pria gondrong yang bernyanyi ditemani gitar Les Paul. Memang, saya berhasil melupakan video tersebut dengan cukup mudah.

Selang beberapa bulan, sebuah rilisan pers masuk ke kotak surat elektronik saya. Di tengah maraknya rilisan bernuansa delapan puluhan, ilustrasi lagu dengan estetik disco bukanlah hal yang jarang kita lihat. Menyangka akan mendengarkan lagu Nu-disco generik lainnya, saya ogah-ogahan mendengar materi yang disertakan dalam rilisan tersebut.

Lima detik pertama, lagu ini berhasil mendapat perhatian penuh dari saya. Saya langsung menghentikan pemutaran lagu untuk mencari headphone. Bagian awal rilisan berjudul “Soul-Less” ini memang memiliki daya tarik yang besar. Ternyata, usaha saya dalam menciptakan listening experience secara penuh tidak sia-sia.

Detail-detail kecil dalam lagu ini terdengar begitu menghibur. Sebut saja isian melodi ritmik pada bagian verse yang diletakkan di sebelah kiri. Elemen kecil tersebut mengisi celah dalam ritme yang ditinggalkan alunan vokal dan gitar. Di bagian berikutnya, pengucapan kata “satisfied yang diikuti aksen alat tiup kian meningkatkan aspek catchiness lagu ini. Tidak hanya itu, kocokan gitar tipis yang funky lalu datang melengkapi groove. Ketelitian aransemen seperti itu berkontribusi besar dalam musikalitas hingga akhir lagu.

“Soul-Less” adalah single ketiga solois blues rock bernama Arya Novanda. Lagu yang dirilis pada 5 Juni lalu ini mengingatkan saya pada musisi asal Australia bernama Harts. Bukan hanya kemiripan vokal yang membuat saya menyamakan dua musisi ini. Seperti lagu-lagu Harts, “Soul-Less” juga terdengar seperti persilangan antara Jimi Hendrix dan Prince.

Melodi gitar distorsi menyalak di tengah irama yang memikat. Meski begitu, keduanya satu padu. Menurut saya, perpaduan antara ‘ratapan garang’ ala blues dan keceriaan khas musik Soul-funk dalam lagu ini merupakan kombinasi yang sangat apik.

Begitu terhibur, saya lalu terdorong untuk mencari karya-karya terdahulu Arya Novanda. Ternyata, video musik yang saya sebutkan di awal tulisan adalah video lirik dari single kedua Arya Novanda yang berjudul “The Wonder”. Fakta tidak penting ini mendorong saya untuk memperhatikan kembali lagu tersebut.

Jika dibandingkan, dua lagu ini memiliki aliran yang cukup berbeda. “Soul-Less” memiliki sentuhan Soul-funk yang jauh lebih kental. Akan tetapi, baik “Soul-Less” maupun “The Wonder” masih bercerita tentang keresahan Arya akan dunia yang kehilangan cinta.

Hal yang menarik adalah perbedaan perspektif antara kedua lagu. Dalam “The Wonder,” Arya masih seperti menggurui pendengar tentang pentingnya cinta. Sedangkan dalam “Soul-Less,” keresahan Arya tampaknya sudah memuncak sampai-sampai lebih terkesan menghakimi daripada menggurui.

“You ain’t got no soul. I feel down, you can’t make me satisfied”

Lucunya, vonis sepihak tersebut dinyanyikan dalam lagu yang begitu karismatik. Daya tarik musikalnya membuat lirik “Soul-Less” tidak begitu terdengar seperti sudut pandang orang yang terkena Dunning-Kruger Effect. Arya telah berhasil menyajikan pandangan kritisnya dengan cara yang begitu funky. Aransemen dan eksekusi yang sangat rapi ini sukses menghasilkan lagu yang memiliki nilai produksi tinggi.

Bagi saya, “Soul-Less” adalah salah satu rilisan paling menghibur tahun ini. Semoga saja Arya Novanda segera mendapat jawaban atas keresahannya. Kalaupun tidak, kita sebagai pendengar mungkin akan kembali mendapatkan karya penuh jiwa dari Arya Novanda.

Tags:
Janji Syahzar

Mencoba menjadi penikmat musik yang apresiatif. Produser dan pemain bas Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *