LOADING

Type to search

Mereka yang Hidup Hedon di Era Post-truth

COLUMN FEATURED

Mereka yang Hidup Hedon di Era Post-truth

Ferdin Maulana 05/11/2018
Share

*Artikel ini sudah terbit pada tanggal 29 September 2018 di Zine Incotive Edisi 2

Ilustrasi oleh Pininta Taruli

“I finally figured out the only reason to be alive is to enjoy it.” ― Rita Mae Brown

Hedonisme, suatu konsep, ideologi, atau terminologi yang sering kali disalah artikan oleh beberapa orang. Anda hedon apabila tiap malam minggu open table di klub mahal, atau anda hedon karena makan malam di restoran daerah SCBD, Jakarta. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah miskonsepsi antara hedon dengan royal, atau kata salah satu pengacara kontroversial “Saya suka kemewahan dan tas Herpes”. Lalu, apa sebenarnya hedonisme?

“Karena peradaban tak kan pernah mati” –Feast

Pertama, mari kita retrospeksi ke peradaban Yunani Kuno. Di sana hidup seorang filsuf Yunani bernama Aristippus. Tidak seperti namanya yang penyakitan, Aristippus sehat walafiat sehingga punya waktu luang untuk membuat ajaran filosofi Cyrenaics. Cyrenaics berpendapat bahwa tujuan hidup paling mutlak adalah kesenangan. Ajaran Cyrenaics kemudian mulai kurang edgy, dan diperbarui dengan ajaran Epicureans, yang dibuat oleh seorang filsuf bernama Epicurus. Epicurus menyatakan bahwa dalam hidup kita harus menyangkal kesakitan ataupun kesedihan, pokoknya harus hepi maksimal!

Pada suatu kelas sore yang bikin ngantuk, saya ingat dosen filsafat saya pernah bertanya di kelas “Apakah tukang becak hidup hedon?” Banyak mahasiswa yang tertawa kecil. Dosen saya melanjutkan “Bila ia menerima nasibnya dan tidak ingin berubah, apakah ia lantas menjadi mahluk yang hedon?” Satu kelas pun terdiam, entah berfikir atau mungkin tertidur. Kalo menurut anda gimana? Apakah si tukang becak yang tidak ingin merubah nasib, membuat ia hidup dalam hedonisme? Kalo menurut Epicurus dan dosen filsafat saya, si tukang becak ini hidup hedon. Si tukang becak menyangkal bahwa hidup yang ia jalani itu mungkin hal yang menyedihkan, lalu menjustifikasi hal tersebut dengan takdir, “Ya sudahlah saya hidup seperti ini juga sudah senang, sudah takdirnya”. Menurut Robert Nozick, seorang filsuf modern Amerika, orang yang hedon berusaha menjaga net pleasure mereka. Dengan kata lain, mereka yang hedon adalah mereka yang merasa nyaman.

Setelah membahas hedonisme, mari kita mengembangkan topik pembahasan agar lebih asyik. Pernah mendengar istilah post-truth? Post-truth adalah suatu siasat politik atau fenomena dimana masyarakat hanya ingin menerima fakta yang mereka sukai. Jika ada fakta yang masyarakat tidak suka, ya tidak akan diterima. Misal begini, faktanya Tsunami Palu itu adalah bencana alam akibat longsoran sedimen dasar laut dan pergeseran sesar dengan pola strike-slip ,akan tetapi akan lebih seru kalo Tsunami Palu terjadi karena azab dari Tuhan akibat rezim yang dzalim. Logika semacam itulah yang menandakan kita hidup di era post-truth.

Post-truth sebenernya sudah dipikirkan sejak zaman Yunani kuno, aduuuh… apa-apa barat ya, kenapa ga Arab saja? Jadi pada zaman Yunani kuno, ada seorang filsuf lagi nih namanya Plato. Beliau membuat buku berjudul Republic. Dalam buku Republic, Plato membahas suatu fenomena sosial dengan terminologi “Alegori gua”. Dalam Alegori gua, Plato bercerita ada sekelompok orang yang tinggal di dalam gua sepanjang hidupnya. Suatu hari, salah satu orang di gua itu berhasil keluar dan melihat dunia luar yang sangat berbeda dari hidup di dalam gua. Orang yang berhasil keluar ini kembali masuk ke dalam gua untuk bercerita betapa bedanya hidup di luar. Orang-orang di dalam gua menganggap orang tersebut kafir. Saat orang-orang ini diajak keluar untuk membuktikan, si orang yang ngajak malah dipukulin rame-rame. Jadi, kesimpulan dari cerita Plato adalah manusia lebih suka apa yang mereka percayai dibanding fakta empirik. Kok mirip ya sama fenomena cebong dan kampret?

Mari kita bawa post-truth ke zaman now, agar pembahasan menjadi lebih relevan. Pernah menonton stand up comedy remaja di gedung DPR? Wah ngakak banget ya? Lebih ngakak lagi yang ngadain itu DPR, dan yang mengarahkan guyonan untuk mengkritik DPR adalah DPR itu sendiri, sungguh negara demokratis. Bila anda belum menonton, bisa anda simak pada tautan di bawah ini:

Selepas menonton, jika anda cuma ngakak dan merasa tidak ada yang salah, maka anda menerima hidup dalam dunia post-truth. “Wah yang ketawa biasanya ngerasa tuh!” Kutipan komentar sarkastik netizen yang mendapat ratusan likes. Terus, apasih relevansi atau benang merah video stand up comedy di gedung DPR dengan fenomena post-truth?

Dalam acara tersebut sang komikus tidak berhenti meledek oknum DPR, “Kalian itu idola saya! Saya juga anak nakal yang kerjanya cabut dari sekolah, kita sama-sama nakal pak!”. Satu ruangan tertawa, yang menonton di televisi dan medsos juga tertawa, sampai kelompok DPR yang disindir pun ikut tertawa. Di sini terjadi suatu logika falasi terhadap norma dan hukum yang ada. Apakah orang jahat seharusnya ditertawakan dan tidak diberi hukuman? Muncul suatu konsep yang dinamakan “rahasia umum”. Konsep yang lahir dari suatu logika falasi dimana orang yang berbuat salah secara hukum dan normatif dianggap wajar. Fenomena ini yang dimaksud dengan strategi atau siasat politik post-truth, suatu siasat untuk menemukan cara menyetir opini publik bahwa hal yang seharusnya salah secara faktual dapat dianggap wajar saja. Fakta yang diterima masyarakat adalah acara dan guyonan tersebut sangat menghibur, namun masyarakat menyangkal bahwa faktanya hal tersebut bukan hal yang wajar.

Fenomana Post-truth dan hedonisme berjalan seiringan. Keduanya saling mengabaikan suatu masalah agar dapat menjaga atau merasakan kesenangan maksimal. Jadi, apakah anda hidup hedon di era post-truth?

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *