LOADING

Type to search

Film Pilihan: Membunuh “Titik Mati” Kehidupan lewat Castaway on the Moon

SELECTION

Film Pilihan: Membunuh “Titik Mati” Kehidupan lewat Castaway on the Moon

INCOTIVE 30/06/2018
Share

teks: Deliani Darma Freskya

Titik balik kehidupan untuk meraih kemenangan kembali adalah ketika seseorang mencapai “titik mati” akan segala hal dalam hidupnya. Manusia memiliki batas-batas maksimum untuk berbagai rasa yang mereka punya, ketika sudah mencapai titik maksimum akan segala kompleksitas rasa; momen-momen tersebut merupakan “titik mati” kehidupan. Titik mati yang nantinya akan melahirkan rasa bosan, putus asa, depresi dan yang paling parah adalah keinginan untuk mengakhiri hidup a.k.a bunuh diri.

Namun jika si titik mati ini bisa di treatment dengan bijak oleh si empunya rasa, maka akan menjadi bahan bakar yang baik untuk maju dan menemukan titik balik kehidupan. Sebuah cara untuk kembali merasakan beragam kompleksitas rasa yang indah, bahkan lebih indah dari sebelumnya; sebuah kemenangan kembali untuk tetap meresapi esensi dari kata “hidup”. Hal inilah yang coba diungkapkan oleh Castaway on the Moon, sebuah film Korea Selatan yang dirilis tahun 2009 lalu.

Titik Mati Kim Seung-geun

Film ini diawali dengan adegan seorang pemuda paruh baya bernama Kim Seung Geun yang berniat bunuh diri dengan cara lompat dari atas jembatan Sungai Han karna berbagai macam kompleksitas permasalahan hidup, yang membuatnya sampai pada “titik mati” kehidupan. Mulai dari hutang kartu kredit, kehilangan pekerjaan, juga kehilangan kekasih. Alih – alih mati dan menghilangkan segala permasalahan hidupnya, Kim malah terdampar disebuah pulau kecil tak berpenghuni.

“Stupid, I can’t even die”

Penggalan dialog yang mampu menggambarkan betapa Kim Seung-geun  begitu tidak bisa memiliki apa yang dia inginkan, bahkan ketika ia menginginkan kematian, Tuhan tidak memberinya kematian tersebut. Namun dengan kemampuan acting Jung Jae-young dalam memerankan karakter Kim Seong-geun, dialog tersebut mampu dibuat sedemikian komedik dengan ekspresi yang ia bangun. Selain kemampuan acting Jung, pengambilan sudut gambar dan grading yang pas membuat penonton tetap betah dan melupakan pikiran “duh ini sih bakal kaya film Cast Away nya Tom Hanks doang” pada menit-menit awal.

Meski memang, jika terus diikuti, secara garis besar Castaway on the Moon ini memang memiliki premis yang sama dengan Cast Away (2000) yang diperankan oleh Tom Hanks; terdampar, mencoba mencari pertolongan, namun akhirnya pasrah dan memilih untuk survive di pulau tersebut. Bahkan sampai adegan dimana mereka hanya dapat berkomunikasi dengan benda yang mereka ciptakan. Namun keunikan Castaway on the Moon ini memang ada pada segi estetika dimana setiap scene yang disajikan mengalir dengan natural, dengan pergerakan sudut gambar yang smooth; berbeda dengan Cast Away milik Tom Hanks yang terkesan kaku dan monoton.

Hingga akhirnya, Lee Hae-jun selaku sutradara berhasil membangun suasana dengan sangat rapi dan hidup, dengan elemen-elemen yang pas; tidak wasting seperti kebanyakan film Korea lainnya. Lewat cinematography yang dekimian epic, Lee berhasil membuat titik mati Kim Seung-geun terasa hidup.

Titik Balik Kehidupan Kim Seung-geun

Arus kehidupan yang semakin deras dalam segala aspek, memang membuat siapa saja yang tidak siap berlari mengikuti arusnya akan terseret. Namun adakalanya ketika sudah terseret, lalu luka dan tahu-tahu sudah tertinggal jauh, yang bisa dilakukan hanyalah membuat arus yang sesuai dengan kecepatan diri.

Begitulah yang dilakukan Kim Seung-geun ketika akhirnya memilih untuk tetap tinggal di pulau tersebut, bahkan kini Kim tidak ingin diselamatkan oleh siapapun. Karna menurutnya tempat tersebut sudah sangat sesuai dan cocok untuknya, dia tidak ingin lagi terseret arus kota yang serba modern dan mahal.

Kim menyadari bahwa ia masih bisa bertahan hidup dengan tidur di dalam perahu bebek beralaskan jerami, memakan daging burung, ikan dari sungai dan jamur di dalam hutan. Begitu kiranya Kim menjalani harinya, selain makan, Kim juga menyisir sudut-sudut pulau untuk mengumpulkan barang-barang yang dilihatnya. Hingga pada suatu hari, Kim menemukan bumbu mie kacang hitam. Darisana Kim mulai terpacu untuk membuat mie tersebut, sebuah harapan sederhana yang dari dulu biasa ia lewatkan. Akhirnya Kim, menemukan titik balik hidupnya; sebuah kemenangan kembali akan esensi kata “hidup”.

Lewat Kim, sang sutradara ingin mengingatkan bahwa; kita masih bisa hidup hanya bermodal hasrat, pikiran, niat dan harapan yang kuat akan hal-hal sederhana. Kim juga menjadi refleksi metaphora dari pengaruh sosial dan lingkungan lah yang membuat hidup menjadi penuh dengan tuntutan dan keinginan yang muluk-muluk; sebuah pengingat bahwa sebenarnya hidup itu gak mahal, yang mahal itu gaya hidup.

Sebuah gambaran yang jauh dari pop-culture yang berkembang di Indonesia, dimana masyarakatnya selalu berlomba-lomba untuk mengikuti arus kehidupan yang semakin menghidupkan sisi konsumtif yang semakin parah. Gak ngikutin trend dikit, takut dibilang kudet. Gak beli hape apel terbaru, takut dibilang gak high-class. Gayanya kurang haipbiz, takut dibilang gak gaul. Sehingga akhirnya terpaksa mengikuti arus yang tidak sesuai kecepatannya, karna takut dinyinyirin. Akhirnya memaksakan segala macam hal untuk mengikuti arus yang berujung terseret dan luka.

Mungkin itu semua yang dulu dilakukan Kim, hingga terlilit hutang, entahlah tidak ada yang tahu. Mungkin kita bisa tanyakan pada Kim Jung-yeon, yang ternyata sedari awal meneropong kehidupan Kim Seong-geun dari dalam kamarnya.

Titik Balik Kehidupan Kim Jung-yeon

Surprise! Kejutan datang dari dalam sebuah kamar milik Kim Jung-yeon. Sosok yang dapat membawa angin segar dari dalam kamar yang pengap. Karakter yang benar benar tidak disangka – sangka akan muncul di pertengahan film. Membuat film ini benar benar jauh berbeda dengan Cast Away milik Tom Hanks.

Tanpa sepengetahuan Kim Seung-geun, diam-diam Kim Jung-yeon mengamati kehidupan Kim Seung-geun dari kamar apartement-nya. Memantau berbagai kegiatan yang dilakukan Kim, sampai memotret momen-momen menarik. Setelah melihat Kim Seung dari mata kameranya, Kim Jung menemukan titik balik hidupnya. Dia berani mengambil langkah besar untuk mau keluar dari kamarnya; untuk mengirimi surat pada Kim Seung lewat botol, setelah bertahun-tahun memilih untuk mengurung diri di dalam kamar dan mengasingkan diri dari lingkungan sosial yang ada. Hidupnya dipenuhi dengan rutinitasnya didepan komputer untuk bersosialisasi di dunia maya dengan menggunakan foto perempuan cantik yang bukan dirinya.

Castaway on the Moon menjadi terasa hidup dengan kehadiran Kim Jung-yeon. Selain itu, lagi-lagi, grading dan angle pengambilan sudut gambar yang disajikan membuat kamar Kim yang pengap dan penuh sampah menjadi terlihat lebih syahdu, begitu mampu membungkus setting-setting gelap menjadi obat mata. Jung Ryeo-won selaku pemeran Kim Jung-yeon pun mampu menghidupkan karakter Kim yang dark. Setting dan karakter yang dark ini diperkaya dengan sentuhan musik-musik yang ironic-healling sehingga terasa semakin menghidupkan sisi gelap yang menyentuh. Sebuah kompleksitas yang mampu menghidupkan elemen-elemen kematian yang gelap.

Namun pada akhirnya Kim Jung tidak pernah tau bagaimana gaya hidup Kim Seung sebelumnya. Mungkin Lee, sang sutradara lebih tahu bagaimana gaya hidup Kim Seung namun dengan bijaknya Lee tidak memberi banyak flashback yang akan wasting time. Hanya dengan premis dan alur natural, Lee mampu membangun suasa dan karakter sedemikian rupa, hingga penonton akhirnya terbawa suasana yang menghanyutkan.

Membunuh “Titik Mati”

Sehingga lewat titik balik Kim dan Kim dalam Castaway on the Moon, kita tahu bahwa titik balik kehidupan kita akan mempengaruhi titik balik seseorang juga. Sehingga titik balik antara manusia yang satu dan lainnya bisa sangat berkesinambungan dalam memberi impact. Kita masih punya fungsi untuk menggerakan dunia ini bahkan saat berada di titik mati sekalipun. Sebuah pemacu untuk kembali meraih kemenangan dan membunuh “titik mati” yang menggerogoti esensi hidup.

Castaway on the Moon juga berhasil membunuh titik mati film-film korea yang dipenuhi drama percintaan klasik dan drama comedy yang penuh dengan adegan-adegan wasting time. Sebuah oase penyejuk bagi mereka-mereka pecinta film Korea bahkan untuk mereka yang tidak menyukai film Korea. Sehingga tidak heran jika film dan pemainnya meraih berbagai macam penghargaan seperti Hawaii International Film Festival (NETPAC Award), Golden Cinematography Award (Best Actor), New York Asian Film Festival (Audience Award) dan Fantasia International Film Festival (Spesial Jury Prize).

Film Castaway on the Moon merupakan film pilihan yang tepat untuk anda para pembaca setia incotive tonton sambil menutup bulan Juni yang penuh kemenangan ini.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *