LOADING

Type to search

Berbagai Bentuk Emosi Terangkum dalam Karya Instrumental Christabel Annora “Matamu”

DAILY FEATURED

Berbagai Bentuk Emosi Terangkum dalam Karya Instrumental Christabel Annora “Matamu”

Ferdin Maulana 23/07/2019
Share

Foto oleh Megifanani

“Matamu menawarkan dentuman melodi indah dengan progresi chord minor yang membuat pendengar merasakan emosi yang bittersweet”

Setiap hari minggu pagi, di tengah ruang tamu, di antara meja dan sofa, aku masih ingat bagaimana ketiga kakak ku memainkan piano Yahama klasik yang beberapa notenya sudah jebol, atau bahkan pedalnya yang sudah tak berfungsi. Lagu yang pertama kali menyangkut ditelingaku sudah pasti lagu yang sering dipamerin seorang anak SD bila bertemu piano dengan menekan note D dan D kres pada kunci C3, “Fur Elis” karya Beethoven yang fenomenal.

Ada suatu kecenderungan sosial rasanya dulu bagi keluarga menengah ke atas untuk memiliki piano di ruang tengahnya. Ibuku selalu memaksaku untuk les piano karena katanya saat besar nanti ini bisa jadi modal yang besar. Aku bertemu dengan Beethoven, Choppin dan Mozart pada usia 8 tahun. Pertemuan tersebut bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Bajingan! Aku benci klasik. Semua not baloknya hanya membuatku sakit kepala.

Memasuki usia remaja aku jatuh cinta pada satu piece piano yang aku temukan di antara tumpukan buku-buku lagu yang mulai berdebu. Lagu itu adalah “Sea Mist” karya James Bastien. Saat pertama menguasai lagu tersebut, air mataku mengalir. Indah sekali, pikirku saat itu. Lagu yang notabene simpel, hanya berisikan melodi dasar seperti C,D,E, dan G namun bersinergi membentuk alunan yang indah. Rasanya aku dibawa berangan-angan dalam momen yang manis namun juga menyesakan hati. Lewat ”Sea Mist” untuk kali pertama aku memahami istilah bittersweet.

Setelah sekitar 7 tahun lagu tersebut tertimbun dalam katalog lagu-lagu kuno yang terlupakan, aku pun dipertemukan oleh “Matamu” karya Solois lokal bernama Christabel Annora. Dentuman melodi manis dan progresi chord minor membuatku merasakan nostalgia bittersweet yang kurasakan dulu saat masih remaja. Penggunaan ambience suara alam seperti kicauan burung dan terkadang suara motor bebek hilir mudik membuat lagu ini terasa semakin khidmat.

Track instrumental berdurasi sekitar 4 menit ini dirilis pada 28 Juni kemarin. Melalui rilis pers, Christabel menceritakan bahwa “Matamu” dibuat secara tidak sengaja ketika ia sedang tes piano pada sesi rekaman di Edinburgh. Meski berangkat dari ketidaksengajaan, “Matamu” diproduksi secara baik secara komposisi dan aransemen.

Masih dalam rilis pers, Christabel mengungkapkan bahwa “Matamu” merupakan suatu Dualitas. Di satu sisi, “Matamu” bisa dimaknai sebagai sebuah kekaguman terhadap suatu bagian tubuh, sedangkan di sisi lain kata ini bisa berubah menjadi umpatan yang lekat dengan budaya Jawa.

“Lagunya menceritakan tentang dua sisi kehidupan manusia. Mullti interpretatif, sih. Kalau yang saya rasakan waktu mainin lagu ini, ada dua emosi berseberangan tapi dia ada di satu tempat yang sama. Ya seperti emosi ketika bilang ‘matamu!’ dan ‘matamu…’ tadi,” ungkap Ista, sapaan akrab solois tersebut tentang filosofi lagu ini.

Beberapa minggu kemudian Christabel menggandeng seorang sutradara bernama Melati Noer Fajri untuk menggubah tiap melodinya menjadi tayangan visual yang bermakna. Pengambilan gambar dilakukan di dua lokasi yakni Yogyakarta dan Ranupane.

Keduanya ternyata memiliki makna filosofis yang dijabarkan lebih mendalam oleh Melati. “Semua ini simbolik yang tidak hanya sekedar diambil karena cantik. Danau adalah representasi manusia dalam hal ini air , sedangkan kabut diatasnya adalah mimpi yang berjalan sunyi,” ungkap sineas muda tersebut.

Melati Noer Fajri diberi kebebasan yang sangat luas untuk menginterpretasikan “Matamu” oleh Christabel Annora. Apabila sang musisi memaknai lagu ini sebagai dualitas yang tumbuh dalam suatu kesatuan , maka Melati memiliki interpretasi sendiri yang lebih filosofis. Tentu saja interpretasi tersebut masih memiliki benang merah yang serupa dengan makna awal. Lewat sinematografi yang tearah, ia menyentuh berbagai realita seperti kehidupan sosial dan spiritualitas.

Video klip dari single “Matamu” sudah bisa dinikmati lewat akun Youtube resmi Christabel Annora sejak tanggal 19 Juli lalu. Bagi kalian penggemar soundtrack film-film Ghibli atau menikmati piece instrumental yang bittersweet seperti Yiruma atau Ryuchi Sakamoto, maka anda akan menikmati pula ”Matamu” dari Christabel Annora. Terima kasih Ista, karya ini sangat bermakna paling tidak untuk saya.

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *