LOADING

Type to search

Che Guevara, Riyad Mahrez, dan Leicester City Sebagai Simbol Revolusi

COLUMN

Che Guevara, Riyad Mahrez, dan Leicester City Sebagai Simbol Revolusi

Share

Revolusi takkan terjadi tanpa adanya simbol, kita tahu bagaimana peran Katniss Everdeen sebagai The Mockingjay yang berhasil meruntuhkan The Capitol dalam trilogi Hunger Games. Bila dalam Revolusi Kuba simbolnya adalah Che Guevara, English Premier League punya Riyad Mahrez sebagai simbol revolusioner. Mungkin terlalu naif jika saya menyebut Mahrez sebagai simbol revolusi, tapi bukankah kita sering mendengar kata pepatah bahwa “tidak ada yang tidak mungkin”. Keduanya mirip. Meninggalkan tempat kelahiran di masa kecil, mempunyai kekurangan sejak kecil , dan sama-sama mengadu nasib di negeri orang.

Che kecil hijrah bersama keluarganya dari Rosario ke Alta Gracia yang berada di wilayah provinsi Cordoba saat baru berusia 4 tahun. Sementara Mahrez yang lahir di Sarcelles, Perancis hanya pulang ke kampungnya Aljazair saat liburan saja.

Jika penyakit asma yang diderita Che membuatnya tertarik pada bidang kedokteran dan akhirnya mengambil studi kedokteran di bangku kuliah. Ketertarikannya pada dunia membuat Che muda memutuskan melakukan perjalanan legendaris mengelilingi Amerika Latin yang ia tuangkan pada bukunya The Motorcycle Diaries.

Bagi Riyad Mahrez bukanlah penyakit yang menjadi kekurangannya, melainkan tubuhnya yang amat sangat kurus yang hampir membuat Quimper, kesebelasan semi amatir asal Perancis menolaknya dalam seleksi di masa awal karirnya sebagai pemain sepakbola. Sampai akhirnya Ronan Salaun, manajer Quimper kala itu tersentuh oleh Mahrez yang memohon sambil menangis untuk memasukannya ke dalam tim. Ya menangis untuk sebuah tim semi amatir.

Sebagaimana Mahrez, Che lelaki yang kini dijuluki el comandante itu menghabiskan nyaris seluruh hidupnya di luar negeri. Bukan untuk bekerja sebagai dokter atau sekedar berpetualang, melainkan menjadi gerilyawan yang membantu perjuangan para revolusioner di berbagai negara untuk menumbangkan rezim militer diktator. Kisah Che sebagai gerilyawan yang paling fenomenal tentu saja adalah ikut membantu Fidel Castro, menumbangkan rezim militer yang dipimpin oleh Jenderal Fulgencio Batista dalam Revolusi Kuba.

Hal yang sama yang pada akhirnya terjadi pada diri Riyad Mahrez. Menghabiskan hidupnya di negeri orang, berjuang mendapatkan tempat utama di Le Havre sampai akhirnya ia di rekrut oleh Leicester City yang kala itu berada di Divisi Championship dan bertemu dengan Jamie Vardy, putra daerah yang lebih dahulu berada di Leicester dan sudah mengalami suka duka nya berkompetisi di Inggris dan bersiap untuk membawa Leicester promosi ke Premier League. Bagaikan Che yang bertemu dengan Fidel, Pertemuan Mahrez dan Vardy seakan memberikan sinyal bahwa merekalah yang akan menjadi simbol revolusi di Premier League.

Sejauh ini mereka berhasil memberikan pertanda bahwa revolusi akan terjadi. Selama ini yang dapat berjaya di Premier League hanyalah wajah-wajah lama. Adapun wajah baru, mereka adalah tim dengan dukungan dana berlimpah seperti Manchester City. Leicester seakan menjadi perwujudan untuk meruntuhkan ke diktatoran  dari The Big Four.

Perlahan The Foxes julukan dari Leicester City mulai menumbangkan satu persatu lawannya. Mulai dari mengalahkan juara bertahan Chelsea, menghabisi pasukan believer arahan The Normal One (Jurgen Klopp), dan yang terakhir kita tau mereka telah berhasil menghancurkan tim mewah asal Kota Manchester di tanahnya sendiri. Bak para gerilyawan yang menembaki anak buah dari Eulogio Cantillo, Leicester pun bergerliya,susah payah,jatuh bangun, dan terus berjuang sedikit demi sedikit sampai akhirnya mereka bisa menduduki puncak klasemen Premier League.

Pekan ini Leicester City akan menghadapi Arsenal, apapun hasilnya Leicester akan tetap kokoh di puncak klasemen. Tetapi apabila The Foxes berhasil di kalahkan, akan menjadi sulit bagi mereka dalam menghadapi sisa pertandingan Premier League 3 bulan ke depan. Apalagi Arsenal berhasil menang di King Power Stadium kandang Leicester City dalam putaran pertama.

Bagai Che Guevara dan Fidel Castro yang menganut ideologi anticapitalist revolution dari Karl Marx sebagai dasar dalam menjalankan gerakan revolusinya. Kita lihat saja apakah Mahrez dan Vardy akan sukses memainkan peran sebagai tokoh utama dalam menjalankan strategi Ranieri dalam lawatannya ke Emirates Stadium.

Tetapi Perjalanan Leicester City untuk menjadi simbol revolusi di Premier League tampaknya masih akan sangat sangat panjang. Semua itu hanya bisa disempurnakan jika Leicester City berhasil menjuarai EPL musim ini.

Jika itu terjadi…

Mahrez

Vardy

Ranieri

Leicester City

Akanlah menjadi abadi dalam memori.

  • Ditulis tanggal 13 Februari 2016.

Foto: wikipedia,telegraph

Tags:
Previous Article
Next Article

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *