LOADING

Type to search

Babangbin Review: Self Portrait by Pathway Pleasure

FEATURED SELECTION

Babangbin Review: Self Portrait by Pathway Pleasure

Share

Ilustrasi oleh Rafii Mulya

Dari liberal intelektual yang insecure bahwa orang lain tidak akan mengakui intelektualitas mereka, hingga para konservatif yang rela mengorbankan persatuan karena malu ketemu temen kantor pendukung paslon yang menang, stabilitas persatuan negara kita sekarang sudah serentan hati para remaja “polem” era 2007-an.

Babang sebagai Centrist hanya bisa menggaruk-garuk kepala saat melihat keluarga maupun teman berkoar di grup Whatsapp saling beradu opini. Terlintas di pikiran Babang ingin nimbrung juga dan berkata “mbok ya ngaca mas”. Karena sejujurnya inilah yang dibutuhkan masyarakat kita sekarang; “refleksi diri”. Sebuah kesempatan untuk melihat kebelakang dan menyadari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat dan belajar darinya.

Untuk unit alternative/indie rock asal Jakarta, Pathway Pleasure, bentuk refleksi diri mereka sudah mereka rekam menjadi sebuah EP ciamik. “Self Portrait” adalah album yang berisikan pengalaman-pengalaman pahit kedua personil asli Pathway Pleasure yang dikemas dengan pandangan positif dan juga pembelajaran agar mereka menjadi lebih baik di masa depan.

Berbeda dengan “Haze” dan “No Meaning”, dua single perdana mereka pada 2016 silam yang lebih shoegaze dan dream pop, dalam “Self Portrait” mereka lebih mengeraskan distorsi mereka dan merendahkan sedikit reverb dan filter mereka untuk terdengar lebih agresif, namun tetap menjaga suara nostalgia yang sudah mereka bangun dari awal. Tambahan personil drummer juga membuat unsur drum dalam suara mereka lebih berkarakter.

Namun sayangnya Pathway Pleasure masih butuh melanjutkan refleksi diri mereka setelah album ini. Karena “Self Portrait”, walaupun bukan EP yang buruk, masih mempunyai problematika yang berat; Chorus-chorusnya yang merdu dan musiknya yang atmosferik terkumuhi dengan vokal yang lemah dan songwriting yang sedikit medioker. Contoh terbaik dari argumen ini ada di “Bullets”.

Bintang utama EP ini merupakan perpaduan yang manis antara suara dream pop yang sebelumnya mereka usung dengan suara alternative rock yang akan lebih mereka tekuni saat ini, menciptakan sebuah tembang yang keras namun juga manis. Tapi sayang di saat instrumentalnya baik, penyampaian yang kurang baik serta berlapis-lapis efek reverb membuat vokalnya kurang bersinar dan sedikit susah dimengerti. Bagi Babang, kecuali seseorang memang ingin membuat lagu untuk musik latar atau soundtrack, vokal dan lirik adalah unsur utama yang harus didengarkan dan Babang yakin banyak orang yang percaya dengan itu.

Jika anda seseorang yang membenci opini Babang, maka berdoalah agar anak-anak anda tidak akan besar menjadi seperti Babang, sehingga tidak setuju bahwa vokal adalah hal yang penting dalam setiap album. Di lain sisi tenang saja karena seperti yang sudah Babang bilang bahwa unsur struktur, komposisi, dan produksi dari “Self Portrait” sangat baik. Ini mungkin karena nama-nama bertalenta di layar belakang seperti Pandu Fanthoni dari The Adams yang ikut serta memproduksi album ini. “Facing the Faulty” dan “Flowing” memberikan contoh terbaik dengan lagu yang terakhir menjadi salah satu favorit babang.

Walaupun mempunyai unsur besar yang sayangnya babang tidak suka, By all means, “Self Portrait” adalah album yang diproduksi dengan baik dan secara keseluruhan tidak buruk. Chorus-chorus yang merdu dan sing-along-able, instrumental progresif yang rapih, dan vibe upbeat sedikit bittersweet ala band emo 2005-2010, Pathway Pleasure memberikan EP yang menunjukan potensi apa yang mereka bisa menjadi kedepannya.

Babang’s Favourite: Flowing
Babang’s Score: 6/10

Tags:
Bintang Adinugroho

Tujuan hidup babang hanyalah dua di dunia ini: menjelek-jelekan unit musik lokal kesayangan anda dan menyayangi gadis-gadis anime.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *