LOADING

Type to search

Budaya Pop dan Bagaimana Cara Kita Menikmati Hidup

COLUMN FEATURED

Budaya Pop dan Bagaimana Cara Kita Menikmati Hidup

INCOTIVE 12/07/2019
Share

Teks oleh Yoga Walanda Caesareka
Ilustrasi oleh Pininta Taruli

“Lantas, apalagi hal yang paling telanjang dari yang Telanjang, yang paling real dari yang Real, dan yang paling absurd dari yang Absurd, kalau bukan gaya hidup yang tengah dipertontonkan oleh berbagai kekuatan dan subkultur dalam masyarakat?”

Idi Subandy Ibrahim mengungkapkan gagasan tersebut, dalam satu essay yang menjelaskan bagaimana Budaya Populer menjadi sebuah fenomena yang sangat membodohi manusia. Demikian juga seiring dengan berkembangnya pusat hiburan dan perbelanjaan mewah, café-café yang menjamur, tayangan-tayangan televisi maupun youtube, yang kian dikonsumsi oleh masyarakat yang disebut Theodore W. Adorno: commodity society, dan pengaruhnya kepada apa yang disebut belakangan ini sebagai Kebudayaan Populer.

Termasuk kepada bagaimana dinamika masyarakat bekerja, menjadikan sebuah gaya hidup menjadi sebuah aspek penting dalam pribadi masing-masing. “Lifestyle is opium of the masses”, gaya hidup bahkan menjadi sebuah komoditas.

Budaya tersebut berdampingan dengan pesatnya perkembangan media massa dan juga penerapan ideologi kapitalisme yang jauh lebih mutakhir, sehingga individu gagal untuk melihat “apa yang tidak terlihat” di dalam penerapan hal tersebut dalam keseharian.

Produksi dan Reproduksi

Adalah perkembangan revolusi industri yang menyebabkan sebuah produksi dan reproduksi menjadi sedemikian hebatnya (massification of product). Pertumbuhan teknologi secara pesat yang kian pesat menghadirkan kondisi dimana sebuah barang dapat diproduksi dalam kuantitas yang sangat besar dengan harga yang rendah.

Hal ini membangun dan menuntut sebuah standarisasi, yang berakibat selera massal dapat diatur sedemikian rupa dan berujung pada penyeragaman produk budaya. Hal ini biasa disebut kebudayaan massa. Produksi dan reproduksi, serta penyeragaman budaya memfokuskan kepada sebuah homogenisasi terhadap selera, yang menyebabkan luasnya sebuah pasar komoditas.

Jika ditarik secara jauh, kondisi yang dapat dibentuk yakni selera pasar yang dikonstruksi sesuai dengan logika pemilik modal (kapitalisme). Kondisi tersebut juga dikatakan sebagai komersialisasi produk budaya. Dalam proses massifikasi tersebut, media massa sangat memiliki peran yang penting untuk menciptakan sebuah keuntungan yang sangat besar.

Media Massa dan Kapitalisme: Kolaborasi Mutakhir

Komersialisasi produk budaya berujung pada tingginya tuntutan pasar. Karena itulah, massa menjadi sasaran penting bagi segenap iklan atau produk yang dibuat media massa.

Kita sadar bahwa belakangan, sering kita temui berbagai iklan dalam keseharian yang sangat mengusik atau menggoda diri. Sangat penting untuk mengerti bagaimana hegemoni bekerja dalam situasi seperti ini.

Antonio Gramscii lebih jauh mengkonsep bagaimana Hegemoni bekerja dalam keseharian. Hegemoni itu sendiri berasal dari Bahasa Yunani: egemonia, yang berarti pemimpin atau penguasa. Hegemoni secara sederhana dapat diartikan sebagai cara menguasai sesuatu secara paksa atau “tak sadar” / “tanpa disadari.

Masyarakat dikonsep agar membutuhkan teknologi sebagai ideologi mereka. Secara tidak sadar masyarakat mengalami penindasan yang tidak mereka rasakan.

Sebuah media tentunya mempunyai sebuah ideologi yang tersimpan dalam setiap-setiap produk yang dihasilkannya. Secara tidak sadar, masyarakat menjadikan hal tersebut sebagai ekstasi dan tentunya akan mengkonsumsinya secara terus-menerus.

Secara sederhana, ini merupakan potret bagaimana hegemoni dalam kapitalisme bekerja. Masyarakat tidak sadar bahwa benak mereka telah terpatri oleh ideologi-ideologi yang terkandung di dalam sebuah produk, yang tentunya merujuk pada komersialisasi budaya.

Hal ini juga dapat disebut sebagai “Industri Kebudayaan”. Media massa menciptakan hegemoni melalui konstruksi ideologi: Apa makna cantik dan seksi bagi perempuan? Bagaimana menjadi keren seperti anak muda kebanyakan? Jawabannya sangat subyektif, namun media massa mengontrol itu semua pada konten dalam produknya.

“..ah kayanya gue lebih highclass kalo belanja di mall sana” atau “anjirlah, kayanya gue belom jadi anak indie kalo gue belom punya ini ituatau pergi ke café yang lagi hits”. Dalam skema yang sederhana, demikian yang bisa disimpulkan: Media massa — hegemoni — standarisasi selera massa — tuntutan pasar — komersialisasi produk budaya — keuntungan besar.

Mengutip Dwight MacDonald dalam karya “The Theory of Mass Culture”, yakni “Massa yang telah dirusakan moralnya selama beberapa generasi, pada gilirannya menuntut produk budaya yang sepele dan menggiurkan”.

Budaya: Populer, Konsumerisme, hingga Masyarakat Tontonan

Kita sadar belakangan dengan menjamurnya café atau tempat nongkrong, produk fashion, lampu tumblr, film-film romantis, musik-musik senja dan sebagainya. Ya, hal tersebut merupakan gaya hidup dan menjadi sebuah budaya kebanyakan. Seperti kekurangan eksistensi jika tidak dapat mengkonsumsi hal tersebut dalam kehidupan kontemporer. “Lifestyle is opium of the masses”.

Budaya Populer (Pop), demikian potretnya. Dengan rangkuman definisi sederhana: budaya yang disenangi banyak orang. Hegemoni dan massifikasi berujung pada kondisi mengapa belakangan sering muncul produk yang mudah dikonsumsi dan seragam.

Budaya Pop menawarkan masyarakat seragam gaya hidup yang menyenangkan: jaket bomber, music indie folks, kopi cold brew, lipstick hingga cat warna rambut. Budaya Pop menjamur dengan bantuan kapitalisme dan media massa, melalui proses yang dijelaskan pada sub-bab sebelumnya.

Budaya ini bersifat trend atau dalam artian hanya dikonsumsi secara periodik, tentunya tergantung bagaimana hegemoni dalam media massa bekerja, juga tentunya berhubungan dengan tuntutan pasar yang melejit.

Produk yang ditawarkan Budaya Pop akan berdampak: konsumerisme. Ini merupakan wujud dari keberhasilan pada konsep kapitalisme: yakni konsumsi itu sendiri.

Budaya Pop secara mutakhir menghasilkan berbagai produk yang semakin terus direproduksi, kemudian dikonsumsi secara berlebihan dan tanpa sadar, untuk pemenuhan kepuasan gaya hidup semata.

Hal tersebut juga potret dengan apa yang disebut Karl Marx sebagai: commodity fetishism. “Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan…, manusia justru melakukan diferensiasi yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi”.

Jean Baudrillard menyebut kondisi tersebut dengan istilah “masyarakat konsumer” dan menyatakan bahwa konsumsi yang terjadi sekarang ini telah menjadi konsumsi simbolis.

Dalam wacana postmodernism, Baudrillard mengkonsep apa yang disebut “symbolic/sign value”, disamping dengan gagasan kapitalisme: “exchange and use value”, yang hadir dalam sebuah produk-produk budaya.

Juga merujuk pada Guy Debord dalam karya “Comodity of Spectale”, menggagas bahwa konsumerisme tidak mengacu pada nilai guna sebuah benda, namun sebagai nilai tanda.

Kita mengkonsumsi sesuatu yang tidak memiliki urgensi pada kebutuhan: hanya sekadar menunjukan status sosial. Dengan kata lain “Budaya Masyarakat Tontonan” yakni fenomena matinya use values pada suatu benda: maka itulah belakangan kita sering menjumpai: “kok kopi-kopi di café asem ya?”“gue suka aja music indie folk soalnya liriknya puitis”“iyalah gue pake merk ini, masa gue gak update”.

Budaya Pop dikonsumsi hanya sebatas pemenuhan gaya hidup yang palsu. Seperti ada kerancuan bahwa: kita tidak mengerti apa yang baru saja kita konsumsi, atau hanya menggagas eksistensi (pengakuan) terhadap sebuah kelas sosial.

Teringat pada karya yang diciptakan oleh Farid Stevy: “Too poor for Pop Culture”. Tanda-tanda palsu yang diberikan oleh konsumer Budaya Pop bahkan sering menggiring pada biasnya konsep semiotika, signifier-signified: sign: bahwa apa yang kita lihat, belum tentu demikian kesimpulannya. Sederhana dalam potret kerancuan berpikir: “kenapa gue pakai Supreme: karena lagi ngetrend dan gue mau keliatan kalo gue mampu beli”.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *