LOADING

Type to search

Sarvani Bhutani: Implementasi Fauna dan Kultur Bali Klasik

EVENT FEATURED

Sarvani Bhutani: Implementasi Fauna dan Kultur Bali Klasik

INCOTIVE 10/07/2019
Share

Teks oleh Irma Purnama
Foto cover oleh @gamaphoto1930

“Unsur magis yang disuguhkan dalam Sarvani Bhutani mampu membuat kita mengernyitkan dahi ketika menonton”

Saat itu tepat pukul 8 malam, setelah berhasil melewati kerumunan kendaraan yang padat di penghujung minggu. Udara dingin di Dalemwangi Art Space menusuk hingga ke tulang. Saya merasa cukup beruntung karena memutuskan untuk membawa sweater. Tak lama saya pun naik menuju pintu masuk Dalemwangi Art Space. Sinar lampu kuning temaram serta pepohonan rimbun di sekitarnya seakan menyambut kehadiran saya.

Ketika berjalan masuk suara auman harimau mengaum tiba-tiba terdengar, diiringi dengan suara nafas yang memburu. Seketika saya merasakan udara malam semakin menyengat. Sesampainya di atas hanya sorot lampu dari proyektor yang terlihat jelas. Beberapa penonton yang datang terduduk dengan khusyuk. Mereka menyaksikan seorang pria tangguh telanjang menggenggam tombak yang berada di dalam layar sedang berlari di tengah hutan. Mata tajam nya fokus mencari sesuatu untuk siap ia terjang dengan tombak-nya.

Suasana semakin menegang saat kembali terdengar harimau mengaum dan nafas memburu dari pengeras suara di ujung ruangan. Akhirnya saya ikut bergabung dibarisan belakang bersama penonton yang sedari tadi khusyuk menyaksikan film yang diputar. Tak butuh waktu lama, saya pun ikut terhanyut ke dalam cerita.

Berlatar belakang suasana Bali pada tahun 1940an, awal nya Sarvani Bhutani hanya lah sebuah Tugas Akhir (TA) film pendek karya mahasiswa IKJ Rama Bayu Aji (Sutradara), Ace Raden D (editor), Adelina Anggraini (DoP), Reza Adit Candra ( Production Designer), Dea Almira Ay (Producer), dan Andrianto (Penulis Skenario). Namun atas kehendak semesta akhirnya film pendek ini tercipta bukan hanya semata-mata menjadi karya tugas akhir. Melainkan sebuah film yang mampu mengangkat cerita sejarah yang cukup jarang ditemui dan dibungkus secara apik dalam durasi 17 menit.

Sarvani Bhutani bercerita tentang punahnya Harimau Bali akibat keserakahan seorang pria di masa mudanya yang bernama Sadya (Sadya muda ‘Deta Suardi’ Sadya dewasa ‘Dibal Ranuh’). Karena keserakahannya tersebut, istrinya Putri (Saskia Ardelianca) yang sedang mengandung berperilaku aneh bak binatang buas. Setelah meminta tolong kepada Mbok Ayu (I.A Wayan Arya Saryani) saudara Sadya yang juga seorang dukun, diketahuilah bahwa Putri kerasukan roh-roh hutan. Hanya Sadya lah yang bisa mengembalikan keadaan menjadi normal. Namun harga yang “harus” dibayar sangat lah mahal.

Sarvani Bhutani, foto oleh @gamaphoto1930

Film pendek yang mengangkat nuansa kultural yang kuat ini bukan hanya memasukkan permainan waktu. Tetapi juga menggabungkan unsur magis di dalamnya yang mampu membuat kita mengernyitkan dahi ketika menonton. Konsep magis yang diangkat pun menurut saya adalah konsep yang klasik karena mengaitkannya dengan adat yang kental. Bukan magis yang biasa kita temui di film-film horror masa kini. Sekilas mengingatkan saya ketika menonton film horror yang dibintangi oleh artis ternama Alm. Suzanna dengan beberapa adegan magisnya. Suasana yang sunyi dan menegangkan dibalut dengan mitos-mitos budaya masyarakat zaman dahulu cukup membuat bulu kuduk yang menonton nya berdiri.

Tak terasa 17 menit pun berlalu. Lampu ruangan menyala, seketika membuyarkan fokus saya yang sedari tadi tertuju pada layar. Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi, dipandu oleh Ibu Marintan & Bapak Andar Manik selaku pemilik Dalemwangi Artspace dengan pembicara dari salah satu perancang film, Ace Raden. Diskusi berlangsung hangat selama kurang lebih 30 menit.  Setelah melewati beberapa sapaan kerumunan kawan-kawan akhirnya saya pun berkesempatan untuk berbincang mengenai pengeditan film Sarvani Bhutani bersama Ace.

Foto Dalemwangi Art Space oleh: Rizky Merdeka

“Kebetulan aku teh lagi seneng-seneng nya nonton film yang bergenre magical realism. Salah satunya film yang berjudul The Island Of Doctor Murrow. Nah film ini bergenre magical realism yang condong ke fantasy. Di awal film Sarvani Bhutani itu aku terinspirasi banget dari film The Island Of Doctor Murrow karena dalam satu sequence-nya aku bisa menggabungkan beberapa waktu lama dengan waktu baru, kalo di dunia film itu sebutannya montage. Ternyata salah satu syarat pembuatan film magical realism itu harus ada penggabungan ruang dan waktu, jadi pas banget dengan film Sarvani Bhutani.” Jelas Ace bersemangat ketika ditanya mengenai proses pengeditan.

Sarvani Bhutani yang mengambil kata dari kitab Yajurveda yang memliki arti “Semua Makhluk Hidup” ini ditayangkan perdana pada tanggal 18 Agustus 2018. Sampai akhirnya mendapatkan kesempatan ketiga untuk ditayangkan kembali pada 29 juni 2019 lalu di Dalemwangi Artspace. Melewati waktu riset 10 bulan, dengan total produksi dan pra produksi selama 1 bulan dan 3 hari, film pendek Sarvani Bhutani mendapat respons positif baik di kalangan anak muda maupun orang dewasa.

Namun sebagai manusia tentu nya semua tetap ada kekurangan yang akhirnya dijadikan sebagai acuan untuk lebih baik kedepan nya. “Sebenarnya dengan film berdurasi 17 menit banyak unsur-unsur yang di awal pembuatan film kita inginkan tidak semua dapat kita masukan kedalam adegan, seperti unsur kolonialisme. Pada tahun itu di Bali kolonialisme sangatlah berpengaruh, tetapi kita hanya memasukkan sedikit unsur kolonialisme. Dapat dilihat dari cara berpakaian Sadya (dewasa) yang memakai baju kemeja putih, yang seharusnya bertelanjang dada. Unsur-unsur kecil tersebut kita maksimal kan untuk di masuk kan ke dalam scene agar nuansa kolonialisme nya sedikit terasa.” Tutur Ace. “Dan mungkin untuk ke depan nya jika ada kesempatan yang baik saya dan kawan-kawan tentu nya ingin membuat versi film panjang dari Sarvani Bhutani.”

Begitu pula harapan yang dilontarkan Ibu Marintan, “Ketika saya menonton Sarvani Bhutani permainan tempo di dalam nya sangat membuat saya tertarik. Tidak seperti film-film yang bercerita tentang kebudayaan yang mostly memiliki alur yang “lambat”, di Sarvani Bhutani menawarkan tontonan yang berbeda dari film kebudayaan pada umum nya. Akan lebih bagus lagi jika ada versi film panjang nya, agar narasi-narasi yang diceritakan pada film pendek ini tergambarkan lebih dalam lagi.”  Jelas pendiri dari Dalemwangi Artspace.

“Film ini mengajarkan kita tentang Karma. Dimana akan selalu ada hasil dari setiap perilaku. Maka dari itu keseimbangan dalam baik buruk nya perilaku harus dijaga setiap insan. Kepercyaan orang Bali menyebut hal ini “SEKALA NISKALA” Tutup Ace Raden.

Foto Dalemwangi Art Space oleh: Rizky Merdeka

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *