LOADING

Type to search

Pergulatan Kolibri Rekords sebagai Label Independen Generasi Millennials

INTERVIEW

Pergulatan Kolibri Rekords sebagai Label Independen Generasi Millennials

INCOTIVE 03/02/2017
Share

Bekerja sama dengan Norrm dan Toko Misteri, label independen muda asal Jakarta, Kolibri Rekords menggelar showcase yang membuka tahun 2017. Di sela-sela kesibukan mereka, Incotive berbincang bersama Daffa Andika dan Ratta Bill mengenai filosofi mereka, pergulatan di dunia label, tekanan yang mereka hadapi sampai pencapaian dan rencana Kolibri Rekords kedepannya.

lrm_export_20170130_120225

Penampilan bedchamber di Toko Misteri

Incotive: Boleh ceritakan sedikit sejarah terbentuknya Kolibri Rekords dan filosofi di balik nama dan logonya?

Daffa   : Jadi gue dan Ratta membentuk Kolibri sekitar tahun 2013 akhir. Awalnya adalah saat itu Ratta baru ingin membuat band yang akhirnya sekarang menjadi bedchamber, dan saat itu gue ingin buat sesuatu yang baru karena bosan dengan banyak hal. Lalu gue pikir bikin record label seru nih dan Ratta punya band yang mau di rilis, akhirnya kenapa ngga sekalian kita bikin label sendiri untuk merilis bedchamber. Dan akhirnya kita pilih untuk membuat record label sendiri, namanya jadi Kolibri. Kenapa namanya Kolibri sebenernya random aja sih karena awalnya mau nama-nama binatang, terus Abi Chalabi gitarisnya bedchamber mengajukan nama Kolibri dan menurut kita nama Kolibri Rekords itu sangat bagus karena pertama dari segi didengarnya pun Kolibri terdengar enak, otentik, dan bagus. Dan untuk maknanya sendiri, Kolibri adalah burung kecil tetapi punya banyak kelebihan yang ngga dipunya burung-burung lainnya, dan meskipun cuma sebesar ibu jari tapi ia punya kepak sayap paling cepat. Jadi kita berharap meskipun kita kecil bukan berarti kita tidak bisa melakukan banyak hal dan memberikan suatu hal yang ada faedahnya untuk orang banyak.

Ratta   : Kalau logo sebenarnya kita sempat ganti sekali, yang pertama versi Abi itu handwritten lalu kita ganti ke logo burung yang lebih visual, logo itu dibuat oleh temen gue Faizal Rahadi Wibowo atau Fraw, dia yang sketch lalu gue yang digitalin. Dan kenapa kita semua sepakat memilih itu sebenernya simpel sih, dari awal banget Kolibri terbentuk ingin mencari sesuatu yang funfriendly, dan simpel. Jadi mungkin terlihat juga dari gimana Kolibri sekarang bagaimana kita selalu terpaku kepada keyword fun and friendly. Dan yang ingin kita tampilkan dari logonya. Logonya simpel, itu burung kolibri aja tapi bagaimana kita bisa mengilustrasikannya dengan gaya yang fun, friendly, simple dan applicable ke rilisan manapun. Jadi kita nggak mengkotakkan burung yang hanya bisa ke rilisan tertentu tapi applicable ke semua rilisan manapun even semua macam genre tapi kayaknya yang serem-serem nggak sih tapi who knows hahaha.

Hambatan dalam membuat label sendiri?

Daffa   : Biaya dana dan ngurus diri sendiri capek.

Lebih susah ngurus diri sendiri daripada ngurus label sebenernya. Jadi karena ngurus label tuh sebenernya deal with yourself, lo harus mendisiplinkan diri, lo harus membuat diri lo berpikir lebih keras, lebih kreatif, lebih banyak memikirkan cara-cara yang paling efektif dan paling efisien. Menurut gue salah satu tantangan membuat label sendiri adalah gimana caranya disiplin terhadap diri lo sendiri dan take care untuk band-band lo.

Apa ada cara promosi atau distribusi tersendiri yang dilakukan oleh Kolibri untuk lebih dikenal orang banyak?

Ratta   : Karena basically kita self funding, akhirnya kita melakukan cara-cara yang lebih efektif, sekarang banyak sekali cara apalagi di era internet sekarang kita bisa promosi digital jadi kalau kita bisa merilis secara fisik kita akan rilis fisik tapi kalau ngga bisa ya kita merilis lewat digital. Jadi, biar bagimana pun harus tetap konsisten.

Daffa   : Kalau untuk fisik sendiri, distribusi secara fisik kita ngga punya strategi tertentu sih. Kita mengandalkan jaringan yang kita punya, kenalan-kenalan di tiap kota. Dari situ kita bisa titipin ke mereka yang punya toko-toko. Tapi kalau untuk distribusi secara general, kita lebih banyak digital sih sebenernya, memang kita sangat memaksimalkan bermain di internet dan kita bisa posting macam-macam di internet dan dengan konten yang kita bikin juga sebenernya itu bagian dari distirbusi dan promosi juga. Jadi misalnya rilis musik digital di spotify atau dimana, itu sebenernya kan masuk ke dalam distribusi. Hanya bagaimana kita pada akhirnya menjadikan momen di spotify itu sebagai distirbusi, promosi, dan branding juga. Jadi ibaratnya dalam satu batu kita bisa melempar tiga nyamuk.

Ratta   : Pokoknya mencari impact sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya.

Formula musik atau kriteria seperti apa yang kalian hindari dalam perekrutan calon-calon band yang nantinya akan masuk Kolibri?

Daffa   : Yang dihindari. Yang klise pokoknya.

Ratta   : Yang klise, yang mereka pikir mereka bikin sesuatu yang kita pingin. Dont give us what you think we want.

Bagaimana cara kalian menscouting band-band Kolibri? terutama untuk Kaveh Kanes, Grrrl Gang dan Seahorse yang notabennya berasal dari Jogja?

Daffa   : Kalau pertemuan dengan Kaveh Kanes gue dikenalin oleh Deva, drummer-nya Polka Wars. Jadi waktu itu Deva ngenalin gue ke Asad vokalisnya Kaveh Kanes karena kebetulan saat itu ternyata Kaveh Kanes baru selesai rekaman untuk album dan mereka lagi mencari label untuk merilis album mereka. Dan gue sebetulnya sebelum ada bedchamber dan Kolibri pun, gue sudah tau Kaveh Kanes dan sudah dengerin mereka. Gue memang suka mereka dan pada saat gue membentuk Kolibri pun gue bilang ke Ratta kalau “Salah satu blueprint band untuk Kolibri mungkin Kaveh Kanes bisa jadi patokan”. Makanya saat kenal dengan Asad gue seneng banget, dan kebetulan juga kita lagi butuh band untuk rilisan berikutnya. jadi ya kenapa ngga dan setelah kita denger materinya pun oke banget dan kita semua suka. Yasudah akhirnya kita merilis Kaveh Kanes.

Kalau Grrrl Gang kita ketemu saat kita main ke Jogja, menurut kita Grrrl Gang musiknya menarik. Sebenernya bukan musik yang baru tapi untuk di scene lokal terdengar segar dan belum ada atau masih jarang yang main kayak Grrrl Gang, dengan genre indie rock-indie pop-garage pop, ada surfnya sedikit dan masih masuk juga sama Kolibri.

Seahorse kita kenal saat kita di Jogja, sebetulnya kita juga sudah denger sih di SoundCloud dan saat kita nonton langsung ternyata oke banget dan livenya juga seru. Kita semangat dan menurut kita Seahorse oke nih dan saat mereka mengirim materinya memang ternyata oke banget dan mereka musiknya masih indie pop-dream pop hanya saja mereka ada gabungan juga dari shoegaze, noise, dan indie rock. Mereka salah satu Roster Kolibri yang paling gahar, meski mereka terlihat manis mereka juga menyimpan kegaharan yang mencekam.

Sekarang pergerakan Kolibri terlihat sangat signifikan, takut tidak dengan ekspetasi orang-orang yang semakin besar?

Daffa   : Ya ada sih, pasti ada hanya kita tetap berusaha sebagaimana yang kita ingin dan tetep do it in our way jadi maksudnya gue harap orang yang menyesuaikan ekspetasi mereka dengan apa yang kita bikin, dengan kita tetep keep doing things dengan konsisten akhirnya orang jadi berusaha menangkap sendiri sebenernya Kolibri tuh seperti apa sih? yang dikeluarkan Kolibri tuh seperti apa? Bukan hanya secara musik tapi keseluruhan. Mungkin sejauh ini memang terlihat dan terdengar kalau band Kolibri cenderung indie pop yang ceria yang sangat sangat gitar banget dan dream pop. Tapi kalau ada yang bisa melihat sebenernya kita lebih dari itu, it’s not about pop music, it’s not about indie pop. Mungkin ke depannya kita ingin tidak hanya indie pop tetapi kita masih ingin mencari indie rock, post punk, garage rock, shoegaze, punk, rock, post-hardcore hahaha. Ya bisa aja sih pokoknya kalau menurut kita bagus dan kita suka. Intinya ada faktor-faktor x yang memang hanya gue dan Ratta aja yang ngerti, kayak kita sudah punya chemistry yang sangat kuat jadi kalau kita denger sebuah band, kita ngga perlu ngomong hanya sekedar lihat-lihatan dan “oke band ini bisa”, ada juga band walau bagus terus kita lihat-lihatan tapi kalau ngga ada faktor x tersebut ya kita no.

Ratta   : Pokoknya merekrut Roster Kolibri lebih dalam dari sekedar musiknya aja sih tapi ada sesuatu yang lebih valuable sebenernya yang lebih dari itu buat kita, hanya kita juga bingung sih jelasinnya gimana, tapi ekspetasi orang juga penting supaya kita bisa untuk keep up terus sampai akhirnya kita bisa bikin acara yang lebih gede lagi, lebih serius lagi. Dan sebentar lagi hopefully tahun ini sih, band-bandnya udah masuk ke fase baru yaitu second release, ya dari situ diuji lagi bukan hanya buat label tapi buat band-bandnya juga gimana mereka deal dengan ekspetasi tersebut.

Dengan musik-musik yang Kolibri berikan, banyak orang di luar sana yang menyamakan Kolibri dengan Captured Tracks, bagaimana menurut kalian?

Daffa   : Kalau ada yang nyamain kita dengan Captured Tracks berarti dia kurang tau Captured Tracks karena gimana ya gue bukannya sebel sih tapi gue yang kayak “apasih Captured Tracks”, karena bukan berarti gue ngga mau disamain dan bukan ngga suka sama Captured Tracks. Justru gue suka Captured Tracks, dan gue sangat ingin mungkin dalam bentuk bisnis lebih detailnya, atau image, atau posisi Captured Tracks seperti apa? gimana dia menjalankan labelnya? ya gue ingin seperti Captured Tracks, hanya orang yang bilang Kolibri adalah Captured Tracks pasti tendensinya adalah untuk mengatakan bahwa bechamber atau Gizpel let’s say sama kayak Diiv, Beach Fossils, Wild Nothing padahal Captured Tracks tuh ngga segitu.

Ratta   : Mereka punya katalog yang lebih rimba daripada itu.

Daffa   : Captured Tracks tuh more than just that man, Captured Tracks tuh sangat diverse dan kita belum sampai sana, saat ini belum sampai sana jadi kalau orang bilang kita sama kayak Captured Tracks lo salah, belum, nanti ada waktunya saat Kolibri sudah semakin berkembang dan semakin advance di kerja masing-masing dalam menjalankan record label ini dan mungkin nanti ada satu fase dimana gue berharap dan gue yakin “kita bisa jadi Captured Tracks”. Nanti amin kalau sekarang sih belom karena Captured Tracks tuh sangat-sangat bagus dan hebat dan kalau kalian mengatakan Captured Tracks adalah Wild Nothing, Beach Fossils, dan Diiv kalian salah besar.

Ratta   : But just we take that as a compliment, thank you.

Untuk proses pembuatan lagu dari setiap bandnya apa kalian ikut turun tangan atau sekedar memberi masukan?

Ratta   : Gue campur tangan 100% pada bedchamber, ngga deng hahaha. Ya itu benar tapi setiap band ada yang kita treat beda-beda sih. Ada band yang kita ikut rekaman bareng bahkan rilisan awal-awal kita yang rekamin sendiri. Jadi ya pasti kita ikut terlibat dalam proses rekaman dan proses produksinya kan. Hanya makin kesini kerjanya juga dengan band-band yang out of range lagi dan ngga sekedar teman-teman dekat aja, jadi kita harus berhadapan dengan situasi yang baru dan itu membutuhkan treatment yang berbeda untuk setiap bandnya karena ngga semua band mau diatur dan kita juga ngga mau ngatur semua band juga sih. Jadi kayak ada beberapa band yang mereka sudah jadi materinya, paling kita hanya ngasih masukkan soal mixing, mastering, dan lain-lain gitu sih kurang lebih.

Punya achievement target apa kedepannya?

Ratta   : Kalau dari gue sih apa ya, ya yang pasti kita ingin lebih dari ini. Terutama untuk band-band yang sudah kita rekrut sendiri kan mereka rata-rata baru mengeluarkan first release mereka dan kita sebenernya ngga bisa menjudge sebuah band dari first release aja, oke mereka sudah bikin sebuah rilisan yang bukan sekedar single tapi album atau mini album, tetapi kita dari situ harus ngeliat konsistensinya dan gimana mereka progress dan ternyata ngga semudah itu untuk melanjutkan musik yang sudah kita buat ke suatu titik yang baru. Itu gue band internal aja sih, mungkin gue curhat atas band sendiri hahaha.

Daffa   : Ya mungkin ke depannya Kolibri ingin tetap progresif, walaupun pelan-pelan dan progresnya ngga besar-besar banget tapi gue inginnya konsisten dan konstan, maksudnya progresnya ada terus walaupun kecil-kecil. Dan tetap konsisten ngelakuin banyak hal perbulan mungkin? maskudnya kayak setiap bulan kita bisa buat rilisan atau acara atau video klip. Kita juga ingin tetap punya karya yang banyak dan suatu saat nanti, kita bisa bikin festival mungkin? festival kecil gitu atau ya gue pengen sih band Kolibri ada yang diundang di festival luar.

Ratta   : kayak Rich Chigga gitu..

Daffa   : kayak Rich Chigga!

Terakhir, ada tidak bidang yang membuat kalian tertarik tapi belum sempat untuk melakukannya?

Daffa   : Kalau dari Kolibri selain merilis musik, acara, atau memproduksi video klip. Gue ingin Kolibri kedepannya mungkin bisa juga turun ke radio online let’s say kayak podcast atau magazine yang terbit 6 bulan sekali jadi bisa dijual dengan harga yang sesuai bukan zine yang gratis atau fotokopian, tapi memang benar-benar berkualitas bagus dari segi konten dan lain-lain. Gue membayangkan kolibri bisa jadi seperti itu sih, karena banyak anak Kolibri seperti Ratta atau Smita yang graphic designer jadi memungkinkan juga kolibri nanti jadi sebuah desain studio. Jadi gue membayangkan ide membuat majalah ini bisa jadi karya dari si studio ini, karena misalnya untuk produksi album desainnya bisa dari temen-temen Kolibri. Bisa jadi medium untuk mereka kerja juga.

Ratta   : Gue ingin Kolibri eligible untuk bikin pameran, soalnya tadi udah diomongin sama Daffa hahaha. Itu bagian gue soal studio desain. Shit.

Interview oleh: Raufina Zahra dan Ridho Rakhmatullah.

Foto oleh: Ibrahim Irsyad.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *