LOADING

Type to search

Cerita Dewasa Bukan Untuk Pria

COLUMN

Cerita Dewasa Bukan Untuk Pria

Adela 13/11/2017
Share

Sewaktu masih duduk di bangku SMA, saya memiliki beberapa teman yang terobsesi pada 50 Shades of Grey. Paras Jamie Dornan memang membuat nafsu menggelegak, namun obsesi Mr. Grey terhadap BDSM-lah yang paling membuat mereka penasaran. Scene-scene “aduhai” sengaja disajikan untuk memberikan visual dari BDSM, ditambah dengan kepribadian Grey/Dornan yang membuathati dag-dig-dug. Sebuah testimoni pun mengudara: “Jangan fokus sama scene-nya aja! Sebenernya kalau mau dicermati, hubungan Anastasia sama Mr. Grey itu romantis banget lho. Ceritanya lumayan, bisa membuat saya menangis. Kalimat yang sempat saya anggap konyol. Mungkin dahulu saya gagal menarik korelasi antara kasih sayang dan seks berunsur kekerasan, haha. Pendapat saya mengatakan ceritanya cliché dan kualitas prosanya yang below average, meski filmnya sedikit OK. Hal lain yang sempat membuat alis terangkat adalah Fifty Shades of Grey merupakan spin-off dari Twilight dan ditulis oleh seorang perempuan! Sebuah langkah berani yang saya yakin sudah dikenai fatwa haram dari salah satu lembaga di Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah perempuan lain ternyata memiliki ketertarikan dalam mengembangkan cerita dewasa seperti penulis Fifty Shades of Grey yang begitu detail?

Mari kita beranjak ke ranah situs microblogging. Masih ingat dengan rencana Menteri Teknologi dan Informasi untuk memblokir Tumblr setahun yang lalu? Situs ini diklaim sebagai media bersarangnya konten-konten pornografi (yang saya akui nyata adanya). Tidak ada jalan lain bagi pemerintah untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini dari visual tak senonoh selain menetapkan pelarangan akses. Saya sempat kecewa dengan adanya rencana itu, artinya akses terhadap berbagai fanfiction favorit saya akan ditutup. Jangan tanya soal kualitas fiksi yang ditawarkan. Saya akui beberapa orang memang berbakat merajut kata. Anda tinggal pandai-pandai mencari mana yang sesuai dengan standar sendiri. Mulai dari Twilight hingga tokoh Marvel, dari yang berjenis fluffy-fluffy gemes sampai rough and passionate sexual activity tersedia disana. Sebagian besar penulisnya juga adalah perempuan.

1510580843776

Dua fakta di atas adalah contoh kecil dari perlawanan sebuah stereotype yang selama ini bertahan di masyarakat. Adalah sebuah tabu bila perempuan telah/berusaha mengetahui sebanyak-banyaknya detail seks. Sebagai gantinya mereka tak pernah absen dengan pengandaian sebuah kanvas kosong; putih, suci, bebas dari dosa. Pasrah dicoreng-moreng dengan beraneka cat warna, praktis nilai kanvas akan mengikuti kemana warna membawanya. Barangkali ini yang terpatri di pemikiran sebagian besar masyarakat Indonesia, nila setitik rusak susu sebelanga. Kenyataan yang sejalan dengan pemikiran Michel Foucault, bahwa oposisi biner yang ditentukan oleh kekuasaan tertentu menempatkan seks dalam dua fungsi berbeda: licit dan illicit, haram dan halal. Dengan kata lain bila saya tertangkap sedang membaca cerita seks dengan Tom Hiddleston, saya akan otomatis dicap tidak benar. Tidak ada ruang pengakuan akan eksplorasi fungsi dan ketertarikan seksual.

Ketahuilah bahwa cerita dewasa memberi ruang bagi setiap pembacanya untuk mengembangkan imajinasi mereka, bagaimana cara menempatkan diri sendiri di dalam area bermain mereka. Bila dalam realita perempuan hanya bisa berlaku submissive dan serba penurut terhadap pasangannya, kini ia dapat merasakan bagaimana menjadi pihak yang mendominasi jalannya kegiatan seks.

Bila masyarakat menentangnya berhubungan dengan sesama jenis, kini seorang perempuan bisa bebas menentukan dengan siapa ia bakal berhubungan intim. Toh, ini sesuatu yang hanya terjadi di benak kecil mereka saja. Untuk alasan tertentu, cerita lebih meninggalkan kesan mendalam di benak perempuan ketimbang video. Video “esek-esek” umumnya jarang menyertakan narasi yang detail dan merangsang imajinasi; semuanya tersaji begitu saja di depan mata. Kurangnya lahan untuk berimajinasi, plot yang dilebih-lebihkan dan tidak realistis menjadi faktor mengapa perempuan kurang doyan menyantap bayangan seksual melalui format video.

Layaknya counterpart mereka, perempuan juga dianugrahi hasrat seksual sebagai aspek mendasar dari manusia. Mengeksplorasi bagian tubuhnya dan kegiatan seksual yang ia suka maupun tidak adalah sebuah proses untuk mengenali diri lebih baik, namun seringkali ditentang oleh norma-norma yang berlaku. Cerita dewasa, adult fiction, slash fiction dan cerita sejenis mengemban dua amanah “mulia”. Di satu sisi, mereka menempatkan diri sebagai alternatif pengetahuan seks, di saat masyarakat dan institusi pendidikan gagal untuk menjelaskan fungsi seksual. Di sisi lainnya, kata-katanya terjalin dengan indah untuk memuaskan hasrat terdalam yang tabu. Bila sang penulis cukup lihai, puncak kenikmatan tertinggi pun dapat digapai dengan sempurna.

 

 

Ilustrasi oleh Marco Hanif Samudro

Foto oleh Eric Salim

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *