LOADING

Type to search

Bahasa Visual Roufy Nasution

INTERVIEW

Bahasa Visual Roufy Nasution

Share

Di usianya yang masih sangat muda, Roufy Nasution bisa di bilang sebagai salah satu sutradara muda produktif di generasinya. Film-filmnya juga tak asal sembarang buat terbukti dengan karya-karyanya yang tak pernah mangkir dari berbagai macam festival. Semakin kesini film-film Roufy terasa semakin menemukan nyawa dan ciri khasnya tersendiri. Di tengah kesibukan pekerjaannya selepas lulus dari perguruan tinggi, Incotive berbincang dengan Roufy mengenai inspirasi, gaya visual, hingga kegelisahan yang tertuang pada film-filmnya.

j4

Incotive: Film apa yang membuat Roufy terjun ke dunia sinema?

225450

Awalnya belum ngerti-ngerti banget tentang film sih. Dulu masih nonton film-film seperti Transformers (tertawa). Dan sewaktu kuliah tidak sengaja di kasih senior film pendeknya Ismail Basbeth, judulnya Shelter. Filmnya 15 menit tapi hanya one shot. Saat itu aku merasa “wah ternyata buat film itu mudah ya, bisa satu lokasi saja”. Awalnya itu sih yang membuat terinspirasi setelah itu aku mulai membuat film dari awal tahun 2014. Salah satu yang menginspirasi Shelter, lalu film-film seniman jogja, lalu di tahun 2015-16 aku banyak terinspirasi oleh film-film Wes Anderson. Kebetulan saat di Bandung aku punya komunitas namanya Bahas Sinema, itu bukan komunitas buat film tapi lebih ke ekshibisi, baca film dan lain-lain. Komunitas itu sering berkumpul di IFI (Institut Francais d’Indonesie) Bandung, dan karena di sana sering screening film, aku jadi banyak masukan dari film-film Perancis. Pokonya aku punya 3 referensi yang sering aku gunakan: dari Amerika ada Wes Anderson, sisanya 2 sutradara Eropa yaitu Yorgos Lanthimos seperti film-filmnya The Lobster dan Dogtooth, lalu ada Michael Haneke dengan Amour dan The White Ribbon.

Sekarang lagi sibuk apa setelah lulus?

Kebetulan karena dulu tinggal di Bandung, dan karena industri film kebanyakan di Jakarta jadi aku ngga tau siapa orang-orang di Jakarta yang bisa diajak gabung, akhirnya sekarang malah nyasar di TV Komersil. Dan di TV Komersil kan tidak mungkin bisa langsung jadi sutradara karena katanya kalau mau jadi sutradara TV Komersil harus seperti artis dulu, harus terkenal (tertawa). Makannya mungkin sekarang masih cari-cari pengalaman saja sih, jadi production assistant. Tetapi sambil berjalannya waktu aku lagi nulis buat film panjang juga.

Di film-film sebelumnya status Roufy masih mahasiswa. Sekarang, setelah tidak lagi kuliah, apa ada perbedaan?

Banyak sih, mungkin di kuliah aku membuat film yang benar itu malah saat tidak sedang mengerjakan film tugas karena banyak gangguan harus mengikuti dosen. Contohnya saat membuat Jeni Lova sebenarnya tujuanku ingin memperkaya bahasa visual, tapi kan dosen suka nanya setiap makna di balik scenenya. Setelah lulus di filmku yang berjudul Elise and Unseen Foot dan The Hotel’s Waters, di dua film itu aku lebih keluar dari batasan sih. Karena saat mahasiswa aku masih takut menyentuh sisi-sisi sensitif, dan selepas kuliah aku jadi lebih berani dalam bereksperimen visual walau tetap tidak ingin terlalu vulgar.e8

Film-film Roufy, terasa mengambil gaya sinematik yang senada dan penuh dengan keabsurdan. Apakah ini disengaja? Dan apa yang sebenarnya ingin disampaikan dengan gaya yang demikian?

Sebenarnya kalau absurd, sudah menjadi sebutan aku saat di kuliah (tertawa). Aku juga ngga tau sih kenapa stylenya absurd, simpelnya karena di film itu kita membuat dunia yang berbeda. Sebenarnya aku ngga terlalu bisa membuat cerita yang serba berat, yang harus bahas isu-isu yang berat, aku lebih suka bahas tentang keseharian tetapi keseharian itu aku buat menjadi hal yang tolol. Jadi saat orang nonton, mereka bertanya-tanya “ini kenapa sih?”, intinya aku ingin memvisualisasikan apa yang ada di kehidupan, tetapi saat di film kehidupan itu menjadi beda. Mungkin seperti Yorgos Lanthimos di filmnya The Lobster. Itu sih kata kunci yang aku gunakan, karena aku merasa hidup aku absurd juga. kaya sekarang dapat kosan saja di tempat jagal kaya gini (tertawa).

d4

Apa kedepannya akan tetap mempertahankan gaya tersebut atau ingin mencoba bereksperimen dengan style lain dan mencoba keluar dari zona nyaman?

Sebenarnya aku ingin keluar dari zona nyaman, tapi sebenarnya style yang aku pakai sekarang itu karena aku sedang tinggal dimana. Maksudnya saat aku tinggal di Bandung, kehidupan aku santai, tenang, statis dan tidak terlalu goyang. Beda kalau di Jakarta kan lebih kecam rasanya. Tapi kalau masalah gaya visual atau mise en scene mungkin aku tetap mempertahankan, karena aku suka dengan hal yang klasik dan berwarna. Bedanya mungkin nanti aku lebih berpikir masalah segmentasi, maksudnya gimana sih cara membuat cerita yang tidak terlalu klise tapi masih di terima oleh semua masyarakat. Itu sih yang masih aku cari.d2-1Berarti apa hasil film yang ditulis di Bandung dan di Jakarta nantinya akan berbeda?

Pasti berbeda, kebetulan aku baru mulai nulis lagi saat di Jakarta ini. Dan kebetulan saat di Bandung aku tidak pernah menyentuh hal-hal yang melankolis, akan tetapi di Jakarta aku akan mencampurkan hal itu. Di Bandung aku lebih bermain dengan hal-hal yang quirky, mungkin disini akan lebih melankolis dan powerful karena aku merasakan hal itu disini. Di Jakarta lebih terasa chaos dan itu menjadi energi baru buat ku.

e9

Saking absurdnya film anda, di film Jeni Lova saya sampai kesulitan untuk menelaah apa maksudnya, boleh ceritakan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan? Apa itu salah satu kegelisahan anda terhadap pernikahan?

(Tertawa) Sebenarnya dari tahun 2015 aku sudah menetapkan satu tema kalau mau membuat film, mungkin ada beberapa film yang temanya beda-beda sedikit. Intinya aku ingin bahas tentang wanita dan yang aku ingin bahas itu si wanita punya kedudukan yang lebih tinggi dari pada pria, seperti di Jeni Lova karakternya prianya yang cupu. Ya aku gelisah saja melihat beberapa laki-laki yang tidak punya hasrat berumah tangga dan tidak punya rasa kepimpinan, yasudah itu digabung saja dengan fantasi-fantasi lain. Beberapa setelah menonton, ada yang bertanya-bertanya “nanti aku kalau nikah gimana ya?” “ini bener ngga ya jodoh?”

j13

Kenapa anda suka sekali dengan warna kuning? Apa warna tersebut merepresentasikan sesuatu?

Sebenarnya ingin nyentrik aja sih, warna itu kan gampang dilihat orang dan saat aku baca-baca warna kuning itu warna imajinasi. Di Jeni Lova, kenapa aku taruh warna kuning karena dia kan sedang mencari imajinasi untuk menulis novelnya lalu aku kolaborasikan dengan warna ungu, karena ungu warna yang magis. Makannya saat di pantai banyak terjadi hal-hal magis kaya dia bisa pindah dari satu ruang ke ruang yang lain. “tau kan saat dia masuk ke kamar mandi terus keluar di tempat lain?” (tertawa)

j14

Selain film pendek yang berbasis pada narasi, Roufy juga membuat film yang pendekatannya lebih eksperimental seperti pada film Roufy Sleep Chair. Apakah ada perbedaan metode ketika mengerjakan dua gaya berbeda ini?

Sebenarnya beda dari sisi pekerjaannya saja sih, kalau Roufy Sleep Chair itu untuk video art dan pameran seni. Waktu itu temanya tentang mimpi, karena waktunya singkat yasudah aku berpikir aja “apasih yang aku bisa lakukan dalam waktu yang singkat?” yasudah aku taruh tripod, aku tidur, dan syuting. Lebih ke cara pekerjaannya saja sih.

Boleh ceritakan tentang film pendek Roufy terbaru berjudul The Hotel’s Water yang bekerjasama dengan Slate?

Sebenarnya waktu itu aku iseng-iseng saja sih, lumayan buat link-link ke Jakarta (tertawa). Aku senang banget karena ini film pertama yang di biayain dari otak sendiri. Disitu aku berpikir berarti ide-ide seperti ini sebenarnya ada yang mau beli ya. Intinya di film The Hotel’s Water aku ingin mengangkat tentang kenaikan kelas. Maksudnya tentang kelas bawah disini adalah si Office Boy (OB). Aku peduli sekali dengan orang-orang kelas bawah contoh nya waiter-waiter di rumah makan mereka kan suka disuruh foto-fotoin, terus yang bersih-bersih suka di marah-marahin disitu aku peduli dan aku berpikir gimana sih kalau mereka bisa merasakan apa yang belum pernah mereka rasakan? Gimana kalau mereka bisa setara dengan kelas yang atas? Makannya di film itu aku coba naik kan kelas sosial si OB tersebut.

hw5-1

Sejauh ini, film Roufy kebanyakan formatnya film pendek. Bagaimana kira-kira bentuk film panjang karya Roufy?

Sebenernya aku tahun ini sudah bikin satu skrip film pendek, tapi aku belum tau kapan produksinya karena kerjaan kaya gini. Kalau untuk film panjang mungkin formula nya tetap sama dengan film pendek tetapi bedanya di segmentasi saja, sepertinya aku harus lebih mikir segmentasi yang supaya skripnya ada yang mau beli (tertawa). Ini aku sudah mulai menulis ceritanya, tapi masih ploting-ploting aja.

Yang di papan tulis depan itu bukan?

Ya begitulah, pokoknya kalau di kantor aku sedang tidak ada kerjaan ya aku nulis saja, dari pada aku ngga ada bikin karya. Karena sekarang ini aku kerja, kreativitasnya ngga ada, nol. Jadi aku kaya bantu-bantu produksi saja. Makannya aku sekarang masih dilema juga, ini aku keluar atau ngga ya? nanti aku keluar mau makan apa (tertawa).

Foto: www.roufynasution.com

Interview oleh: Ridho Rakhmatullah & Nadira Qanita

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *