LOADING

Type to search

Berkelahi Ternyata Sangat Menyenangkan

COLUMN FEATURED

Berkelahi Ternyata Sangat Menyenangkan

INCOTIVE 23/09/2018
Share

Teks oleh Iqbal Chairul dan Vio Basro
Ilustrasi oleh Alif Hafizhan

Semenjak lahirnya tinju sebagai combat sports  telah muncul berbagai petinju seperti Rocky Marciano, Muhammad Ali, dan “Iron” Mike Tyson yang dikagumi oleh masyarakat, membuat mereka dikenal sebagai contoh terbaik fasinasi kita kepada figur-figur petarung yang memiliki kapabilitas melebihi manusia biasa. Memberi jalan terhadap fantasi terdalam kita untuk dapat mengalahkan manusia lainnya dalam suatu baku hantam. Pernahkah anda membayangkan terlibat dalam perkelahian dan menghantam target anda sampai K. O.? Atau lebih mudah lagi, pernahkan muncul keinginan dalam diri anda untuk memukul seseorang yang menyebalkan karena keberadaan dia se-mengganggu itu? Kecuali anda true pacifist atau memang dari kecil hidupnya sudah nyelow, hampir tidak mungkin pemikiran seperti itu tidak pernah terbesit di benak anda.

Berkelahi adalah bentuk kompetisi yang paling murni dan yang paling natural bagi manusia. Kita tidak menendang bola ke gawang, melempar bola ke ring, atau memukul shuttlecock untuk meraih kemenangan, perkelahian adalah bentuk persaingan yang paling murni. Intensitas adu jotos memberikan pengalaman dan tantangan yang tidak dapat dibandingkan dengan bentuk persaingan lainnya, karena pemenangnya ditentukan dari siapa yang masih mampu berdiri dan mana yang tidak. Oleh karena itu rush yang dialami tidak bisa dibandingkan dengan bentuk kompetisi lainnya. Dipukul di wajah memang sakit, apalagi di ulu hati, bahkan ketika kita melempar bogem mentah pun ada kemungkinan tangan kita yang patah. Berkelahi dengan manusia lainnya itu adalah kegiatan yang sangat beresiko dan menyakitkan, tapi elemen bahaya dan sakit yang kita rasa itu justru memunculkan rasa kepuasannya tersendiri.

Di dalam combat sports sendiri terdapat berbagai alasan mengapa para atlet olahraga tersebut memilih profesi sebagai petarung professional walaupun sarat dengan bahaya. Mayoritas dari mereka bahkan menyatakan mereka tidak menyukai kekerasan dan beberapa dari mereka memiliki profesi sehari-hari dalam bidang yang sangat jauh dari aspek yang mengandung bahaya, contoh kasus tersebut seperti Al Iaquinta, petarung Ultimate Fighting Championship (UFC) yang memiliki pekerjaan lain sebagai agen real estate. Tapi ada juga tipe petarung seperti “Platinum” Mike Perry yang memang menyukai kompetisi dan tantangan yang diberikan hingga ia menerima segala konsekuensi sebagai pesaing dalam olahraga yang penuh dengan kekerasan seperti MMA.

(Video: Mike Perry, Seorang petarung MMA + Barbarian)

Skena MMA di Indonesia sendiri sangat populer karena adanya eksposur UFC (Ultimate Fighting Championship) dan juga One Pride di televisi. Namun di balik layar skena MMA di Indonesia dipenuhi oleh drama yang tidak jelas. Karena kualitas fighter di Indonesia belum bisa mengimbangi kualitas fighter luar, seorang black belt sangat diagung-agungkan dan karena itu seringkali ada kasus dimana orang-orang itu sangat pelit ilmu. Organisasi lokal seperti One Pride sangat baik bagi perkembangan MMA di Indonesia namun kualitas partisipan belum begitu bagus karena mayoritas diisi dengan anak-anak muay thai yang tidak tahu apa-apa soal MMA tapi mereka ingin mendapatkan uang secara cepat. Di Indonesia juga banyak kasus drama antara gym, bentuk drama tersebut bisa dari gengsi sampai menjelekan nama baik. Karena MMA sangat baru di Indonesia seringkali terjadi rip off dan korupsi di gym jadi kita harus berhati-hati ketika kita memilih gym untuk berlatih MMA. Namun MMA Indonesia potensi nya sangat besar dengan adanya fighter-fighter seperti Stefer Rahardian, Sunoto, dan Mario Satya Wirawan. Dan tentu saja, siapa yang belum pernah dengar nama Legenda MMA Indonesia, Adiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii Paryanto!?

View this post on Instagram

Fight Club (1999)

A post shared by Kencrotan (@kencrotawn) on

Berkelahi memunculkan berbagai emosi kompleks, baik dalam proses baku hantam maupun sesudahnya, sebutlah amarah, sesal, lega, maupun kesedihan. Penulis pun masing-masing pernah terlibat dalam perkelahian, baik street fight maupun sebagai olahraga dalam konteks kompetisi. Walaupun adu jotos yang kami alami memiliki alasan dan ceritanya yang unik, seusai tiap perkelahian berakhir kami berdua mengalami suatu sensasi yang sama, yakni euphoria.

Di sini kami berbicara sebagai seorang petarung MMA amatir di Jakarta. Misalkan saya (Vio), saya mulai latihan MMA kelas 2 SMP karena acara televisi yang dibuat oleh UFC bernama The Ultimate Fighter. Sesi latihan awal-awal sangat menyenangkan sampai sesi sparring pertama tiba. Sesi sparring pertama tidak mungkin bisa saya lupakan, karena ada satu ronde (1 ronde 5 menit) dimana dari awal sampai akhir sparring partner saya menduduki dada saya sambil mukulin muka saya (teknik ini biasa dikenal dalam MMA sebagai ground-and-pound). Hidung saya mimisan, kepala saya sangat pusing dan setelah sesi itu saya besok nya migraine. Sesi itu sangat memalukan dan menyakitkan, namun setelah itu saya nagih buat kembali lagi ke gym dan latihan.

Bertarung di suatu event atau turnamen MMA adalah salah satu pengalaman saya yang paling stres dan menegangkan. Fight camp berlangsung selama 4 sampai 8 minggu, latihan setiap hari yang berisi drills, sparring dan grappling. Setiap hari dalam fight camp tiap petarung MMA latihan keras untuk persiapan pertandingan yang akan datang, lelahnya camp tersebut berbeda dengan latihan di bidang olahraga yang lain, karena seusai latihan pasti ada cedera ringan dan lebam-lebam setelah kena pukul atau tendang. Ditambah aspek mental yang membuat saya stres dan gelisah, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan mikirin lawan saya. Pada hari pertandingan, kedua teman baik saya yang berasal dari sasana dan fight camp yang sama kalah, oleh karena itu tekanan untuk menang pun lebih terasa ketika saya sedang bersiap-siap di ruang loker. Sesaat sebelum saya harus jalan menuju ring dan tanding, saya benar-benar gugup. Mual, takut, pengen muntah, tapi disaat yang sama pengen boker juga, tapi disaat saya masuk ring rasa takut itu semuanya hilang.

Hasilnya saya menang via K.O. dalam 18 detik dengan kombinasi head kick yang telah saya drill berulang kali selama satu setengah bulan. Setelah terjun ke dunia MMA, berkelahi sudah bukan sekedar suatu “perkelahian” saja, tapi berantem menjadi suatu permainan bagi saya, walaupun permainan tersebut punya konsekuensi yang sangat berbahaya. Membahas nendang orang di kepala dan mencekik seseorang sampai mereka pingsan menjadi suatu bentuk obrolan yang biasa saja dalam kehidupan sehari-hari saya. Saya harus tetap latihan dan fight buat bikin saya ngerasa sane, soalnya ketika saya sudah lama ga latihan saya ngerasa kekerasan itu sebagai candu yang cuma bisa disalurkan lewat berkelahi. Di sisi lain juga saya ngerasa bisa mengekspresikan diri saya secara bebas melalui berkelahi.

Vio Basro Memenangkan Turnamen MMA di Jakarta

Dalam masyarakat perilaku kita dibatasi oleh norma-norma yang ada, oleh karena itu human nature kita terpaksa harus dipendam. Karena nafsu itu dipendam manusia mencari pelarian untuk memenuhi nafsu tersebut. Disaat kita berkelahi ada resiko besar kita akan disakiti, namun karena rush dan euphoria yang kita alami di saat berkelahi mengalami rasa sakit tersebut menjadi worth it. Kekerasan bisa menjadi alat untuk mengekspresikan emosi yang tidak bisa kita ekspresikan di kehidupan sehari-hari kita.

Baku hantam untuk hiburan atau demi menuntaskan suatu masalah sudah terjadi sejak zaman purba, hal tersebut menjadi alasan mengapa berkelahi selalu dibenci sebagai bentuk ekspresi dan olahraga  karena dianggap barbar atau tidak beradab. Namun pada dasar nya kita sebagai manusia tidak bisa lepas dari hasrat yang sudah dirasakan ribuan tahun yang lalu. Saat kita sudah pulang ke rumah dari hari yang melelahkan, tidak dikejar deadline, tidak harus basa basi dengan orang-orang, dan tidak sibuk sendiri dengan gadget kita, manusia pada dasarnya kita sama saja seperti manusia yang “barbar”. Tulang, otot dan darah.

Ada satu film yang muncul dipikiran ketika kami membahas mengenai berkelahi untuk mengekspresikan diri dan sebagai bentuk escapism dari kehidupan sehari-hari kita, film tersebut adalah Fight Club. Sebuah film yang disutradarai David Fincher dan diadaptasi dari novel berjudul sama yang di pena oleh Chuck Palahniuk. Film ini relatable karena Fight Club membahas bagaimana identitas kita ditandai oleh barang-barang yang kita miliki dan bullshit yang harus dihadapi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada 2 karakter utama di film ini yaitu Tyler Durden, seorang penjual sabun dan pria dengan hidup ideal yang diperankan oleh Brad Pitt. Karakter Edward Norton yang tidak pernah disebut namanya, dia adalah pria yang biasa bekerja di kantor yang tidak dia sukai. Karakter-karakter di dalam film ini tidak memiliki wadah untuk melepaskan emosi mereka dan mengekspresikan diri mereka secara bebas. Oleh karena itu Tyler Durden membuat suatu wadah yang bernama Fight Club.

Ada ketentuan tertentu jika ingin beradu jotos di Fight Club, ketentuan tersebut adalah pertarungan yang berlangsung hanya boleh satu persatu, dilarang memakai baju dan dilarang memakai sepatu. Fight Club menjadi pelarian bagi orang-orang yang muak dengan kehidupan sehari-hari mereka yang membosankan dan penuh frustasi. Mereka pun baru bisa merasa hidup setelah adanya wadah yang diberikan oleh Tyler Durden. Seperti yang dikatakan oleh karakter Edward Norton “Yeah, it hurts when i fight, but the pain is liberating”.

Terdapat penjelasan saintifik atas perasaan euphoric yang kita semua rasakan setelah terlibat dalam suatu perkelahian, dan semuanya berasal dari berbagai hormon yang secara alami diproduksi oleh tubuh manusia. Setelah aktivitas fisik berat seperti jogging maupun setelah berhubungan seks, manusia melepaskan beberapa hormon, beberapa diantaranya adalah endorfin dan serotonin.

Serotonin dikenal sebagai “feel good hormone”, karena fungsinya untuk mengatur mood seseorang dan mengurangi tingkat depresi dan anxiety, sedangkan endorfin merupakan hormon yang diproduksi tubuh sebagai respon terhadap rasa sakit. Endorfin dikaitkan dengan fenomena “runner’s high”, suatu perasaan euphoric jangka pendek yang dialami oleh manusia ketika berlari dalam jarak dan jangka yang jauh. Hormon paling signifikan yang muncul dalam perkelahian adalah adrenalin, yang muncul ketika manusia ditempatkan pada situasi yang memicu stress.

Adrenalin memungkinkan kita untuk tidak merasakan sakit serta memicu respon otak dan saraf yang lebih cepat, adrenaline rush ini terkadang memunculkan suatu perasaan dimana kita merasa superhuman. Adrenalin, dikombinasikan dengan kualitas euphoric yang muncul oleh endorfin dan serotonin, memunculkan perasaan unik yang hanya bisa dicapai oleh aktivitas fisik yang intens dalam situasi dimana diri kita merasa terancam, dan seluruh kriteria tersebut terpenuhi ketika kita berantem.

Rasa euphoric dari pelepasan 3 hormon tersebut hanya bisa dibandingkan dengan 1 hal, yaitu narkoba. Terbukti dari hormon serotonin yang dilepaskan salah satu pemicu nya adalah jamur psilocybin dan LSD. Selain itu banyak orang yang terobsesi dan memiliki adiksi terhadap perasaan yang dialami setelah mereka berkelahi, euphoria itu akan selalu dicari oleh manusia. Karena adiksi tersebut muncullah olahraga-olahraga kombat seperti Boxing,Muay thai, MMA dan seterusnya. Berantem bisa dibilang narkoba tersendiri yang bentuknya bukan sebuah tanaman organik maupun zat kimia yang dibuat dalam lab, namun sama halnya dengan narkoba, berkelahi bisa menjadi aktivitas yang berbahaya pula.

Pada dasarnya manusia memiliki sifat intrinsik yang menyebabkan mereka untuk menikmati perkelahian, hal tersebut pun dicerminkan pada olahraga kombat maupun anak SMA kampungan yang ribut di depan sekolah. Kami mendorong anda untuk mengalami situasi fight or flight setidaknya sekali dalam hidup anda, namun kami tidak menyuruh anda untuk keluar dan cari ribut, karena semua hal diatas dapat anda rasakan dalam suatu controlled environment seperti di sasana olahraga. Keluar dari zona aman anda dan alamilah rasanya dipukul di kepala dan menyadari bahwa anda tidak selemah yang anda kira, it doesn’t hurt as much as you expect it to be.

“How much can you know about yourself if you’ve never been in a fight?”- Tyler Durden

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *