LOADING

Type to search

Antara Bandung dan Kemenangan Musik dalam Masyarakat

COLUMN FEATURED

Antara Bandung dan Kemenangan Musik dalam Masyarakat

Defta Ananta 01/07/2018
Share

Ilustrasi oleh Adam Noor Iman

Apakah Bandung masih layak untuk menyandang gelar sebagai kota musik? Pertanyaan tersebut kerap kali muncul dari obrolan warung kopi hingga ke level seminar atau sesi diskusi yang skalanya lebih besar. Mulai dari wacana/diskursus mengenai kapasitas musisi dalam berkarya, infrastruktur pendukung, hingga permasalahan daya dukung sosial, semuanya selalu hadir sebagai topik hangat yang perlu diperbincangkan. Namun terlepas dari wacana-wacana yang tengah bergulir di dalamnya, saya pribadi sebagai penikmat cukup terpuaskan dengan banyaknya event-event musik (terutama di Bandung) hingga munculnya band-band baru dengan semangat serta visinya masing-masing dalam upaya memberikan karya yang memuaskan bagi audiens. Walaupun menurut saya hal tersebut belumlah cukup untuk menegaskan eksistensi Bandung sebagai suatu kota yang memang menggunakan musik sebagai suatu produk budaya yang utama. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah hubungan antara Bandung dan kemenangan musik dalam masyarakat.

Mungkin, isu yang saya angkat saat ini basi. Sudah banyak penulis dan jurnalis musik lainnya yang menggali fenomena Bandung sebagai kota musik dengan berbagai kegalauan dan diskursus di dalamnya. Namun, sebagai pribadi yang lahir di Bandung dan kebetulan berkesempatan untuk menyelam langsung ke dalam perskenaan musik di Bandung, saya rasa memang ada suatu urgensi untuk kembali meniti jejak-jejak yang sudah dibuat oleh para senior-senior terdahulu dan kemudian merefleksikannya terhadap perkembangan sosial yang terjadi dewasa ini. Menurut Jeremy Wallach, seorang etnomusikolog asal Amerika Serikat, konstelasi unsur-unsur sosio-kultural, ekonomi, pola interaksi (akses, distribusi, dll.), dan lainnya secara langsung berperan pada pembentukan sub-kultur yang kemudian menjelma menjadi skena musik sebagai salah satu produk sosial.

Dalam kaitannya dengan pertanyaan di awal tulisan, saya akan mencoba untuk melihat lebih jauh lagi perihal wacana Bandung sebagai suatu kota musik dan melihat upaya yang telah dilakukan oleh para penggiat/unsur-unsur yang tergabung dalam skena dan industri agar tetap relevan dengan perkembangan sosial yang terjadi di masyarakat.  

Meniti Jejak Kejayaan

Sebagai pembuka, mungkin kita harus kembali melihat faktor historis yang sudah digariskan oleh para pahlawan-pahlawan musik di eranya masing-masing. Memang betul keberadaan faktor historis memberikan andil yang besar dalam pembentukan budaya. Dalam kasus ini lahirnya musisi-musisi berkualitas dari Bandung secara langsung memberikan suatu citra tersendiri yang kemudian menjelma menjadi suatu tolak ukur kualitas.  Jika harus menghitung jumlah musisi Bandung yang sukses mematrikan karyanya di hati para pendengar nampaknya sepuluh jari tangan yang saya miliki tidak bisa mewakili mereka dalam hitungan yang terbatas.

Nama-nama besar seperti Nike Ardilla, Benny Soebardja, The Rollies, Harry Roesli, Pure Saturday, Burgerkill, hingga Mocca dan lainnya memiliki tempat tersendiri dalam konteks sejarah perkembangan skena musik di Bandung. Suatu maneuver monumental yang (menurut saya) menjadi tonggak awal berkembangnya skena dan industri musik di Bandung adalah adanya pembentukan label secara independen dengan berfokus pada komunitas “underground” yang memantik lahirnya sub-kultur baru. Kala itu Benny Soebardja dan Shark Move tampil sebagai pioneer dalam menyebarkan semangat musik independent dan menolak untuk tunduk kepada selera pasar dan arus utama tren musik melankolis yang mendominasi pada era 1970-1980an.

Tentu saja hal tersebut cukup memberikan suatu angin segar dalam skena musik (terutama di Bandung). Selain itu, sub-kultur anak-anak muda di Bandung memiliki ciri khas sebagai suatu tribe (kelompok). Dalam sesi ngobrol santai saya bersama salah satu jurnalis musik senior, Idhar Resmadi, budaya nongkrong memang menjadi pemantik kebangkitan musik melalui lahirnya komunitas-komunitas yang masing-masingnya memiliki ciri khas. Budaya tersebut telah melahirkan kelompok-kelompok audiens seperti komunitas metal di timur Bandung (Ujung Berung) kemudian komunitas punk yang dahulu sering nongkrong di sekitar Bandung Indah Plaza. Dapat dikatakan pergerakan sosial yang diinisiasi oleh komunitas dan musisi-musisi pada masa tersebut memang bergerak dari tingkat grassroot hingga pada akhirnya mereka menjadi suatu komunitas yang mapan.  

Tak hanya disitu, untuk turut “menyuburkan” gelora semangat anak muda Bandung dalam musik, kehadiran pihak media memegang posisi vital sebagai portal utama dalam distribusi informasi yang berkaitan dengan kondisi skena musik di Bandung. Salah satu media yang layak dikenang adalah majalah musik “Aktuil” dari Bandung yang dulu sempat menjadi media musik ternama di Indonesia karena pada masa jayanya mereka berhasil mengundang band sekelas Deep Purple untuk bisa konser di Bandung.

Dari segi infrastruktur pendukung pertunjukan musik, pada faktanya Bandung memiliki beberapa tempat yang bersejarah seperti GOR Saparua, Asia Africa Cultural Center (AACC), Dago Tea House, dan lainnya. Tempat-tempat tersebut menjadi saksi bisu atas kejayaan musik di kota Bandung ini hingga akhirnya pada tahun 2008 sebuah insiden terjadi ketika band metal Beside mengadakan konser peluncuran album Against Ourselves di AACC yang diwarnai dengan jatuhnya korban jiwa. Sejak saat itulah skena musik Bandung mengalami kelesuan karena sulit untuk mendapatkan izin dari aparat untuk menggelar sebuah acara pertunjukan musik.

Problematika yang Terus Bergulir

Memang tidak akan ada habisnya untuk terus mengenang sejarah perkembangan musik di Bandung. Kemudian apa yang menyebabkan wacana Bandung sebagai “kota musik” ini menyeruak ke permukaan? Mungkin hal tersebut ada kaitannya dengan deklarasi Bandung kota musik yang disampaikan oleh Ridwan Kamil pada sekitar tahun 2015 silam. Walaupun deklarasinya tidak bersifat formal atau bahkan tidak sampai melahirkan piagam Bandung kota musik, hal tersebut menimbulkan pertanyaan dari seluruh elemen yang berkutat dalam industri musik di Bandung. Ada yang setuju dan ada pula yang mengkritik dengan pedas, memang betul Bandung selalu melahirkan musisi-musisi bertalenta namun hal tersebut akan sia-sia apabila tidak adanya daya dukung sosial dan infrastruktur pendukung yang menjadi “bahan bakar” untuk mewujudkan bandung sebagai kota musik yang seutuhnya.

Permasalahan yang menyelimuti skena & industri musik di Bandung terletak pada pola interaksi antar elemen-elemen esensial di dalamnya. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya seperti pemanfaatan ruang baik secara fisik yang sudah terpengaruh oleh adanya kapital-kapital maupun secara imajiner yang dimana musik seharusnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk bisa lebih progressif dalam menghadapi perubahan zaman. Kemudian adanya faktor sosio kultural yang membentuk sifat masyarakat yang tergabung dalam skena musik kota Bandung, adanya sekat kultural (sifat gengsi & tidak enakan) yang menghalangi tersebentuknya suatu pola interaksi organic antar seluruh stakeholder di dalamnya. Kemudian timbul kecenderungan baik dikalangan musisi maupun audiens yang dimana mereka terbawa larut dalam romansa nostalgia dari kondisi Bandung di masa lalu yang menyebabkan mereka tidak menyadari adanya suatu pergeseran. Ada pengaruh dari datangnya kapital-kapital yang membawa kepentingan komersil yang secara langsung atau tidak mempengaruhi kondisi ekosistem industry.

Lalu, mengapa permasalahan tersebut bisa terjadi? Kalau tidak salah pada saat minggu ketiga Bulan Ramadhan saya berbincang dengan salah satu founder dari agensi manajemen yang juga merangkap sebagai publisher. Kami membicarakan hal yang kurang lebih senada dengan pertanyaan diatas. Menurutnya kecenderungan stagnansi perkembangan musik di Bandung dikarenakan oleh minimnya inovasi dari para penggiat, hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya kecenderungan perilaku latah yang ditunjukan baik oleh para penggiat ataupun penikmat, sebagai contoh ketika The S.I.G.I.T  merilis album Detournment” hampir mayoritas band amatir dengan genre yang serupa berlomba-lomba untuk mengimitasi sound yang dihasilkan pada album tersebut.

Salah satu akar permasalahannya mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan elemen-elemen (terutama penggiat) industri musik di Bandung yang kesulitan untuk merelevankan dirinya kedalam kondisi industri yang semakin hybrid. Keadaan industri yang semakin hybrid ini meluluhkan batasan-batasan antar industri, hal tersebut sudah lebih dulu diantisipasi oleh penggiat musik di kota lain seperti Jakarta. Sebagai contoh Kelompok Penerbang Roket yang bekerja sama dengan perusahaan ojek online dalam mempublikasikan film dokumenter mereka, kemudian ada label rekaman yang memiliki fungsi yang bermacam-macam seperti DoubleDeer Records yang membuka kelas akademi produksi musik, dan label hip-hop PreachJa yang mulanya bergerak sebagai media yang kemudian bertransformasi menjadi label rekaman tanpa menghilangkan ciri khas medianya. Ditengah wacana revolusi industri keempat kehadiran digital streaming platform seperti Spotify dan aggregator musik juga memberikan dampak yang signifikan terhadap pola distribusi dan konsumsi musik dan hal tersebut secara langsung ataupun tidak memberikan dampak pada kelangsungan ekosistem industri.

Kemudian saya berspekulasi mungkin letak permasalahan yang dialami oleh seluruh elemen-elemen dalam industry musik kota Bandung adalah minimnya kemampuan literasi dari seluruh stakeholder yang terlibat dalam jagad industry musik di Bandung mengenai hal-hal fundamental  dalam industry yang berpusat pada empat sektor (ruang & daya imajinasi, produksi, distribusi, konsumsi)  dan bertumpu pada entitas – entitas penting seperti musisi beserta tim produksinya, media massa, penyedia ruang / penyelenggara acara, dan tentunya audiens.      

Kejayaan yang Akan Terus Bergema

Namun semangat untuk mempertahankan dan mewujudkan Bandung sebagai kota musik yang seutuhnya kian menyebar dan membesar. Hal tersebut ditandai oleh adanya upaya kolaboratif dari setiap stakeholder dalam industri untuk membuat Bandung kembali menjadi “kiblat” musik di Indonesia. Upaya – upaya tersebut diwujudkan melalui banyaknya program-program/kegiatan/ acara yang kembali mempertemukan unsur-unsur esensial dalam industry untuk membentuk suatu pola interkasi yang berdasar pada konsep mutual-support, contoh yang paling menarik mungkin diadakannya Kelas Mocca yang dimana para swinging friends diajak untuk bermusik bersama dengan Mocca. kemudian mulai dibukanya kelas-kelas lokakarya yang berfokus pada penguatan kompetensi balik layar (ranah produksi) sebagai hal yang esensial dalam perkembangan industri.

Untuk mewujudkan wacana yang sudah bergulir dari tahun-tahun sebelumnya nampaknya urgensi untuk meningkatkan fungsi seni musik sebagai suatu bentuk social services harus dibarengi dengan adanya suatu integrasi antar seluruh elemen vital yang telah disebutkan diatas. Walaupun terkesan terlalu populis namun saya mengira justru hal tersebut akan membawa suatu budaya baru pada seluruh ihsan kreatif Bandung terutama di sektor musik. Upaya kolaboratif dari setiap elemen dalam industri, urgensi untuk mendefinisikan fungsi musik sebagai suatu social services mungkin dapat melawan tantangan perubahan sosial yang kini juga cukup besar. Jikalau hanya mengacu kepada semangat komunalitas dan “sejarah besar tentang kejayaan masa lampau” maka itu hanya akan kembali menjadi wacana omong kosong tanpa ada implementasi konkritnya — perlu adanya daya dukung berupa daya dukung fisik dan daya dukung sosial demi menghasilkan perkembangan budaya kontemporer dan masyarakat yang ada di dalamnya.    

Kemudian pertanyaan berikutnya, Apakah seluruh elemen / unsur dalam industri sudah siap untuk menyokong fondasi ekosistem industri, tidak hanya musisi dan audiens namun pihak – pihak ketiga yang juga turut memegang andil. Kemudian secara bertahap hal tersebut akan melahirkan daya dukung sosial seperti yang dimaksudkan diatas. Kehadiran daya dukung sosial juga didasari oleh  komitmen yang kuat, akan tetapi juga perlunya ruang agar terbentuk interaksi antar komunitas yang akan menjadi stimulant untuk lahirnya inovasi baru dalam upaya meregenerasi.

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *