LOADING

Type to search

Budaya Skeptis Tipikal Orang Indonesia

COLUMN

Budaya Skeptis Tipikal Orang Indonesia

Adela 30/09/2017
Share

Pasca kejadian yang menimpa teman-teman dari LBH Jakarta tanggal 17 September silam, timeline Facebook saya dipenuhi oleh sejumlah unggahan berupa tanggapan atas peristiwa penyerangan. Keduanya terbagi menjadi dua kubu yang ganas, tetapi cirinya sama: sama-sama mengutuk. Yang satu mengutuk bernada kemarahan akan “how clueless the demonstrators are, yang satu lagi mengutuk bibit “Partai Jahannam” sekaligus gembira bahwa sudah ada “pahlawan” yang tak gentar melawan orang-orang. Lain lagi dengan Twitter. Karakteristik utamanya yang hanya memuat 140 karakter kontan membuat argumen menjadi dibatasi dan terpotong-potong, namun tak kalah ganas dengan apa yang terjadi di Facebook. Tagar #GanyangPKI sempat menjadi trending topic di kedua media sosial. Dunia maya berubah menjadi arena dimana para aktivis dari dua belah kubu sibuk menunjukkan sisi kebenaran menurut versi mereka.

Belum selesai, salah satu televisi swasta menggelar acara diskusi kritis terkait dengan isu kembalinya PKI. Sejumlah orang dengan berbagai kepentingan diundang untuk angkat bicara. Saling mengeras pun terjadi hingga akhirnya diskusi tak ubah dengan sebuah kubu yang terlalu mendominasi, sehingga kurang memberikan insight berupa sisi lain dari topik. Ujung-ujungnya kembali lagi ke retorika usang bahwa pemutaran film G30S/PKI harus digiatkan kembali, khususnya untuk anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Nampaknya sudah paham betul bahwa selagi kemampuan critical thinking anak belum tumbuh, saatnya untuk membentuk cara pandang anak sesuai yang diinginkan. Meski Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tidak menyetujui kebijakan tersebut, nyatanya saya masih melihat adanya selebaran berisikan acara kumpul-kumpul lucu melihat propaganda di rumah ibadah. Ini sih semua orang, termasuk anak-anak, bisa dengan mudahnya ikut kumpul.

Suatu hari saya iseng bertanya pada salah satu siswa saya tentang negara yang paling tidak diminati untuk menggantungkan hidup. Dengan enteng dia menjawab Rusia (bukan Uni Soviet bahkan!). Saya tanya mengapa dan tanpa pikir panjang siswa saya menjawab:

“Karena Rusia percaya komunisme. Mereka gak percaya Tuhan.”

“Tetapi apakah kamu yakin komunisme itu buruk secara keseluruhan? Kalau dilihat-lihat, mereka juga mendambakan kesetaraan dalam ekonomi lho.”

Untuk beberapa detik, dirinya terdiam. Kentara sekali kehabisan argumen.

“Ya balik lagi, mereka gak percaya dengan adanya Tuhan. Gak cocok sama identitas negara ini.”

Betul bahwa Soekarno melayangkan kritik pada poin ajaran The Communist Manifesto yang berisi kurangnya keterlibatan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, namun hanya itu saja. Sisanya beliau begitu terpukau dengan ajaran kiri, lalu melahirkan pemikiran Marhaenisme yang isinya tak jauh berbeda. Pemikiran itu berlandaskan dengan fokus untuk membebaskan kaum proletar dari cengkraman. Terdengar mirip?

“Emangnya kamu tahu apa identitas negara yang sesungguhnya?”

Skakmat. Hanya ada cengiran tidak jelas yang menghiasi wajahnya. Sebetulnya saya tidak punya intensi menyerang balik, jadi saya langsung mengganti topik pembicaraan. Orang yang saya hadapi saat itu adalah the perfect embodiment dari ribuan pengguna media sosial yang cenderung berkomentar asal, tanpa dasar pengetahuan yang kuat dan mudah sekali dibohongi jika disodori foto Monas terbelah dua saat itu juga. Agak miris bagi saya karena di usianya yang hendak memasuki universitas, semestinya dia mengerti bahwa kemampuan membaca secara komprehensif sangat dibutuhkan supaya bisa survive di dunia akademik. Mungkin ini yang membuat orang kita kurang maju?

Tentu saja saya tidak akan berkoar-koar lebih lanjut mengenai “ajaran monyet Darwin” karena saya yakin Anda bisa membacanya sendiri. Ilustrasi-ilustrasi yang telah saya cantumkan adalah perwujudan dari bagaimana watak sebagian rakyat Indonesia yang begitu acuh terhadap sejarah. Tidak berniat untuk mencari tahu, tidak berniat untuk mendalami, apalagi memasuki dimensi yang lebih tinggi seperti mengkritik. Berbekal dengan alasan-alasan kacang seperti “emangnya apa yang lagi terjadi di Afrika ngaruh sama gue?” atau “buat apa sih lo pada ribut-ribut soal Kim Jong yang nun jauh di sana? Gak mungkin lah ada nuklir!” Pemikiran itu sudah lama merasuki alam bawah sadar manusia dan akhirnya mereka selalu tergoda untuk mengurus urusan rumah tangga. Terdengar sedikit mulia, tetapi ini juga bisa berarti “kalau anak tetangga saya yang perempuan selalu pulang malam, maka saya berhak untuk menyindirnya.” Tapi mereka tak pernah tahu apa yang anak perempuan itu lakukan. Bisa jadi anak itu pulang malam karena tugas kuliah atau mencari nafkah tambahan. Masyarakat kita merasa berhak untuk mencampuri pilihan personal seseorang karena hal itu juga menyangkut kemaslahatan umat!!1!1!!!!!1! Semua itu lebih menyenangkan dibandingkan harus susah payah membaca dan merenung!

Selain itu juga rakyat cenderung menerima informasi dari salah satu sisi tanpa menumbuhkan sikap skeptis. Terlalu fanatik juga berbahaya karena mendorong kecenderungan untuk berperilaku destruktif apabila kepercayaannya terhadap doktrin tertentu diolok-olok. Tidak ada yang salah dengan menaruh kepercayaan terhadap sesuatu, tetapi akan lebih bijak apabila kepercayaan tersebut lahir berdasarkan serangkaian fase penting. Fase ini saya asumsikan sebagai fase perbandingan, saat Anda berupaya untuk membandingkan dua teori atau lebih sebelum Anda meraih keputusan terakhir. Dari situ bisa ditarik beberapa poin penting dan selanjutnya tergantung perspektif Anda, apakah setuju atau tidak. Sewaktu saya bekerja bersama seorang teman dari Australia untuk membuat sebuah presentasi, ia menambahkan poin “kritik atas teori yang telah dicantumkan”.  Teman saya bilang bahwa itu adalah cara untuk membuat suasana kelas lebih hidup. Orang sana telah terbiasa untuk saling berdiskusi dengan membawa point of view masing-masing. Adanya argumen yang bersifat konstruktif sangat diperlukan untuk membangun pemahaman siswa. Terdengar langka bagi yang selalu takut untuk mengungkapkan opini ya?

Akhir kata, sekiranya opini ini mesti dengan pertanyaan berbasis reflektif. Jangan terburu-buru untuk menjawab, baiknya dipikir matang-matang sambil minum kopi dan ngaso santai di tempat jemuran: apakah Anda sudah cukup kritis dengan fenomena masa kini? Berapa banyak buku yang telah Anda baca bulan ini? Satu lagi untuk para netijen yang sudah keburu ‘sensi’ sama paham kiri, saya sarankan untuk membaca karya besar dari Karl Marx yang berjudul The Communist Manifesto, baru Anda boleh menyampaikan ketidakpuasan terhadap ajaran tersebut. Hal ini jauh terdengar lebih manusiawi ketimbang serang sana-sini, bisa jadi Anda tidak paham betul pokok ajarannya. Tentunya dengan hati yang lapang ya.

 

Foto oleh: Nadhif Ilyasa

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *