LOADING

Type to search

Body Positivity: Sebuah Justifikasi untuk Kenyamanan Sendiri?

COLUMN FEATURED

Body Positivity: Sebuah Justifikasi untuk Kenyamanan Sendiri?

Siti Adela 11/12/2018
Share

*Artikel ini sudah terbit pada tanggal 29 September 2018 di Zine Incotive Edisi 2

Ilustrasi oleh Mutiara Fakhrani

Ada sebuah perkataan bijak yang menurut saya tak lebih dari omong kosong belaka. “Jangan peduliin apa kata orang! Kamu (sisipkan kata sifat yang positif) kok!”. Terkadang berguna sih, tetapi dalam praktiknya susah sekali untuk diaplikasikan. Walaupun realitanya tidak selalu berkata demikian. Lebih mudah untuk mengeluarkan kartu “setan” daripada kartu “malaikat”, artinya tidak sulit untuk menunjuk kekurangan yang tampak di luar daripada mencoba menemukan kelebihan yang baru muncul kemudian.

Terdengar seperti pergulatan batin, apalagi bagi yang merasa dirinya kurang memenuhi standar sosial yang telah ditetapkan. Jadi ngrasani semua ucapan orang. Bak seleksi alam, masing-masing berusaha mencari pertahanan atas serangan eksistensi yang bertubi-tubi. Tak jarang pula akan berimbas negatif kepada diri si empunya bila ia merasa tidak kuat.

Namun, yang saya amati kini justru berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia (terutama dunia entertainment) perlahan menerima keberadaan individu dengan keunikannya masing-masing. Pertanda bagus, karena itu artinya semakin banyak orang hebat yang dapat menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Saya yakin bahwa kebanyakan dari kita tidak asing lagi dengan nama Meghan Trainor, Ashley Graham, atau Rebel Wilson. Kalau mau oldschool sedikit, masih ingatkah Jonah Hill yang memainkan peran super ‘geblek’ bernama Seth di film Superbad 11 tahun lalu? Nama-nama tersebut adalah bukti nyata bahwa mereka yang berbadan plus size juga bisa sukses, terlepas dari stereotype yang selalu mengikuti.

Jikalau Jonah Hill bisa lebih dulu memprakarsai gerakan mencintai tubuh sendiri a.k.a. body positivity di saat Superbad sedang naik daun, tentu efeknya akan lebih masif. Namun, hal tersebut tidak benar-benar terjadi hingga seorang model plus size asal Amerika mencuri perhatian khalayak umum di dunia maya empat tahun lalu. Sosok Ashley Graham yang berusaha mendobrak persepsi tua tubuh model ala Twiggy, atau harus rela menahan lapar agar badannya bisa sekecil Ally McBeal, kini dengan percaya diri membuktikan bahwa ia pun bisa tampil cetar membahana. Curves are sexy, isn’t it?

Tidak hanya di dunia hiburan, gerakan ini pun merambah ke ranah media sosial. Sering kali saya jumpai akun-akun yang bertujuan untuk menambah kecintaan pada ukuran tubuh sendiri. Mereka berlomba-lomba mengunggah foto diri masing-masing sambil menambahkan caption super panjang, biasanya kata motivasi atau sekadar perjalanan mereka dalam mencapai zen tujuan mencintai diri sendiri. Adalah Megan Jayne Crabbe, pemilik akun Instagram @bodyposipanda,  satu dari sekian akun yang bergerak di bidang body positivity. Ia rajin mengunggah foto dirinya maupun foto sesama rekan di bidang yang sama untuk sama-sama menumbuhkan rasa kepercayaan diri.

Karena penasaran, saya pun tertarik untuk mengetahui pendapat para followers Incotive terkait dengan fenomena body positivity yang sedang marak. Hasilnya adalah 23 dari 42 suara mengakui bahwa mereka belum pernah mendengar gerakan body positivity. Meskipun begitu, ada yang berpendapat bahwa gerakan ini sangat membantu mereka untuk melihat hal-hal positif dalam dirinya sendiri.

Body positivity adalah suatu pandangan yang bisa bikin gua percaya sama tubuh gua sendiri. Yang sebelumnya selalu mengikuti kata orang lain (semacem ‘ah, lu kurus banget sih’), sekarang gua gak harus merhatiin hal-hal semacam itu”, ucap seorang follower. Salah seorang teman saya yang memiliki pengalaman serupa pun menyetujui perkataan tersebut.

“Setuju banget sih. Aku ngerasa karena ada movement itu, aku jadi dianggap ada”. Sabna, begitu ia biasa dipanggil, mengutarakan pemikirannya. “Tujuannya untuk menaikkan self esteem juga efektif banget. Dari situ, kita juga bisa saling menghargai anugrah pada diri sendiri dan juga orang lain”.

Sesaat tujuannya memang mulia sekali. Bersifat mulia bukan berarti tidak memiliki celah untuk dikritisi. Ada satu hal yang sebetulnya agak mengganjal di pikiran saya.

Februari lalu, aksi seorang komedian asal Denmark/Inggris menyulut keributan di ranah Twitter karena berseteru dengan akun lembaga riset untuk kanker. Konflik tersebut bermula ketika Sophe Hagen memberi highlight sebuah foto campaign oleh Cancer Research UK yang menyatakan bahwa obesitas adalah faktor penyebab kedua kanker setelah merokok. Menurut Hagen, campaign tersebut bernada fat-shaming, alias memuat komentar negatif/pelecehan untuk orang plus size. Tidak hanya itu, ia juga menganggap bahwa melakukan diet hanya akan merusak tubuh dan BMI (body mass index) adalah mitos belaka. Pro dan kontra pun akhirnya menyerang Hagen.

Sebelumnya, saya merasa optimis dengan apa yang diusung oleh body positivity, tetapi ketika mengamati kasus Hagen saya jadi tidak bisa berhenti bertanya. Mungkinkah orang-orang dari gerakan yang sama akan terus meragukan sesuatu yang berbasis saintifik? Berbasis sains tidak selamanya ‘saklek’, tetapi memuat hubungan kausal yang jelas. Dalam penelitian saintifik, hasil dan proses riset akan terus berkembang untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi hukum yang dikandung akan selalu berurusan dengan sebab dan akibat. Sehingga ketika Hagen menggugat bahwa kampanye obesitas yang dipublikasikan adalah bentuk fat-shaming, jujur saya tidak bisa menemukan alasan yang tepat dimana bagian pelecehannya. Sederhana saja: terlalu berlebihan itu tidak baik. Begitu pula dengan logika obesitas ini.

Mari kita kembali menelusuri sejarah. Tubuh kita sejatinya diciptakan untuk senantiasa bergerak demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada masa prasejarah, kita dituntut untuk berburu demi bisa makan, lalu berjalan jauh untuk berpindah demi mencari tempat tinggal yang layak. Kelincahan, stamina, dan ketahanan tubuh nenek moyang kita selalu di tes untuk bisa hidup. Hal tersebut terus berlangsung hingga memasuki revolusi industri yang lambat laun menurunkan produktivitas manusia.

Seiring dengan berjalannya waktu, alat pabrik mengalami transisi dan masuk ke era mesin, sehingga manusia tidak dituntut lagi untuk terus bekerja keras. Untuk  mendapat bahan makanan pun tergolong mudah karena kita mengandalkan orang lain untuk memperolehnya, sehingga menghemat efisiensi. Cost pun menjadi begitu rendah dan kita hanya tinggal membeli saja di pasar atau swalayan terdekat.

Maka, kembali lagi ke pertanyaan saya: apakah body positivity movement sesungguhnya menyimpan keleluasaan untuk menjustifikasi alasan tersendiri? Bahwa diet untuk lebih sehat itu buruk tetapi makan junk food itu sangat recommended? Mengapa begitu sulit untuk menerima kenyataan bahwa sejatinya makanan favorit anda itu memiliki lemak jahat?

Saya menghargai segala bentuk semangat perjuangan sesama rekan di body positivity yang pada dasarnya ingin menumbuhkan rasa apresiasi terhadap diri sendiri. Tetapi saya tidak mengerti bagaimana beberapa dari Anda bisa melihat hidup sehat  sebagai sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri. I don’t know guys, but veggies and fruits? Sedikit meditasi dan olahraga rutin 10 menit per hari, yang penting small steps? Gue serius, mereka gak bakal menyakiti lo semua. Justru kalian akan merasa bahagia secara jasmani dan pikiran.Tapi mungkin aja definisi bahagia kita beda.

Tags:
Siti Adela

Seseorang yang seimbang sesuai rasi bintang. Belum sarapan kalau belum menyantap satu album apapun dari Red Hot Chili Peppers. Gak demen cengek. Murah senyum alhamdulillah :) (tapi tetep dibilang jutek :<)

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *