LOADING

Type to search

Dari Ciumbuleuit Menuju Gudang Selatan, Mengamati Perkembangan Musik Independen Bandung

DAILY

Dari Ciumbuleuit Menuju Gudang Selatan, Mengamati Perkembangan Musik Independen Bandung

INCOTIVE 06/10/2017
Share

Akhir pekan lalu kami berkesempatan menyambangi dua gelaran musik lokal Bandung. Gelaran musik tersebut diadakan di dua tempat dan hari yang berbeda. Tidak ada kejadian yang luar biasa atau kendala yang berarti dalam kedua acara tersebut. Namun, yang menjadi menarik adalah perbicangan kami dengan pihak pembuat acara dan band pengisi kedua acara tersebut. Perbicangan mengenai musik indie saat ini dan musik indie tahun 90-an.

Sabtu, 23 September 2017. Setelah berjibaku dengan kemacetan di tengah kota. Pukul 18:30 petang akhirnya kami sampai di Garage Room tempat dimana gelaran musik Soft Sound diadakan. Tepatnya di Jalan Cimbeuleuit No. 107 Bandung.

Samar-samar suara alunan lagu terdengar dari tempat parkir Garage Room. Tidak sampai lima menit, kami sudah berada di venue utama gelaran musik Soft Sound. Saat itu grup musik National Perks sedang di atas panggung membawakan beberapa tembang yang tentunya untuk menghibur dan menunjukan karya mereka kepada pengunjung. Selain National Perks ada juga grup musik lain yang mengisi acara yang baru diselenggarakan tersebut yakni Toy Tambourine, The Sweetest Touch, Hira dan White Lemon Delirium.

Suasana yang santai sangat terasa dalam gelaran musik Soft Sound. Para pengunjung yang saling bercengkrama sembari duduk-duduk meluruskan kaki di atas bean bag menambah kesan santai dalam acara tersebut. Sesuai dengan salah satu tujuan diselenggarakannya Soft Sound, yaitu membuat acara dengan suasana yang hangat dan kekeluargaan dengan suguhan musik-musik yang manis. Seperti yang diungkapkan oleh Ofri selaku pencetus gelaran musik tersebut.

Lewat Soft Sound, Ofri ingin berbagi acara musik dengan suasana yang hangat dan santai. Selain itu, Ofri itu juga ingin mencari musik-musik yang jujur dan natural. Menurutnya, saat ini di Bandung masih banyak grup-grup musik yang belum jujur dalam menyampaikan pesan dalam bermusik nya.

                 Buat saya sekarang kurang jujur saja, banyak yang ingin mengikuti orang lain atau terlalu banyak referensi, jadi mereka ingin jadi seperti apa sebenarnya?

tutur Ofri dengan sudut pandang pribadinya, ia ingin mewadahi grup musik independent yang jujur untuk mengisi acara Soft Sound.

Kurang lebih pukul 22:00 acara selesai. Jika dilihat dari jadwal acaranya sudah selesai. Namun, selesainya acara tersebut tidak membuat kebanyakan para pengunjung langsung pulang. Banyak dari mereka yang memilih untuk duduk bercengkrama terlebih dahulu dengan pengunjung lainnya.

Menjadi sedikit opurtunis, kami memanfaatkan momen tersebut untuk bisa bercengkrama dan berkenalan dengan salah satu pengisi acara Soft Sound. Dibantu oleh seorang kawan akhirnya kami bisa membuka obrolan dengan National Perks, salah satu grup musik independent asal Bandung. Grup musik tersebut memiliki lima anggota. Terdiri dari Badri dan Ferdi pada gitar dan vokal, Satrio pada drum, Agri pada synth dan Rizcky pada bass.

DSCF0236

Penampilan National Perks saat acara Soft Sound

Obrolan kami buka dengan sebuah perkenalan singkat. Walaupun National Perks masih terbilang baru, mereka tetap memiliki segudang pengalaman bagaimana bertahan hidup di dunia musik independent di Bandung.

Saat ini acara-acara musik di Bandung masih didominasi oleh acara dengan sponsor produk rokok yang skalanya cukup besar, dan mereka memiliki kriteria dan alasan sendiri yang cukup membuat grup musik pendatang baru kesulitan untuk bisa tampil di acara mereka. Walaupun tidak dapat dipungkiri juga bahwa beberapa produk rokok memang paling menjanjikan untuk diajak bekerjasama dalam membuat sebuah gelaran musik.

Sambil duduk-duduk santai, National Perks menjelaskan acara-acara seperti Soft Sound menjadi penting, terutama bagi grup-grup musik independent yang baru memulai atau bagi grup musik independent yang tidak dilirik oleh sponsor rokok. Dan mengenai apa yang akan ditunjukan kepada khalayak juga menjadi modal penting.

Badri, gitaris dari National Perks mengatakan, “Sejauh kita memiliki karya sih gak akan sepi, dan orang lain pun akan mengapresiasi kita atas dasar karya kita kan”.

Sebagai grup musik yang menempuh jalur independent, National Perks juga memiliki pendapatnya sendiri terhadap pendengar musik-musik independent. Mereka beranggapan bahwa musik independent itu adalah musik yang sangat segmented, namun pedengarnya saat ini hanya terpaku pada jenis musik tertentu dan masih kurang mengeksplorasi musik-musik jenis lain.

Sulitnya untuk memenuhi ekspetasi atau kriteria bagi acara yang disponsori oleh produk rokok dan kurangnya khalayak dalam mengulik musik jenis lain, akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi unit musik independent.

Sesuai yang dijelaskan oleh para anggota National Perks. Walaupun begitu, pasar dan para pembuat acara tidak serta merta dapat disalahkan. Memperkenalkan musik bisa diawali dengan mengenalkannya kepada kerabat terdekat. Selama karya itu ada dan penggiatnya konsisten maka pasar akan mengikuti.

Pada akhirnya, grup-grup musik yang memilih untuk menempuh jalur independent harus dapat bertahan tanpa bergantung atau diatur oleh siapappun. Sembari tertawa cekikikan Satrio, drummer dari National Perks berkata

Musik independent itu adalah musik yang pure to the heart

Melihat ia yang terus tertawa sontak orang-orang disekitar ikut tertawa.

Konsumsi untuk grup-grup musik yang mengisi acara tersebut akhirnya datang. Semua mata tertuju pada ayam goreng tepung dan nasi yang disediakan oleh panitia. Mungkin mereka sudah sangat lapar. Kami pun akhirnya memutuskan untuk menyudahi obrolan tersebut dan pamit meninggalkan tempat tersebut.

Setelah mengahadiri acara “Soft Sound”. Minggu 24 September 2017. Kami pergi mendatangi acara yang diselenggarakan di Spasial, Jl. Gudang Selatan No.22, Bandung.  Jalanan hari ini nampak lenggang dari hari sebelumnya.

Setelah melewati lorong-lorong yang terdapat di sana akhirnya kami sampai di acara musik yang diberi nama “Riuh Gemuruh”. Acara ‘Riuh Gemuruh’ ini merupakan bagian dari rangkaian acara ‘Wadah Pola’ yang mengangkat tema musik disetiap acaranya. Grup musik Ikkubaru, Secret Meadow, Gas Coigne dan grup musik senior Cherry Bombsheel menjadi pengisi acara tersebut.

Yang menjadi menarik dalam peliputan kali ini kami mendapat kesempatan yang cukup sulit. Yaitu dapat menikmati penampilan Cherry Bombsheel secara langsung. Tentunya kita juga tidak lupa mengambil kesempatan untuk berbicang dengan mereka. Mengingat mereka sudah jarang ada di atas panggung. Para personilnya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.

cherbomb

Penampilan Cherrybombshell di Gemuruh Riuh

Lagi-lagi memanfaatkan jejaring pertemanan kami diberi kesempatan mengobrol dengan grup musik asal Bandung yang berdiri pada tahun 1995 ini. Terdiri dari Alexandra (vokal), Agung Pramudya WIjaya (bass), Harry Hidayatullah (Gitar), Ismail Aji (gitar) dan Mochamad Febry Syarif (drum).

Tetap dengan tema musik, band yang berencana akan merilis ”the best” ini mengungkapkan pendapatnya mengenai perbedaan dunia musik saat ini dengan dahulu kala saat mereka masih aktif tampil di acara- acara musik, khususnya mengenai musik independent.

Menurut mereka saat ini semua lebih mudah dibandingkan zaman mereka dulu, terutama perkembangan teknologi sudah semakin maju untuk mendukung dunia musik dibandingkan saat dulu dimana Cherry Bomshell masih serba manual.

Namun dengan teknologi yang masih manual ini membuat musik Cherry Bombshell lebih jujur dalam membuat musik, dimana zaman dahulu mereka masih menggunakan pita dan teknologi copy paste seperti saat ini belum ada.

Hal tersebut juga membuat mereka berpendapat grup-grup musik zaman dahulu memiliki mental yang lebih baik. Dengan kemudahan saat ini juga membuat cara berpikir grup-grup musik sekarang menjadi mudah, tidak seperti grup-grup musik zaman dahulu.

                Mau tidak mau teknologi mempengaruhi cara berpikir kita menjadi mudah, walaupun tidak semuanya seperti itu, masih banyak juga yang bagus

Tutur bassis Cherry Bombshell yang biasa di panggil Pecung itu.

Dalam dunia musik indie saat ini dimana sudah seperti fashion. Terdapat syarat-syarat penampilan yang tidak tertulis agar terlihat “sangat indie”. Cherry Bombshell memiliki pendapatnya mengenai apa itu musik Indie.

Menurut mereka dengan slogannya Do It Your Self, musik indie itu adalah suatu pergerakan. Mereka berkarya dengan segala keterbatasannya dan segalanya dilakukan dengan upaya sendiri. Berkaca dari fenomena saat ini indie sudah seperti gaya dalam berdandan, membuat “indie” tersebut sudah keluar dari maknanya.

Dunia musik independent juga pasti tidak lepas dari acara-acara musik guna memperdengarkan karya-karya yang telah dibuat. Cherry Bombshell sendiri sudah pernah berada di panggung-panggung besar seperti ‘Java Rockin’land’.

Mereka lebih memilih untuk bermain di acara yang kecil dengan massa yang tidak terlalu banyak namun intim dan yang datang mengerti lagu-lagu Cherry Bombshell.

Bila dikaitkan dengan semangat independent lebih dapet di gigs kecil kaya gitu, karna biasanya dibuat dengan semangat independent

Penulis: Faiz Ashari Purwanto

Foto oleh Faiz Ashari Purwanto dan Tim Soft Sound

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *