LOADING

Type to search

Aul Persneling dan Persepsi Citra Diri di Balik Layar

DAILY FEATURED

Aul Persneling dan Persepsi Citra Diri di Balik Layar

Janji Syahzar 20/03/2020
Share

Pada akhir Februari 2020, saya dan editor saya berdiskusi tentang musik folk-pop di Indonesia. Kami melihat adanya saturasi musik folk bergaya Dylanesque. Sebutan tersebut iseng kami ciptakan untuk menggolongkan musik folk-pop yang memiliki kesamaan dengan karya Bob Dylan.

Karakteristik gaya Dylanesque ini terletak pada pentingnya peran vokal dengan sentuhan country dan gitar akustik. Terkadang, alat musik aerophone seperti harmonika, akordion, dan melodika juga menjadi elemen pokok dalam gaya Dylanesque. Elemen-elemen ini dapat terdengar jelas di lagu “Mr. Tambourine Man” oleh Bob Dylan.

Beberapa hari setelahnya, editor saya memperdengarkan karya terbaru dari singer-songwriter asal Jakarta bernama Aul Persneling. Dirilis pada 28 Februari, lagu berjudul “Di Balik Layar” terdengar kontras dengan musik folk-pop Dylanesque. Alih-alih gitar akustik dengan produksi mentah, lagu ini diiringi gitar yang dipenuhi dengungan reverb.

Menanggalkan elemen harmonika, lagu ini justru dipermanis oleh synthesizer dan beat elektronik. Melodi vokal yang sederhana juga jauh dari kesan country. Pelafalan lirik yang memiliki kesan ‘menyeret’ mengingatkan saya pada cara bernyanyi Kaka Slank.

Interaksi sosial memang kadang dipenuhi oleh kepalsuan. Apapun alasannya, manusia sering kali membuat citra diri baru yang tidak sesuai dengan jati dirinya. Kepalsuan citra diri tersebut menjebak kita agar melihat realitas sosial hanya dari perspektif yang sempit.

Menanggapi kondisi ini, Aul Persneling mencoba menyampaikan pesan klise ‘don’t judge a book by its cover.’ Pemilihan topik lagu ini dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi Aul sendiri. Kerap dicap secara tidak tepat, Aul Persneling menulis:

“Kau tak merasa apa yang kurasa

Kau tak mengerti apa yang terjadi

Kau tak mengerti apa yang terlewati”

Meskipun ditulis dan dinyanyikan secara sederhana, lirik tersebut tidak terdengar picisan. Berkat produksi dan aransemen yang apik oleh Bhanu Marais dan Aul sendiri, pesan klise tersebut masih dapat dinikmati. Pada akhirnya, kualitas suatu lirik hanya bisa dinilai berdasarkan kontribusi musikal terdahap lagu sebagai sebuah kesatuan yang koheren.

Lagu ini mamancing saya untuk mendengarkan diskografi Aul Persneling. Ternyata, rilisan terdahulu Aul Persneling jauh berbeda dengan “Di Balik Layar.” Pengaruh Dylan-esque sangat kental terasa di tiap lagu. Walau masih berada di bawah payung folk-pop yang sama, “Di Balik Layar” tidak terdengar generik.

Dalam rilisan pers, Aul menyatakan bahwa perubahan gaya bermusik ini adalah bagian dari upaya menggali dirinya lebih dalam. Saya pikir evolusi musikal Aul Persneling tersebut patut dihargai. Bagaimana tidak, Aul Persneling berani memadukan nuansa Trip-hop dan Alternatif di tengah saturasi Dylanesque. Hasilnya, ‘Di Balik Layar’ sukses menghembuskan angin segar pada musik folk-pop Indonesia. Terima kasih, Aul Persneling!

Tags:
Janji Syahzar

Mencoba menjadi penikmat musik yang apresiatif. Produser dan pemain bas Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *