LOADING

Type to search

Kegelisahan Sore dan Eksplorasi Musik Melalui Single Rubber Song

DAILY FEATURED

Kegelisahan Sore dan Eksplorasi Musik Melalui Single Rubber Song

Defta Ananta 19/11/2018
Share

Kolaborasi dua musisi berkarakter selalu menarik untuk disimak. Pendengar kembali diajak menerka, akan jadi seperti apakah hasil karya mereka? Perkawinan megah dua genre musik? Terciptanya suatu energi baru? Atau malah hanya sekedar gimmick semata untuk mendongkrak popularitas? Entah lah yang pasti selalu ada daya tarik tersendiri bagi para pendengar untuk menyimak hasil karya tersebut.

Berkaitan dengan kolaborasi, kali ini Sore bertemu dengan Vira Talisa untuk mengkawinkan warna musiknya masing-masing. Seperti yang kita ketahui, Sore merupakan grup musik yang cukup eklektik. Selain seluruh personilnya memainkan alat musik secara kidal, mereka juga memberikan nafas jazz, folk, rock, hingga chamber pop ke dalam lagu-lagunya dan pada akhirnya membentuk spektrum musik Sore yang cukup unik. Setelah merilis tiga album penuh, satu kompilasi, dan satu EP, mereka memutuskan untuk merekam Rubber Song, sebagai single teranyar yang menjadi penanda babak baru musik Sore dan dirilis pada tanggal 14 November lalu diberbagai platform musik digital.

Dalam aspek aransemen Rubber Song , 10 detik pertama saya mengira lagu ini akan bernuansa seperti lagu – lagu sore di album terdahulu dengan nuansa jazzy.  Ternyata anggapan saya salah, di lagu ini Sore terdengar tidak seperti Sore yang saya kenal lewat hits-hitsnya yang terdahulu seperti Karolina, No Fruits For Today, atau R14. Penggunaan suara distorsi dan ketukan ritmik mid-beat kembali menunjukan ambisi eksploratif para personil Sore. Sebelumnya memang Sore dikenal cukup getol untuk mengeksplorasi warna musik-musiknya. Contohnya seperti beberapa bagian di lagu – lagu Sore yang terdengar “sangat tidak Sore” menurut saya. Seperti pada lagu She’s So Beautiful dengan ritme menghentak khas musik rock n roll. Juga pada lagu Fiksinesia yang berkolaborasi dengan Aji The Milo yang memberikan sentuhan post-rock dan masih banyak lagi.

Satu hal menjadikan lagu ini menarik untuk disimak adalah alasan dari keputusan personil Sore untuk mengajak Vira Talisa berkolaborasi. Seorang singer – songwriter yang mulai dilabeli indie darling oleh para audiens di sosial media nampaknya memang melahirkan keunikan tersendiri dengan memberikan pengaruh dari pendekatan french-pop ala Vira Talisa. Menurut pihak Sore, kehadiran Vira dalam lagu ini seperti membawa sentuhan “emas” mediterania yang tenang ke lagu yang ‘tropis’ ini. Kemudian, ada rasa sedikit ‘gila’ dari personil Sore untuk membawanya bernyanyi lebih ‘manic’ di tengah kekalutas lagu Rubber Song ini. Hasilnya adalah sebuah lagu yang memiliki nuansa eksplorasi sound yang lebih lugas dan fuzzy. Meski begitu identitas keduanya masih terdengar dengan jelas, seperti rhyming khas Sore di bagian reff, maupun celotehan bahasa Prancis dari Vira di akhir lagu.

Untuk menambah kedalaman konteks perihal ide dibalik lagunya, pihak Sore mengangkat perihal penilaian orang banyak yang sering menganggap hal-hal yang bersifat picisan sebagai sesuatu yang remeh. Padahal sebenarnya dibalik hal – hal picisan tersebut terkadung sentimen paling murni dari semua tema yang sering diangkat. Kegelisahan tersebut akhirnya menjadi cerita dalam Rubber Song ini.

Ps: I love the pink-ish artwork

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *