LOADING

Type to search

Mengenang Pergerakan Progressive-Rock Indonesia & Kebangkitannya

EVENT

Mengenang Pergerakan Progressive-Rock Indonesia & Kebangkitannya

Defta Ananta 03/04/2018
Share

Secara personal saya mulai mengenal genre progressive-rock dari koleksi kaset-kaset tua milik ayah saya. Band-band klasik seperti Pink Floyd, Led Zeppelin, Rush, Jethro Tull, dan lainnya secara bergantian diputar dalam mobil ketika ayah saya mengantarkan saya berserta adik menuju sekolah dasar. Walaupun dulu bagi saya, seorang bocah ingusan yang belum terlalu paham dengan kompleksitas musik yang saya dengar, namun secara tidak sadar ternyata musik-musik tersebut tertanam di pikiran saya dengan cukup lama. Ketika menginjak bangku SMA saya mulai “menggali” kembali musik-musik yang dulu selalu mengisi di perjalanan menuju sekolah. Saat itu juga saya dan teman saya menemukan sebuah mahakarya album kompilasi dengan judul “Those Shocking Shaking Days” yang dihasilkan oleh band dan musisi tanah air pada era orde baru. Semenjak saat itu saya mulai terkesima dengan hasil kreatifitas musik anak-anak muda pada masa tersebut.

Mungkin beberapa dari kalian sudah mengenal atau bahkan “khatam” dengan lagu-lagu yang tersaji di dalam album tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri pergerakan budaya music rock yang dimulai di Inggris dengan ciri khas gaya musik progressive-psychedelia pada tahun 1960-1970an sangatlah kuat. Indonesia, nyatanya telah menjadi salah satu objek yang turut terpengaruh oleh “The UK Music Invasion”. Nama-nama besar seperti Shark Move, AKA, Panbers, hingga Black Brothers pada dasarnya sangat identik dengan warna musik hard rock yang dikemas dalam nuansa progressive-psychedelia yang nyatanya memang mendominasi pada masa tersebut. Album kompilasi “Those Shocking Shaking Days” mungkin dapat dikatakan sebagai suatu manifestasi serta tonggak lahirnya skena music rock di Indonesia, terutama dalam pembentukan sub-kultur yang baru pada anak-anak muda pada masa 1970 – 1980an. Album kompilasi yang kental dengan suara distorsi fuzz, ketukan ritmik yang kuat, serta nuansa lirik yang dilatarbelakangi oleh keadaan politik rezim orde baru, terbungkus secara apik dalam gaya lo-fi / analog production yang tetap mempertahankan energi organik dari setiap musisi yang terlibat.

Jika kita menilik latar belakang sejarah, lahirnya skena musik progressive-rock di Indonesia sepertinya banyak nama-nama tokoh yang bertanggungjawab sebagai figur – figur penting, namun jika harus memilih saya akan menempatkan nama Benny Soebardja sebagai seorang “leluhur” musik progressive-rock di Indonesia. Banyak yang mengatakan dirinya sebagai “The godfather of Indonesian Progressive-rock”, gelar bergengsi yang diberikan pada dirinya saya rasa memang cukup beralasan karena Beliau bersama Shark Move beserta rekan seperjuangan lainnya telah berhasil melahirkan suatu sub-kultur yang berperan sebagai katalis sosial serta medium perlawanan terhadap rezim orde baru yang kala itu sangat terkesan mengekang kebebasan seseorang untuk berkarya / berekspresi. Dan tentu saja pada periode 1970-1980an memang dapat dikatakan sebagai suatu golden era bagi penggiat musik rock karena banyaknya karya – karya influential yang masih relevan hingga masa sekarang.

Pada masa itu juga, Shark Move menolak untuk “tunduk” kedalam arus utama tren musik pada era tersebut yang mayoritas terdiri dari musik-musik yang bernuansa sedih dan mellow. Dan sejak saat itu pula keputusan Benny Soebardja dan Shark Move yang menolak selera pasar akhirnya mengantarkan dirinya untuk mendirikan label independen yang berdasar pada visi dan misi mereka untuk menggebrak industri musik pada era tersebut dengan menawarkan warna musik yang berbeda melalui perilisan album “Ghede Chokra’s”. Mengutip dari isi wawancara yang dilakukan oleh majalah It’s Psychedelic Baby, Benny Soebardja mengaku bahwa Shark Move merupakan sebuah bentuk jalan keluar dari rasa jenuhnya sebagai cover band serta bentuk ekspresi dari imajinasi dan visi dirinya terhadap musik.

Walaupun hanya dapat bertahan selama satu tahun dikarenakan salah satu personilnya meninggal dunia, manuver yang dilakukan Shark Move untuk merilis album secara independen secara nyata telah merubah ekosistem industri pada era tersebut. Pembentukan label secara independen dengan berfokus pada komunitas “underground” memantik lahirnya sub-kultur baru seperti yang telah dijelaskan diatas. Berbicara mengenai materi musik album “Ghede Chokra’s” secara umum album tersebut bercerita tentang kegundahan personal yang dialami oleh para personil Shark Move. Sebagai contoh, lagu “Evil War” yang menjadi primadona dalam album tersebut bercerita tentang keinginan diri seorang Benny Soebardja sebagai seorang mahasiswa kala itu untuk memprotes kondisi sosial pada era orde baru yang dinilai hanya menguntungkan beberapa pihak saja.      

Kembali dari masa lalu, pada tahun 2011, Now-Again Records asal Amerika Serikat kembali merilis album kompilasi “Those Shocking Shaking Days” untuk kembali menggaungkan kembali citarasa musik rock ala 70an. Tentu saja hal tersebut menjadi sebuah pertanda kebangkitan dari sebuah budaya musik yang pernah menguasai industri musik.  Hal tersebut juga nyatanya menjadi suatu stimulan bagi para penggiat musik di Indonesia untuk berkarya dengan gaya progressive-rock / psychedelia-hard rock, nama-nama seperti Kelompok Penerbang Roket, The S.I.G.I.T,  Mooner, Sigmun dan lainnya sukses meregenerasi genre musik tersebut. Tak sampai disitu saja, pada Desember 2017, scene musik tersebut kembali menarik perhatian label asal Amerika Serikat, Outer Battery Records yang merilis album Shark Move – “Ghede Chokra’s” yang merupakan karya monumental dari Benny Soebardja dkk, serta album perdana Mooner yang berjudul “Tabiat” ke dalam format piringan hitam.

Dengan dirilisnya beberapa album progressive-rock dari Indonesia oleh label rekaman dari Amerika Serikat semakin menunjukan eksistensi talenta musik para musisi Indonesia. Sebagai salah satu band yang meregenerasi, Mooner dapat dikatakan sudah cukup berhasil untuk kembali menggaungkan wacana serta semangat musik rock ala 70an. Band yang beranggotakan Rekti Yoewono (The S.I.G.I.T), Absar Lebeh (The Slave), Pratama Kusuma (Sigmun), dan Marsheilla Safira (Sarasvati) rupanya telah menjadi band yang tidak boleh dilewatkan apabila kita berbicara mengenai perkembangan skena musik progressive-rock di Indonesia. Band supergroup yang telah melakukan beberapa pertunjukan di Australia nyatanya telah menjadi figur influential dalam skena permusikan underground di Indonesia secara umum.

Mooner sendiri sebagai “pendatang baru” dalam industri sejauh ini telah memperlihatkan kualitas musik yang terkandung pada setiap personilnya. Walaupun dalam struktur personil ada sedikit perubahan peran, rupanya hal tersebut tidak menjadi penghalang berarti bagi Mooner untuk memproduksi karya yang fantastis. Rekti Yoewono yang lebih dikenal sebagai gitaris dan vokalis The S.I.G.I.T, memberanikan diri untuk keluar dari zona tersebut dan mencoba mengisi posisi sebagai bassist dalam band tersebut. Demikian juga dengan sang vokalis, Marsheilla Safira yang melejit bersama Sarasvati juga mencoba keluar dari zona nyaman dan memilih untuk terjun ke dalam genre yang bisa dibilang sangat maskulin. Berbeda dengan sang gitaris, Absar Lebeh yang juga dikenal sebagai atlet skateboard berkaliber internasional, berupaya mengisi peran “utama” dalam memberi warna musik dengan gaya permainannya yang cukup apik. Kemudian pada posisi drummer, Pratama “Tamskick” Kusuma dari Sigmun rupanya menjadi pilihan yang tepat dalam mengisi peran sebagai “penjaga” beat. Melalui alunan distorsi yang kental, petikan bassline yang catchy, ketukan drum yang eksplosif, serta vokal yang membius membuat Mooner semakin menjadi sebuah band yang layak untuk merepresentasikan musik progressive-rock khas Indonesia (biasanya mereka menyebutnya dengan nama pariaman-blues).

Setelah menilik latar belakang sejarah serta regenerasi yang ada, maka dari itu untuk turut merayakan kebangkitan dari musik Indo-Rock ini, Cosmo Sound sebagai suatu platform yang berfokus dalam mengadakan sebuah showcase musik dengan mengangkat tema tertentu, mengadakan sebuah acara yang bertajuk “Cosmo Sound Vol.01”. Acara yang akan diselenggarakan pada tanggal 5 April ini akan mengundang Giant Step, Mooner, dan juga Lamebrain untuk mengajak para penikmak musik rock bernostalgia pada musik yang tumbuh subur pada tahun 1970-1980an ini. Selain nama-nama besar seperti Giant step yang merupakan salah satu generasi pertama grup yang membawakan musik progressive-rock di Indonesia yang dibentuk oleh Benny Soebardja dan juga Mooner sebagai salah satu generasi penerus, grup band Lamebrain juga akan turut memeriahkan acara dengan tema Indonesian progressive-rock revival ini.

Dengan mengundang ketiga band tersebut, acara ini juga diharapkan untuk menghilangkan jarak antara generasi pendahulu dan generasi penerusnya, sehingga secara bersamaan bdapat saling mendukung dan juga melestarikan jenis musik tersebut.

Cosmo Sound Vol.01 akan digelar di Spasial, Jl.Gudang Selatan No.22 Bandung pada Kamis, 5 April 2018. Mari kita berkumpul dan semoga kita bisa mendapatkan sebuah pengalaman baru dalam menikmati musik!

 

 

 

 

 

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *