LOADING

Type to search

Benarkah Tidak Ada Masa Depan Untuk Bisnis Media?

COLUMN FEATURED

Benarkah Tidak Ada Masa Depan Untuk Bisnis Media?

Ferdin Maulana 19/04/2018
Share

Masa depan selalu menjadi hal yang terlintas dalam kepala kita. Ketidaktahuan kita terhadap masa depan akhirnya menimbulkan beragam spekulasi serta prediksi mengenai apa yang akan terjadi. Mulai dari prediksi John Titor, kiamat di tahun 2012, sampai versi lokal sekalipun seperti Jayabaya dan Mama Lauren. Ketidaktahuan ini cenderung membuat kita gelisah sehingga mencari cara agar dapat ‘mengintip’ nasib kita, sesederhana memasukan nama anda dengan gebetan dalam love calculator, tarot, hingga primbon jawa.

Setiap harinya akan selalu terjadi perubahan di dunia atau lebih spesifiknya lagi perilaku masyarakat yang tidak dapat kita pungkiri. Dewasa ini masyarakat global sudah bergerak menuju digitalisasi. Pola konsumsi informasi sudah berubah platform menuju digital sejak kehadiran internet. Memasuki era digital berdasarkan buku “The Digital Age” karya Eric Smidt dan Jared Cohen menjelaskan bahwa informasi semakin mudah menyebar dan mudah diterima siapapun, kapanpun dan dimanapun.

Kini harga smartphone dan internet pun menjadi semakin murah dan bisa dijangkau siapapun, tidak terkecuali masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Dapat kita lihat saat sedang melalui lampu lalu-lintas, mulai dari pedagang asongan sampai pengamen berteduh sambil memainkan smartphone mereka. Fenomena ini disetujui oleh perwakilan editor Vice Indonesia, Ardyan Erlangga saat saya kunjungi di kantor mereka yang terletak di Jl. Walter Mongonsidi, Jakarta Selatan. Ardyan mengungkapkan bahwa pola konsumsi informasi masyarakat telah berubah sejak adanya internet dan juga akses yang semakin murah dan mudah. Melihat pernyataan ini menimbulkan suatu pertanyaan besar, seperti apa nasib media di masa depan?

Bila diperhatikan media-media cetak di tanah air kita sudah mulai lumpuh dengan perubahan pola konsumsi informasi dan disrupsi digital. Berdasarkan survey pribadi Incotive dari 10 orang berumur 40 – 50 tahun di Jakarta dan Bandung, 8 mengatakan lebih nyaman mengakses grup WA dan Facebook sebagai sumber informasi dibanding koran sebagai teman kopi pagi-nya. Goenawan Mohamad, seorang sastrawan dan eks-jurnalis dalam salah satu wawancara dengan Whiteboardjournal mengatakan kini ia lebih sering mengakses informasi lewat twitter dibanding koran. Lewat survey online Incotive, dari 116 responden 86% menjawab lebih sering mendapat informasi lewat internet dibanding media cetak. Berdasarkan riset Nielsen pada Desember 2017 terkait profil pembaca Indonesia, media online punya lebih banyak pembaca. Sekitar 6 juta orang membaca berita setiap hari lewat media online, sedangkan hanya 4,5 juta orang yang membaca berita media cetak. Akibat perubahan ini banyak media cetak yang akhirnya terpaksa menggulung tikar seperti Rolling Stone Indonesia, Sinar Harapan, Hai Magazine, Majalah teknologi Chip, hingga majalah sepak bola seperti Soccer.

Lewat artikel “Benarkah Bisnis Media Online Tak Secerah Masa Depan Internet?” yang diunggah oleh Tirto, menunjukan indikasi runtuhnya bisnis media terkait survey Nielsen yang merujuk pada penurunan pendapatan media cetak. Hal ini dilanjut dengan riset Big Mobile serta data dari Statista yang menunjukan kecilnya pendapatan online advertising yang diterima media. Hal ini terjadi akibat adanya dominasi iklan oleh dua perusahaan raksasa internasional: Google dan Facebook. Salah satu dewan redaksi The Jakarta Post, Riyadi Suparno dan CEO IDN Times, Winston Utomo ikut meng-iya-kan dominasi dua perusahaan tersebut.

Saat mengunjungi kantor Jakarta Post di Jalan Palmerah Selatan, saya menanyakan bagaimana sustainability business media di masa depan, melihat Jakarta Post yang masih 90% bergantung pada subscriber cetak, meskipun sudah memasuki platform digital. Jerry Adiguna dan M. Taufiq Rahman salah dua tim editor Jakarta Post tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Mereka berkata “Media cetak akan tetap dibutuhkan, namun media harus terus beradaptasi dan berinovasi di era digital”. Isu ini ikut ditanggapi oleh Winston Utomo saat saya temui di kantor IDN TIMES. IDN Times merupakan salah satu media dengan revenue digital terbesar sampai Forbes pun menjuluki IDN Times sebagai buzzfeed-like. Menurut Winston, media perlu beradaptasi lewat adanya multi-platform. Ia juga beranggapan bahwa perlunya media mengadopsi trik click-worthy dan juga menguasai visualisasi seperti konten video. Media harus memahami target pasar dan juga berbagai revenue stream, lanjut beliau.

“Media cetak akan tetap dibutuhkan, namun media harus terus beradaptasi dan berinovasi di era digital”.

Bagaimana dengan sustainability business media alternatif dan independen? Dalam buku “Media Power in Indonesia” yang ditulis oleh Ross Tapsell menjelaskan bahwa media-media baru akan sulit bertahan karena tidak memiliki model bisnis yang stabil, apalagi untuk bersaing dengan konglomerasi media milik Chairul Tanjung ce’es. Idhar Resmadi, seorang jurnalis lepas juga mengatakan hal yang serupa kepada saya. Menurut Idhar, agak naif rasanya untuk seseorang yang ingin kaya raya namun hanya berbisnis atau bekerja dalam media independen.

Selain dari sisi sustainablity business, merujuk pada teori new media dan buku “The Digital Age” beranggapan bahwa semua orang dapat menjadi suatu media. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya homeless media, dilanjut dengan munculnya istilah user generated content dan juga citizen journalism yang dapat menjadi ancaman untuk bisnis media. Hal ini diperkuat dengan salah satu wawancara Forbes dengan seorang profesor eksekutif media digital dan hiburan di Amerika, Melva Benoit. Ia mengatakan bahwa sosial media adalah contoh konkrit new media, dimana siapapun bisa menjadi media. Kejadian apapun yang dibagikan lewat media sosial oleh individual dapat menjadi berita, mulai dari keadaan lalu lintas hingga kasus kriminal sekalipun. Sekarang, masyarakat tidak harus menunggu surat kabar cetak setiap paginya untuk mendapat informasi. Dimanapun mereka berada, atau kegiatan apa yang sedang mereka lakukan asal memiliki smartphone dan akses internet, kita dapat dengan mudah mendapat atau membuat informasi.

“Masyarakat sudah memasuki era post-truth, yaitu dimana masyarakat hanya akan disugguhkan pada hal yang mereka suka”.

Sabtu, 7 April 2018 lalu Incotive mengadakan diskusi mengenai peran dan relevansi media alternatif di era digital. Anggia Valerisha, seorang dosen “Media, Budaya, dan Masyarakat” di Universitas Parahyangan mengatakan bahwa kita sudah hidup di era post-truth, “Masyarakat sudah memasuki era post-truth, yaitu dimana masyarakat hanya akan disugguhkan pada hal yang mereka suka”. Hal ini kemudian diamini oleh Idhar Resmadi yang berpendapat bahwa adanya fakta alternatif. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kasus Cambridge Analytica dan filter-bias google, dimana pengguna internet bukan lagi diarahkan kepada fakta, namun hanya diarahkan oleh algoritma digital pada informasi serupa yang sering mereka akses. Contoh sederhana apabila saya membenci Anies Baswedan dan sering membuka informasi terkait perilaku buruk beliau maka explore Instagram dan Google suggestion saya akan selalu mengarah kepada informasi buruk mengenai Anies. Ardyan selaku editor Vice Indonesia saat saya menanyakan hal tersebut, berkata bahwa fenomena “post-truth” dan masa depan tidak akan sesuram itu. Masyarakat akan selalu mencari media yang terpercaya, lanjut Ardyan. Hal tersebut juga disetujui oleh editor The Jakarta Post, M. Taufiq Rahman yang berkata “Pada akhirnya masyarakat akan lelah dengan berita hoax, sehingga masyarakat sendiri akan mulai mencari sumber informasi yang telah terverifikasi dan kredibel”.

“Pada akhirnya masyarakat akan lelah dengan berita hoax, sehingga masyarakat sendiri akan mulai mencari sumber informasi yang telah terverifikasi dan kredibel”.

Sebelum kita memasuki bagian konklusi dan prediksi Incotive tentang nasib media di masa depan, Ardyan selaku editor Vice Indonesia menyampaikan suatu fakta yang menarik. Fakta yang sering kali masyarakat lupakan. “Media tidak akan pernah netral”. Setiap berita yang diterbitkan oleh media selalu memiliki bias redaksi, bahkan subjektifitas dari penulisnya sendiri. Pernyataan ini disetujui oleh Anggia Valerisha yang mengatakan bahwa media adalah salah satu sarana atau tunggangan termantap bagi kepentingan politik. Saat ditanya seperti apa masa depan media, Ardyan mengatakan bahwa media adalah senjata perang baru di zaman yang damai ini. Saya sendiri pun menyetujui pernyataan tersebut. Tidak perlu menunggu masa depan, sejak pemilihan presiden indonesia tahun 2014 silam dan pemilihan presiden Trump di Amerika Serikat adalah bukti konkrit media sebagai senjata perang.

“Media tidak akan pernah netral”.

Kembali pada pertanyaan seperti apa nasib media di masa depan? Bila berbicara 10-20 tahun kedepan saya yakin jika media cetak akan menemui ajalnya, di lain sisi media online akan terus eksis dalam era digital, meskipun kita telah memasuki zaman dimana semua orang dapat menjadi media. Di masa yang akan datang media-media gadungan penyebar hoax yang semakin mewabah akan membuat masyarakat jenuh dan geram, sehingga pada akhirnya masyarakat mulai teredukasi secara mandiri dan mencari media yang kredibel. Bagaimana dengan tahun 2100? Alah ngeri banget lah kalo bayangin-nya, tapi saya prediksi bahwa saat itu sudah tidak lagi ada demokrasi dan kebebasan dalam berfikir. Media akan menjadi panopticon yang selalu mengintai tiap individu. Masa depan bagi saya akan terlihat seperti distopia yang digambarkan Goerge Orwell dalam buku 1984. Saya percaya bahwa masyarakat akan di brainwashed dengan logika biner digital terhadap informasi oleh algoritma yang semakin mengerikan.

Bagaimana nasib Incotive di tahun 2100? Allahualam, sampe 2019 aja pusing. Semoga dapet investor biar terus ada hehe.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *