LOADING

Type to search

Melihat Kehebatan Generasi Dulu, Generasi Kita Punya Apa?

COLUMN FEATURED

Melihat Kehebatan Generasi Dulu, Generasi Kita Punya Apa?

Ferdin Maulana 01/02/2019
Share

Ilustrasi oleh Pininta Taruli

“Anakmu bukan milikmu, anakmu milik generasinya”

Epigraph di atas adalah salah satu kutipan dari Khalil Gibran, yang dipersingkat agar relevan dengan topik yang akan saya bahas pada tulisan ini.

Pada suatu hari di meja makan, saya berdebat dengan orang tua saya. Seputar pandangan hidup, dan obrolan lintas generasi. Perdebatan antara pikiran saya yang sudah “tercemar” pemahaman liberal barat, dengan orangtua saya yang masih berpegang teguh pada moralisme Baby boomers dan basian orde baru. Ayah saya, diumurnya yang hampir genap 60 tahun, memutuskan untuk hijrah 5 tahun terakhir sejak pensiun dari perbankan. Beliau menjadi sering ke masjid, membaca buku-buku seputar teologi islam, dan tentu tidak lupa men-share segala artikel terkait Islam di grup whatsapp keluarga. Beliau berkata “Papa sudah mau mati, segala hal udah hampir merasakan, mau ngapain lagi? Ya harus bersiap kembali ke Allah”. Tentu jika saya memakai perspektif Nietzsche dan Sartre tentang “Makna hidup”, atau “Denial of Death” dari Ernest Becker maka akan sulit ditelan oleh beliau.

Kembali keperdebatan, kami membicarakan tentang aksi massa “212”. Dimana saya sebagai mahasiswa Ilmu Politik tentu mencium aroma politis di sana, dibanding narasi “perkumpulan akal sehat” atau “bela agama”. Tentu sosok bangsat kau Ahok muncul dalam topik ini, lalu dikotomi benar dan salah pasti menjadi konklusi. Ayah dan Ibu saya masih terjebak dengan objective reality, pemahaman benar atau salah, hitam atau putih. Di lain sisi saya yang besar di era post-modern melihat sesuatu secara subjektif, dimana benar dan salah adalah tergantung atau belum tentu. Seperti ajaran Gong-an Zen Buddha yang mengajak kita menerima segala bentuk paradoksal dalam hidup.

Dari perdebatan tersebut muncul penilaian Ageisme, dimana orangtua saya menilai saya berdasarkan umur, bukan argumen. “Papa dan mami sudah hidup 30 tahun sebelum kamu lahir, kamu tidak tahu apa-apa!”, “Kamu dan anak-anak sekarang memang sudah dirusak dengan globalisasi dan siasat antek kafir”. Logika argumen yang dituduhkan kepada saya tersebut, lantas saya jawab dengan senjata mereka, “Lawan musuhmu, menggunakan senjata mereka” suatu kutipan Sun Tzu dari buku The Art of War. Saya berkata kepada orang tua saya, “Jangan samakan anakmu denganmu, karena ia hidup di era yang berbeda denganmu”. Mereka terdiam, bisa anda tebak kenapa? Kutipan tersebut adalah sepenggal perkataan sahabat Nabi Muhammad, yaitu Ummar bin Khattab. Sangat efektif.

Retrospeksi Karakteristik Generasi Masa Lampau

Mayoritas orang yang hidup di zaman Orde Baru pasti tidak asing dengan sesosok pria berbaju lusuh, tonggos, dan cadel yang hadir dalam seminar intelektual suatu kampus, lalu berdiri dan berteriak: “Ngapain ngomong ngandak-ngindik (sok intelek)? Rakyat Butuh Makan!”. Sosok yang menjadi lambang perjuangan buruh di Indonesia, Wiji Thukul. Mereka dari zaman itu juga pasti ingat dengan sesosok pemuda ganteng keturunan tiong hoa, Soe Hok Gie, seorang pujangga yang bikin becek wanita aktivis mahasiswa lulusan Sastra Universitas Indonesia yang sibuk mengkritisi pemimpin negara ini lewat tulisan-tulisan-nya. Mereka juga pasti ingat bagaimana majalah Aktuil dengan tulisan-tulisan jurnalisme rock yang Avant-garde menjadi panduan mereka agar menjadi anak muda keren. Kemudian masuk ke tahun 90-an akhir, mereka juga pasti masih familiar dengan film progresif berjudul Kuldesak, “Sudah malas lah dengan sutradara-sutradara di festival ini itu, kasih penonton pilihan!” Kurang lebih kutipan dari film tersebut.

Pada suatu hari minggu di daerah Senayan, saya berbincang dengan sahabat saya yang gemar dengan perfilm-an. “Din,” tegurnya, “Film Kuldesak gokil banget ya! Bisa merepresentasikan generasi mereka, berhasil menjadi suatu Zeitgeist” Ucap sahabat saya. “Anjir Din, tokoh-tokoh dan karya generasi lama berdengung sampai sekarang, generasi kita sekarang punya apa?”. Percakapan itulah yang membawa saya pada tulisan ini. “Generasi kita punya apa?” Youtuber-lah! Dalam memahami konteks pertanyaan tersebut, tentu akan menjadi tepat bila menggunakan Metode Dialektika Historis (MDH) ala Hegel atau Michel Foucault, dimana memahami dan merumuskan suatu fenomena sosial dengan mempelajari kejadian-kejadian di masa lampau (empirik). Metode analisa multivariat menjadi tiang utama dalam membantu menjawab pertanyaan tersebut, seperti variabel time-frame, Geografis, dan kondisi sosial-budaya masa itu.

Tokoh-tokoh dan karya-karya lampau yang tidak mati tetapi berlipat ganda ini, kita coba pahami secara MDH dan analisa multivariat. Pada masa Orde lama, dengan sistem “demokrasi terpimpin”, dan Orde baru yang populer akan sistem otoriter nan represif tersebut, ditambah krisis ekonomi membuat kondisi psikologi masyarakatnya menjadi cenderung rebelius. Seperti anak SMA yang orang tuanya super ketat, menghasilkan anak-anak yang cenderung nakal di masa “bebas”-nya (baca: kuliah). “Dulu gue di pesantren pak, islam gue kuat banget! Soalnya dari kecil didoktrin dan dipaksa seperti itu” Kutipan percakapan saya dengan teman saya yang dahulu menjadi salah satu santri pesantren di daerah Garut, namun nauzubillah sekarang berkecimpung dalam lingkungan seks bebas dan alkohol.

Percakapan saya dengan teman saya yang mantan santri ini menjadi salah satu data primer dalam argumen saya. Argumen-argumen penyokong lain-nya adalah kemunculan tokoh-tokoh seperti Wiji Thukul di masa lampau yang belum ada regenerasinya. Okelah cukup adil jika dikatakan sekarang banyak pula aktivis medsos bertajuk “influencer” yang merupakan manifestasi dan keberlanjutan dari perlawanan beliau, tapi sesignifikan apa dampak sosialnya? Apa setara dengan dampak sang “Penulis Pamflet”? Aktivis-aktivis masa reformasi lainnya juga menjadi contoh manifestasi sikap rebel apabila ditekan. Lalu, adanya film Kuldesak dan majalah Aktuil yang seakan hadir menjadi anti-thesis karya-karya seni mainstream yang konsep dan tekniknya itu-itu saja. Karl Marx, si musuh bangsa Indonesia ini, menuliskan bahwa kaum proletar akan melakukan revolusi akibat eksploitasi dan opresi kaum borjuis. Dalam konteks psikologi pun, menurut psikologi Freudian dalam mimpi “id” kita melakukan perlawanan, akibat tekanan ego di saat kita sadar.

Penjabaran Permasalahan Generasi Kita

“I wish i live in the 80s”

Masa pascareformasi, Indonesia mendapat kebebasan yang belum pernah negara ini rasakan sebelumnya. Infilterasi demokrasi liberal membuat kita dapat menyampaikan opini dan ekspresi kita secara bebas, katanya. Sehingga karakteristik rebel yang hadir pra-reformasi menjadi invalid bagi generasi kita ini. Generasi “kita” yang saya maksud adalah orang-orang yang lahir di atas tahun ’93, atau dikenal sebagai generasi Y dan Z. Menurut anda, apa yang generasi kita punya sekarang? Pilihan. WTF? Ya, pilihan.

Menurut Eric Schmidt dan Jared Cohen dalam buku “Era Baru Digital”, disrupsi digital dan keterbukaan informasi berkat kemajuan ICT (Information communication technology) membuat manusia memiliki banyak pilihan, The internet of things. Kita ingin jadi orang yang seperti apa? Kita ingin membuat karya yang seperti apa? Library atau referensi kita menjadi tidak terbatas berkat internet. Saya ingat percakapan saya dengan jurnalis senior, Idhar Resmadi. Ia berkata bahwa dulu sangat mudah membedakan yang mana anak musik, anak motor, dan anak yang gemar olahraga. Hal tersebut dapat didikotomi dari hal yang paling sederhana, seperti fesyen dan tongkrongan yang sewarna dengan selera mereka. Dewasa ini, saya bisa menjadi seseorang yang menyukai musik K-pop, hobi bermain basket, menggunakan kaos Motorhead, bersepatu Vans, dan sering kopdar di warung kopi bersama komunitas motor. Identitas generasi kita menjadi luar biasa diverse, hal tersebut diterminologikan Idhar Resmadi sebagai Post-demographic. Generasi kita tidak lagi bisa di”kotak-kotak”-an.

“Suatu saat nanti, kita akan memiliki giliran kita” kutipan yang saya ambil dari anime One Piece. Dalam anime itu sendiri generasi tua menyebut generasi mudanya sebagai “Worst generation”. Ageisme selalu menjadi halangan atau cap yang membuat generasi kita seakan-akan tidak punya apa-apa, selain melanjutkan sesuatu yang sudah ada. Generasi kita dianggap tidak matang, tidak suka baca, dan sukanya nge-Youtube.

Dalam acara talkshow musik di Universitas Padjajaran, Jatinangor, saya sempat mengkritisi langsung salah satu pembicara yang berkata bahwa generasi sekarang enggan minta “petuah” generasi atasnya. Lalu saat saya kritisi soal “Keterbukaan”, beliau membela diri dengan berkata “Kita terbuka kok, coba saja kamu ajak ngobrol saya”, “Saya suka lupa orang dan ya mungkin kamu bukan siapa-siapa juga”. Mohon Maaf, persetan pikir saya dalam hati. Saya pernah berbicara dengan beliau sebelumnya dan hanya disambut dengan pundak dingin.

Pertengahan tahun 2018, saya bercakap dengan pimred 8lightment, Tiar Renas mengenai isu regenerasi yang sulit dan terhambat akibat monopoli pelaku-pelaku yang sudah tua di industri musik. Mereka merasa generasi mudanya belum siap. Percakapan tersebut diamini oleh interview Marine Ramdhani di Jurnal Ruang yang berbicara soal terhambatnya proses regenerasi. Permasalahan si senior sombong dan junior yang sok tahu memang selalu menjadi permasalah sosial yang tidak kunjung padam.

Selain Ageisme, faktor apalagi yang menghambat atau menghalangi generasi kita menciptakan sesuatu yang besar? Sistem pendidikan. Mengapa? Coba anda perhatikan, sejak sekolah dasar kita sudah dilatih dan dipersiapkan sebagai mesin dan aset korporasi yang patuh (Marx dan Foucault). Pembatasan masa studi 5 tahun di pelbagai universitas telah membatasi ruang eksplorasi generasi kita, karena dituntut cepat lulus. Semisal SKS yang semakin padat (Banyak tugas), lalu disibukan dengan kepanitiaan kampus hasil basian regulasi orde baru dalam “normalisasi kehidupan kampus”. Selain itu, kalo menjadi aktivis atau ikutan demo, mengkritisi kebijakan kampus, pasti langsung kena DO atau minimal sanksi akademik. Mahasiswa universitas swasta pasti akrab dengan peraturan ini.

Penjabaran di atas merupakan permasalahan yang timbul dari sisi eksternal. Dalam sisi internal, generasi kita belum cukup bijak dalam memanfaatkan potensi-potensi yang ada. Kehadiran internet menjadi pisau bermata dua bagi generasi kita. Semua tergantung cara kita memanfaatkannya. Jika hanya dipakai untuk nonton konten Youtuber nirfaedah atau bokep, maka sungguh percumalah. Pengetahuan kita terhadap suatu hal menjadi surface level dan tidak ada kedalaman. Saat kita ingin mengetahui sesuatu, kita ingin semuanya cepat dan efisien, bukan efektif. Buka Google, ketik, lihat beberapa menit, selesai. Langsung jadi sarjana. Riset ini pernah dilakukan lewat esai “Is Google making us stupid?”. Terlalu banyak distraksi, sehingga sangat sulit bagi generasi kita untuk fokus pada kedalaman. Contohnya? Anda membaca buku format PDF di laptop, sambil mendengarkan musik di Spotify dan makan kripik kentang. Tentu jika saya tantang anda untuk mengulang isi buku yang anda baca secara substansial, maka insha allah sudah lupa.

Selain distraksi dan tidak ada kedalaman, masalah internal generasi kita adalah penyakit turunan seperti mob mentality dan narsisme. Kita selalu ingin dipandang menjadi sesuatu yang kita inginkan di mata publik, ingin tenar dan viral. Fenomena Youtuber dan Selebgram adalah salah duanya. Generasi kita ingin terkenal dengan instan, lalu membuat sensasi yang tidak penting-penting amat tetapi digemari baik dalam konteks positif maupun negatif oleh publik. Kemudian, fenomena “Netizen” yang cenderung hanya ikut-ikutan yang sedang ramai untuk berkomentar bahkan mengejek, hanya agar dapat merasa superior secara anonim. Namun fenomena tersebut tentunya tidak berlaku untuk papah Thanos alias Deddy Corbuzier dengan program “ciduk”-nya.

Maaf Sekadar Mengingatkan, Ini yang generasi kita punya!

Berdasarkan buku “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis, masyarakat Indonesia memiliki satu karakteristik positif yang generik dari masa ke masa, yaitu kreatif. Dalam time-frame generasi kita yang hidup di era Post-modern ini, segala hal makin bersifat subjektif. Kasarnya makin terserah kita. Disrupsi digital dan keterbukaan informasi membuat pilihan dan referensi menjadi tidak terbatas. Kita bisa jadi apapun yang kita mau, kalo kata Nietzsche kita bahkan bisa menjadi Superman. Isu-isu sosial global yang semakin menjadi konsentrasi kini seperti LGBTQ, Feminisme, gender equality, lingkungan, body positivity dan lain sebagainya merepresentasikan bahwa karakteristik generasi kita adalah kebutuhan identitas. Identitas yang dibalut dengan kreativitas, teknologi dan internet, semua tergantung kecerdikan kita mengawinkan variabel-variabel tersebut.

Contoh nyata yang bisa saya berikan adalah seputar lingkungan musik. Misal label rekaman independen asal Jakarta, Kolibri Rekords dengan identitas nerdy dan colorful-nya ditambah fasih berinternet, berhasil membawa mereka tur keliling Asia Tenggara. Kefasihan berinternet ini diaplikasikan kembali oleh PVL Records, label rekaman asal Bandung dengan roster-roster nya yang ramai diminati pasar Amerika Serikat dan Amerika Latin berdasarkan data Spotify. Dari band sendiri ada The Panturas, unit surf-rock asal Jatinangor yang dengan cepat menghadirkan banyak fanbase di seluruh Indonesia, lewat pendekatan yang jenaka dan lagi-lagi fasih berinternet. Penggiat-penggiat dari ranah musik tersebut merupakan bukti bahwa generasi kita mampu membungkus karakteristik identitas secara kreatif lewat digital branding dan pemanfaatan internet yang tepat.

Pada akhir kata, jangan khawatir karena semuanya adalah siklus yang berputar. Generasi kita pun akan punya gilirannya untuk bersinar, dengan usaha nyata tentunya bukan sibuk berharap. Tidak kah anda sepemikiran dengan saya? Semoga.

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *