LOADING

Type to search

Konspirasi yang Menyelimuti Seni

COLUMN

Konspirasi yang Menyelimuti Seni

INCOTIVE 25/03/2018
Share

Teks: Ekalaya
Ilustrasi: Nadhif Ilyasa

Membicarakan permasalahan konspirasi, saya selalu teringat pada sejumlah peristiwa yang cukup menggemparkan dunia seperti 9/11, pendaratan manusia di bulan, atau yang terjadi di dalam negeri, seperti G30s, dan munculnya orde baru sendiri. Berbagai peristiwa itu selalu dikaitkan dengan kemunculan beberapa teori konspirasi.

Ada yang berkata hal tersebut dilakukan oleh sekelompok orang, ada yang berkata ini didalangi oleh agen rahasia seperti CIA dan MOSSAD, ada juga yang berkata ini dilakukan oleh pemerintah sendiri untuk mempertahankan sejumlah agendanya, dan tentunya masih banyak lagi. Satu hal yang pasti, konspirasi selalu berkaitan dengan politik dan kekuasaan.

Lalu apa hubungannya dengan seni? Apakah seni berperan dalam sejumlah agenda konspirasi dunia? Atau justru seni adalah medium utama untuk menyebarkan konspirasi itu sendiri? Beberapa pertanyaan tersebut bukan muncul begitu saja, tetapi didasari oleh latar belakang sejarah dimana seni acap kali digunakan untuk propaganda sebuah rezim.

Seni sebagai alat propaganda.

Antara seni dan politik, seolah-olah memiliki posisi diametris terkait aspek kebebasan itu sendiri. Bagi para politisi, memberikan kebebasan sepenuhnya kepada masyarakat sama dengan menggali liang kuburnya sendiri. Mengikuti definisi Max Weber, tentang arti politik sebagai ketrampilan untuk mempengaruhi dan menaklukkan kekuasaan orang lain demi kepentingan pribadi, maka dibukanya keran kebebasan dalam sistem politik, merupakan halangan dalam memperluas dan mempertahankan kekuasaannya. Bagi mereka, biaya yang dikeluarkan untuk memberikan kebebasan penuh kepada seniman tidak sepadan dengan keuntungan yang diperoleh kemudian.

Dalam realitas politiklah, yang sering memanipulasi maksud dan tujuan seni sesuai dengan cita-cita politik yang didengungkan pemimpin di hadapan masyarakat. Seperti realisme sosialis yang menjadi ideologi resmi seniman bekas Uni Soviet dibawah kepemimpin VI Lenin. Politisasi seni dan kebudayaan di Indonesia sendiri, dapat dilihat dari pertentangan ideologis antara Lekra yang lebih menganggap seni sebagai abdi politik dengan seni untuk seni menurut blok Manikebu. Namun, sebagaimana kita ketahui, sejarah orde lama ternyata melarang Manikebu dengan dalih kontra-revolusi. Apa yang ingin diutarakan, yaitu dengan mendasarkan diri sebagai ekspresi seni, sudah selayaknya RUU APP ditiadakan. Karena dengan semakin ikut campurnya negara pada kawasan seni, risiko hilangnya kreativitas seni dan estetis.

Kesenian dalam dinamika politik dapat berubah fungsinya menjadi lebih luas, yakni sebagai alat propaganda. Produk-produk kesenian yang ada sangat mungkin dikemas dengan membawa pesan-pesan politik kepada audience yang terlibat. Kemasan ini pada sangat mungkin dilakukan secara rapi, logis dan tetap memiliki jiwa kesenian yang tidak bombastis. Sebagai contoh dua rezim yang bermusuhan, fasis dan komunis. Bagi Hitler, seni adalah salah satu bidang yang paling penting dalam kehidupan bernegara. Dia mendorong anggota partainya sendiri untuk memprioritaskan program seni daripada program-program lainnya, seperti pengentasan kemiskinan dan masalah sosial lainnya. “Bisakah kita membiarkan diri kita untuk berkorban untuk seni pada saat ada begitu banyak kemiskinan, ingin, kesengsaraan, dan keputusasaan di mana-mana di sekitar kita? … Ya, kita bisa, dan harus.”, seru Hitler. Seni dalam negara fasis adalah seni yang dikendalikan oleh pemerintah, mungkin melalui departemen propaganda-nya. Hitler mengatakan misi seni adalah untuk menimbulkan fanatisme dari rakyat. Kreatifitas seniman harus melayani ideologi negara yang menjunjung tinggi ras Jerman. Hitler menentang teori-teori tentang seni dan karya seni harus didekati apa adanya, tanpa ada asumsi-asumsi teoritis tertentu. Bagi Hitler, seni sejati terdiri dalam mengungkap perlombaan heroik, tubuh heroik, dan membawanya ke kekuasaan. Seni ini, tentu saja, adalah mungkin hanya bagi mereka yang diri dengan alam heroik diberkahi, untuk jenis seni sejati itu sendiri merupakan misi heroik.

Di sisi lain, negara Soviet yang Marxis melalui komite pusat yang mengatur tentang kebijakan pembuatan seni dan propaganda melalui seni, mewajibkan seni dalam negara tersebut beraliran realisme sosialis. Realisme didalam bentuk dan Sosialis dalam hal isi. Bagi Stalin, realisme harus dibedakan dari ‘naturalisme’ yang berarti menyampaikan kenyataan apa adanya, seolah-olah tanpa interpretasi. realisme yang dimaksud adalah menyatakan apa adanya sebuah pergerakan sejarah yang sudah diinterpretasi dengan teori evolusi sosial Marxis. Sementara itu, kata sosialis menggambarkan gaya hidup dan struktur sosial yang dicita-citakan oleh Soviet. Dengan demikian, seni realisme sosialis banyak memotret kaum proletar yang bermoral tinggi, yang bersatu hati bekerja keras untuk membangun negara utopia mereka. Meskipun keadaan utopis itu belum tercapai oleh Soviet, realisme sosialis menyatakan sebuah pergerakan sejarah ke arah keadaan yang dinanti-nantikan Soviet. Ia memberi gambaran mengenai ke arah seperti apa negara Soviet harus menuju.

Kembali ke Indonesia, permasalahan serupa terjadi pada tahun 1960-an dimana orde lama berganti manejadi orde baru. Hal tersebut dijelaskan cukup apik oleh bung Martin Suryajaya. Tulisan beliau menjelaskan bagaimana orde baru justru menggunakan seni abstrak sebagai “propaganda” untuk menjauhi hal yang berbau komunis. Bambang Bujono juga pernah menulis bahwa pembubaran Lekra merupakan peristiwa seni rupa Indonesia terpenting sejak dibentuknya Persagi (Bujono 2004: 67). Dengan tumbangnya Lekra, berakhir pula suatu tradisi estetika seni lukis yang punya wawasan dan sikap sosial-politik yang eksplisit. Naiknya orde baru berarti juga menyeruaknya keperluan akan suatu rezim estetika yang memuja segala yang serba-samar dan ambigu dalam perkara politik. Keperluan inilah yang dengan leluasa diisi oleh seni lukis abstrak.

Nuansa konspirasi juga terjadi pada perpindahan kiblat seni dari Eropa ke Amerika. Pada PD II, Amerika Serikat dan Sekutu pernah mengadakan sebuah operasi untuk menyelematkan karya seni yang dirampas oleh tentara Jerman. Hal tersebut tentu dianggap mulia karena menyelamatkan artefak kebudayaan, tetapi dibalik itu museum seni di Amerika Serikat mendapatkan beberapa koleksi baru untuk dipamerkan. Selain itu bertepatan dengan berakhirnya PD II muncul juga term abstrak ekspresionisme yang diwacanakan dengan sangat baik oleh Greenberg. Situasi traumatik pasca PD II membuat abstrak ekspresionisme (yang notabene nir – visual) menjadi pilihan utama pasar seni rupa pada saat itu. Hampir bersamaan juga muncul seni pop atau lebih dikenal pop art membuat Amerika Serikat dan sekutu makin kokoh menjadi pusat kebudayaan.

Bentuk lain konspirasi dalam seni.

Menyambung dari uraian di atas perihal seni sebagai alat propaganda pada dekade 1960-an juga muncul penggunaan subliminal messages, seperti karya seni pada pada periode Pra – modern. Subliminal messages adalah pesan-pesan yang dimasukkan dalam sebuah film atau gambar yang disampaikan ke alam bawah sadar seseorang sehingga ia tidak menyadarinya meskipun menerimanya ke dalam otak. Pesan-pesan ini dibuat tidak terlalu jelas atau tidak kita sadari pada saat pertama kali melihatnya. Pesan-pesan tersebut akan terekam di dalam otak kita dan akan bekerja seperti hipnotis. Pengaruh yang ditimbulkan oleh pesan-pesan tersebut bisa berakibat positif maupun negatif. Tergantung pesan yang disembunyikan, apakah itu bernada positif atau negatif.

Subliminal messages banyak ditemukan dalam film-film kartun anak Walt Disney. Contohnya, di dalam satu bagian, digambarkan Simba yang sedang merenung di pinggir tebing, debu-debu beterbangan di langit malam. Jika anda pause bagian tersebut, debu-debu yang beterbangan tersebut akan terlihat seperti membentuk sebuah kata yang singkat. ‘Sex’. Dalam film Beauty and the Beast indoktrinasi yang paling banyak diterapkan adalah konsep mengenai beauty atau kecantikan, ketampanan. Sangat ditekankan beberapa syarat tipikal agar bisa digolongkan sebagai seseorang yang cantik atau tampan, dan keuntungan-keuntungan apa saja yang bisa didapat bila sudah tergolong cantik atau tampan sangat ditekankan di film ini. Salah satu syarat tipikal agar bisa tergolong cantik bagi wanita adalah memiliki badan yang langsing.

Selain itu animasi Avatar: The Legend of Aang, jika kita cermati adalah pengejawantahan dari konsep atheisme yang dipropagandakan Kabbalah (faham pemuja setan). Konsep kekuatan angin, air, udara, dan api diambil dari kepercayaan Yahudi kuno tentang dewa-dewa. Kita digiring pada pemahaman Aristotelian bahwa alam ini bergerak dengan sendirinya. Tentunya masih banyak lagi kartun maupun acara televise yang menggunakan metode subliminal messages dalam konten maupun visualnya. Beberapa hal itu dikaitkan dengan agenda dari Illuminati dan agen rahasia CIA yang menggunakan kartun atau acara televisi untuk mencapai tujuan – tujuan yang diagendakan keduanya.

Kesimpulan

Politik dan konspirasi dalam seni seperti yang terjadi dalam beberapa rezim tersebut tentu saja tidak menyenangkan bagi banyak seniman. Ditunggangi oleh penguasa totaliter, seni mengalami pemiskinan karena proposisi penguasa harus tampak terang benderang. Tema yang dapat dipilih sangat terbatas. Seni yang dibawa oleh Hitler adalah seni narsistik dan penjilat. Seni yang dibawa oleh Stalin menjadi seni pemimpi yang seragam dan membosankan. Dalam konteks penyalahgunaan ini, seruan para seniman romantik memang beralasan. Kita harus memperlakukan seni sesuai dengan hakikatnya yang paling mendasar. Ironisnya, ketika seni hanya menjadi sebuah instrumen, seni kehilangan jiwanya, semangatnya, dan karena itu, kekuatan utamanya.Jika demikian, masih dapatkah kita berbicara tentang peran seni di dalam peperangan budaya. Konspirasi juga banyak dibentuk dengan metode pseudo – sains, yang tentunya harus dipertanyakan kembali kebenaran dan keabsahannya. Seperti tulisan ini yang harus dikaji dan dipertanyakan kembali.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *