LOADING

Type to search

Babangbin Review: “The Perks of Being Twenty Something” by The Schuberts

FEATURED SELECTION

Babangbin Review: “The Perks of Being Twenty Something” by The Schuberts

Share

Ilustrasi oleh Rafii Mulya

“Lirik-lirik metaforiknya dapat diterjemahkan dengan baik oleh mereka yang muda, dan di beberapa lagu punya lirik yang cukup memorable”

Bagi kebanyakan orang, umur twenty something adalah gerbang awal menuju kedewasaan. Penyadaran bahwa untuk mencapai mimpi-mimpi kita saat bocah tidak semudah yang kita harapkan, dan status-status medioker yang kita bawa dari masa remaja kita sudah tidak lagi berguna. Pada saat kita berpikir masa depan kita sudah terencana, takdir seperti berkata “eits tunggu dulu” dan menghancurkan semuanya, membuat mereka yang bisa beradaptasi bertahan dan yang tidak, merana.

Walaupun tidak se-depresif paragraf pembuka di atas, hal ini yang ingin disampaikan oleh band indie rock The Schuberts dalam album terbaru mereka yang berjudul “The Perks of Being Twenty Something”, sebuah album yang bercerita tentang hal-hal yang dialami umur dua-puluhan yang dikemas dalam empat chapter utama: perjuangan mengejar apa yang benar-benar kita gemari, kesukaran menghadapi quarter-life crisis, hubungan yang retak, dan kesehatan kejiwaan yang terpengaruhi oleh hal-hal tersebut. Konsep ini dikemas melalui lagu-lagu jingle-jangle guitar pop yang nyaman di telinga.

Namun selebihnya, “The Perks of Being Twenty Something” masih gagal membawa hal yang spesial di skena penuh dengan “twenty-something kids singing about twenty-something life“. Tentu, lirik-lirik metaforiknya dapat diterjemahkan dengan baik oleh mereka yang muda, dan di beberapa lagu seperti “Panic Mixie Dream Boy” juga counterpart “feminim”-nya “Manic Pixie Dream Girl” punya lirik yang cukup memorable dan patut diberi jempol. Sayangnya riff-riff standar, serta komposisi yang repetitif membuat album debut The Schuberts sesuatu yang walaupun mudah diresapi, juga mudah dilupakan.

Nilai plus dari album ini terletak pada vokal Bahmaniar Ryou yang merdu dan berkarakter. Vokalnya yang beraksen membawa kesan melankolis yang jarang sekali terdapat pada pesaing-pesaingnya dalam skena musik. Seperti pada “Stations Three” yang temponya lebih rendah dibanding lagu lain dalam album ini, vokal Ryou yang berhasil menyentuh dan terdengar personal. Selain itu pada “Dyin’ Young”, raungan-raungan Bahmaniar yang kuat terdengar sangat emosional dan membawa rasa melankolis.

Namun jika Babang harus memilih favorit dalam album ini, juaranya sudah jelas single utama “Twenty Something”. Untuk sebuah album yang bercerita tentang the life of twenty-somethings, Babang merasa track pembuka ini paling menggambarkan hal tersebut. Track “Twenty Something” membawa nuansa coming of age yang kental; Energetic, keras, namun meninggalkan sedikit rasa bittersweet, seperti di balik kegirangan yang ia tunjukan ada sebuah kebingungan dan ketakutan terhadap sesuatu, dalam konteks ini: terhadap masa depan.

The Schuberts, melalui album debut mereka, dapat dengan mudah membuat crowd berumur dua puluhan manapun relate pada lagu-lagunya dan membuat mereka berdansa sembari melupakan stress quarter-life crisis sementara. Akan tetapi, ada penekanan khusus pada kata “sementara”, karena pada saat panggung bubar, yang bakal diingat oleh crowd tersebut ialah kuliah, skripsi, nyari kerja, masa depan, dan ribuan masalah twenty something lainnya, bukan lagu-lagu yang ada di dalam album “The Perks of Being Twenty Something”.

Babang‘s favourite: Twenty-something, Stations Three
7/10

Tags:
Bintang Adinugroho

Tujuan hidup babang hanyalah dua di dunia ini: menjelek-jelekan unit musik lokal kesayangan anda dan menyayangi gadis-gadis anime.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *