LOADING

Type to search

Hijab dan Cadar dalam Pusaran Opresi dan Kebebasan Hak

COLUMN

Hijab dan Cadar dalam Pusaran Opresi dan Kebebasan Hak

INCOTIVE 13/03/2018
Share

Teks: Aufa Yovari
Photo: Ridho Rakhmatullah

Kata ‘feminis’ hari ini seolah-olah bisa dimiliki siapapun dan rasa-rasanya dapat menyeragamkan satu pendapat, padahal nyatanya tidak. Isu feminisme sudah terlampau luas untuk diseragamkan seluruh wacananya. Kalau mau ditelaah, masih banyak ide yang harus dibahas seperti bagaimana harus bersikap terhadap male feminist, bagaimana bersikap pada sebuah privilege, reverse rascism, gerakan #MeToo, atau sampai ke gagasan “separate but equal”; masih terlalu banyak hal yang belum bisa diselesaikan untuk menyamakan pendapat. Tidak ada kesepakatan yang bisa diyakini dan dirayakan secara bersama, termasuk konflik di masalah hijab ini.

Hal ini menjadi masalah ketika ada kelompok feminis yang beranggapan bahwa gaya pakaian yang diatur oleh agama terkait adalah sebuah ‘liberation’, ‘deobjectification’, yang juga sekaligus menunjukkan bahwa perempuan boleh menentukan haknya sendiri untuk mau mengenakan hijab seperti apa yang Linda Sarsour –pro hukum syariah– dan dengungan mayoritas feminis ‘Apologist’ muslim Amerika lainnya. Adapun para feminis lainnya –seperti Mona Eltahawy, Maryam Namazie, Fetima Marnessi– menerangkan bahwa hal tersebut sebetul-betulnya opresi yang masih saja dibungkus palsu dengan dalih ‘empowerment’ atau kebebasan hak untuk memakai hijab karena takut melawan teks multi-tafsir keagamaan saja. Biasanya feminis model kedua ini juga sekubu atau sering satu pendapat dengan feminis –cenderung kanan– yang biasa berargumen dan memberikan pemaparan logika yang baik dalam penerapan political correctness kepada para Social Justice Warrior (SJW).

Masalah ini menarik betul karena masih saja luput terpikirkan dikalangan feminis. Langsung ke contoh kasus besarnya, kelompok feminis kedua ini mulai mempertanyakan feminis hijabi mengapa tidak ada dukungan keras pada saat para perempuan di Iran –yang direpresi oleh rezim otoriter– melakukan demo dengan melepas hijab untuk menentang kebijakan publik syariah di sana. Ke mana perginya gagasan ‘perempuan boleh memakai apa saja’ dari mereka? Kenapa ramai dukungan ‘perempuan boleh menentukan hak untuk berhijab’ tapi tidak ada untuk ‘perempuan boleh menentukan hak untuk melepas hijab.’ Mereka menganggap bahwa feminis kelompok pertama hanyalah gumpalan pergerakan yang hipokrit dan terkesan sangat denial; menutup mata, pengecut, dan takut untuk menyadari bahwa banyak teks dengan tafsiran misoginis. Melakukan pergerakan tetapi masih dirantai, perempuan di Iran —atau Timur Tengah lainnya– yang berani untuk melawan tafsiran otoriter hirarki ulama patriarkis dilibas kemudian ditekan sekuat-kuatnya oleh rezim. Contoh lainnya adalah bagaimana ketika Dorsa Derakhshani, pecatur Iran yang tidak masuk tim nasional karena tidak mau berhijab? Atau seorang jurnalis bernama Masih Alinejad dengan tagar #MyStealthyFreedom-nya pada tahun 2014 dengan slogan: “Hak asasi bagi individu perempuan di Iran untuk memilih memakai hijab atau tidak.” Para feminis agamis hijabi sampai yang ke non-agamis dansa-dansi di sini pun tak membantu; hanya berdiam dan tak bersuara.

Perjuangan wanita muslim di Iran jadi tertutupi karena tingkah laku feminis hijabi ini. Mereka membawa gagasan bagi para non-muslim untuk menyadarkan hijab adalah hak pilih sebagai manusia sekaligus menyalurkan info-info mengenai Islam. Sayangnya mereka tidak mengenalkan kepada non-muslim –secara sengaja atau tidak– bahwa perempuan muslim lainnya juga mempunyai hak sebagai manusia untuk memilih tidak memakai hijab dikarenakan alasan-alasan tertentu yang diyakini.

Tidak hanya feminis hijabi, bahkan feminis non-muslim SJW pun juga terkadang masih satu pandangan dengan para hijabi ini dan tidak menaruh lebih perhatian bagi perjuangan perempuan muslim Iran. Mengapa? Dr. Michael J. Hurd, seorang psikiatris telah menulis alasannya. Para feminis tidak akan peduli dengan nasib perorangan di bawah kendali Iran, karena objektif mereka adalah membuat dunia yang nyaman –secara kolektif– bagi politik identitas dan kaum marjinal, dan itu harus dimulai dari Amerika terlebih dahulu.

Adapun bagi yang berpendapat memakai hijab adalah hak karena menyadari inti dari feminis itu sendiri, maka akan secara otomatis mereka akan mendukung perempuan muslim yang memilih untuk tidak memakai hijab. Akan tetapi, menurut kalangan feminis muslim sekuler yang memang menentang literal teks kegamaan hal itu pun masih salah. Menurut mereka, memakai hijab bukanlah hak pembebasan karena itu sendiri adalah produk multi-tafsir politik pengengkangan bagi perempuan dari para ulama misoginis, sehingga hijab itu sendiri adalah lawan dari hak memilih –secara historisnya. Tentu bagi sebagian orang pendapat ini juga terkesan oxymoron, karena terkesan tidak memberikan akses hak untuk memilih.

Dari sini akan timbul perdebatan apakah boleh jika perempuan menggunakan haknya untuk memilih didominasi? Atau mungkin nanti debatnya bisa di lingkup mengenai tafsir literal dan kontekstualnya itu sendiri? Inilah tempat selanjutnya untuk bertarung argumen nanti.

Masalah ini serupa dengan kejadian di Indonesia, tepatnya di Universitas Islam Negeri (UIN), kebijakan institusi pendidikan yang mengeluarkan larangan memakai cadar membuat heboh. Bermacam-macam pembelaan bagi mahasiswi bercadar dari mereka yang bercadar dan berhijabi keluar. Kalau sudah begini, barulah para feminis yang bigot –pengidola Linda Sarsour– mulai mendengungkan ‘hak untuk berpakaian apa saja’ demi bisa memakai cadar atau hijab. Tapi kalau sudah melihat ada ranah ajakan untuk pelepasan hijab, maka mereka ini pasti hebohnya bukan main. Sikap ‘feminis’ yang sesuai kepentingan saja atau bisa dikatakan memenuhi tipikal “Double standard.”

Permasalahan yang mungkin serupa dengan di atas adalah bagaimana dengan para perempuan atau pria yang kalau kuliah maunya pakai daster atau tanktop saja? atau celana pendek? Atau pakai sandal jepit bagaimana? Kenapa tidak pernah ada pembelaan gerakan semacam ini dari perspektif feminis kiri –yang SJW– dan feminis hijabi ini?

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *