LOADING

Type to search

Hikayat Remaja Tersesat

DAILY

Hikayat Remaja Tersesat

Adam 31/10/2017
Share

Kita sedang berhadapan dengan zaman ketika perbuatan dan aktifitas umat manusia dituntun oleh derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi. Hasil buah pemikiran sekelompok homo saphiens brilian lulusan institut teknologi terkenal asal Bandung, atau koleganya yang lebih mentereng di Massachussets, dan juga perusahaan-perusahaan yang berdiri di Silicon Valley. Mereka semua takut akan segala bentuk ketertinggalan dan kesusahan yang sudah nenek moyang kita alami pada masa pra-sejarah. Biar ente-ente sekalian faham, saya akan mengilustrasikan bagaimana teknologi dan informasi sangat lah penting dan mendesak melalui cerita yang sangat pendek. Berikut ilustrasinya:

Pada suatu hari, hidup seorang anak yang dididik sebaik mungkin oleh orang tuanya sejak dia dilahirkan ke bumi. Seiring dengan lengsernya Presiden Soeharto dari tampuk kepemimpinan di Indonesia, anak ini berkembang menjadi pemuda yang selalu merengek kepada Mommy and Daddy. Seperti anak-anak tidak tahu diuntung lainnya, kadang-kadang orang tuanya tidak tahan dengan celotehan manjanya. Kira-kira, beginilah isi celotehannya, “Ibu, Ayah, aku pengen dibeliin iPhone 6s plus 128GB, dong!”

Merujuk pada ilustrasi super singkat diatas, kita tahu bahwa remaja yang bahkan belum mengalami akil balig sekalipun, sudah tahu yang namanya telepon seluler cerdas (sebut saja HP biar singkat) sekaliber iPhone. Jika semua orang tua menuruti keinginan anaknya, hanya ada 2 kemungkinan yang akan terjadi pada generasi milenial yang sedang menjalani hidupnya. Inilah 2 kemungkinan tersebut:

Kemungkinan yang pertama adalah opsi yang tidak diharapkan oleh orang tua anak-anak generasi milenia. Sebut saja siswa SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa hampir pasti memiliki HP yang canggih bukan main. Menurut survey yang dilakukan oleh UNICEF dan Universitas Harvard. Bahwa di Indonesia, dari 400 responden berumur 10 hingga 19 tahun, sebanyak 98% mengetahui internet dan 79,5% merupakan pengguna internet (Dikutip dari laman Kompas, terbitan 19/02/2014). Terdapat banyak sekali konten internet dari berbagai platform yang dapat diakses oleh penggunanya, khususnya remaja awal dan remaja dewasa. Mulai dari hiburan (film, musik, karya seni, video lucu, video blog, video tutorial makeup, video porno, video “esek-esek” mahasiswa, anak SMA, anak SMP, anak SD dan anggota DPR), sosial media (instagram, twitter, facebook, youtube, tinder, dan bigo live), atau juga konten-konten kebutuhan pendidikan. Seperti jurnal, ebook, laman universitas, laman kementerian, laman berita, laman penerimaan jasa pembuatan skripsi, tugas, dan penelitian. Dengan beragamnya konten-konten tidak bertanggung jawab yang tersebar dalam lautan internet itu, pada kemungkinan yang pertama, remaja ini akan cenderung menjadi pribadi yang semaunya, rebel, tidak mau diatur, membantah orang tua, menggunakan akses premium situs pornografi berbayar, menjadi aktivis geng motor yang kriminal, pacaran lalu seks bebas atau minimal pernah make out di kosan, coba-coba ganja selinting lalu ketagihan putau atau heroin dan jadi pecandu narkoba, atau yang malas kuliah lalu tidak lulus-lulus hingga 7 tahun. Manusia tercemar diatas ini adalah manusia yang tidak hanya dilaknat oleh Tuhan, namun bahkan oleh orang tuanya sendiri. Mengapa? Karena ridha Tuhan, adalah ridha orang tua.

Kedua, dibalik tebalnya lapisan manusia tercemar itu, masih ada golongan orang-orang suci yang masih dibanggakan oleh Guru-guru BK di sekolahnya. Orang-orang ini adalah manusia yang cenderung memiliki tanggung jawab moral terhadap orang tua, negara, bangsa, mertua, bahkan AGAMA. Atau dalam kasus yang lebih kompleks, dia merasa punya tanggung jawab lebih terhadap wanita yang ia hamili secara tidak sengaja dan tanpa ada niat. Penyebab dari opsi yang satu ini, bisa berupa genetika dan pewarisan keturunannya, bisa juga berawal dari momen bertobat seseorang. Dengan kata lain, orang-orang ini telah menemukan titik balik dalam hidupnya, entah itu ingat mati, ingat hidup yang hanya sementara, kecelakaan motor diperempatan, atau tagihan utang yang mematikan oleh debt collector.

Dari dua kemungkinan yang telah dijabarkan secara komprehensif dan D’Masiv (‘Ku merindukanmu…’), ada 4 orang teman yang telah berhasil saya wawancarai untuk menanggapi isu-isu moral yang sebetulnya tidak usah dibahas dan sebaiknya disimpan dalam hati saja lah ya. Terlebih teman-teman saya ini merupakan peserta Pemuda Hijrah, sebuah kelompok diskusi dan kajian keagamaan Islam untuk remaja dan umum yang diinisasi Ustadz Hanan Attaki. Kajian rutin yang dilaksanakan setiap hari Rabu di Masjid Besar Trans Studio Mall. Teman yang pertama dan kedua adalah mahasiswa tingkat 2 universitas terkemuka di Bandung (silakan pilih sendiri), yang ketiga merupakan mahasiswa baru Universitas yang terletak di Jatinangor (jangan terkecoh, ada 5 Universitas besar di Jatinangor), dan remaja ke 4 adalah siswa SMA kenamaan yang juga di kota Bandung (silakan tebak saja). Berikut ini hasil wawancara yang telah saya rangkum dari keseluruh narasumber, karena kalau saya tulis satu persatu, anda pasti males baca. Sikat skoy!

Menurut ente, apa sebetulnya Pemuda Hijrah itu?

Menurut ane, Pemuda Hijrah itu wadah bagi pemuda ataupun masyarakat yang ingin belajar, memperdalam, dan memperkuat keimanan dalam beragama Islam, dan menjadi sarana untuk menambah ukhuwah silaturahmi antar ummat, serta memahami bagaimana pentingnya Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pemuda Hijrah juga menawarkan dan memberikan tausyiah yang informatif, menarik, dan menggunakan pendekatan anak muda, sehingga ane pribad jadi tertarik.

Nah, jadi menurut ente, bagaimana ciri-ciri pemuda yang telah hijrah, dilihat dari sisi mental, sikap, juga pandangannya?

Hmmmm, kumaha nya (gimana ya)? Jadi intinya kajian-kajian di Pemuda Hijrah itu menyinggung hal-hal kecil, hal-hal yang sering banget kita temukan di kehidupan sehari-hari. Tapi, justru hal-hal itu yang kadang jadi masalah dalam hidup kita. Nah, dalam Pemuda Hijrah sering dikaji, bagaimana cara menghadapi masalah-masalah itu. Cocok banget buat muda-mudi. Jadi menurut urang mah, Pemuda Hijrah itu menumbuhkan sifat optimism pada pemuda atau yang ikut kajian. Gimana caranya? Dengan cara-cara yang Islami, cara-cara Rasul. Jadi rasa optimis itu tumbuh saat ada masalah, melalui penyelesaian yang Islami.

Mantap Bro, kepsir. Jadi apa yang bikin ente tertarik ikut kajian Pemuda Hijrah ini?

Jadi ane masuk Universitas Katolik, dimana ane engga akan diajarin agama Islam. Karena ane beragama Islam, jadi ane punya kesadaran untuk memperkuat keimanan ane. Lebih-lebih orang tua juga mengingatkan. Nah, kebetulan ada teman yang ngajak untuk ikut kajian. Jadinya aja ikut. Pas dateng, ternyata pembawaan ustadz-ustadz yang cerama juga ringan dan lucu-lucu. Sering menyinggung soal jomblo, jomblo yang bercorak Islami. Sekali dua kali ikut kajian, eh kecanduan.

Wah, oke juga ya. Nah, tapi menurut kamu nih, kenapa fenomena Pemuda Hijrah ini jadi menjamur dan terkesan cancer (in a good way, of course)?

Karena mungkin Pemuda Hijrah ini juga punya cara marketing dan publikasi yang efektif melalui sosial media. Para peserta juga terlihat bangga dan senang untuk mengikuti kajian ini, lalu mengajak teman-temannya. Selain itu, peserta juga banyak yang sadar kalau agama itu penting, karena mulai berfikir tentang akhir zaman, jadinya mereka berbondong-bondong untuk cari amal. Namun yang bahaya, kajian Pemuda Hijrah ini juga menjadi ajang pamer buat mereka, hanya untuk menunjukan bahwa, “Nih, gue ikut Pemuda Hijrah dan siap untuk masuk surga”. Itu yang ditakutkan, walaupun tidak berdampak untuk orang lain, tapi nantinya malah jadi bumerang untuk dirinya sendiri.

Terakhir nih, jadi apa sebetulnya titik balik para peserta mengikuti kajian Pemuda Hijrah?

Sebenernya enggak semua yang ikut Pemuda Hijrah itu lewat titik balik. Karena yang ikut itu mungkin saja orang-orang yang dipilih oleh Allah, dan mereka nyaut sama panggilan Allah. Tapi selain itu juga, mereka memang benar-benar ingin menambah ilmu tentang agama Islam, mereka juga bisa menambah teman, memperluas link. Selanjutnya, kalau dilihat dari judul-judul kajian Pemuda Hijrah tiap minggunya kebanyakan topiknya dari persoalan kehidupan sehari-hari. Jadi setelah selesai ikut kajian, mereka semacam dapat pencerahan dan direfleksikan dalam pribadinya masing-masing.

Nah, jadi begitu teman-temanku. Tulisan Hikayat Remaja Tersesat ini adalah rasa penasaran kami mengenai fenomena Pemuda Hijrah yang banyak digemari oleh muda-mudi di kawasan Bandung dan sekitarnya. Bagaimana lucunya saat kita mengenal seorang teman yang hidupnya cuek soal neraka dan surga, lalu berubah menjadi pribadi yang tiba-tiba rajin Solat dan Mengaji. Walaupun tidak salah, fenomena Pemuda Hijrah ini memberikan penetrasi positif dalam lingkungan sosial masyarakat. Tidak disangkal, kajian Pemuda Hijrah ini banyak memberikan manfaat bagi orang-orang pada lapisan kemungkinan pertama yang telah dituliskan diatas. Tapi juga tidak menjadi sesuatu yang dibenarkan, jiga fenomena Pemuda Hijrah ini menjadi arena untuk pamer-pameran dilingkungan tongkrongan kalian. Basi!

Tuhan memang sering bercanda dengan cara-Nya sendiri. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyudutkan salah satu pihak atau kamu-kamu yang merasa tersinggung. Sesuatu yang selalu saya ingat jika berbicara soal agama, kepercayaan, dan keimanan, adalah sebuah kutipan bodo amat dari seorang penyiar kawakan ibu kota,

Iman itu kaya tato, baru punya dikit, diunjuk-unjukin mulu. – Gofar Hilman.

 

Ilustrasi: Marco Hanif Samudro

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *