LOADING

Type to search

Konspirasi Pertemanan & Regenerasi Ekosistem Industri Musik

COLUMN FEATURED

Konspirasi Pertemanan & Regenerasi Ekosistem Industri Musik

Defta Ananta 28/03/2018
Share

Ilustrasi oleh Adam Noor Iman

Akhir-akhir ini media sosial saya selalu dipenuhi oleh banyak poster atau pamflet acara-acara musik, baik dari skala micro-gigs hingga festival besar. Ya, tentu saja hal tersebut merupakan suatu pertanda bahwa perkembangan industri musik lewat digelarnya acara-acara musik menunjukan pertumbuhan yang positif karena orang-orang masih memiliki ketertarikan untuk menyaksikan pertunjukan musik secara langsung. Namun di samping adanya pertumbuhan yang positif tersebut, saya menemukan beberapa hal yang menarik dan hal tersebut tentu saja meninggalkan beberapa pertanyaan dalam pikiran saya. Dimulai dari pertanyaan tentang banyaknya acara di kota Bandung. Namun, hanya diisi oleh artis yang itu-itu saja, sampai ke masalah regenerasi ekosistem dalam industri musik.

Kemudian saya berspekulasi, apakah ini semua merupakan hasil dari sebuah upaya konspirasi pertemanan para elit industri? Apakah mentalitas orang-orang yang terlibat dalam ekosistem industri yang telah ada nyatanya kurang suportif untuk memberikan kesempatan pada para pendatang baru? Atau karena dipengaruhi oleh adanya faktor sosio-kultural? Namun yang jelas hal tersebut pada akhirnya membuat diri saya tertarik untuk memastikan apakah adanya “konspirasi pertemanan” dalam ekosistem industri musik, terutama di Bandung adalah sebuah fakta atau hanya sebatas mitos belaka.

Sebagai introduksi, mungkin kita harus sepakat dalam berpendapat bahwa ketika berbicara tentang industri musik pasti akan berkaitan dengan keuntungan terlepas dari ada atau tidak adanya agenda sosial di dalamnya.  Oleh karena keberadaan industri yang bersifat profit-oriented maka hal tersebut sudah cukup menjelaskan kalau setiap unsur-unsur (media, band, label, publisher, EO, penyedia ruang) yang terlibat dalam suatu ekosistem industri musik akan berorientasi pada bagaimana cara mereka mendapatkan keuntungan. Walaupun terdengar sangat kapitalistik, nyatanya memang itulah yang terjadi. Kebutuhan akan profit yang melatarbelakangi tindakan-tindakan para unsur tersebut mungkin saja menjadi starting point adanya suatu konspirasi pertemanan dalam ekosistem industri. Namun hal tersebut menurut saya belum cukup untuk mengafirmasi keberadaan konspirasi pertemanan sebagai sesuatu yang positif serta untuk memastikan hal tersebut sebagai suatu fakta ataukah mitos.

 

Permasalahan yang Mengakar

                Untuk sekarang mari kita kesampingkan dulu perihal konspirasi pertemanan. Di kota Bandung sendiri pertumbuhan ekosistem dalam industri musik telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Menurut Idhar Resmadi sebagai pengamat musik dan juga jurnalis senior, keberadaan faktor sosio-kultural ternyata memainkan peran yang besar dalam mempengaruhi keadaan ekosistem dalam industri musik. Ketika saya bertanya mengenai hal tersebut, Ia mengatakan, “permasalah mendasar yang terjadi dalam ekosistem industri musik di Bandung adalah adanya sekat kultural”.

“permasalah mendasar yang terjadi dalam ekosistem industri musik di Bandung adalah adanya sekat kultural”

Ia berpendapat bahwa ekosistem industri musik di kota Bandung sendiri sangat dipengaruhi oleh adanya suatu “sekat” yang menjadi penghalang terciptanya suatu pola interaksi positif antar unsur-unsur dalam ekosistem industri musik di Bandung. Sekat yang dimaksud adalah adanya rasa segan serta adanya hubungan senioritas yang pada akhirnya menimbulkan suatu social gap baik secara vertikal ataupun horizontal. Selain itu, pemanfaatan space atau hub sebagai suatu fasilitas fisik juga cukup penting. Kami berdua setuju pada dasarnya perkembangan dunia kreatif (termasuk sektor musik) di Bandung pada dasarnya dilahirkan oleh adanya kultur “nongkrong” di kalangan anak-anak muda. Di Bandung sendiri, dewasa ini mulai bermunculan space, hub atau ruang. Namun, dikarenakan adanya sekat kultural tersebut pada akhirnya fungsi space sebagai ruang netral menjadi kurang efektif dalam menciptakan suatu pola interaksi baru yang mendukung regenerasi.

 

Stangnansi Perkembangan / Regenerasi dalam Industri Musik 

                 Rasanya tidak hanya saya saja yang merasa bahwa acara-acara musik yang bisa memberikan exposure secara layak di Bandung akhir-akhir ini hanya diisi oleh band atau artis yang itu-itu saja. Ya, saya merasa ada suatu stagnansi dalam hal ini. Kesamaan kesempatan untuk mendapatkan exposure secara layak nyatanya tidak bisa dinikmati oleh seluruh pengisi acara baru yang berpotensi untuk masuk ke dalam industri. Apabila dikaitkan dengan adanya sekat kultural, saya melihat bahwa adanya suatu keberpihakan yang didasari oleh subyektivitas pertemanan. Mengapa demikian? Ketika saya bertanya kepada teman-teman saya yang juga berprofesi sebagai musisi, mereka semua memiliki jawaban yang kurang lebih serupa, mereka berpendapat bahwa selain materi musik yang baik, networking terhadap unsur-unsur yang berada dalam industri menjadi hal yang esensial.

Dengan kata lain, ketika suatu band atau artis tidak bisa memiliki atau menjalin networking pertemanan yang baik dengan media, event organizer, publisher, dan lainnya maka dapat dikatakan probabilitas mereka untuk tetap survive dalam industri musik akan sangat kecil. Keberpihakan tersebut mungkin sangat masuk akal, apabila kita melihat dari sudut pandang pelaku bisnis dalam industri mereka pasti akan lebih tertarik kepada band / artis yang lebih memiliki selling proposition serta market values yang baik, hal tersebut juga dibarengi dengan adanya asumsi bahwa para pendatang baru belum memiliki hal-hal tersebut.

Dengan adanya sekat kultural serta keberpihakan yang subyektif secara langsung menyebabkan terhambatnya proses pembentukan sebuah ekosistem baru yang memberikan kesamaan kesempatan bagi band / musisi / artis yang berpotensi untuk bisa “masuk” kedalam industri atau (at least) mendapatkan exposure yang layak. Menurut Idhar, keberpihakan tersebut seharusnya bisa menciptakan suatu pola interaksi yang berdasar pada hubungan mutual-support, yang dimana musisi senior memberikan suatu jalan kepada para pendatang baru untuk bisa menjalin networking dalam ekosistem industri seperti yang telah dilakukan oleh Puppen kepada Pure Saturday, serta Rekti dari The S.I.G.I.T dengan mendirikan label rekaman dan memberikan kesempatan bagi pendatang baru untuk bergabung.

 

Paradoks dalam Semangat Komunialitas

                Seperti yang telah dikatakan diatas dunia kreatif terutama di Bandung memang lahir dari adanya budaya nongkrong yang menjadi ciri khas aktifitas anak-anak muda disini. Berkaitan dengan adanya keberpihakan yang subyektif ditambah dengan adanya sekat kultural yang menghalangi adanya interaksi organik antar unsur-unsur dalam ekosistem industri musik, beberapa tahun terakhir ini muncul fenomena serta tendensi untuk membentuk komunitas dan kolektif independen yang diinisiasi oleh musisi-musisi yang berada dalam suatu social circle yang sama. Dapat dikatakan fenomena tersebut adalah suatu jalan keluar yang cukup cerdas dalam menghadapi ekosistem industri musik yang terkadang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Semangat dalam membentuk komunitas dan kolektif independen tersebut memang telah ada sejak dulu, contohnya komunitas TLL (taman lalu-lintas) pada dekade 90an yang menjadi tonggak berdirinya skena industri musik di Bandung.

Dewasa ini, tendensi untuk membuat suatu komunitas independen kembali menjadi suatu trend dikalangan anak muda Bandung. Tentunya hal tersebut akan melahirkan suatu jalur alternatif dalam menyebarkan musik serta pengaruh kepada audiens. Secara bertahap komunitas-komunitas tersebut akan berkembang dan tumbuh hingga bisa blend in kedalam ekosistem industri yang telah ada serta kemudian secara langsung atau tidak langsung keberadaan komunitas dan kolektif tersebut akan mempengaruhi dalam pembentukan selera musik para audiens. Walaupun terdengar seperti hal yang positif namun ketika kita berbicara mengenai komunitas dalam konteks industri pasti akan selalu berkaitan dengan bagaimana mereka bisa mendapatkan keuntungan dengan berada dalam ekosistem industri musik.

Biasanya pergerakan komunitas tersebut akan memiliki agenda politik yang berkenaan dengan pengaruh mereka dalam mekonstruksikan selera musik serta dominasi dalam “per-skena-an”. Ketika mereka telah memiliki pengaruh yang tinggi maka secara otomatis demand terhadap musik-musik yang dihasilkan dari lingkungan tersebut juga tinggi. Yes, it’s a business afterall, komunitas dan kolektif yang telah berada pada level tersebut akan melakukan berbagai cara (termasuk bersekongkol dengan unsur-unsur di dalam ekosistem industri musik) untuk melindungi status serta pengaruh mereka terhadap para pendatang baru. Hal tersebut mungkin dapat diperparah dengan adanya sekat kultural yang akhirnya menimbulkan rasa segan serta rasa superioritas terhadap sesama penggiat musik.

Ketika semangat komunialitas yang menjadi ciri khas pergerakan dunia kreatif di Bandung telah menjadi sebuah paradoks, maka urgensi untuk membentuk suatu ekosistem baru menjadi besar. Ekosistem yang berdasar pada hubungan mutual-support akan menjadi suatu daya dukung sosial yang baik untuk memantik perkembangan regenerasi industri musik terutama di Bandung sendiri.

Kembali ke pertanyaan pada awal tulisan, apakah “konspirasi pertemanan” dalam ekosistem industri musik terutama di Bandung adalah sebuah fakta atau hanya sebatas mitos belaka? Berdasarkan hal-hal yang telah dibahas di atas, saya bisa menyimpulkan konspirasi pertemanan adalah suatu fakta yang tidak bisa terhindarkan. Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah bagaimana setiap unsur-unsur dalam industri musik bisa menciptakan suatu konspirasi pertemanan positif yang dapat mendukung terciptanya suatu ekosistem baru dan menjadi stimulan terciptanya regenerasi yang berkualitas.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *