LOADING

Type to search

BABANGBIN REVIEW: Astroworld by Travis Scott

FEATURED SELECTION

BABANGBIN REVIEW: Astroworld by Travis Scott

Share

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

“Untuk apa sebuah harta

Jika hatinya merasa suram

Untuk teman yang gembira hatinya

Kuucapkan Assalamu’alaikum” – Babang

Kita sudah berada di tengah tahun 2018 yang sepertinya tidak kunjung membaik. Dari bencana alam, hingga bencana ganjil-genap, berita terkini sepertinya hanya memberikan lagi-lagi alasan untuk bersedih. Untuk kalian yang baru saja lulus skripsi, babang ucapkan selamat dan prihatin: hidup dewasa anda telah mulai di waktu yang sepertinya tidak pantas untuk dihidupi.

Jika itu belum membuat anda cukup depresif, jangan lupa bahwa ini adalah bulan dimana remaja-remaja haus perhatian secara serentak membahayakan dirinya dan pejalan kaki disekitarnya dengan keluar dari mobil mereka yang masih jalan dan melakukan ritual dansa aneh menyembah tuhan mereka, Drake SWT. Entah dimana sisi keren dengan semua “challenge” ini, sepertinya setiap challenge yang muncul semakin alay dan menyebalkan. Mau tahu challenge terkeren yang bisa anda lakuin? “Buat orang tua lo bangga” challenge.

Sisi positif semua ke-alay-an milenial ini mungkin adalah viral marketing yang instan untuk lagu “In my Feelings” serta album “Scorpions” sang rapper Toronto. Ya setidaknya positif buat dia. Tapi kali ini giliran Travis Scott yang mengambil perhatian pop culture. Dengan merilis album ASTROWORLD, album yang paling diantisipasi oleh penikmat hip-hop modern pada tahun ini, Travis Scott siap menggemparkan kembali speaker mobil kalian dengan beat trap psychadelic keras ciri khas nya.

Pertanyaan nya adalah, is it good? Ya nggak juga sih. Sama seperti album-album sebelumnya.

Satu hal tentang Travis Scott yang selalu konsisten di setiap album adalah ke-tidak konsisten-nya kualitas lagu di dalam album tersebut. Biasanya hanya satu sampai tiga lagu yang memang berkualitas sangat baik, sisanya lagu-lagu tidak niat diproduksi yang sepertinya Scott sendiri buat hanya untuk mengisi slot lagu yang kosong. Tetapi Astroworld berbeda, setiap lagu terdengar di-produce dengan budget dan presisi yang besar. Fakta itu menjadi sangat menyedihkan setelah kita dengarkan album tersebut dan menemukan bahwa tetap saja lagu-lagu tersebut tidak ada yang enak.

Nama Astroworld terinspirasi dari sebuah karnival terkenal yang sempat berdiri di kampung halaman Scott, Houston. Album ini memang terasa seperti sebuah festival malam yang ramai, tetapi ini bukan sebuah pujian. Lengkap dengan musik yang bertabrakan dan teriakan-teriakan aneh, mendengarkan album ini serasa memasuki sebuah pasar malam kumuh yang setiap wahana dan pedagangnya memanggil-manggil dan membuat pusing.

Kita ambil contoh lagu pembukanya, Stargazing. Aneh dimana website garpu bisa memberi title Best New Track kepada lagu yang mempusingkan ini. Penuh dengan nyanyian auto-tune khas Travis Scott yang mengjengkelkan dan lirik yang sepertinya ditulis oleh remaja SMA yang baru saja mencoba ngerasain halusinasi psikotropika, Stargazing memberikan impresi pertama yang sangat jelek ke dalam album Astroworld ini walaupun memang hampir setiap lagu setelah ini terdengar mempusingkan semua. Baru, di menit 2:45 saat semua halusinasi gila itu mendadak berhenti, lagu ini berubah menjadi track trap halu-halu yang mendingan dan juga mengingatkan kepada A$AP Rocky, rapper asal New York kembaran jauh Scott.

Tapi tentu tidak semua lagu di album ini menjengkelkan. Ada sesuatu yang menagihkan saat mendengar lirik-lirik smooth di lagu “Sicko Mode” dari Scott serta tetangga sebelah nya, Drake. Selain itu ada “Skeletons” yang, menurut babang, adalah hasil kolaborasi artis terbaik yang sejauh ini babang dengar di tahun 2018. Travis Scott, Kevin Parker (Tame Impala untuk kalian para poser), The Weeknd, dan Pharell Williams dalam satu lagu psychadelic yang melankolis dan merdu. Ada juga yang mungkin setidaknya masih layak didengarkan seperti “Carousel” (it has Frank Ocean in it) dan juga “Coffee Bean” (Scott menceritakan hubungan dia dengan Kylie Jenner dalam sebuah lagu yang sangat personal).

Travis Scott memang terkenal karena sebuah estetika yang dia sudah pegang sebagai prinsip semenjak ia pertama kali muncul sebagai murid Kanye West. Kreatifitas yang Scott miliki sebagai artis hip-hop modern patut diacungi jempol. Namun kreatifitas dan keberanian untuk bereskperimen tidak ada artinya tanpa kekonsistensian dalam membuat kualitas yang baik. Pada akhirnya musik dia akan kembali digunakan untuk satu hal yang pasti: menguji kemampuan bass dan treble speaker mobil kesayangan kalian.

But hey, at least it still has it’s uses. Unlike the Asian Games song.

 

Babang’s Favourite: Skeletons, Sicko Mode

Score: 5 (Aslinya 3 kalau nggak ada dua lagu diatas)

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *