LOADING

Type to search

Film Pilihan: Mengusut Herd Mentality Dalam Fiksi Layar Lebar

FEATURED SELECTION

Film Pilihan: Mengusut Herd Mentality Dalam Fiksi Layar Lebar

INCOTIVE 13/09/2018
Share

Teks: Deliani Darma Freskya
Ilustrasi: Alif Hafizhan

Untuk mengusut herd mentality dalam fiksi layar lebar, sebaiknya kalian mengenal dulu apa itu herd mentality.

“A smaller, almost ridiculous type, a herd animal. Something eager to please, sickly, and mediocore.”

Begitu singkatnya Nietzsche menjelaskan herd mentality. Kalimat pembuka diatas merupakan kutipan dalam bukunya yang berjudul Beyond Good and Evil. Jika boleh mencontek kata – kata ketua kelas Incotive dalam artikel sebelumnya; Tik Tok dan Herd Mentality Masyarakat Indonesia, dikatakan bahwa dalam buku tersebut Nietzsche menandakan herd sebagai mayoritas masyarakat yang mentalnya penuh dengan rasa iri, dengki, dan hanya ikut – ikutan, mudah dikembalakan. Selain Nietzsche, psikolog Sigmun Freud juga sempat menyinggung isu ini dalam buku Instincts of the Herd in Peace and War.

Jika kalian merupakan tribe manusia yang malas membaca literatur dan teori – teori pejelimet, artikel ini dengan senang hati menggiring kalian agar lebih mudah memahami herd mentality lewat karya fiksi layar lebar. Artikel ini nantinya akan menuntun kalian untuk ikut mengusut herd mentality dalam rangkaian fiksi tersebut.

Rekomendasi film pilihan yang kita coba sajikan di sini juga akan diambil dari yang paling ringan, penuh dengan cinematography ‘substansial’ sampai yang memang memiliki plot-twist mind-fuck parah. Okay! Tanpa perlu berbasa – basi lagi, mari kita telaah.

Nerve (2016)

Kita akan bahas dari yang paling ringan untuk ditonton. Yap! Nerve. Film garapan Liongates ini memang sangat kental dengan unsur herd-nya. Bahkan jika ditarik secara garis besar, konsep premis yang digarap oleh Henry Joost dan Ariel Schulman (sutradara) ini, memang ingin menyorot kehidupan urban para herd. Sebuah distopia yang membuat kita dengan mudah menemukan dimana porsi dan letak si karakter herd berada. Sehingga film ini akan sangat ramah bagi kalian – kalian yang memang punya pemikiran “ngapain ‘bayar mahal mahal’ cuma buat dibikin pusing?”.

Selain premisnya yang ringan, penonton akan dimanjakan dengan kesan present-time atau “kekinian” yang dilahirkan dari setting penuh light-effect disetiap sudut pengambilan frame, didukung oleh setting wardrobe yang warna – warni dan grading contrast yang membuat frame semakin bold nan eye-catchy.

Penonton akan dibawa dalam vibes instastory yang akan sangat relatable untuk generasi kita; generasi nunduk yang sakaw medsos. Terakhir jangan lupa scoring musik – musik techno-pop komersil dan ringtunes notif media social yang berhasil membawa kita semakin in game.

Pemilihan cast dalam Nerve sangat membuat film ini masuk dalam kategori komersil yang layak diperhitungkan. Bagaimana tidak? Pesona Emma Robert yang memerankan tokoh utama cewek insecure disini akan membuat para cowok – cowok betah mengikuti setiap menit durasi yang ada. Untuk cewek – cewek, kalian jangan mau ketinggalan untuk melihat sisi bad-boy Dave Franco yang akan membuat kalian “duh astaga senyum nakalnya tuh ya… gemez bgt!”

Terakhir, Nerve akan semakin masuk dalam relatable kehidupan generasi milenials kekinian dengan situs web viral bernama NERVE yang mengusung tema truth or dare; minus truth. Dimana kalian akan diseret dalam sebuah permainan gila atensi untuk mendapatkan popularitas dan uang. Yap! Siapa sih yang gak kenal permainan truth or dare? Permainan gila – gilaan; dengan sedikit modus, anak SMA pada masanya.

Hal yang disebutkan diatas menjadikan Nerve; karya bergenre techno-thriller adventure, yang akan meng-entertain kalian dalam distopia yang terasa dekat dengan realita. Karna jika ditelisik, Nerve menjadi gambaran betapa internet dengan mudahnya menjamuri manusia untuk bermental herd. Nerve bisa dibilang menjadi tingkat extreme dari fenomena yang terjadi disekitar generasi milenial saat ini. Hingga jargon “stop making idiot people famous” hanya sebatas persuasi yang malah menjadikan idiot people more famous.

Tertarik melihat kehidupan kekinian para herd dalam versi yang lebih ekstrim dan entertaining? Just watch!

City of God (2002)

Berangkat menuju film yang cinematography-nya lebih ‘substansial’, bagi kalian yang senang mengamati film bukan dari segi entertaining dan alurnya saja, film ini akan sangat cocok untuk kalian. City of God merupakan sajian whole package yang penuh dibanding Nerve.

Jika kalian cukup mengamati detail, ada beberapa plot yang memang terkadang masih sangat prematur dari Nerve. Sedangkan sulit mencari hole-plot dalam City of God karna film ini sendiri based on true story.

Dalam film ini, kalian akan dipuaskan dari segala macam aspeknya, mulai dari setting, acting, scoring, grading dan plot yang saling mengisi dengan porsi kompleksitas eksotis yang ‘awarding’. Hal tersebut tidak mengherankan karna City of God merupakan film festival (Cannes Festival) dari Brazil yang berhasil menembus nominasi Best Cinematogprahpy, Best Director, Best Editing, dan Best Writing pada ajang bergengsi Academy Award 2014 silam.

City of God menceritakan kehidupan kriminal dan bar – bar sebuah kota kecil yang semakin hari semakin menjamur. Sebuah aksi tembak menembak amatir gangster yang akhirnya menjadi sebuah kegiatan lumrah di kota kecil tersebut. Tidak hanya itu, City of God merupakan sebuah kisah pergolakan batin tokoh bernama Rocket (Alexandre Rodrigues) yang membuat film ini tidak hanya menyajikan aksi bar – bar, namun juga bagaimana kehidupan seseorang ‘cameo’ berjuang dalam arus kehidupan yang haus atensi akan eksistensi. Sebuah karya yang menyembunyikan pesan moral dengan sangat tersirat, secara cerdas.

Cerminan kehidupan para herd dalam film Nerve menjadi tidak ada apa – apanya dibanding potret kehidupan para herd bar – bar yang nyata terjadi di City of God. Film garapan sineas Brazil, Fernando Meirelles dan Katia Lund ini berhasil menyulap budaya minoritas dalam karya ‘minor’ menjadi karya ‘mayor’ yang cerdas.

City of God  memperlihatkan betapa kompleksnya perkembangan herd mentality yang seakan memang sudah membudaya. Sama halnya dengan budaya – budaya di Indonesia yang sudah ada; sebelum adanya internet, seperti budaya mencontek, budaya korupsi, budaya okultisme, budaya theism dan budaya lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Pada akhir kata, City of God seakan menjelaskan bahwa herd mentality merupakan cikal bakal lahirnya budaya yang berkembang di masyarakat. Semakin diikuti semakin banyak pengikut, semakin banyak pengikut semakin membudaya. Semakin membudaya semakin dipercaya, semakin dipercaya semakin diyakini, semakin diyakini semakin dianut?

Hmm yakin nih masih mau ngelewatin film terkait mentalitas herd sekelas Cannes Festival dan Academy Award?

Who Am I (2014)

Film terakhir ini ditujukan untuk kalian – kalian yang memang mecintai film – film yang mengasah otak dan plot twist mind-fuck. Setelah dimanjakan dengan Nerve yang entertaining dan City of God yang penuh dengan cinematography ‘substansial’, kini waktunya mempersiapkan otak kalian untuk berpikir dan menganalisis plot yang butuh konsentrasi tinggi ini.

Siap – siap berkenalan dengan tokoh – tokoh herd yang pandai dalam menggunakan trik sulap hacker dalam social-engineering. Meskipun kalian bukan hacker seperti mereka, gunakan analisis kalian untuk meretas alur psikologis yang ada dalam film Who Am I. Karna “no system is safe”, ingat sistem bukan hanya berbicara tentang teknologi, manusia juga sebuah sistem.

Genre yang diusung dalam Who Am I juga termasuk salah satu genre yang tidak umum. Sang sutradara, Baran bo Odar mengusung genre techno-thriller psikologis yang mampu menghadirkan atmosfer langka dalam perfilman. Film asal Jerman ini berhasil membungkus dunia hacker amatir menjadi berkelas dengan plot analytical-maju-mundur dengan setting dan grading contrast yang gelap.

Porsi Herd mentality dalam Who Am I memang tidak sebanyak dalam film Nerve dan City of God. Melihat memang hanya sedikitnya karakter dalam film ini. Herd mentality yang terlihat jelas hanya pada satu fokus, CLAY. Sebuah grup hacker yang haus akan eksistensi public dan pengakuan internal sesama hacker. Sebuah premis yang akan menggiring kita menyaksikan aksi – aksi hacking yang ciamik.

Film ini juga menyuguhkan gambaran darkweb, tidak hanya menampilkan coding membingungkan, namun kita akan diperlihatkan oleh adegan underground para anonymous bertopeng. Who Am I akan membawa kita pada trik sulap teknologi, psikologis dan cinematography yang cemerlang.

Jika diusut, Who Am I menunjukan betapa suatu pembuktian diri dapat membuat seseorang memanipulasi individu lain untuk mengikuti keinginannya, ikut – ikutan. CLAY menjadi sebuah gambaran betapa suatu kelompok sosial kecil saja mampu membangun herd mentality. Who Am I merupakan sebuah bentuk ambisi akan atensi yang akhirnya ingin kembali tidak menjadi sorotan.

Teruntuk kalian yang akan segera menonton sekelompok herd dalam Who Am I, tolong siapkan otak kalian, hapus dulu sarang laba – laba dalam otak kalian untuk ngikutin dan memahami alurnya ya!

Sebuah konklusi.

Ketiga film di atas menjadi sebuah gambaran singkat mengenai herd mentality yang menyelip dalam karya fiksi layar lebar. Porsi herd mentality dalam setiap narasi fiksi tidak akan lari jauh – jauh dari realita nyata di sekitar kita. Sehingga fiksi layar lebar dapat menjadi sebuah sumber pengetahuan yang ‘tidak menggurui’, namun menjadi ajang developement bagi individu untuk menangkap moralitas yang tersirat maupun tersurat di dalamnya. Mengusut herd mentality dalam fiksi akhirnya menjadi ajang pencarian ilmu yang anti-mainstream.

Semoga Nerve, City of God dan Who Am I mampu menerangkan herd mentality dengan lebih cara yang menghibur dengan keajaiban – keajaiban yang ada di film tersebut

Selamat menyaksikan!

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *