LOADING

Type to search

BABANGBIN REVIEW: “Tranquility Base Hotel & Casino” by Arctic Monkeys

FEATURED SELECTION

BABANGBIN REVIEW: “Tranquility Base Hotel & Casino” by Arctic Monkeys

Share

Ilustrasi: Nadhif Ilyasa

Selamat menunaikan ibadah berpuasa, para penikmat kopi. Satu hal yang selalu membuat babang bingung adalah kenapa banyak anak ‘indie’ cenderung mengasosiasikan kopi dengan ‘inspirasi’. Tahukah mereka bahwa itu semua hanya sugest marketing dari para perusahaan-perusahaan F&B? Jika suatu hari ada produk air gula di iklankan sebagai ‘minuman kreatif tongkrongan inspiratif’ dengan Danilla atau Fiersa Basari sebagai model iklannya, percayalah bahwa antrian di supermarket kesukaan kalian isinya mereka semua.

Apakah ini hanya sifat pretentious yang biasa dimiliki anak ‘indie’? Rasul pun tak bisa menjawab. Sifat seperti ini lah yang harusnya dibikin RUU oleh DPR. Tapi apa boleh buat, babang hanya bisa me-review musik. Dan band mana lagi yang lebih cocok di asosiasikan dengan anak ‘indie’ dan sifat pretentious mereka jika bukan sang bocah-bocah dari Sheffield, Arctic Monkeys.

Jangan salah, babang suka dengan mereka. Ya setidaknya sebelum mereka merilis “AM”. Tapi sebelum itu Arctic Monkeys adalah salah satu band rock yang paling menarik. Penuh dengan lirik-lirik cerdik ber-dialek lokal dan musikalitas yang luar biasa, Arctic Monkeys dan penggemarnya menunjukan bahwa masih ada kekuatan rock pada era 2000-an ini. Beda dengan sekarang dimana pengikutnya kebanyakan adalah para gadis poser yang mudah basah melihat ngacengnya rambut Alex Turner.

Album terbaru mereka “Tranquility Base Hotel & Casino” membuat semua orang bertanya-tanya: Apakah Alex Turner dan kawan-kawan berhasil kembali ke jalan lama mereka? Atau melanjutkan perjalanan berantakan mereka demi perempuan, uang, dan status?

Jawabannya adalah… tidak dua-duanya ternyata. “Tranquility Base Hotel & Casino” membawa sesuatu yang sangat baru ke dalam koleksi musik mereka, atau mungkin lebih tepatnya ia menggabungkannya. Hal terbaik dari cara lama adalah mereka berani untuk melakukan hal-hal kreatif dengan cara mereka sendiri tanpa takut kritik, dan hal yang terbaik dari cara baru ialah mereka melakukannya dengan gaya populer dan juga lagu-lagu yang lebih catchy. Album ini merupakan akulturasi kedua budaya tersebut, dan jujur saja ini mungkin musik paling matang mereka.

Mendengarkan “Tranquility Base Hotel & Casino” terasa seperti tidak mendengarkan Arctic Monkeys. Alex dan kawan-kawan benar-benar banting setir dalam musikalitas mereka, enggak lagi mengutamakan karakteristik pintar dan keras, namun lebih emosional dan poetis. Usaha yang sama pernah mereka lakukan pada tahun 2011, dimana album “Suck It And See” mengejutkan para penggemarnya dengan perubahan yang sangat drastis. Berbeda dengan saat itu, dimana mereka hanya seperti remaja-remaja yang mendadak ganti tongkrongan, pada album ini satu band tidak hanya terasa merubah persona mereka, namun lebih tepatnya mereka bertumbuh besar dan bertambah dewasa.

Lagu pembuka, “Star Treatment”, menciptakan mood untuk seluruh album dan memberi tester kepada para penggemar bagaimana suaranya. Disini Alex bernyanyi seperti ia sedang ada didalam sebuah pesta pernikahan mantan, menuturkan lirik tentang mimpi-mimpi lamanya yang gagal dan bagaimana media dan fans men-distorsikan pandangan banyak orang terhadap dirinya dan teman-temannya. Menurut babang ini lagu terbaik mereka pada album ini, dimana liriknya yang begitu jujur dan nyinyir serta musiknya yang nostalgik menciptakan formula yang baik untuk menyentuh setiap pendengarnya.

Tidak bisa dihiraukan bahwa David Bowie adalah inspirasi terbesar Turner dalam menulis album ini. Lagu yang paling terdengar kental dengan space rock dan grandiosme Bowie mungkin adalah lagu dengan judul yang sama dengan album “Tranquility Base Hotel & Casino” dan “Golden Trunks” yang terdengar sinis sekaligus merdu. Kedua lagu terdengar cocok jika dinyanyikan oleh alm. Ziggy Stardust.

Terakhir, lagu yang sangat menarik adalah lagu terakhir dari album ini yaitu “The Ultracheese”. Turner bernyanyi tentang hidup rockstar-nya sekarang, dimana ia bukan lagi bocah kampung dari Sheffield melainkan selebriti besar yang tinggal di Los Angeles, serta isolasi yang sekarang ia rasakan karena berada jauh dari zona nyamannya. Jika dipikir-pikir, seluruh album ini bercerita tentang perasaan melepaskan yang terasa baik personal maupun secara umum. Semua tema-tema distopia dan sci-fi mungkin hanyalah bukti bahwa Turner menghabiskan waktunya terkunci didalam rumahnya, menikmati novel, alkohol, dan kesepiannya.

Sebenernya pas babang mau mendengarkan album ini yang babang ekspektasikan adalah lanjutan dari ekspedisi poser mereka pada “AM”, dan sudah ada rencana membuat ulasan jelek hanya untuk menyulut api fanbase-nya. Namun ekspektasi itu salah, karena “Tranquility Base Hotel & Casino” merupakan rilis terbaik Arctic Monkeys sepanjang karir mereka. Musik yang matang, lirik yang poetis, dan tema yang jauh lebih serius. Kenyataannya adalah seberapa malunya Alex Turner dengan musik mereka yang sebelumnya, semua itulah yang berhasil membuat mereka berada di posisi ini sekarang dan membuat album ini, sebuah surat permintaan tolong yang melankolis, dramatis, dan tentunya sangat jujur dari Alex Turner dan kawan-kawan.

Fun Fact: Arctic Monkeys melakukan perubahan persona mereka menjadi rock and roll pada tahun 2011, dan lalu tahun ini meninggalkan semua jaket kulit, motor, dan bir untuk jas, melankoli, dan martini. The Changcuters, band asal Bandung kesukaan kita semua, melakukan hal yang hampir sama. Bedanya adalah mereka melakukannya duluan, pada tahun 2008 saat mereka terkenal lalu merubah persona mereka menjadi pria-pria berjas yang bernyanyi melankolis pada tahun 2011. Kebetulan?

 

Babang’s favourite: Star Treatment, The Ultrachese

Score: 9

Tags:

You Might also Like

1 Comments

  1. adhit? 23/05/2018

    Gw seneng banget sama eksplorasi mereka di album ini. Masih jadi album yang gw denger berulang2 dalam 2 minggu ini. Makasih babangbin buat ulasan singkatnya

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *