LOADING

Type to search

BABANGBIN REVIEW: Retrospective by Ping Pong Club

FEATURED SELECTION

BABANGBIN REVIEW: Retrospective by Ping Pong Club

Share

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Dengan musik yang melankolis dan lirik penuh dengan kecanggungan ABG yang relatable banget, Indie Pop dan segala antek-anteknya telah menguasai internet dan kultur pop di seluruh dunia. Tidak cukup sampai digemari saja, namun Indie Pop telah menghasilkan sebuah gerakan anak-anak edgy, yang misinya setiap hari adalah untuk diakui bahwa mereka “berbeda” dan “unik”. Mulai terbiasalah dengan ini kawan, karena para penikmat Indie Pop tidak akan pernah berhenti berceramah jika hampir setiap hari ada saja satu unit Indie Pop baru yang muncul di gigs terdekat anda. Menyanyikan lagu melankolis yang sama dengan susunan lirik yang berbeda.

Tapi beruntungnya kita dan kuping kita, terkadang muncul unit-unit yang terlihat dan juga terdengar seperti yang biasanya, tetapi masih bisa memberikan sesuatu yang spesial. Salah satunya adalah Ping Pong Club dengan album perdananya yang berjudul “Retrospective”. Apakah mereka melakukannya dengan berbeda? Nggak juga sih. Justru yang Ping Pong Club lakukan hanyalah tidak berusaha untuk berbeda dan fokus kepada membuat lagu yang baik dan benar. Mereka melakukan apa yang seharusnya ratusan band Indie Pop dari seluruh dunia lakukan dalam album perdana mereka; yaitu menulis lagu dengan benar.

Ping Pong Club mengatakan bahwa nama mereka diambil dari efek filter Ping Pong yang terdengar seperti memantul-mantul di antara dua telinga. Efek ini juga menjadi ciri khas mereka dalam album “Retrospective” dimana hampir setiap lagunya memiliki track gitar dan synthesizer yang memantul kanan-kiri untuk menambahkan atmosfer yang lebih luas dan dreamy. Pujian juga harus dituturkan untuk mereka karena tidak meng-overuse hal ini sampai ke titik menjengkelkan.

Ada banyak lagu yang menurut babang patut didengarkan, namun “She’s Your Trouble” menjadi prioritas utama karena berhasil merebut hati, perhatian, dan uang rokok babang. Sebagai lagu terakhir dari album perdana ini, jika kita tidak menghitung dua lagu remix yang ada pada album ini, “She’s Your Trouble” terdengar sangat matang jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya dan yang paling baik merepresentasikan argumen babang tentang album ini secara keseluruhan. Ia terdengar seperti lagu pop dan memang mengakui bahwa ini lagu pop sehingga pembawaan lagunya sangat mudah di telinga. Jangan anggap ini singgungan, tapi coba bayangkan sebuah lagu Peterpan, namun dengan Ariel yang lagi membuka album foto lama dan mengenang masa remajanya yang seru, sembari aktif me-repeat Two Door Cinema Club dan Vampire Weekend. Comfy as fuck.

Sayangnya, sama seperti band Indie Pop pada umumnya, terkecuali satu-dua lagu, “Retrospective” masih memiliki lagu yang terinfeksi dengan lirik yang generic dan tidak kreatif. Lebih sayangnya lagi, lagu yang paling menderita dari gejala-gejala ini adalah “Skylight”, single yang mereka gunakan untuk mempromosikan album tersebut. “Skylight” mempunyai kualitas terendah dari lagu lainnya, membuat babang meragukan jika merekalah yang benar-benar menulis lagu ini. Liriknya yang repetitif bukan menjadi masalah utamanya, melainkan penggunaan deskripsi stereotipikal seperti “Gadis nongkrong di tempat kopi” dan “gaun old fashion” yang membuatnya terdengar pretentious dan secara dangkal diletakkan agar bisa terdengar lebih relatable untuk audiensnya. Mungkin babang yang salah dan kebetulan aja lirik itu adalah visualisasi dari kenangan pahit oleh siapapun yang menulis lagu itu. Namun kalaupun itu benar, “Skylight” tidak menjadi lebih baik dan tetap terdengar membosankan. Seakan-akan Ping Pong Club menerima format cara membuat lagu Indie Pop dan terlalu malas untuk merubah apa-apa.

Sebagai penutup, babang hanya ingin berkata bahwa kita hidup di era soft bois. Sebuah era dimana maskulinitas sudah tidak lagi menarik dan lelaki beta diagung-agungkan. Selamat tinggal kepada kalian atlet dan remaja giat tawuran, kalian tidak lagi keren. Kini giliran emosi, anime, dan tentunya Indie pop yang membuat para gadis becek. Dengan penuh hormat kepada Fasya Suryadini, pemain synthesizer dan satu-satunya anggota perempuan dari Ping Pong Club, babang mengatakan bahwa “Retrospective” berhasil membuat babang basah di pipi, dan juga di hati. Melupakan satu lagu yang sedikit mengecewakan, album perdana Ping Pong Club menghidangkan koleksi lagu Indie pop yang ranum, manis, mudah di telinga, dan menjadi contoh terbaik bahwa back to basics tidak selalu buruk.

Babang’s Favourite: She’s Your Trouble, Retrospective

8/10

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *