LOADING

Type to search

Membahas sesuatu yang berlawanan dengan Ecstatic, Ping Pong Club

DAILY

Membahas sesuatu yang berlawanan dengan Ecstatic, Ping Pong Club

Abyan Hanif 02/01/2019
Share

“Cause I wanna take your time. I wanna take you go. with me, right now and i wanna take my time”

Kebahagian memang tidak selalu mudah untuk kita dapat kan di dalam hidup kita yang sangat sebentar ini. Walaupun jelas hampir setiap manusia yang terlahir di dunia ini pasti selalu mengharapkan kebahagiaan yang kekal dalam hidupnya. Sebuah contoh, pernah kah kalian membahas tentang masa depan bersama teman? Sekali dua kali pasti pernah bukan? Dan saat membicarakan hal tersebut, pasti kalian selalu berkhayal tentang sesuatu yang positif bukan? Entah itu tentang cinta atau topik lain yang senada seperti “Ih, aku tahun depan pengen banget tau nikah sama cowo ganteng yang tinggi dan sayang anak. Lalu, tinggal di pinggiran kota Los Angeles” atau “Gue pengen jadi orang kaya tapi gamau kerja” atau yang lebih masuk akal seperti “Ya allah semoga semester depan IP hamba bisa menyentuh angka 3,5 ya allah, aminn” dari ketiga contoh tersebut, pasti terdengar positif bukan? walaupun presentase tercapainya ‘mimpi’ tersebut berbeda-beda, namun tujuannya semua sama, kebahagiaan.

Namun dalam prosesnya ‘mimpi indah’ tersebut tidak lah manis, pada kenyataanya selalu tidak sesuai dengan mimpi-mimpi tersebut, sehingga alih-alih mendapat kebahagiaan, malah apes dan mendapat kesedihan, bertentangan dari kebahagiaan yang ingin kita capai. Kontradiksi tersebut lah yang ingin disampaikan oleh Ping Pong Club, sebuah kelompok musik yang beranggotakan 5 muda-mudi pada lagu ter- anyarnya berjudul “Ecstatic” yang dirilis akhir November lalu.

“Ecstatic” sendiri bercerita tentang hal-hal yang bersifat kontradiktif, namun memiliki perannya masing-masing dan tidak bisa dipisahkan, seperti terang dengan gelap, baik dengan buruk, baik dengan buruk, bahagia dengan sedih, dan lain-lain. Ping Pong Club, khusunya Kidz sebagai aktor utama dari terciptanya “Ecstatic” mengatakan bahwa walaupun hal-hal tersebut bersifat bertentangan, namun kondisi tersebut sangat terkait satu sama lain, sehingga menciptakan sebuah keseimbangan, seperti yin dan yang.

Konsep yang menarik menurut saya untuk disampaikan di dalam sebuah karya, khususnya lagu. Namun sebaik dan sebagus apapun pesan yang akan disampaikan dalam sebuah lagu, akan terasa percuma jika tidak disampaikan dengan proses dan teknik yang baik pula. Sayangnya ketakutan saya seakan diwujud kan pada lagu “Ecstatic” ini. Memang benar apa yang saya katakan di awal, ekspektasi tidak selalu berbanding lurus dengan realita. Ekspektasi tinggi setelah mengetahui konsep pada lagu tersebut seakan-akan dijatuh kan kembali ke atas tanah, setelah mengetahui teknis penyampaian konsep dari “Ecstatic”.

Dibawakan dengan gaya musik sejenis The Upstairs, “Ecstatic” menghadirkan beat drum yang groovy, namun tidak berubah dari awal hingga akhir lagu sehingga “Ecstatic” terasa monoton dan kurang ‘berwarna’. Ditambah lagi dengan pemilihan lirik yang kurang bervariasi, sehingga lagi-lagi menambah kesan flat. “Ecstatic” seakan-akan mejerumuskan pendengarnya ke sebuah padang rumput yang luas dan kosong, dengan jalan lurus yang datar, tidak tau arah, tujuan untuk melakukan sebuah perjalanan yang pasti bakal seru, namun ketika pendengarnya berjalan tepat 3 menit 15 detik kemana pun arahnya, ia akan tiba di garis ‘finish’ dan hanya menemukan sebuah pohon kecil cokelat yang sudah mati menyambutnya dengan secarik kertas menggantung di dahannya dengan tulisan “Selamat anda berhasil menyelesaikan perjalanan yang seru”, itu lah yang saya rasakan ketika mendengar lagu teranyar dari Ping Pong Club ini.

Di lain sisi, ada beberapa faktor lain yang membuat saya senang ketika mendengar lagu ini, yaitu salah satunya adanya instrumen synth yang suaranya sangat nyaman di telinga saya, rasa nyaman yang hampir mirip dengan rasa nyaman ketika sedang ‘dipijet’. Pada akhirnya “Ecstatic” dari Ping Pong Club bukan lah musik yang tidak baik secara keseluruhan, namun secara jujur saya katakan lagu tersebut cepat membuat bosan yang mendengarkannya, khususnya saya sendiri. Sebenarnya semua kembali lagi ke pilihan masing-masing karena saya setuju kalo penilaian sebuah musik itu balik lagi ke selera dan preferensi masing-masing pendengarnya. Jadi silakan kalian coba dengarkan sendiri “Ecstatic” dan jangan lupa pake earphone!

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *