LOADING

Type to search

Gundala, Suatu Kebanggaan atas Film Superhero yang Prematur

FEATURED SELECTION

Gundala, Suatu Kebanggaan atas Film Superhero yang Prematur

INCOTIVE 22/09/2019
Share

Teks Husna Rahman Fauzi
Ilustrasi oleh Nuraulia Mugniza

“Gudala penuh dengan filler. Apa yang diceritakan hanya digunakan untuk mengisi kekosongan saja. Hal ini karena keterburu-buruan yang tidak diperlukan.”

“Sancaka!!” teriak Awang, teman sekaligus guru yang mengajari Gundala kecil berkelahi saat dia menaiki kereta yang hendak membawanya pergi dari kota yang sakit dan penuh dengan kekacauan.“Kamu pasti bisa Sancaka!”, lanjutnya, “Awang!!!!” balas Sancaka kemudian sambil berlari mengejar kereta. Adegan berlari mengejar kereta itu berdurasi 2 menit yang ada pada film teranyar garapan Joko Anwar, Gundala.

Saya sebagai generasi yang tidak sempat mencicipi versi komik, benar-benar berekspektasi pada rancangan Bumi Langit Universe yang sering mampir di timeline berbagai akun media sosial saya. Dalam setiap materi promosinya, mereka menyebut bahwa Bumi Langit Universe adalah dunia tempat dimana superhero asli Indonesia hidup dan melakukan aksi-aksi heroiknya. Untuk film pertama, Gundala dijadikan “tumbal” pada proyek ambisius ini.

“Mengapa tumbal?” kalian pasti terganggu dengan pernyataan ini. Menurut saya, sebagai pembuka, Gundala adalah film dengan banyak kekurangan dari berbagai elemen. Bahkan saya benar-benar kesulitan untuk menyebut film ini “lumayan” saat ditanya oleh teman-teman di tongkrongan.

Film adalah medium yang menghamba pada tuhan-tuhan kecil kesenian, dan saya pribadi mempercayai hal ini. Karena dalam pembuatan film seluruh bidang kesenian mulai dari pengambilan gambar, akting, scoring dan teks dijadikan acuan dan digunakan sebaik mungkin.

Jika boleh jujur, saya menikmati 30 menit pertama yang menceritakan masa lalu si pahlawan super. Sancaka kecil menjadi anak sebatang kara setelah kematian ayahnya dan ditinggal pergi ibunya. Hidup Sancaka benar-benar menderita sampai-sampai ia harus memungut makanan dari tanah yang ia tendang sendiri.

Ia kemudian bertemu dengan Awang, sang penyelamat, sang guru, sang mentor. Awang menjadi figur kunci yang mendoktrin Sancaka untuk tidak mempercayai orang kaya dan tidak mengurusi hidup orang lain. Doktrin tersebut terbukti berhasil lewat adegan dimana Sancaka menolak diadopsi orang kaya dan menjadi pria dewasa yang notabene apatis terhadap kekacauan di sekitarnya.

Setelah cerita itu terlewati, saya benar-benar mesti menahan diri untuk tidak pergi keluar bioskop jika tidak memikirkan tugas me-review. Terdapat beberapa poin penting yang menurut saya membuat Gundala benar-benar kurang layak sebagai pembukaan awal sebuah Universe.

Dari segi teknis, entah mengapa saya tidak dapat meraskan atmosfir yang semestinya dibangun dari segi teknis yang biasa ada pada konsep superhero. Dari kacamata dangkal saya, jika berkaca dari film superhero maupun film-film dari genre lain, pemilihan warna latar yang ditonjolkan akan sesuai dengan atmosfir apa yang ingin dibangun, namun tidak pada Gundala. Sebagai contoh, pada mimpi Sancaka, yang terbangun pada layar adalah atmosfir horror dengan warna orange yang dipilih.

Dari hal yang telah saya paparkan di atas saya melihat bahwa kesan horror Joko Anwar masih terbawa dari pemilihan warna orange yang konstan dalam mimpi Sancaka. Bahkan contoh lain, saya sampai ketakutan saat adegan si tukang Hipnotis mengikuti seorang anggota dewan muda ke Apartemen. Setting itu bukanlah setting untuk film superhero, itu benar-benar murni teknik pengambilan gambar seperti di film-film horror.

Selain adegan itu, saya tidak akan mempermasalahkan teknik pengambilan gambar, karena saya rasa cukup baik dan variatif. Namun ada yang mengganjal pada bagian editing, terutama pada adegan Gundala yang dilempar dari atap gedung. Saya benar-benar tidak habis pikir mengapa sutradara sekelas Joko Anwar meloloskan kualitas editing seperti itu. Saya rasa bukan saya saja yang merasa terganjal, penonton lain pun demikian.

Selanjutnya masalah koreografi silat. Saya baru tahu ternyata kekuatan utama Gundala adalah silat, sama seperti Daredevil atau Batman. Hal ini tidak jelek, namun agak konyol saja ternyata  Gundala mesti menunggu terkena adzab sambaran petir terlebih dahulu sebelum akhirnya dapat mengeluarkan potensi dalam dirinya.

Saya juga tidak menyangka ternyata hampir 80% pertarungan dalam Gundala adalah aksi silat. Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan hal ini andaikan pembangunan kemampuan silat Gundala terlihat rapi menggunakan konsep “from zero to hero”.

Silat adalah bela diri khas Indonesia yang memiliki esetetika tersendiri, apalagi jika diangkat ke medium film. Sebagai catatan lain menurut saya hal ini menjadi jelek mungkin karena Abimana bukan seorang praktisi silat dan terlalu cepat dalam belajar sehingga adegan-adegan silatnya benar-benar terasa kaku dibanyak scene, apalagi mendekati menit-menit akhir film. Hal ini semakin konyol saja diperlihatkan pada pertarungan antara Gundala melawan murid-murid Pengkor.

Setelah semua yang telah saya sebutkan di atas, bukan berarti adegan silat ini sepenuhnya jelek. Ada beberapa adegan yang menakjubkan yang membuat saya teringat pada film-film aksi Indonesia seperti Serigala Terakhir atau The Raid. Sebagai contoh, pertarungan Gundala melawan preman pasar amat memperlihatkan koreo silat yang rapih dengan sedikit bumbu kekuatan petir yang diperlihatkan.

Catatan lain, adalah tentang pertarungan-pertarungan Gundala dengan karakter-karakter villain yang benar-benar “What The Fuck!?. Logika anak-anak buah Pengkor yang masing-masing diberi scene perkenalan dan digambarkan powerful harus kalah oleh Gundala dengan cara dilempar-lempar layaknya melempar karung sampah.

Karena keterburu-buruan ini, kekalahan yang dialami oleh villain menjadi tidak maksimal. Saya rasa film ini akan lebih greget hasilnya jika Gundala fokus melawan satu atau dua anak buah kuat Pengkor, seperti Si penari bertopeng (Cecep Arif Rahman), daripada memperbanyak karakter hanya untuk dilempar-lempar seperti itu.

Tidak seperti film-film genre lain, dalam film Superhero pembangunan karakter villain adalah sesuatu yang mesti digarap dengan serius. Dalam Gundala, hal ini hanya perlu diperbaiki sedikit saja, pasalnya Pengkor adalah sosok villain yang “memiliki segalanya” dengan porsi cerita yang benar-benar lengkap. Bayangkan saja Pengkor adalah sosok penjahat yang memiliki banyak akses dan menguasai pemerintahan, memiliki banyak pasukan yang tersebar melalui banyak panti asuhan di Indonesia.

Namun sial seribu sial, Joko Anwar membunuh Pengkor semudah ia ngetweet. Bagaimana mungkin Pengkor yang memiliki kekuatan, kecerdasan dan pengikut sebegitu banyak mati karena kebodohannya sendiri dengan datang bersama pasukan yang sama bodohnya melawan Gundala dan mati tanpa perlawanan sama sekali.

Filler. Ya menurut saya film ini benar-benar penuh dengan filler. Apa yang diceritakan hanya digunakan untuk mengisi kekosongan saja. Hal ini saya asumsikan karena keterburu-buruan yang tidak diperlukan. Sebagai contoh, bagaimana mungkin seorang pahlawan super dalam keadaan genting tidak cekatan dalam bertindak menyelamatkan dunia?

Hal ini digambarkan pada adegan Gundala yang mengejar mobil penjahat yang membawa serum amoral. Alih-alih menghajar langsung si penjahat, Gundala malah memerintah si penjahat untuk meminggirkan mobilnya seperti begal. Bahkan kehadiran Sri Asih (Pevita Pearce) dalam adegan tersebut tidak membantu sama sekali.

Keterburu-buruan lain juga mempengaruhi pembentukan dan pengembangan setiap karakter dalam film. Yang menurut saya sukses dalam pembentukan karakter hanya karakter Pengkor, pembentukan karakter yang lain tidak maksimal.

Selain itu ada masalah tentang dialog, entah kenapa duet Tara Basro yang berperan sebagai Wulan dengan Abimana sebagai Gundala terasa begitu canggung. Chemistry antar keduanya tidak terasa. Hal ini bisa dilihat dari dialog-dialog yang kaku, dan humor-humor yang kering.

Jika saya perhatikan dialog-dialog yang keluar dari mulut aktor dalam Gundala seperti melihat orang membaca dialog kasar. Bukannya jelek, namun dialog-dialog ini seperti dipaksakan harus menyelipkan kata-kata mutiara dan wejangan yang bisa memotivasi penonton.

“Sancaka, kekuatan yang kamu cari ada dalam dirimu sendiri!” Seru Pak Agung, yang sedang sekarat layaknya scene anime Jepang.

Pada akhirnya, mengikuti konsep MCU atau DCU memang sesuatu yang groundbreaking, namun jangan sampai menggunakan formula yang sama. Semoga dengan kekurangan-kekurangan ini sineas yang akan menggarap kelanjutan Universe ini akan lebih baik dalam memperhatikan skenario dan berfokus pada pembentukan karakter, bukan hanya berbangga hati karena menembus 1 juta lebih penonton dan tayang di Festival Film Toronto.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *