LOADING

Type to search

Di Balik Terangnya Cahaya Panggung (Bagian III)

FEATURED SELECTION

Di Balik Terangnya Cahaya Panggung (Bagian III)

Faiz Ashari 26/03/2019
Share

Ilustrasi oleh Nuraulia Mugniza

Bulan September 2018, Kami kembali datang ke Loubelle, Bandung. Di sana sedang diadakan perhelatan album baru dari Soft Blood. Kebetulan kami sedang bertugas untuk meliput acara tersebut. Setelah acara selesai, para pengunjung mulai beranjak pergi. Kami melihat sosok manajer dari Soft Blood dan juga The Panturas, Iksal Rizqi Harizal.

Saat itu (Hingga kini) The Panturas sedang sering-seringnya main dibanyak perhelatan musik. Dari gigs-gigs kecil hingga acara sekelas festival. Yang membuat kami tertarik untuk berbincang dengan Iksal adalah saat melihat beberapa personil Soft Blood dan The Panturas adalah orang yang sama.

Menjadi pertanyaan di dalam benak kami, bagaimana ia sebagai manajer bertindak disaat kedua band tersebut mendapatkan panggung atau job di waktu yang sama. Akhirnya dengan awalan sedikit canggung karena lupa nama, kami dapat berbincang dengan Iksal.

Karna penasaran, pada awal perbincangan saya awali dengan pertanyaan yang ada di benak saya. Menurut Iksal, hal tersebut merupakan sebuah masalah. Sempat beberapa kali, The Panturas ditinggal oleh personilnya karna harus bermain untuk band lain.

Sebelumnya sistem yang dipegang oleh Iksal adalah acara mana yang deal terlebih dahulu, maka itu yang diambil.  Namun, dengan konsep tersebut tidak akan baik untuk kedepannya.

“Sebagai manager, kita harus bisa melihat dua, tiga atau empat langkah kedepan dibandingkan para pemainnya. Kemudian, saya sadar bahwa konsep seperti itu tuh tidak baik untuk kedepannya.”

Akhirnya, Iksal pun memutuskan untuk lebih melihat keuntungan dari setiap acara yang ditawarkan. Contohnya, melihat exposure dan urgensi dari setiap acara. Karena, menurut Iksal, akan ada dua belah pihak yang akan dirugikan jika memakai sistem “mana deal yang duluan”.

Pertama, adalah bandnya. Saat band tidak bisa bermain secara lengkap berarti band tersebut tidak bisa menampilkan band sebagai sebuah brand. Yang kedua adalah personil tersebut, mereka akan rugi saat mereka digantikan oleh additional, terlebih lagi saat digantikan di acara yang exposure acaranya bagus. Hightlight nya akan diambil oleh additional yang seharusnya dimiliki oleh personil tetap dari band.

Iksal sendiri adalah pribadi yang tidak begitu menyukai keramaian. Hal tersebut juga menjadi alasan kenapa ia memilih jadi manager.

“Gua itu suka musik tapi gak suka tempat yang terlalu crowded. Jadi gimana cara ngakalinnya biar tetep bisa nonton musik tapi, gak ada di tengah-tengah keramaian yaudah jadi manajer. Jadi gua bisa nonton di pinggir.” Tutur Iksal.

Melihat band yang ia asuh saat ini bisa mendapatkan panggung dimana-mana dan lagunya dinyanyikan banyak orang. Dalam perjalanannya, Iksal bercerita bahwa ia pun pernah gagal dalam mengasuh suatu band. Tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba melihat kembali apa yang salah dari sisinya. Namun, semua pembelajaran tersebut terlihat seiring waktu berjalan.

Pengalamannya pernah menjadi penulis di beberapa media yang membuanya bertemu dengan banyak orang pun menjadi bekalnya untuk menjadi seorang manajer. Menurutnya, membuka jalan menambah relasi untuk sebuah manajer sangatlah penting. Suka tidak suka hal tersebut harus dilakukan oleh seorang manajer.

Tugas manajer band salah satunya adalah menjual band tersebut. Nah, Untuk perihal “jual-jualan band” sendiri Iksal memiliki pendapat yang menarik. Bahwa, saat ini kita tidak bisa lagi berpikir bagaimana cara jualan di Bandung, bagaimana cara untuk menjual band di Jakarta dan kota lainnya. Menurutnya, di era digital ini kesempatan untuk menjual musik itu lebih luas, tidak ada lagi batasan geografis. Tidak seperti dahulu, hanya ada beberapa terbatas pada tv, radio atau main off air.

Hal tersebut membuktikan bahwa saat ini di era digital kita tidak bisa lagi mengeluhkan keterbatasan geografis. Karna saat ini ada banyak sekali platform-platform untuk mendukung sebuah band untuk memperkenalkan atau mejual musik mereka. Tinggal bagaimana mengemasnya agar dapat menarik.

Selain itu Iksal juga punya informasi menarik. Belajar dari pengalamannya membawa The Panturas bermain di acara bertaraf internasional Soundrenaline di Bali 2018. Ternyata, saat ini orang-orang dari festival mancanegara juga datang ke festival-festival musik di Indonesia untuk mencari talent-talent baru.

“Sekarang itu pergerakan mereka udah kaya agen bola. Mereka mencari talent-talent yang menurut mereka bagus di media sosial seperti Youtube. Lalu nantinya mereka akan datang  menonton untuk mengkonfirmasi apakah mereka benar-benar bagus.”

Tak lama, personil dari Soft Blood pun berdatangan ke ruangan dimana kami berbincang. Mungkin mereka akan melakukan perayaan atas rilis serta rampungnya showcase album baru mereka. Kedatangan mereka menjadi clue akhir perbicangan dan pembahasan kami mengenai manajer.

Pada akhirnya, dalam industri musik setiap musisi atau band harus memiliki tim manajemen yang handal dan baik. Musisi atau band tidak bisa berdiri sendiri dan mengurus semua hal sendiri. Untuk itu dibutuhkan lah manajer untuk mengisi ruang tersebut agar tertata dan sesuai jalur.

Namun, perjalanan “dibalik terangnya cahaya panggung” ini belum lah berakhir. Kami akan kembali dengan bahasan yang lain. Bisa jadi soundman, crew atau mungkin penata cahaya panggung. Bersambung sampai seri berikutnya~

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *