LOADING

Type to search

Studio Ghibli: Definisi Sempurna Imajinasi, Fantasi, dan Realita

DAILY

Studio Ghibli: Definisi Sempurna Imajinasi, Fantasi, dan Realita

Share

Persepsi bahwa film kartun atau anime adalah pertunjukan untuk anak-anak rasanya sudah berganti semenjak dua dekade terakhir. Studio Ghibli boleh jadi salah satu yang membentuk pemahaman bahwa anime, atau animasi, atau kartun, atau apapun sebutannya, bukanlah melulu cerita riang dan dikhususkan bagi anak-anak. Orang dewasa dengan selera “e s t e t i k a” tertentu pun bisa menikmatinya dengan cerita dan kualitas visual yang baik.

Ide membuat film anak-anak yang “orang dewasa dapat menikmatinya juga” sudah banyak kita temukan. Contoh: Beavis and Butt-Head atau The Simpsons. Akan tetapi dengan menjamurnya “film pesan moral” yang menggurui, tentu membuat banyak orang dewasa yang memilih walkout sebelum filmnya habis. Film Ghibli biasanya dibuat untuk anak-anak, tetapi mereka tidak pernah menggurui. Selain Ghibli memang liar dan imajinatif, faktanya mereka adalah eksekutor yang baik dan sangat detail.

Ada sebuah kutipan di Tumblr yang mengatakan “Disney movies touch the heart, but Studio Ghibli films touch the soul“. Pernyataan yang sentimental, tapi rasanya benar. Dengan banyaknya adegan romantis Beauty and the Beast yang beredar di Instagram Stories kita semua, rasanya sudah cukup untuk menasbihkan kalau pernyataan “Disney movies touch the heart” memang benar adanya. Entah berapa banyak bar Instagram Stories kita, jika saja Hayao Miyazaki menjadi sutradara film Disney.

spirited-away-chihiro-parents-become-pigs-meaning-studio-ghibli-hayao-miyazaki-2

Spirited Away (2001)

Hal paling penting yang membuat Studio Ghibli sangatlah hebat adalah: Perpaduan yang sempurna antara imajinasi, fantasi dan realisme, dimana semua hal tersebut dibuat dengan sangat detail.

Meskipun orang tua berubah menjadi babi (Spirited Away), seorang putri yang dibesarkan oleh serigala (Princess Mononoke), atau pilot babi tempur (Porco Rosso), dimana hal-hal tersebut kita anggap sebagai hal yang tidak masuk akal, tapi kehebatan Studio Ghibli adalah mereka dapat menciptakan narasi ajaib yang terasa nyata karena ke-detailan mereka.

Kita ambil contoh saja dari film terbaik Ghibli berjudul Spirited Away. Puluhan makhluk aneh dibuat untuk mengisi setiap scene, mereka dibuat dengan sangat detail: memiliki latar belakang yang berbada di setiap karakternya, dan apa yang mereka lakukan juga disebabkan oleh motif yang berbeda. Ada berbagai aktifitas yang diperlihatkan, beragam pekerjaan dari mulai mengepel lantai sampai memasak, adanya perbedaan jenis sabun, dan detail kecil lain yang tak terhitung jumlahnya yang membuat kita merasa dunia aneh tersebut terasa benar-benar hidup. Di Princess Mononoke, kita diperlihatkan adanya perbedaan role gender: dimana wanita bekerja di rumah, dan para lelaki yang berburu kebutuhan hidup. Tidak peduli seberapa absurd cerita yang dibuat, dunia Ghibli tetaplah terasa realistis. Disaat banyak film animasi lain membuat jalan pintas, Studio Ghibli justru dapat mengeksekusi hal-hal kecil yang sepintas terasa tak begitu penting , padahal menjadi kunci.

spirited-15-1024x552

Spirited Away (2001)

Kepada Starting Point, majalah yang memuat kumpulan wawancara dan esai tentang Studio Ghibli, Miyazaki menjelaskan: “Anime mungkin menggambarkan dunia fiksi, tapi saya tetap percaya bahwa pada dasarnya ia harus memiliki realisme tertentu. Bahkan jika dunia yang digambarkan adalah kebohongan, triknya adalah membuatnya tampak senyata mungkin. Dengan kata lain, animator harus mengarang kebohongan yang tampak begitu nyata.”

Studio Ghibli menjadi menarik karena mereka bisa membuat animasi menjadi industri besar yang mendatangkan banyak uang, tapi lebih dari itu film-film Ghibli bukan hanya sebatas hiburan dan komersil, film-filmnya membuat kita berpikir dan sanggup mengajak penonton merenungkan kembali bagaimana animasi semestinya dibuat.

hayao-miyazakis-career-327-body-image-1418300160

Princess Mononoke (1997)

Ghibli sering berbicara tentang kesetaraan gender dan nilai-nilai feminisme secara tersirat. Karakter perempuan atau anak perempuan dalam film-film Ghibli dibuat kuat, mereka bukanlah putri yang menunggu diselamatkan. Dalam Princess Mononoke, ada karakter San yang dibesarkan oleh serigala. Asuhan serigala itulah yang membuatnya menjadi lebih dari sekedar perempuan yang kuat, namun mempunyai sikap yang jelas, tegas, dan tanpa kompromi. Spirited Away bercerita tentang Chihiro, seorang gadis berusia sepuluh tahun yang terjebak ke dalam dunia roh. Dia harus menemukan jalan kembali ke dunia nyata dan menyelamatkan orang tuanya yang telah berubah menjadi babi, dimana dalam perjalannya tersebut membuat Chihiro berubah menjadi seorang gadis yang pemberani.

7145_1

Grave of the Fireflies (1988)

Membicarakan tentang pesan, nilai-nilai atau isu yang diangkat oleh Studio Ghibli, tak akan cukup hanya dengan sebuah artikel aja. Ada nilai-nilai pengorbanan ketika perang pecah antar negara dan bagaimana perjuangan hidup kakak adik pasca perang dunia II di Jepang dalam film Grave of The Fireflies. Ada juga bagaimana Miyazaki bersama Ghibli, mencoba melestarikan sesuatu yang berharga dan berharga, sesuatu yang mungkin sudah hilang yaitu tentang menghormati lingkungan, keresahan yang ia sampaikan lewat My Neighbor Totoro. Totoro menjadi teman dari dua gadis kecil yang ibunya sedang berada di rumah sakit. Totoro tidak membuat bahaya seperti seekor keledai dan sahabatnya sang monster hijau yang akhirnya berubah menjadi pangeran.

hayao-miyazakis-career-327-body-image-1418300304

My Neighbour Totoro (1987)

Di dalam Spirited Away ada juga hal menarik dimana Chihiro harus menjadi buruh, menghadirkan realitas tentang kelas pekerja di Jepang, memperlihatkan bagaimana ketamakan orang tua Chihiro yang akhirnya membawa mereka ke dalam bencana.

Membahas sedikit lebih jauh soal Spirited Away, para kritikus dunia banyak yang meng-interpretasikan bahwa film ini adalah kritik Ghibli terhadap prostitusi anak di bawah umur, dengan para monster digambarkan sebagai pengunjung alias om-om nakal dan para pelayan adalah wanita-wanita muda. Miyazaki menjelaskan bahwa kehidupan sosial di Jepang telah berubah menjadi seperti industri seks. Selain interpretasi soal prostitusi, ada juga yang menggambarkan bahwa dunia roh mewakili Jepang era tua, dan dunia nyata-dunia bagi Chihiro dan keluarganya tinggal-adalah Jepang era baru. Dimana pesannya adalah, seperti Chihiro, Jepang harus belajar bahwa untuk menjadi negara yang baik, maka harus mau belajar dari sejarah, berubah dan beradaptasi. Sebagaimana Chihiro belajar dari dunia roh bahwa sihir dan kapitalisme yang kotor sangatlah merugikan.

tumblr_inline_o544rstMUW1szhhzb_500

Spirited Away (2001)

Sementara isu yang diangkat sebegitu besarnya, Ghibli tidak pernah berkhotbah, Ghibli memperlakukan seluruh filmnya sebagai sebuah puisi. Ia menghadirkan elemen yang disebut sebagai “ma”, sebuah kekosongan yang dibiarkan agar memberi kesempatan pada para penontonnya untuk menikmati lingkungan sekitar. Ghibli kerap memberikan kesempatan pada karakter dalam filmnya untuk menghela nafas, berlari di sekitar sungai, atau diam saja. Hal ini menghadirkan sensasi ruang dan waktu juga elemen emosi. Disaat film animasi barat lebih fokus kepada action to action, adegan romansa, atau dramatis yang berlebihan demi hiburan atau komersil semata, Ghibli membiarkan kita bernafas untuk hidup dan menikmati dunianya.

Tidak seperti film animasi barat juga, karakter antagonis atau penjahat yang dibuat oleh Ghibli menjadi sangat abu-abu. Bukanlah sesuatu yang menjadi hitam-putih, pahlawan atau musuh. Untuk Ghibli, antagonis biasanya memiliki motivasi tersendiri kenapa mereka menjadi seperti itu. Dan jelas, alasannya bukan untuk “menguasai dunia”. Setiap karakter memiliki sisi baik atau potensi  menjadi baik. Misalnya saja di Spirited Away saat monster lumpur raksasa yang benar-benar mengerikan datang ke pemandian tetapi di balik itu, sebenarnya ia adalah Kama No Kami, Dewa sungai. Bisa juga sepasang orang tua yang baik, karena kesalahan mereka akhirnya membuat mereka berubah menjadi babi.

Vlcsnap-2013-05-22-14h21m10s13.png

Spirited Away (2001)

Ghibli cenderung untuk memasukkan lebih banyak nuansa abu-abu, mereka mempersiapkan anak-anak untuk ini, mereka menawarkan visi hidup yang didukung oleh kreativitas, kebaikan dan kebebasan berpikir atau berekspresi. Bukan menggurui atau memaksakan visi hidup orang dewasa kepada anak yang baru tumbuh.

Pada tahun 2005, Miyazaki mengatakan kepada New Yorker “Saya tidak percaya bahwa orang dewasa harus memaksakan visi mereka tentang dunia pada anak-anak. Anak-anak sangat mampu untuk membentuk visi mereka sendiri”.

Kartun bukan lagi soal film anak-anak yang bertema riang gembira. Ia bisa bercerita dan memberi pesan tentang apa saja. Kerusakan lingkungan, peperangan, semangat independen, hingga kebencian antar golongan atau mereka yang berbeda. Ghibli menggali tema itu bukan sebagai barang dagangan, mereka menghadirkan sesuatu yang lebih dekat, dan mereka mengerjakan sebaik-baiknya dengan segala kesanggupan yang mereka punya.

1083_019812B.jpg

Semua hal itu lah yang akhirnya membuat film-film Ghibli yang sering kali berbicara tentang tema-tema yang serius tidak pernah menjadi film pesan moral memuakan, tidak pernah menjadi propaganda, melainkan cerita yang solid. Ghibli benar-benar mencintai animasi dengan sangat dalam, mereka mencitai film yang baik, yang sebagaimana mestinya di buat. Maka jangan heran sewaktu konferensi pers mereka di Jakarta sepekan yang lalu, saat Toshio Suzuki (Produser Studio Ghibli) ditanya oleh seorang jurnalis “Apakah Ghibli berencana untuk membuat live action seperti Disney?” Suzuki menjawab “Studio Ghibli adalah studio animasi, kita tidak akan pernah membuat live action. Mungkin Disney tidak mempunyai ide untuk membuat film animasi, makannya dari film animasi yang sudah ada mereka buat menjadi live action“.

Hari ini adalah hari terakhir pemutaran film Ghibli pertama di seluruh Indonesia dalam rangkain acara mereka bertajuk The World of Ghibli di Indonesia. Akan tetapi masih banyak sekali film-film mereka yang akan diputar di Indonesia kedepannya, ditambah akan ada pameran Ghibli terbesar dan pertama di Asia Tenggara. Hal-hal inilah yang nantinya akan menjadi transfer knowledge bagi negara kita khususnya bagi industri animasi, pecinta animasi, atau industri film sendiri. Sejatinya kehadiran Ghibli merupakan kemenangan suatu karya seni dan kemenangan imajinasi atas realitas manusia.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *