LOADING

Type to search

Di Balik Terangnya Cahaya Panggung (Bagian II)

FEATURED SELECTION

Di Balik Terangnya Cahaya Panggung (Bagian II)

Faiz Ashari 04/03/2019
Share

Ilustrasi oleh Nuraulia Mugniza

Pekerjaan menjadi seorang manajer dalam dunia musik bukan lah perkara yang mudah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa belajar. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmunya adalah dengan cara belajar lewat orang yang sudah berpengalaman.

Pada tulisan bagian pertama, saya sudah berbincang dengan Aldina Febriyanti, manajer dari Basboi. Sedikit mengulas, saat itu saya berbincang-bincang mengenai apa saja yang ia lakukan saat menjadi manajer baru dari Basboi. Mulai dari promosi, mencari kolaborasi, mengatur jadwal, hingga memiliki tujuan besar seperti membuat Basboi menjadi layaknya sebuah brand yang dikenal banyak orang.

Untuk kali ini saya dengan rekan saya Defta Ananta, kami mendapat kesempatan untuk mengobrol bersama Fauzi A Bachtiar (kang Uji), dan Vando. Nama yang sudah tidak asing bagi para pelaku dan penggiat skena musik di Bandung. Keduanya adalah manajer dalam dunia industri musik yang memiliki pengalaman yang menarik untuk dibahas.

Fauzi A Bachtiar (Under The Big Bright Yellow Sun).

Dia adalah salah satu pencetus beberapa acara musik, salah satunya Intimacy yang mungkin nama event tersebut sudah tidak asing bagi kalian yang rajin datang ke gigs di Bandung. Sebagai manajer dari Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS), pria yang akrab dipanggil kang Uji ini sudah cukup lama berkelana di dunia musik, khususnya di skena musik Bandung.

Sudah sedari 2012 menjadi orang di balik panggungnya UTBBYS. Sebelum menjadi manajer UTBBYS ia adalah orang yang senang menikmati musik-musik yang dibawakan oleh UTBBYS. Mereka bertemu dan berkomunikasi lewat Facebook dan Myspace saat itu. Selain itu sembari bercanda ia berkata “Musiknya enak kalau didengar sedang mabuk!”.

Selain itu ia juga sempat disangka orang depresi yang senang mendengarkan musik instrumental. Namun, komentar orang-orang tidak jadi penghalangnya untuk menyukai dan berlanjut menjadi manajer dari UTBBYS hingga saat ini.

Dalam pertemuan singkat dengan kang Uji, kami lebih banyak berbicara tentang bagaimana cara seorang manajer menjual dan memperkenalkan sebuah band dengan aliran musik yang jarang didengar. Genre yang dibawakan oleh UTBBYS sendiri adalah post rock instrumental. Sempat menjadi asing di banyak kalangan.

Namun, hal tersebut tidak membuat kang Uji dan UTBBYS menyerah begitu saja. Ia terus mencoba dan mencoba memperkenalkan UTBBYS kepada khalayak ramai. Menjelaskan musik seperti apa yang dibawakan oleh UTBBYS kepada pembuat acara.

“Kasarnya gimana caranya menjual si Under kepada khalayak umum dan kepada para panitia acara agar mereka percaya bahwa musik si Under tuh bagus. Kalau ditanya kenapa tidak ada vocalistnya memang mereka seperti itu”

Menurut Uji, panitia atau pembuat acara selalu diberikan demo atau informasi terlebih dahulu. Menjadi masalah ketika UTBBYS mendapatkan ‘cap-cap’ tertentu dikalangan panitia atau para pembuat acara. Seperti UTBBYS itu ‘barudaknya’ (temannya) siapa atau hanya bisa manggung dengan siapa. Terkadang pula kang Uji sebagai manajer harus menjelaskan kepada panitia acara mengapa UTBBYS memasang sebuah tarif. Dimulai dari kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi band untuk memenuhi ekspetasi panitia hingga keperluan-keperluan seperti senar pun ia jelaskan.

Kang Uji bersama UTTBYS bisa mengatasi hal tersebut dan membuktikan bahwa UTBBYS bisa bermusik dengan siapapun diacara apapun. Selain memperbaiki dan meningkatkan kualitas. Mendekatkan diri dengan para penggiat acara dengan cara nongkrong bareng hingga makan bareng menjadi salah satu cara yang efektif. Terbukti saat ini musik UTBBYS dapat melenggang ke mancanegara.

Dibantu oleh anggota UTBBYS yang lainnya. Kang uji dengan giat mempromosikan musik UTBBYS kepada khalayak hingga ke Australia dan Tiongkok. Cara yang digunakan untuk memperkenalkan lagu mereka tidak hanya lewat panggung saja. Kang uji dengan anggota lainnya membahas atau mengupload musik mereka di forum-forum musik daring.

Sebagai manajer sebuah band, menurut kang Uji harus dapat menebak siapa yang akan datang menghadiri suatu acara. Tentunya acara dimana UTBBYS beremain. “Kita tuh harus bisa melihat siapa yang datang ke acara tersebut, bisa dilihat ada orang-orang penting tidak disitu”. Setelah menebak, sebagai manajer bisa menghampiri orang tersebut dan yang di panggung bisa memberikan penampilan yang spesial atau agak berbeda dari biasanya. Namun, bukan berarti UTBBYS bermain dengan baik saat ada orang-orang penting saja. Di setiap panggung UTBBYS harus memberikan yang terbaik. Memerhatikan kegiatan dan kondisi personil UTBBYS juga menjadi tugasnya.

Berbeda dari Aldina pada artikel sebelumnya, yang ingin menjadikan Basboi layaknya sebuah brand. Kang uji untuk saat ini memiliki cita-cita ingin tur keliling Eropa bersama UTBBYS. Saat ditanya alasan,  menurutnya, untuk saat ini tur Eropa akan menjadi pencapaian yang besar, belum lagi banyak band-band dengan aliran serupa di tanah Eropa yang nan jauh di sana.

Pesan terakhir dari kang Uji jangan pernah malu untuk mengajak bicara siapapun dalam dunia musik. Dari crew hingga pemilik modal. “Mereka semua memiliki cerita dan ilmu yang gak akan habis sehari kalau diajak ngobrol mah” tutur kang Uji.

Tak kalah pentingnya juga jangan lupa untuk tetap membantu sesama. Hal tersebut dilakukan dan ditanamkan dalam diri UTBBYS karna sendiri memulai semuanya tidak sendirian. Wejangan-wejangan tersebut menjadi pertanda kami harus beranjak pergi. Setelah berpamitan kami pun pergi meninggalkan Loubelle.

Radovan Raynes S.

                Di lain hari Defta berhasil berbicang dengan Radovan Raynes S, atau lebih akrab dengan panggilan Vando. Kalau kata Defta dia adalah manajer band “sabandungeun” dan juga mentor Aldina. Istilah “sabandungeun” muncul karena Vando bertanggung jawab sebagai manajer bagi banyak musisi, band ataupun solo. Hampir dari seluruh musisi yang tergabung dalam Microgram Entertaiment menjadi tanggung jawab Vando.

Dalam menjalankan tugasnya menjadi manajer, Vando ingin membuat semua hal yang diinginkan atau akan dijalani sebuah band atau seorang musisi itu realistis. Karena, terkadang apa yang diinginkan anak-anak band atau seorang musisi itu terlalu ‘ngawang’, terutama untuk band baru. Maka dari itu Vando hadir untuk menengahi keinginan tersebut menjadi lebih realistis untuk dilakukan dan tetap pada jalurnya.

Sebagai manajer band, ia berkeinginan untuk mengicar pasar internasional. Menurutnya saat ini musik yang menyentuh pasar internasional banyaknya dari scene musik metal, Hip-hop dan RnB seperti Bryan Imanuel, Niki dan Burger Kill. Mereka sudah secara tetap dan rutin berada di pasar internasional. Sedangkan, menurut Vando untuk band-band atau musik alternatifnya masih jarang.

Selain membimbing setiap asuhannya agar tetap dalam jalur yang tepat, Vando sebagai lulusan jurusan Public Relation, ia menempatkan diri juga sebagai public relation dari band-band tersebut.

“Gua memang kuliah public relation yah. Jadi, mau gak mau gua terapin jadi PR nya band, front desk-nya band lah”

Hal tersebut dilakukan Vando karena dalam praktiknya yang bertemu dengan klien, penggiat acara, media untuk interview itu adalah manajernya. Memerhatikan gaya berpakaian pun menjadi hal yang penting bagi Vando.

“Sebisa mungkin gua mencerminkan band gua”

Kurang lebih Vando sudah menjadi manajer selama dua setengah tahun. Setiap band yang berada dalam managerial Vando, semuanya dapat mengikuti arahan Vando dan mengikuti perkembangan industri musik saat ini. Selain itu chemistry yang dibangun antara Vando dengan band-bandnya pun, menurutnya bisa dikatakan cocok.

Dalam perjalanannya pun Vando pernah membohongi anak-anak bandnya. Hal tersebut ia lakukan agar mereka tidak ngaret dari jadwal. Ia melakukan itu karena ia melihat beberapa personilnya selalu ngaret. Namun, suatu hari Vando pernah bilang acara pukul enam sudah dimulai. Tetapi, apa yang dikatakan Vando malah dianggap bohong. Jadi mereka hanya dapat bermain dua lagu saja.

Menjadi sebuah prestasi juga dimana Vando berhasil membawa salah satu band asuhannya, Heals, bermain pada acara musik bergengsi di Asia Tenggara, yaitu Laneway Festival di Singapura. Mereka dapat satu panggung bersama Mac DeMarco, Bonobo, Billie Elish dan banyak lainnya. Pada artikel selanjutnya, saya bertemu dengan Iksal, yang juga seorang manajer dari band The Panturas dengan pengalaman yang tak kalah serunya untuk dibahas.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *