LOADING

Type to search

Eclipsed by Parahyangan Fair: Membasmi Basi Lewat Rekreasi

EVENT

Eclipsed by Parahyangan Fair: Membasmi Basi Lewat Rekreasi

Adam 28/04/2017
Share

Apa yang biasanya terjadi saat hari Senin sore pada umumnya sama sekali tidak nampak saat itu. Kemacetan, kegaduhan, kesibukan dan huru-hara lainnya digantikan senandung-senandung tenang dan menyenangkan. Orang-orang bergegas menuju taman belakang Bumi Sangkuriang bilangan Ciumbuleuit, menikmati berbagai penampil yang telah hadir. Dengan suasana taman yang rindang, pengunjung dimanjakan dengan teduh nya cuaca saat itu. Begitulah yang terjadi saat acara tahunan Eclipsed by Parahyangan Fair ini diselenggarakan pada Senin, 24 April kemarin.

Pertunjukan musik, penayangan film dan suguhan lukisan yang dipajang sepanjang lorong masuk menuju venue adalah konsep kolaborasi yang cukup apik. Festival persembahan mahasiswa UNPAR ini memang mengusung tema kolaborasi antara art, music & film. Bahkan mereka berani menyebut acara ini sebagai the first anthology collaboration event. Tidak tanggung-tanggung, musisi sekaliber HMGNC, Elephant Kind dan Maliq & D’Essentials didatangkan untuk memeriahkan gelaran Parahyangan Fair tahun ini. Selain itu, penayangan film pendek berjudul Julian Day arahan sutradara muda Gianni Fajri turut disertakan sebagai adaptasi dari EP milik Elephant Kind. Kurasi film yang dilakukan oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto rasanya tidak diragukan lagi kualitasnya, mengingat beliau dikenal sebagai dosen yang mendalami bidang estetika dan filsafat. Juga kurasi lukisan yang dilakukan oleh Diyanto sebagai lulusan seni lukis FSRD ITB sekaligus dosen UNPAR yang rasa-rasanya patut untuk menentukan karya yang layak ditampilkan pada Parahyangan Fair kali ini. Tidak ketinggalan pertunjukan teatrikal dan puisi yang dipersembahkan oleh Listra x Satre serta Celotehan Sang Babi juga menambah unsur menarik yang dilibatkan kedalam sebuah festival. Ada yang unik sebelum Listra x Satre mempertunjukan aksi teatrikal mereka di panggung dengan cara menarik perhatian pengunjung sepanjang tenants booth dengan melakukan gimik-gimik yang menjadi cuplikan cerita yang selengkapnya.

Fajar sedang turun saat Wangi Gitaswara mentas di panggung utama. Balutan syair yang penuh rayuan dan nada angan-angan. Sedikit sendu, namun tetap indah untuk dibawakan sebagai lagu. Begitu lembut sore itu, seperti sore yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Area taman Bumi Sangkuriang mulai riuh dengan sorak penonton saat HMGNC menaiki panggung. Trio pop elektronika asal Bandung ini membius pendengarnya melalui bit dan nada yang bernuansa ambience dengan lantunan merdu vokal Amandia Syachridar. Tanpa mengesampingkan warna musik elektronikanya, HMGNC tetap menawan dengan lirik-liriknya mengenai cinta.

Eclipsed

Dina Dellyana menunjukan daya magisnya

Setelah HMGNC sukses menyihir penonton, kini giliran Elephant Kind untuk memperdengarkan karyanya. Pelantun lagu Oh Well ini telah berhasil menelurkan debut albumnya bertajuk City-J yang lagu-lagunya juga dibawakan pada malam itu. Membuka set dengan single Beat The Ordinary, Elephant Kind mencoba membangkitkan semangat para penonton. Band yang digawangi Bam Mastro, Dewa Pratama dan Bayu Adisapoetra tersebut memang berhasil menyajikan warna tropical pop yang khas secara sederhana dengan makna yang dalam. Dilanjutkan dengan lagu Why Did You Have To Go?, With Grace, Scenario II, Scenario III, Downhill, Love Ain’t For Rookies, dan menutup set dengan single andalan mereka, Montage. Pada saat lagu pamungkas dibawakan, Bam Mastro memegang komando penonton dengan melakukan gerakan bersamaan yang menjadi ciri khas saat Montage dibawakan.

eclipsed 2

Bam Mastro yang selalu atraktif

Malam ditutup dengan megahnya penampilan Maliq & D’Essentials yang tetap konsisten menciptakan lagu-lagu bertemakan cinta dengan sentuhan musik jazz, soul, funk dan pop nya. Kemeriahan malam itu semakin memuncak saat penonton hampir tidak pernah berhenti untuk ikut bernyanyi bersama Maliq & D’Essentials. Seakan tidak diberi napas, penonton terus bersorak untuk memaksa mereka melanjutkan pertunjukannya. Angga Puradiredja sang vokalis, yang meminta penonton untuk memberikan request kepada Maliq & D’Essentials malah membuat mereka kebingungan untuk membawakan lagu yang telah disodorkan. Mulai dari Untitled, Terlalu, Himalaya dan hits-hits lainnya terucap dari mulut penonton. Beruntunglah bahwa mereka memang membawakan semua lagu permintaan dari penonton. Menawannya aksi panggung Angga, lembutnya suara Indah, mempesonanya petikan gitar Lale, kencangnya cambukan bass Jawa, mengalirnya gebukan drum Widi, dan merdunya iringan keyboard dari Ilman seolah membuat penonton semakin menggila malam itu. Koreografi khas yang mereka tontonkan, menunjukan bahwa Maliq & D’Essentials layak untuk dielu-elukan oleh penggemarnya. Namun sayangnya, set yang seharusnya lebih panjang mesti dipotong dikarenakan durasi waktu yang sudah terlalu larut pada saat itu. Namun, penutupan Parahyangan Fair malam itu bisa kita sebut sempurna karena kehadiran Angga dan kawan-kawan.

eclipsed 3

Maliq & D’Essentials selalu berhasil membius pengunjung

Bumi Sangkuriang dibuat ramai dari sore hingga larut malam. Kebahagiaan terpancar dari setiap pasang mata yang hadir, mimik-mimik ceria dan senyum lebar tersebar dari segala arah. Gelaran yang berhasil memanjakan pengunjungnya dengan suguhan berbagai kesenian dengan keturunannya, dibuat nyaman dengan suasan tamannya, dan dibuat kenyang dengan tenants yang menyediakan berbagai hidangan bagi anda yang kelaparan. Senandung-senandung merdu sepanjang acara memang cocok untuk menemani anda menikmati acara ini. Konsep yang berbeda memang bukti dari keseriusan Parahyangan Fair sebagai festival yang menyuguhkan pertunjukan yang layak untuk dipertontonkan. Seperti Eclipsed–sebagai tajuk Parahyangan Fair tahun ini–mereka sekali lagi telah berhasil melaksanakan tugasnya: memudarkan kejenuhan.

eclipsed 4

Crowd Eclipsed memadati Bumi Sangkuriang

Foto: Mahsa Islamey

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *