LOADING

Type to search

Beranikah Kita?

COLUMN

Beranikah Kita?

Naufal Malik 12/05/2017
Share

Alkisah pernah ada suatu kejadian di sebuah negeri yang kaya (katanya) nan permai. Pada masa lalu yang tidak terlalu lampau itu; rasa iri, takut, benci, dan rakus bercampur aduk pada batin para juragan tanah, bos pabrik, pejabat republik, aparatur negara, hingga rakyat kelas bawah.

Seorang rakyat biasa, Widji Widodo alias Widji Thukul, berusaha melukiskan keresahan dan api perubahan versinya dalam wujud kata-kata yang nikmat. Sayangnya ia menghilang akibat ‘terlalu’ jujur dan berusaha benar.

Beberapa tahun kemudian, bencana melanda negeri itu. Fenomena ‘alamiah’ yang menjadi titik ledak dari perasaan buruk akibat rezim otoriter kemudian berlanjut hingga tahun berikutnya. 1998, Mei, 12 hingga 15. 4 hari dimana nyawa manusia lagi-lagi dihargai sangat murah, gadis-gadis muda diambil paksa keperawanannya dan wanita kembali menjadi objek saja, pemecatan massal yang mengakibatkan penjarahan, dan tidak adanya rasa aman.

Ledakan tersebut mengakibatkan rezim terbakar hangus. Era baru dimulai dengan pemerintahan yang tidak otoriter. Harapan baru pada masa suram. Tangis haru dan teriakan kegembiraan malah menjadi pengalihan agar banyak orang tidak sadar kerak sisa pembakaran akan tetap melekat selamanya.

Demi keadilan berdasarkan Tuhan yang Maha Esa, KONTRAS lahir untuk mengungkap fakta-fakta ‘penghilangan’ segelintir warga negara oleh rezim terdahulu. Lahirlah pada dunia kejam seorang yuris bernama Munir Said Thalib. Tidak kenal lelah ia bersama KONTRAS berjuang demi keadilan. Karena jujur dan benar, ia kemudian meregang nyawa di udara. Langit Benua Eropa menjadi saksi bahwa Munir tewas mengenaskan.

Widji, Munir, dan pencari kebenaran lainnya ditekan. Berteman dengan kebenaran membawa mereka semua ke dalam tahanan dan/atau kematian. Sampai kerak itu hilang, maka yang namanya era baru perubahan batal dengan sendirinya. Mereka-mereka, para penggerak, hingga saat ini masih dapat bermanja-manja dengan apa-apa yang telah mereka ‘curi’ dulu.

Sekarang pertanyaannya, Beranikah kita? Mengungkap kebenaran seperti apa yang semestinya dilakukan manusia berakal, beradab, dan beriman?

Foto oleh: Ibrahim Hasibuan

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *