LOADING

Type to search

How To: Skena 101

COLUMN FEATURED

How To: Skena 101

Defta Ananta 30/01/2018
Share

Ilustrasi: Adam Noor Iman

Pernahkah Anda datang menghadiri suatu konser musik dan merasa bahwa Anda tidak cukup “keren” untuk berada di tempat tersebut? Jika jawabannya “tidak”, maka tujuan Anda memang hanya ingin menikmati suasana konser musik, dan tidak memedulikan adanya pengakuan sosial atau labelling yang sebenarnya juga tidak terlalu penting. Namun, jika jawaban Anda “iya”, maka Anda adalah seorang individu yang menilai bahwa pengakuan sosial dimanapun kamu berada adalah suatu hal mutlak yang wajib dipenuhi. Semua hal tersebut terlepas dari perihal pemahaman soal musik yang Anda saksikan di konser tersebut, dan yang terpenting bagi Anda adalah mendapatkan pengakuan sebagai “anak skena”. Eits, tapi tenang dulu saya tidak memposisikan diri saya sebagai individu yang judgemental justru saya akan memberikan sedikit penjelasan dan panduan mengenai kehidupan sosial yang terkandung dalam dunia musik.

Sebelumnya saya juga tidak mengerti apa arti atau maksud dari kata “skena”, sejauh yang saya pahami kata tersebut adalah suatu kata serapan dari bahasa inggris yaitu “scene” yang merujuk pada suatu tempat kejadian secara harfiah. Jika dikaitkan dengan dunia musik, maka “skena” adalah kata yang menggambarkan dunia musik (dalam skala lokal) sebagai suatu lingkungan atau tempat dimana terjadinya interaksi antara audience dan musisi sebagai suatu komunitas.

Namun semenjak kata “skena” menjadi populer, kata tersebut akhirnya beralih fungsi sebagai kata sifat yang menggambarkan kaum hipster yang juga menjadi bagian dan turut meramaikan kehidupan sosial di lingkungan atau komunitas tersebut. Sejak saat itu, mulai bermunculan anak – anak “hipster kaget” yang berusaha untuk mendapatkan pengakuan sosial berupa labelling sebagai “anak skena sejati”.

Tidak ada yang salah dengan keinginan mendapatkan pengakuan sosial. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial. Kita juga butuh hal tersebut untuk memuaskan kebutuhan sosial kita. Namun, terkadang cara kita mendapatkan hal tersebutlah yang nantinya akan menentukan keberadaan atau status kita dalam suatu sistem sosial.

Kembali ke topik, anak – anak “hipster kaget” ini memiliki ciri khas yang mungkin hampir semua memilikinya yaitu dangkal makna. Dangkal makna yang saya maksud adalah mereka yang hanya sekedar mengikuti trend tanpa mengerti esensi dasar hingga latar belakang yang terkandung dalam suatu trend dalam dunia musik atau bisa dikatakan “Asalkan banyak orang keren yang suka, gue harus ikutan suka!”. Sayangnya, tidak sedikit orang-orang disekitar saya yang menggunakan istilah “skena” untuk merujuk kepada kaum “hipster kaget”. Walaupun sebenarnya saya lebih suka menggunakan istilah poser karena lebih masuk akal. Daripada menggunakan istilah “skena” yang pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan permasalahan pengakuan sosial.

“Asalkan banyak orang keren yang suka, gue harus ikutan suka!”

Lalu, apa yang salah dari kehadiran para “hipster kaget” atau poser? Toh, pada dasarnya kita sama-sama ingin menikmati musik. Menurut saya, perihal batasan salah atau benar dalam kasus ini masih sangat saru. Namun, yang saya yakini, hal ini menjadi salah ketika sifat “kedangkalan makna” makin menyebar dan membentuk budaya pretensius demi mendapatkan pengakuan sosial. Salah satu alasan kenapa selalu saja ada “hipster kaget” atau poser ini disebabkan oleh krisis identitas yang pada akhirnya mereka berupaya mengimitasi dan mengadopsi beberapa hal disekitarnya. Tentunya, meniru apapun yang dilakukan oleh role model-nya seperti cara berpakaian, selera musik, feeds instagram, dan yang lainnya secara instan.

Walaupun menjadi poser terkesan sangat negatif, tetapi ada sisi positif yang bisa kita lihat. Mereka sangat tahu bagaimana caranya untuk bisa menyatu dengan tren sosial yang ada di dalam lingkungan atau komunitas permusikan. Jadi, bagi kalian yang ingin belajar bagaimana caranya untuk bisa menaiki tangga sosial dengan mantap, kalian bisa belajar dari mereka heheheu.

Sekian saja, Salam Olahraga!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *