LOADING

Type to search

Insya Allah, AI Sadar Gender

COLUMN FEATURED

Insya Allah, AI Sadar Gender

INCOTIVE 03/05/2018
Share

Teks: Siti Adela & Rizqia pramadhani
Ilustrasi: Mutiara Fakhrani

Masa depan selalu menjadi topik yang asyik untuk diprediksikan karena hakikat manusia yang, katanya sih, selalu ingin mencari tahu untuk memuaskan keingintahuannya. Tahun ini tahun 2018 – tiga tahun setelah Marty McFly meluncur ke masa depan dengan mobil DeLorian dari tahun 1985 di film “Back To The Future”. Entah apa ekspektasi Marty akan tahun 2015, lain lagi dengan perwujudan tahun 2015 yang kemudian diperlihatkan di film “Back To The Future II”, ternyata kenyataan tahun 2015 jauh sekali dari apa yang dilihat Marty dalam film-film ikonik tersebut. Prediksi ‘meleset’ tentang tahun 2015 di film “Back To The Future” sebenarnya tidak terlalu meleset-meleset amat.

Tetapi di balik kemelesetan yang kasat mata, selain sepatu yang bisa dipasang otomatis dan segala macam teknologi canggih (Halo? Bisa bicara dengan SPBU tenaga robot?), ada satu kemelesetan yang tidak disadari bahkan oleh para geek yang nonton franchise “Back To The Future” setiap tanggal 21 Oktober layaknya hari raya Idul Fitri — konstruksi gender.

Salah satu topik yang ramai dibicarakan di tahun 2018 ini dan kerap menjadi perdebatan sana-sini adalah konstruksi gender yang makin kesini makin ‘nyeleneh’ dari yang sudah dipahami selama ini. Jika berbicara tentang gender tahun ini, terlihat perbedaan pendapat yang signifikan tentang interpretasi konsep gender itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa gender itu hanya ada dua: laki-laki dan perempuan, ada juga yang berpendapat bahwa gender itu ada banyak. Banyak? Memangnya ada berapa?

Menurut sign in page Facebook sih ada lima puluh satu gender. Selain itu juga ada yang ingin menghilangkan ‘konsep gender’. Tidak percaya? Silahkan lihat sendiri di Youtube, i-D Magazine dan Vice sudah membuat video-video yang cukup menjelaskan pendapat ini. Bayangkan jika orang-orang dari tiga kubu pendapat ini disatukan dalam satu ruangan dan disuruh berdebat tentang konsep gender. Seru sih kayaknya.

Namun dibalik riuhnya polemik itu, sebenarnya gender bisa didefinisikan sebagai konsep yang dikonstruksikan secara sosiokultural tentang pembeda antara laki-laki dan perempuan. Hal ini jelas berbeda dengan jenis kelamin atau assigned sex yang merujuk pada pembeda menurut karakteristik biologis (ituloh, yang di selangkangan, hehe). Konsep gender diatas akhir-akhir ini mulai bergeser pemaknaannya dari pembeda antara laki-laki dan perempuan secara mutlak menjadi spektrum yang fluid, dimana siapapun bisa mengidentifikasikan dirinya sebagai apapun. Tidak usah melulu yang saklek feminim atau maskulin, bisa saja ditengah-tengah atau bahkan tidak keduanya. Pergeseran pemaknaan tersebut memunculkan terminologi fluiditas gender – bahwa siapapun bisa menjadi apapun; baik laki-laki, perempuan, transgender, genderless atau agender, genderfluid, nonbinary, dan masih banyak lagi.

Kedua penulis percaya bahwa pada dasarnya fluiditas gender merupakan konsep yang valid jika ditinjau dari perspektif sosiokultural dan recognized secara saintifik. Legitimasi fluiditas gender ditinjau dengan perspektif kultural dapat dijabarkan sebagai berikut.

Historisnya, wacana fluiditas gender terbentuk dari gagasan politik identitas dalam pergerakan feminisme. Eits, jangan alergi dulu sama terminologi feminisme, sumpah demi Allah inimah gaakan bahas kesetaraan, keureut ceuli aing mun aing ngawaduk (translation: potong kuping gue kalau gue bohong). Bahas dikit deng, hehe. Tujuan utama terbentuknya wacana fluiditas gender dalam pergerakan feminisme adalah untuk mendapatkan representasi menyeluruh dari semua kategori yang berjuang (cie) untuk kesetaraan dan wacana bahwa semua orang — semua gender, ras, etnis, kelas sosial, dll. — berhak untuk diperlakukan dengan setara.

Mungkin banyak orang yang skeptis terhadap bagaimana sains memandang gender fluidity, tetapi tunggu dulu. Setidaknya ada beberapa hasil penemuan menarik terkait dengan keterkaitan gender yang serba fluid dengan sisi anatomi manusia. Salah satunya adalah para ilmuwan tidak menampik keadaan genome (DNA) manusia yang sangat bervariasi antara satu dan yang lainnya. Komponen pembentuk sifat dan identitas tentunya akan diturunkan dari sel yang paling maha penting ini, sehingga bukan tidak mungkin ada kesempatan untuk menjelaskan faktor gender fluidity.

Dari sisi antropologis, fluiditas gender ditinjau sebagai perluasan dari konsep gender yang mutlak maskulin dan feminim sebagai bukti bahwa pemahaman manusia akan suatu konsep bersifat dinamis. Manusia aja dinamis, gimana dengan kebudayaannya? Dinamika pemahaman kolektif manusia merupakan salah satu unsur yang menggerakkan dinamika kebudayaan, karena pemahaman kolektif manusia adalah bagian dari struktur kebudayaan.

Yuk kita jadi Mama Lauren, atau Jayabaya, atau Nostradamus — terserah kalian ingin jadi peramal siapa. Apakah nanti di tahun 2100 konsep fluiditas gender ini bisa diterima oleh masyarakat luas? Sangat mungkin. Pergeseran konsepsi gender sebagai hasil dari perubahan pemahaman fungsi kognitif kolektif manusia sangatlah berpengaruh pada dinamika kebudayaan. Balik lagi ke ke analogi Marty McFly – Marty mungkin memahami gender pada tahun 1985 sebagai hal yang semutlak hitam dan putih: laki-laki dan perempuan atau maskulin dan feminim. Tetapi andai saja Marty benar-benar memperhatikan sekelilingnya ketika dia berkeliling di tahun 2015, tentu dia akan bertemu (atau setidaknya, melihat akun Instagram) orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai transgender, genderless, nonbinary, dan lain-lainnya. Jarak tiga puluh tahun antara 1985 dan 2015 saja bisa ‘memisahkan’ dua konstruksi gender yang berbeda, apalagi antara 2018 dan 2100 yang dipisahkan jarak 82 tahun? Tetapi tunggu dulu, ada kabar menarik nih buat kaleyan semua~

Tanpa harus time travel ke tahun 2100, konstruksi gender sudah diimplementasikan pada artificial intelligence (AI) lho! Pada tahun 2015, Hanson Robotics asal Hong Kong memproduksi social humanoid robot yang dinamakan Sophia. Dengan teknologi artificial intelligence, Sophia memiliki ‘kelakuan’ yang human-like dan memiliki assigned gender perempuan berdasarkan fitur-fiturnya yang dimodelkan berdasarkan Audrey Hepburn. Sophia juga adalah robot pertama yang secara legal tercatat sebagai penduduk dalam suatu negara, dengan status kewarganegaraan sebagai warga negara Saudi Arabia.

(in frame: Sofia jadi cover girl Cosmopolitan India, yuhu~)

Belum sampai disitu, Lil Miquela lahir ke dunia untuk menyapa netizen. Ia adalah model dan musisi asal California yang sempat menghebohkan Instagram. Viral, kalau kata Line Today mah. Lil Miquela rupanya adalah seorang AI computer generated dengan assigned gender perempuan. Kolom komentar foto-foto Lil Miquela dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan netizen kepo tentang dia itu sebenarnya apa, manusia atau robot atau apa? Sehingga tercetus pertanyaan baru dalam memprediksi masa depan: apakah fluiditas gender yang dikenal manusia sekarang nantinya akan terimplementasikan juga pada artificial intelligence?

(in frame: Lil Miquela yang sangat dielu-elukan kepalsuannya)

Bukan tidak mungkin akan ditemukan program yang menimbulkan ‘kesadaran lebih’ pada AI sehingga AI bisa menentukan gendernya sendiri. Wah ngomongin kesadaran, Kierkegaard sama Sartre pasti keringetan dingin di alam baka, takut nanti AI ikutan existential crisis kaya manusia. Mungkin saja? Mungkin, pada tahun 2100, dengan manusia yang sudah ‘terbiasa’ dengan genderless society, AI akan diberikan ‘kebebasan’ tersendiri melalui pemrogramannya untuk menentukan gendernya sendiri sebagaimana manusia. Mungkin? Sangat mungkin. Apakah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan juga? Tentu saja.

Kita mengetahui bahwa AI menggunakan algoritma dasar berupa sistem biner dengan pilihan dasar hanya berupa 0 atau 1. Pemrograman tersebut memungkinkan struktur yang hitam putih dan bukan abu-abu. Meskipun begitu, AI sendiri diprogram untuk menjalankan teknologi dalam komputer dan mesin secara pintar sesuai dengan kemauan creator-nya sendiri.

Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam penciptaan AI adalah meningkatkan intelegensia sosial (tingkat emosi manusia), sesuatu yang sebenarnya agak mustahil untuk terjadi karena common sense AI saja kurang. Jadi bila kita menambahkan pemrograman fluiditas gender dalam AI, algoritma yang menjalankan human-like features pada AI tersebut akan kacau karena algoritme biner tidak mengenal area abu-abu atau fluiditas. Tidak seperti manusia yang bisa menjadi ‘in between’, pemrograman komputer bersifat biner dan berbasis kepastian – baik 0 atau 1, tidak bisa setengah-setengah.

Hal yang patut dicatat dari ceramah kali ini adalah, dinamika manusia dan kebudayaannya memang susah diprediksi, apalagi kalau sudah memasukkan variabel artificial intelligence. Sebagai hasil kreasi manusia, prediktabilitas pemrograman AI bisa saja berbanding lurus dengan berkembangnya pemikiran manusia. Tetapi manusia ya manusia dengan segala ketidakpastiannya, dari hal sesederhana mau pesen Indomie goreng atau rebus sampai hal sekompleks identitas gendernya sendiri. Setidaknya dengan fenomena awal Sophia dan Lil Miquela, bisa diprediksi di tahun 2100 insya Allah artificial intelligence bakalan sadar gender, terlepas dari fluid atau tidaknya. Itu juga kalau belum keburu meninggal. Mungkin saja kita akan bertemu Marty McFly dan sidekick-nya yang berupa robot genderfluid, dengan pekerjaan utama sebagai aktivis pergerakan feminis gelombang ke-18. Who knows?

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *