LOADING

Type to search

Eksperimentasi dan Eksplorasi Sound dari Fuzzy, I “Transit”

DAILY FEATURED

Eksperimentasi dan Eksplorasi Sound dari Fuzzy, I “Transit”

Andi Basro 08/09/2019
Share

“Fuzzy,I kini sudah tidak bisa dibandingkan dengan band-band yang lain, mereka telah menciptakan pengalaman musikalitas yang segar.”

Selang beberapa tahun sejak merilis EP mereka berjudul Neonato di tahun 2016, Fuzzy, I kembali merilis karya dalam bentuk single pack yang berisi tiga lagu. Lewat ketiga lagu tersebut, Fuzzy, I menyajikan sound yang berbeda dari karya-karya mereka sebelumnya.

Fuzzy,I  kembali hadir dalam dunia permusikan dengan line up baru yang beranggotakan Egi Hisni, Fathara Rizqi, Alyuadi Febryansyah, Dissa Kamajaya, dan Hendrawan Saputra. Mereka merilis single pack bertajuk “Transit” di bawah naungan Six Thirty Recordings.

Saya pertama kali mendengarkan Fuzzy, I secara langsung pada saat mereka tampil di Rossi Musik, Jakarta bersama Avhath, band dark hardcore, dan band stoner dari Malaysia, Marijannah. Saat itu, Fuzzy, I membawakan lagu-lagu noise rock, yang menurut saya sangat generik ala-ala Foo Fighters.

Namun, dalam single pack “Transit”, Fuzzy, I mengubah sound mereka tanpa meninggalkan roots noise rock-nya sehingga menghasilkan lagu-lagu yang sangat menarik. Fuzzy, I terdengar menggabungkan elemen-elemen dari post punk dan math rock.

Lagu berjudul Transit agak membuat saya kagok karena instrumental dan seperti hanya di-plot sebagai interlude. Pada lagu tersebut Fuzzy i memberikan preview perubahan sound yang telah mereka terapkan. Elemen-elemen yang mereka ambil langsung terdengar jelas dalam track ini.

Beberapa orang mendengar pengaruh dream-pop, jazz, dan psychedelic. Namun di saat saya mendengarkan lagu No dan Jazzy,I pertama kali, saya sejenak teringat oleh band post-hardcore “at The Drive in” dengan instrumentasi gitar mereka. Hanya saja drumnya tidak agresif, lebih santai, tidak memakai vulture beat, dan beat drum tradisional band-band punk/hardcore.

Pengaruh math rock terdengar ketika riff finger picking-nya muncul. Seperti mendengarkan gabungan dari Toe dan Joy Division. Menjelang perilisan, Fuzzy,I juga membuat playlist di Spotify berjudul in Transit with Fuzzy, I, yang menjadi asumsi bahwa lagu-lagu yang masuk ke dalam playlist tersebut menjadi referensi mereka.

Hal yang paling mengejutkan adalah solo project Zach Hill, drummer Death Grips dan Hella masuk dalam playlist tersebut. Mungkin eksperimentasi yang dilakukan dalam lagu-lagu Zach Hill menjadi inspirasi untuk mengeksplorasi kembali sound Fuzzy,I.

Pada intinya Fuzzy,I kini sudah tidak bisa dibandingkan dengan band-band yang lain, mereka telah menciptakan pengalaman musikalitas yang segar. Jadi untuk para pendengar preferensinya hanya dua, suka atau tidak suka. Semoga Fuzzy,I kedepannya dapat terus bereksperimentasi dan memberikan pendengarnya kejutan lain!

Tags:
Andi Basro

Poser HC yang berusaha mengedukasi soal musik tanpa memiliki kemampuan bermusik.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *