LOADING

Type to search

Apakah Media Musik Kita Baik-Baik Saja?

EVENT FEATURED

Apakah Media Musik Kita Baik-Baik Saja?

Abyan Hanif 09/05/2019
Share

Foto oleh Raka Dewangkara

Bermula dari Rolling Stone Indonesia yang gulung tikar, hingga media-media alternatif yang tidak memiliki sesuatu yang ‘megah’ memunculkan beberapa pertanyaan menarik seputar dunia permusikan di Indonesia, khusus-nya pertanyaan “Apakah media musik kita baik-baik saja?”. Pertanyaan yang sangat mendasar tapi dapat membuat para aktor-aktor di dalam media musik sedikit gundah gulana, hingga pada tanggal 25 April 2019 kemarin diadakan lah diskusi terbuka untuk membahas masalah yang sudah lama hinggap pada media-media musik di Indonesia.

Diskusi yang digelar di Spasial tersebut mengundang narasumber-narasumber yang sudah tidak asing lagi di kancah permusikan dan permedia-an seperti Idhar Resmadi (Penulis), Raka Ibrahim (Jurnal Ruang, Ramayana Soul), Tiar Renas (8lightment, Superfine) Rama Bintang (Stereosnap, Hollywood Nobody), Alika Zahra (Junks Radio), Dwi Lukita (Microgram), dan Ferdin Maulana (Incotive, Dream Coterie) yang bertindak sebagai moderator. Sangat disayangkan karena satu dan lain hal, Dwi Lukita berhalangan hadir untuk berbagi pandangan-nya terhadap isu tersebut, akan tetapi Kang Awan dari Ardan Radio beruntungnya dapat menggantikan. Diskusi malam itu dihadiri sekitar 50 orang dan dimulai sekitar pukul 8 malam.

View this post on Instagram

Sudah menjadi pola yang stagnan melihat hilir mudik media musik kita. Satu gulung tikar, yang lain-nya muncul kepermukaan. Media arus utama menawarkan narasi yang monoton dengan kepentingan exposure dan nominal, sementara media arus pinggir menawarkan hal yang segar namun tidak konsisten dan umurnya pun bisa dihitung jari. Perkembangan digital membuat siapapun dapat menjadi medianya sendiri, hal ini membuat media mulai kehilangan salah satu perannya. Lalu, apa kabar media musik kita hari ini? Apakah media musik kita baik-baik saja? Diskusi ini terbuka untuk siapapun yang peduli. Kedatangan anda akan berkontribusi kepada nasib media musik kita hari ini, besok, lusa atau lain hari. Poster digital karya @kuyasunda #media #mediamusik #mediaalternatif

A post shared by INCOTIVE (@incotivecom) on

Acara diawali dengan kalimat pembuka dari moderator yang membahas bahwa kontinuitas dan sustainabilitas merupakan dua hal yang terpenting dalam kehidupan media saat ini, khususnya media arus pinggir. Akan tetapi kedua hal tersebut bukanlah hal yang sama. Saat ini kontinuitas bukan merupakan masalah yang besar karena banyak regenerasi media alternatif yang selalu muncul menggantikan media-media seniornya yang bangkrut. Masalah terbesar adalah bagaimana menjaga sustainabilitas dari media itu sendiri.

Bubarnya Rolling Stone Indonesia beberapa waktu lalu juga seakan menjadi indikator bahwa media musik kita memang sedang bermasalah, salah satunya sustainabilitas media itu sendiri, kasarnya adalah media sebesar RSI pun gulung tikar, apa lagi media-media alternatif dengan kekuatan ekonominya yang lemah. Acara dilanjutkan dengan pendapat masing-masing narasumber terhadap isu yang akan dibahas.

Secara garis besar, hampir semua narasumber setuju bahwa ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat media musik khususnya media alternatif seakan tidak baik-baik saja, namun berbeda dengan Kang Awan dari Ardan yang mengatakan bahwa di Ardan sendiri uang bukan lah masalah. Sebenarnya memang jelas terlihat bahwa Ardan secara ekonomi baik-baik saja, dibanding perekonomian media-media alternatif seperti Incotive, 8lighment, Stereosnap, Junks Radio dan lain-lain. Namun jika dilihat dari skala media atau industri dari masing-masing narasumber, argumen dari Kang Awan tidak dapat dijadikan sebagai tolak ukur bahwa uang bukan lah inti masalah dari industri media musik kita.

Saya pun setuju bahwa uang merupakan salah satu akar masalah dari sustainabilitas media musik alternatif. Namun dengan hadirnya Kang Awan dari Ardan yang notabene merupakan media arus utama berbasis radio semakin memperluas perspektif diskusi kemarin, dimana hampir semua narasumber memiliki latar belakang media side-stream. Setelah semua narasumber berpendapat tentang topik utama acara tersebut, diskusi memasuki tahap tanya-jawab dan juga tanggapan dari audience.

Terdapat tiga orang yang berpendapat tentang isu ini, yaitu Arbha (Manajer Band White Lemon Delirium), Iyus (Komunitas Film), dan Oscar Lolang (Musisi). Pernyataan yang paling saya ingat adalah pernyataan Arbha yang berpendapat bahwa sebenarnya media musik kita aman-aman saja. Inti dari pendapat Arbha ialah ekonomi bukan masalah utama, tetapi mindset kita sendiri sebagai penggiat media musik untuk tidak menjadikan masalah ekonomi sebagai justifikasi untuk berhenti berkarya.

Apresisasi dari audience juga menjadi salah satu faktor masalah yang dihadapi oleh media musik menurut saya, hal tersebut seakan diamini oleh Kang Idhar dimana ia bercerita pada saat era Ripple magazine di tahun 2004, komunitas sangat suportif, tidak seperti sekarang yang pasif dan tidak loyal. Seperti contohnya distro masih aktif menawarkan produknya dalam kolom iklan media arus pinggir. Setelah sesi tanya-jawab berakhir diskusi pun berakhir juga, ditandai dengan foto bareng sebagai kenang-kenangan.

Setelah datang ke acara diskusi tersebut saya merasakan dua hal, yang pertama kelegaan bahwa ternyata masih banyak juga yang peduli, terbukti dengan 50 orang yang datang ke acara tersebut dan juga adanya interaksi yang baik antara para penggagas yang terlibat. Diskusi ini sendiri dibentuk tanpa adanya campur tangan institusi atau lembaga tertentu, namun murni karena kepedulian masing-masing pihak. Selain kelegaan, saya juga merasakan sedikit kekecewaan dimana sebenarnya diskusi tersebut tidak menjawab bagaimana geliat para pegiat media dalam menanggulangi masalah tersebut.

Diskusi kemarin hanya membahas apa sih sebenarnya problematika yang di hadapi oleh media musik khususnya media arus pinggir. Namun secara garis besar saya masih mengapresiasi akan terealisasinya diskusi tersebut dimana diharapkan acara tersebut dapat membuka mata kita untuk peduli terhadap kondisi media musik dan industri musik di Bandung atau lebih luasnya lagi di Indonesia.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *