LOADING

Type to search

Fenomena Bisnis Temporer dan Euphoria Konsumen

COLUMN

Fenomena Bisnis Temporer dan Euphoria Konsumen

Defta Ananta 27/09/2017
Share

Akhir-akhir ini media sosial saya dipenuhi oleh iklan-iklan sampai bentuk testimoni konsumen dari produk-produk yang tengah menjadi buah bibir di masyarakat entah itu produk makanan, minuman, atau pakaian semuanya seolah-olah memaksa saya untuk ikut serta dalam euphoria yang timbulkan dari penjualan produk-produk tersebut. Dan singkat cerita saya pun menjadi penasaran mengapa produk-produk seperti sate asin pedas yang sangat kekinian, makanan minuman yang mengandung greentea, produk pakaian seperti bomber jacket, produk roll film kamera analog atau bahkan produk sekaliber Pokemon-Go dan lain-lain hanya bisa bertahan dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Apa yang salah? Setelah menelaah lebih lanjut mengenai fenomena ini, saya menemukan hal yang menarik dan mungkin menjadi salah satu penyebab dari fenomena tersebut.

Dalam memahami suatu fenomena sosial tentu kita harus menyadari adanya beberapa faktor yang dipengaruhi oleh perilaku manusia yang pada akhirnya membangun suatu kerangka vital dalam fenomena sosial tersebut, salah satunya adalah fad. Fenomena fad diawali oleh adanya suatu desireable needs yang memiliki antusiasme tinggi dikalangan konsumen, namun harus digarisbawahi bahwa fad dan trend memiliki perbedaan dalam pengertiannya. Untuk dapat membedakan fad dengan trend kita harus mengidentifikasi sifat para konsumen dalam melihat suatu produk. Pengertian fad secara umum didasari oleh keinginan emosional untuk membeli produk tertentu, keinginan emosional ini bisa dipengaruhi oleh hype pada  produk tersebut, sedangkan trend sangat dipengaruhi oleh keinginan manusia yang digiring oleh kebutuhan fungsional dan waktu yang dibutuhkan oleh sebuah produk agar bisa menjadi trend cenderung lebih lama dibandingkan dengan fad. Fenomena fad pada dasarnya disebabkan oleh perilaku konsumen yang bertingkah over-consumpted terhadap produk yang cenderung didasari oleh keinginan untuk ikut terjun kedalam euphoria yang ada. Hal yang harus diperhatikan ketika melihat fenomena yang bersifat fad karena faktor-faktor yang membangun kerangka fenomena tersebut maka tidak menutup kemungkinan untuk suatu produk yang telah mengalami fase fad-product bisa muncul lagi dan kembali menjadi primadona di masyarakat.

Melihat bisnis sate yang kekinian, bisnis makanan/minuman yang mengandung greentea, dan bisnis serupa lainnya tentu dapat dikategorikan sebagai fad. Mengapa? Karena produk-produk yang dijual hanya bisa bertahan dalam kurun waktu yang cukup singkat. Jika dilihat ada sesuatu yang menarik dari fenomena ini, karena tingginya antusiasme masyarakat sangat tinggi terhadap suatu produk dan pada akhirnya masyarakat menjadi “latah” dengan mencoba membuka bisnis dan menjual produk yang serupa dan mungkin hanya memberikan sedikit inovasi sebagai bentuk variasi dari produk. Produsen/penggiat terlalu bersifat kapitalis dengan memproduksinya pada kuantitas yang tinggi dengan harapan bisa mendapatkan banyak keuntungan karena mereka sadar exposure dari media terhadap produk-produknya yang kian menjamur juga tinggi. Hal ini membuat banyak orang makin tergiur untuk menjalankan tren usaha yang menjual produk bersifat “one hit wonder” / fad. Mungkin hal tersebut belum berlaku untuk bisnis “kue artis” karena mereka cukup cerdas untuk mempertahankan antusiasme para konsumennya.

Agar semakin aware terhadap fenomena ini dapat kita lihat usaha kue cubit greentea yang pernah menjadi primadona di masyarakat. Fenomena kue cubit greentea ini merupakan contoh fad yang sangat jelas karena kehadiran produk ini hanya bisa mempertahankan eksistensinya dalam waktu yang cenderung singkat dibandingkan produk-produk lainnya. Seperti yang telah dijelaskan, pola fenomena fad hadir dikarenakan oleh adanya antusiasme yang sangat tinggi didasari oleh keinginan emosional. Keingingan yang bersifat emosional ini dibangun oleh exposure dari sosial media yang digunakan oleh para konsumen untuk mengekspresikan antusiasme terhadap kue cubit greentea. Karena permintaan produk ini didasari oleh antusiasme tinggi dan keinginan emosional maka rentang waktu eksistensi produk akan sangat relatif tergantung dari ke-hype-an produk.

Saya menemukan pola serupa pada sektor bisnis pakaian, dan yang menariknya justru waktu yang dibutuhkan untuk suatu produk pakaian menjadi produk fad cenderung lebih cepat dibandingkan dengan makanan/minuman. Pada akhir tahun 2016 sampai awal tahun 2017 media sosial diramaikan oleh online shop yang menjual produk-produk streetwear dengan merk-merk ternama seperti Supreme, Stussy, Bape, dan lainnya. Dalam waktu yang sangat cukup singkat antusiasme konsumen pun turut melejit bersamaan dengan menjamurnya bisnis pakaian streetwear. Namun dalam waktu yang cukup singkat juga kepopuleran bisnis pakaian streetwear mulai tergantikan oleh bisnis pakaian bekas/preloved yang sering dilabeli sebagai “curated thrift shop”  yang mulai menjamur hingga sekarang. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pergeseran selera fashion yang bergerak cukup pesat dibandingkan dengan makanan dan minuman.

Tidak ada yang salah dari hal ini namun yang menarik justru alasan mengapa jadi banyak penggiat bisnis menjual produk yang bersifat fad, alasan pragmatisnya mungkin karena adanya desakan untuk bisa memiliki daya beli akhirnya para penggiat bisnis memilih menjual produk-produk yang sedang berada dalam fase fad-product sebagai jalan keluar. Lagi-lagi tidak ada yang salah dalam hal ini karena pada dasarnya mendirikan bisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan, namun ironisnya masyarakat justru bertingkah latah dengan ikut-ikutan mendirikan bisnis tanpa adanya suatu terobosan yang mungkin bisa membuat produk-produk fad ini tidak menjadi hal yang fana. Yang disayangkan adalah ketidakmampuan produsen/penggiat bisnis untuk memanfaatkan kesempatan daya jual produk yang memiliki product awareness sangat baik karena terbantu oleh exposure media. Hal tersebut menyebabkan bisnis ini cenderung bagus di awal saja, dan yang sangat menggelikan adalah tren bisnis ini telah menjadi suatu budaya yang pada akhirnya hanya menjadi pelipur lara sementara. Jadi, sangatlah manusiawi apabila fenomena produk fad akan selalu ada karena disebabkan oleh perilaku dan selera manusia yang selalu berubah-ubah. Sepertinya akan lebih baik apabila penggiat bisnis bisa melihat celah-celah untuk tetap mempertahankan ke-hype-an masyarakat terhadap suatu produk agar bisnis mereka tidak bernasib seperti angin lalu.

Melihat fenomena fad adalah sesuatu yang menarik karena perilaku manusia menjadi faktor penentu terhadap suatu hal bisa masuk dalam kategori fad. Baik tidaknya fenomena ini sangat tergantung bagaimana kita menyikapinya, apakah kita akan ikut terjun ke dalam euphoria atau kita memutuskan untuk bertindak acuh.

 

Ilustrasi oleh: Nadhif  Ilyasa

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *