LOADING

Type to search

Hilangnya Bahasa Indonesia Akibat Penyeragaman

COLUMN

Hilangnya Bahasa Indonesia Akibat Penyeragaman

INCOTIVE 15/03/2018
Share

Tim Penulis: Faiz Ashari Purwanto & Arbha Witarsa
Ilustrasi: Adam Noor Iman

Penjajahan oleh bangsa asing merupakan kejadian yang menakutkan, khususnya untuk masyarakat yang tinggal di negara yang memiliki sejarah pernah terjajah oleh bangsa asing, seperti Indonesia. Khususnya pada hari ini, bayang-bayang ketakutan akan penjajahan baru atau Neocolonialism menjamur dibenak masyarakat Indonesia yang kebanyakan masyarakatnya tidak merasakan kesejahteraan. Ketakutan tersebut lambat laun berubah dari sekedar emosi yang tak terucapkan menjadi kata-kata lisan yang pada akhirnya berevolusi menjadi tulisan-tulisan yang berbau konspirasi.

Tidak sedikit teori konspirasi yang dibuat itu berbau Neocolonialism, salah satunya mengenai penyeragaman bahasa. Beberapa orang menganggap bahwa berkembang pesatnya penggunaan bahasa Inggris di Indonesia merupakan salah satu usaha penjajahan modern, yang bertujuan untuk menyeragamkan bahasa di dunia. Hal ini diperkuat juga oleh berita – berita di media masa yang menyebutkan telah punahnya 15 bahasa daerah di Indonesia, dan masih 139 bahasa daerah lainnya yang hampir lenyap. Berita ini digembor-gembori di media masa khususnya saat peringatan hari bahasa ibu internasional pada tanggal 21 Februari kemarin. Namun, apakah benar ini merupakan fenomena yang dapat disebut penjajahan di zaman modern?

Perkembangan penggunaan bahasa Inggris yang begitu pesat di Indonesia. Tingginya rasa nasionalis  sisa-sisa masa orde lama dan orde baru menjadi salah satu faktor timbulnya konspirasi tersebut. Bahkan, dikutip dari buku “Kesadaran Nasional: dari kolonialisme sampai kemerdekaan Volume 1” karya Prof. Dr. Slamet Muljana, bahwa bahasa Indonesia dicetuskan menjadi bahasa nasional pada saat sumpah pemuda dideklarasikan, dan gunanya untuk menjadi bahasa persatuan. Dapat dilihat bahwa pada awalnya bahasa Indonesia itu bersifat politis bukan bersifat linguistik. Masih dikutip dari buku yang sama bahwa bahasa yang hidup harus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman dengan kepentingan masyarakat yang memakainya. Maka, dari sini dapat disimpulkan bahwa perkembangan yang pesat dalam penggunaan bahasa Inggris bukanlah sebuah konspirasi melainkan sebuah kebutuhan masyarakat pemakainya sendiri, mau itu formal maupun non-formal.

Bahasa inggris menjadi kebutuhan yang pasti, khususnya dalam era globalisasi ini. Sangat terasa bagaimana kita bisa belajar lebih banyak apabila kita dapat menguasai bahasa ini. Namun ada pula yang menyebut fenomena ini telah menjadikan Indonesia dalam krisis kebudayaan. Memang benar bahwa di era globalisasi ini masyarakat mengalami akulturasi. Proses akulturasi global yang diawali dengan culture shock yang singkat memaksa masyarakat Indonesia seolah kehilangan jati diri. Budaya asing bercampur dengan budaya lokal dengan terlalu cepat bahkan dalam satu generasi yang sama sehingga percampuran ini tidak memberi waktu untuk memperlihatkan perbedaan kedua budaya tersebut.

Proses berkembangnya bahasa Inggris di Indonesia tidak jauh berbeda dengan saat proses berkembangnya bahasa Indonesia di Indonesia sendiri. Bahasa Indonesia menggantikan bahasa daerah, dan bahasa inggris menggantikan bahasa Indonesia. Tidak aneh mengapa semakin pesatnya kepunahan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Dalam buku “Krisis Budaya?: Oasis” karya Guru besar Fakultas Ilmu Budaya UI, Prof. Anton Moeliono mengatakan, “that is the price we have to pay” dan disambung oleh mantan Dekan FIB UI, Akhadiati “for having a national language”. Hal ini menggambarkan suatu situasi, ketika keberhasilan memperoleh bahasa kesatuan, mempunyai dampak pada punahnya bahasa daerah, suatu dampak yang tidak diperhitungkan. Tidak jauh berbeda dengan keberhasilan bahasa Inggris berkembang di Indonesia, karena bahasa Inggris ini merupakan bahasa kesatuan di era globalisasi sendiri, sudah pasti mengikis kebudayaan lokal, khususnya kebudayaan daerah. Hal ini lebih terasa di kalangan anak muda. Bahasa Inggris menjadi bahasa kedua pemuda di Indonesia, khususnya diperkotaan. Kebutuhan untuk berbahasa Inggris menjadi tidak terhindarkan. Hal ini adalah salah satu fenomena yang dijelaskan oleh ilmu psikolinguistik, dimana dalam proses pemerolehan bahasa seseorang membutuhkan suatu stimulan untuk membuat dia tertarik, dan pada akhirnya ikut menggunakan bahasa tersebut.

Sebuah Tuntutan

Saat ini menguasai bahasa asing dan bahasa Inggris bukan saja karena keinginan semata tapi merupakan tuntutan. Tuntutan tersebut bisa ada dalam pekerjaan maupun keseharian. Dalam proses nya kita selalu meminjam istilah asing dalam kesaharian kita. Hal tersebut dijelaskan oleh Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISIP), Dede Tresna Wiyanti, S.sos, M.si. “Proses tersebut tidak dapat kita hindari, proses meminjam, proses imitasi dan lebih jauh lagi adalah proses akomodasi” tutur beliau.

“Proses tersebut tidak dapat kita hindari, proses meminjam, proses imitasi dan lebih jauh lagi adalah proses akomodasi”

Sudah sesuatu yang lazim mendengar bahasa atau istilah asing digunakan untuk melengkapi Bahasa Indonesia dalam percakapan kita sehari-hari. Astri Riksahati mahasiswi Unpad, Jatinangor yang biasa dipanggil Achi itu mengakui hal tersebut.

Ia menyadari saat berkomunikasi dengan teman-temannya terkadang mencampur antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut ia lakukan agar apa yang ia sampaikan lebih mudah dipahami dan lebih enak didengar. “Saya terkadang mencampurkan bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia yang saya pakai itu karena ada beberapa kata yang sulit untuk saya definisikan dalam bahasa Indonesia” tuturnya.

“Saya terkadang mencampurkan bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia yang saya pakai itu karena ada beberapa kata yang sulit untuk saya definisikan dalam bahasa Indonesia”

Hal tersebut juga bisa dilihat dari fakta yang ada dimana beberapa isitilah asing lebih sering dipakai oleh anak muda zaman sekarang dari pada memakai istilah bahasa Indonesia. Anak muda tersebut notabenenya adalah orang-orang yang tinggal perkotaan.

Contoh dari fakta tersebut adalah saat penggunaan kata “Sejauh ini” digantikan dengan “So far”, unduh digantikan dengan “Download”, “retas” digantikan dengan “hack” dan banyak lainnya. Hal tersebut membuat  bahasa yang dipakai menjadi bahasa gado-gado. Isitilah apabila seseorang mencampur aduk bahasa yang digunakan.

Dede Tresna Wiyanti, S.sos, M.si, menuturkan, ada banyak faktor yang memengaruhi pilihan kata seseorang. Hal itu bisa dikarenakan kelas sosial, teman-teman, pendidikan, keluarga dan ekonomi. Apabila bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya seperti menggeser istilah-istilah dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut bisa dilihat dari adanya proses keseragaman atau proses uniformity. Beliau berkata,

“Setiap individu memiliki kebebasan dalam memilih pilihan kata dan interaksi satu budaya dengan budaya yang lain tidak bisa kita hindari. Jadi jika kita ingin mempertahankan bahasa Indonesia kita harus memiliki kesadaran untuk memakai bahasa Indonesia dalam pilihan kata yang kita gunakan”

Perkembangan teknologi saat ini juga berpengaruh terhadap keberadaan istilah-istilah asing dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Itu dikarenakan perkembangan teknologi saat ini terutama teknologi komunikasi, dan bahasa yang digunakan tentunya adalah bahasa yang mudah dipahami oleh banyak orang dan banyak kalangan.

Kepunahan dan Proses sosialisasi

Bisa dilihat akibat pengaruh media sosial yang merupakan hasil dari perkembangan tekonologi komunikasi. Dimana istilah-istilah asing dengan mudah menyebar luas di masyarakat dan beberapa istilah tersbut lambat laun menjadi istilah-istilah yang dipakai oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya menggantikan istilah bahasa Indonesia.

            Dede Tresna Wiyanti, S.sos, M.si mengatakan bahwa menurut ahli bahasa didunia pada tahun 2100, 75% bahasa hilang atau tidak terpakai lagi. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya keberagaman bahasa dalam sebuah proses sosial dimana istilah-istilah yang tidak dimengerti oleh orang banyak didunia ini digantikan dengan istilah yang mudah dipahami oleh orang diseluruh dunia.

Proses tersebut terjadi di Indonesia. Yaitu di saat bahasa Indonesia menggantikan bahasa lokal dalam proses sosialisasi.

            “Tidak tahu kapan pastinya. Namun,  kepunahan bisa terjadi pada bahasa Indonesia di saat bahasa Indonesia tidak lagi dipakai dalam proses sosialisasi, terutama dalam sebuah keluarga”

Proses sosialisasi dalam sebuah keluarga menjadi penting untuk keberadaan sebuah bahasa. Hal tersebut dikarenakan pendidikan pertama seseorang berawal dari sebuah keluarga. Jika keluarga tersebut tidak mengajarkan anaknya bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi sehari-hari maka akan berdampak kepada keturunan selanjutnya karena dalam sebuah proses sosialisasi terdapat pewarisan.

Dede Tresna Wiyanti. S.sos, M.si juga memberikan solusinya agar kepunahan tidak terjadi pada bahasa bangsa ini, bangsa Indonesia. Menurutnya kita harus menggunakan bahasa asing diwaktu yang tepat dan untuk keluarga Indonesia harus mengajarkan kepada anak-anaknya bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari dan jika perlu memakai bahasa lokal yang baik dan benar tentunya.

Jadi kesimpulan yang kami dapatkan dari hasil pembelajaran, perkembangan penggunaan bahasa Inggris yang pesat mau itu dilihat sebagai konspirasi untuk menyeragamkan bahasa ataupun sebagai fenomena sosial belaka, kita jelas sangat membutuhkan bahasa tersebut untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Walaupun, banyak sekali respon negatif atau positif terhadap fenomena ini. Namun, segala penilaian kembali kepada anda pribadi.

Jadi apakah ini sebuah penyeragaman budaya oleh satu kelompok yang diuntungkan? atau hanya fenomena sosial modern demi kepentingan bersama?

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *