LOADING

Type to search

K-Pop Membosankan: Industri K-pop Menggali Kuburannya Sendiri

COLUMN FEATURED

K-Pop Membosankan: Industri K-pop Menggali Kuburannya Sendiri

INCOTIVE 23/05/2019
Share

Teks oleh Andi Basro
Ilustrasi oleh Rafii Mulya

“Gua kehilangan temen-temen wibu gua gara-gara K-pop!” seru teman saya saat kami masih mahasiswa baru. Tiga tahun kemudian saya sedang berhenti mengikuti apa yang terjadi di dunia K-pop. Di lain sisi, teman saya jam 10 malam tiba-tiba ngeline saya mengirim foto Ji-Hyo, Twice dan berkata “Fuck K-pop anjing! Gak bisa berhenti gua” layaknya seorang pecandu narkoba. Karena kejadian itu, saya mulai kembali mengulik-ngulik dunia  K-pop dengan generasi yang baru. Walau lagu-lagunya banyak yang catchy, bagi saya yang sudah mengikuti K-pop sejak lama, sekedar catchy tidak cukup untuk membuat saya invest ketertarikan saya terhadap K-pop. Saya teringat kembali kebosanan yang saya rasakan pada saat SMA, yang menjadi alasan utama mengapa saya berhenti mendengarkan K-pop. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa akhir-akhir ini K-pop sedang mengalami popularitas yang belum pernah didapatkan sebelumnya.

Sewaktu saya sedang menjelajahi pop culture Anime, saya menemukan genre yang bernama Isekai. Isekai saat ini genre Anime yang sangat populer. Namun saya bertanya-tanya apakah popularitas Anime isekai akan berkelanjutan dengan plot-nya yang sudah pasti seorang protagonis yang terlempar ke dalam dunia alternatif? Oleh karena itu saya berpikiran bahwa sustainability K-pop juga harus kita pertanyakan. Apakah K-pop sebagai genre musik sustainable? Atau cuman tren lewat saja? Sebagai Kpopers garis keras dari tahun 2012, saya merasa bertanggungjawab untuk mengkritisi K-pop agar bisa lebih baik! Harus ditekankan bahwa dalam tulisan ini konsumen musik akan bosan dengan musik yang disajikan oleh artis-artis K-pop. Beda cerita kalau kita menambahkan faktor fashion, variety show, member grup yang menghibur dan lain-lain.

Hallyu

K-pop bukan suatu genre yang baru. K-pop sudah ada sejak tahun 90an namun sekarang naik daun dengan kontribusi dari perkembangan teknologi dan internet. Perkembangan ini memberi akses yang sangat instan kepada orang-orang di luar Korea Selatan terhadap K-pop. K-pop adalah bagian dari sesuatu yang disebut Hallyu (Korean Wave). Hallyu adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea Selatan secara global di berbagai negara sejak tahun 1990-an. Hallyu meliputi kesadaran global akan berbagai aspek kebudayaan Korea Selatan termasuk film dan televisi (khususnya “K-dramas”), K-pop, Manhwa (Komik) , Bahasa Korea, dan masakan Korea. Beberapa komentator juga mempertimbangkan kebudayaan tradisional Korea secara keseluruhan menjadi bagian dari Hallyu.

Saat ini K-pop mendapatkan perhatian yang belum pernah didapatkan sebelumnya. Kita bisa lihat grup-grup seperti  BTS (Bangtan Sonyeondan), TWICE, dan Black Pink. Black Pink berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan juga Asia Tenggara, lagu mereka “ddu du ddu du” berhasil mencapai peringkat pertama di Billboard Charts. Black Pink juga mulai diundang tampil di festival musik Amerika seperti Coachella. Begitu juga dengan BTS, BTS mulai mendominasi pasar Amerika Serikat dengan mempromosikan slogan mereka yaitu Love Yourself  yang menjadi salah satu judul album mereka. Album “Love Yourself” menjadi K-pop nomor 1 menurut Billboard. Lagu mereka “Tear” dan “Answer” berhasil mencapai peringkat satu dalam Billboard Charts secara keseluruhan. Saking berpengaruhnya BTS, mereka memberikan pidato di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dan menjadi cover majalah Times dengan judul “Next Generation Leaders”. TWICE mendapatkan sorotan yang sangat spesial di Jepang. Twice menjadi satu-satunya girl group yang pernah melakukan tur dome Jepang.

Kebangkitan K-pop bukan suatu kebetulan. Di tahun 90an Asia mengalami krisis finansial yang cukup parah, dari situ pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk memperbaiki image dan mulai membangun pengaruh kebudayaan mereka. Lalu pemerintah Korea Selatan investasi jutaan dollar untuk membangun Kementerian Kebudayaan dengan departemen khusus untuk K-pop. Pemerintah Korea melindungi industri K-pop seperti bagaimana Amerika Serikat melindungi industri otomotif dan perbankan mereka. Investasi yang dilakukan ini termasuk membangun auditorium untuk konser, mengembangkan teknologi hologram, dan bahkan bantu mengatur noeraebang (karaoke). Jadi saya tidak heran saat majalah Times menyatakan K-pop sebagai “South Korea’s greatest export” dalam artikel nya.

Fandom yang dimiliki setiap idol grup memberikan kontribusi besar sebagai Public Relation (PR) yang dermawan. Fans selalu memiliki keinginan untuk membuat image artis favorit mereka baik. Jadi dengan keinginan tersebut, jika fans berhasil meningkatkan popularitas idol mereka maka PR yang dilakukan oleh mereka menciptakan situasi win-win bagi artis dan penggemarnya. Untuk melihat contoh PR yang dilakukan oleh fans, seksi komen grup idol dipenuhi dengan komen-komen sepertiARMY Str34m pls pls 37M Don’t stop Str34ming! 300M in a month Fighting” atau “40M✔️ we did it luvies!!!! now our goal is 🔜50 MILION WE CAN DO IT FOR OUR GIRLS RIGHT?”. Ya harus diapresiasi usaha mereka berkali-kali meng-klik musik video idol kesukaan mereka agar views nya menembus rekor.

Komodifikasi Idol

K-pop sangat relevan dengan konsep culture industry nya Theodor Adorno, dimana musik sebagai produk budaya akan selalu menjadi objek komodifikasi yang secara langsung bisa merubah esensi dari budaya tersebut. Kpop adalah suatu bentuk produk budaya populer yang semakin lama menuju fase produksi massal. Karena menjadi objek dari produksi massal, otomatis posisi artis sudah bukan subjek lagi melainkan objek dan hal tersebut mungkin  alasan mengapa K-pop bisa menjadi membosankan. K-pop dan hallyu secara luas adalah alat untuk merepresentasikan identitas kebudayaan Korea Selatan, bahkan K-pop sudah tidak bisa dilihat sebagai simbol identitas tetapi sudah melewati perbatasan kultur yang pada akhirnya meluluhkan pemaknaan terhadap K-pop itu sendiri. Intinya K-pop menjadi instrumen untuk profit ekonomi dan memperkuat daya kompetitif Korea di dunia internasional.

Dalam industri yang menjadi komoditas tidak hanya idol group secara keseluruhan, namun hingga individu pun dapat terkomodifikasi dan lain sebagainya. Dari komoditas tersebut ruang untuk eksploitasi menjadi terbuka. Eksploitasi dalam industri K-pop sudah menjadi rahasia umum dan semakin lama semakin terekspos seluk beluk industri k-pop. Kasus yang paling baru adalah skandal SOPA (Seoul Performance Art High School). SOPA adalah sekolah kesenian yang menghasilkan idol-idol seperti Kai dari EXO, Suzy mantan anggota Miss A, Sulli mantan anggota F(x), Jungkook BTS dan masih banyak lagi. SOPA dituduh melakukan eksploitasi seksual kepada murid-muridnya, manajemen yang korup dan mendegradasi murid-muridnya. Kepala sekolahnya diduga memaksa murid tampil seksi di pesta  privatnya . Murid juga dipaksa untuk melakukan kontak fisik dengan individu di pesta tersebut termasuk serdadu yang sedang wajib militer. Para murid mengekspresikan keresahan mereka melalui video musikal menjelaskan ketidakadilan yang mereka alami.

K-pop Membosankan!

Konsep dari sebuah lagu K-pop terbagi menjadi aegyo (unyu), sangar, atau seksi. Label tidak memiliki keberanian untuk bereksperimen, terutama dalam musikalitas akibat resiko tidak laku. Label juga tidak memberikan kebebasan kreatif kepada artis-artis nya, sehingga mereka tidak ada ruang untuk berekspresi dan berinovasi. Kebebasan dibatasi akibat pengaruh label yang berorientasi pada profit, dari objektif tersebut tidak berbeda jauh dengan pop mainstream barat.

Jika orientasi label adalah profit tidak ada keharusan untuk mereka menjadi game changer dalam dunia musik. Label hanya mengikuti arus tren musik terkini yang sedang on demand dalam pasar. K-pop tidak memiliki suara yang khas, yang membuat suara mereka berbeda dengan musik-musik lain. Ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu K-pop, mereka selalu berkata “Wah ni lagu hip hop banget” atau “Lagu yang ini R&B banget ya”. Namun kita tidak pernah mendengar seseorang mengatakan “Wah ini sound nya band ini Korea banget sih”.

Kalau dibandingkan dengan musik Jepang, Jepang memiliki sound yang sangat khas diciptakan oleh musik mereka dan sound tersebut mempengaruhi musisi-musisi di luar Jepang. Contohnya lagu Pijar “Wajah Fana”. Pertama kali saya mendengarkan “Wajah Fana” saya tidak akan kaget apabila lagu itu dijadikan OP suatu anime. Walau K-pop memiliki fanbase di seluruh dunia, dari segi musik saya tidak bisa melihat K-pop memberikan impact yang sama.

Dari segi musikalitas K-pop sangat berkiblat pada tren pop mainstream. Jika suatu hari K-pop melebur dengan musik pop mainstream apakah masih layak disebut K-pop? Seolah-olah K-pop adalah versi watered down nya pop barat. Keuntungan nya lagu-lagunya menjadi mudah dicerna oleh orang awam, namun K-pop menjadi tidak menarik untuk di explore karena bervariasi. Mayoritas dari liriknya tentang percintaan, namun sangat ironis mendengarkan lagu tentang cinta dari orang-orang yang tidak diperbolehkan oleh labelnya untuk pacaran.

Produksi dan penulisan lagu tidak dikerjakan oleh artis membuat lagu-lagunya tidak terasa otentik. Setiap lagu K-pop pasti memiliki dua hal yaitu bahasa Inggris yang tidak ada hubungannya dengan lirik dan selalu ada instrumental break di tengah-nya. Dengan adanya language barrier di saat lagunya itu-itu saja menjadi sulit untuk menarik rasa penasaran orang untuk mengulik arti lagu, menjadi sulit juga untuk grup yang mencoba hal baru mendapatkan sorotan karena sudah diasumsi bahwa lagu mereka sama dengan yang lain. Penampilan live-nya juga hanya mengulang apa yang sudah ditayangkan dalam video klip, tidak ada tambahan elemen baru atau suara yang berbeda, jadi setiap set sama seperti sebelumnya.

Homogenisasi ini membuat lagu-lagu K-pop hanya berhenti sampai tahap catchy. Tidak ada yang mind blowing dari lagu K-pop. Saya selalu mengingat pertama kali saya mendengarkan penampilan live King Krule “Live on the Moon”. Dimana  musik nya adalah suatu melting pot yang terdiri dari suara-suara Jazz, Post Punk, Electronica dan Indie Rock. Dia mengambil apa yang sudah ada dan menciptakan sesuatu yang baru. Hal-hal seperti itu yang harus dilakukan oleh label-label K-pop jika mereka ingin tetap relevan.

Faktor yang jadi kunci mengapa K-pop bisa laku adalah musik videonya. Sangat mudah untuk  ketagihan menyaksikan perempuan cantik atau laki-laki ganteng menari dan bernyanyi sambil memamerkan aegyo mereka di tiga setting yang berbeda. Tapi kita tidak boleh membiarkan itu semua membutakan dan menghentikan kita untuk bersikap kritis. Visual penting bagi grup K-pop karena mereka tidak hanya menjual musikalitas artis nya, namun apakah menjadikan visual senjata utama tidak akan menarik perhatian konsumen dalam jangka waktu yang lama?  Obsesi visual ini sampai memberikan satu anggota idol grup untuk menjadi “main visual”. Peran ini tidak masuk akal karena lahir menjadi orang ganteng atau cantik bukanlah suatu skill atau talenta.

Formula MV dari tahun ke tahun selalu sama, intro dengan cerita yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan lagu, close up setiap member nyanyi atau menampilkan muka aegyo dan muka sangar mereka, dan yang terakhir koreografi dance. Dari ketiga hal tersebut hanya aransmen yang diubah-ubah, hanya berbeda setting, pakaian, dan warna rambut. Konsep MV dari tahun ke tahun terus menerus didaur ulang,  yang membedakan dulu dan sekarang hanya skill editing dan standar production cost.

 

Penggemar yang toxic bisa membuat kita ilfeel kepada K-pop. Penggemar paling ekstrim disebut sebagai sasaeng. Fans seperti itu menjauhi orang-orang awam dari K-pop, bahkan membuat fans yang biasa malas mengikuti grup kesukaan mereka. Banyak dari penggemar idol grup Korea bisa dibilang buta, sangat subjektif, agresif, dan bahkan creepy. Wujud yang paling ekstrim adalah penggemar yang disebut sebagai Sasaeng.

Kasarnya Sasaeng adalah penggemar “stalker” yang tidak menghargai kehidupan privat idol yang mereka gemari. Penggemar yang toxic muncul karena status idol grup K-pop dalam masyarakat diagung-agungkan menimbulkan sifat yang obsesif dari para penggemarnya. Seperti judul album pertama band Indonesia The S.I.G.I.T,  grup idol dianggap sebagai “Visible Idea of Perfection”. Label menyadari keberadaan penggemar-penggemar yang memiliki sifat obsesif oleh karena itu mereka dimanfaatkan untuk keuntungan. Karena fans tersebut menelan mentah-mentah apa yang dikeluarkan oleh label. Mereka  juga menjadi alasan mengapa K-pop produk nya tidak beragam. Sikap mereka yang tidak objektif, tidak ada desakan untuk  menghasilkan karya yang berbeda karena “If it ain’t broke don’t fix it”. Ketika lagu baru keluar mayoritas dari fanbase tidak akan mengkritisi karya yang dikeluarkan oleh label dan itu menghambat progres K-pop sebagai suatu genre.

Jika poin-poin diatas tidak diperbaiki maka industri K-pop akan menghadapi kematian yang tidak bisa dihindari dalam 5 sampai 6 tahun ke depan.

Apa yang bisa dipetik dari genre lain?

K-pop kemungkinan besar akan mengalami nasib yang sama dengan genre yang dibenci oleh kaum elitis dan tastemakers yaitu Nu-Metal. Sejak Korn mengeluarkan self titled album mereka di tahun 1994 sampai 2002, awal Nu-Metal berada di atas dunia. Walau dibenci oleh tastemakers Nu-Metal adalah genre yang sangat menarik, mencampurkan elemen dari berbagai genre seperti Hardcore, Heavy Metal, Alternative Metal, dan Hip-hop.

Selain itu Nu-metal juga relatable dengan kalangan ABG pubertas yang cemas dan belum menemukan jati diri. Tiga band yang mendominasi saat itu yang pertama adalah Korn. Korn adalah band yang paling berpengaruh dalam skena Nu-metal menginspirasi band-band lain dengan keunikan mereka. Mereka berhasil tembus ke peringkat satu acara MTV TRL dengan lagu mereka “Freak on a Leash” mengalahkan NSYNC, Britney Spears, 98 Degrees, dan Backstreet Boys. Kedua Slipknot mengeluarkan album kedua mereka bertajuk “Iowa” yang menjadi salah satu album metal terbaik. Album tersebut berhasil menjadi peringkat dua di Billboard Charts. Gelombang terakhir Nu-metal di wilayah mainstream adalah dua album Limp Bizkit yang bernama “Significant Other” dan “Hot Dog Flavoured Water” dengan total menjual 13 juta album.

Namun di tahun 2003 Nu-metal mulai menurun karena pendengar sudah mulai bosan dengan konsep yang telah disajikan. Emosi dan lirik vokalis Korn Jonathan Davis terasa otentik, musiknya merefleksikan perasaan dia. Namun muncul lah yang disebut manufactured angst dimana band-band Nu-metal hanya copy paste apa yang dilakukan oleh band yang sudah besar, membuat pendengar merasa mereka sudah melihat semua yang bisa ditawarkan oleh Nu-metal dan sudah tidak ada yang mereka bisa tawarkan lagi. Seperti yang diinginkan oleh tastemakers di tahun 2003 Nu-metal mati. Nu-metal yang genre nya mengimplementasikan aspek lain dari genre lain bisa mati dengan jangka waktu hanya 7 tahun. Untuk sekarang masa depan terlihat kelam.

K-pop harus bisa belajar dari apa yang dilakukan para musisi-musisi Hip-hop. Hip-hop adalah suatu genre yang sangat beranekaragam. Hip-hop bisa berkelanjutan sampai sekarang karena  selalu berevolusi, oleh karena itu musiknya tidak menjadi monotone. Ada “Old School” ( Wu tang Clan, N.W.A, Public Enemy, Pete Rock and CL Smooth, MF Doom, Morgue Vanguard x Doyz) , Trap ( Waka Flocka Flame, Migos, Denzel Curry, Keith ape, Travis Scott, $uicide Boy$), Soundcloud rap yang sangat populer sekarang (XXXTentacion, lil Xan, WifisFuneral, Ski Mask the Slump God, Juice WRLD), Hip-hop yang lebih eksperimental ( Death Grips, JPEGMAFIA, Aesop Rock, MF Doom) dan masih banyak lagi. Keberagaman tersebut membuat Hip-hop bisa mempertahankan relevansinya dalam pasar sampai sekarang. Dengan delivery dan flow yang berbeda, beats yang inovatif dan visual yang bisa terkadang sangat aneh. Jika K-pop ingin menjadi game changer maka Hip-hop telah menyediakan blueprint untuk menjadi genre yang sustainable.

Selain menjadi genre yang sustainable, K-pop tidak bisa selamanya terbawa arus pop barat. K-pop belum memiliki sound yang benar-benar menjadi ciri khas mereka. Kita ambil contoh dari J-pop. J-pop memiliki gaya melodi khas yang berakar dari musik bernama Kayoukyoku. Secara teknis Kayoukyoku melodinya meminjam dari musik Perancis dan minor sebagai chord utamanya. Jadi hampir tidak ada unsur R&B-nya sama sekali. Blueprint yang dibuat oleh Kayoukyoku telah menjadi fondasi untuk J-pop sebagai genre.

Seperti K-pop, J-pop memiliki formula cheerful, kawaii dan terkadang aneh atau gila. Namun, yang membuat J-pop menarik adalah mereka tidak takut untuk bereksperimen dan menunjukan kegilaan atau keanehan mereka. Semua sudah tau pionir genre Kawaii Metal yaitu Baby Metal. Mereka tetap sesuai “formula” J-pop yang telah disebutkan, akan tetapi dari situ mereka menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Atau grup bernama Sora Tob Sakana yang menggabungkan Math Rock dengan J-pop modern. Suka atau tidak suka dengan musik mereka, menurut saya eksperimen seperti itu sangat menyegarkan. Inovasi seperti itu memberikan dinamika yang baru untuk suatu genre yang membuatnya worth it untuk dijelajahi lebih dalam.

 

K-pop’s Great Hope

Big Bang dua tahun yang lalu adalah grup yang sangat menjanjikan. Big Bang sangat mirip dengan BTS dimana mereka mendapatkan kebebasan dari label mereka. Big Bang adalah salah satu grup yang secara musikalitas bisa mempertahankan relevansi mereka sampai sekarang. Mereka adalah grup yang bisa membawa K-pop ke level yang lebih tinggi. Sayang nya anggota Big Bang sangat problematik karena skandal yang menodai nama mereka. Dari kasus narkoba, tabrak lari, isu wajib militer, sampai prostitusi.  

Untungnya dunia K-pop memiliki satu grup yang memberikan harapan untuk menyelamatkannya dari kematian. Grup tersebut adalah BTS. BTS adalah grup yang sangat menyegarkan untuk dunia K-pop karena mereka memiliki keaslian yang tidak banyak grup idol miliki. Label mereka adalah Big Hit Entertainment, dimana mereka memberikan kebebasan kreatif, jadi mereka koreo bikin sendiri, menulis lagu sendiri dan terkadang produce sendiri.

BTS juga berhasil merepresentasikan identitas budaya Korea Selatan dengan konsep yang mereka sajikan, baik itu dari lagu atau dance. Lirik menggunakan slang Korea dan berbicara mengenai politik sampai bagaimana kita bisa mencintai diri kita sendiri. Slogan “Love Yourself” mereka juga menjadi faktor signifikan mengapa mereka sekarang bisa sangat populer. Dengan maraknya isu mental illness dan depresi, konten liberal seperti “Love Yourself” menjadi sangat relatable. Dance seringkali menggunakan tarian tradisional Korea Selatan. Bisa dibilang Big Bang juga ada tarian tradisional di MV “Fantastic Baby” tapi itu hanya sebagai background saja dan bukan mereka yang melakukan tarian tersebut.

Sudah terbukti dari BTS, K-pop bisa belajar bahwa otentisitas juga bisa laku, oleh karena itu mereka berbeda dengan grup K-pop lainnya. Skill mereka jika dibandingkan dengan grup lain juga kualitasnya beda jauh. Dance-nya bisa dibilang selevel dengan dance crew profesional, skill bernyanyi bagus dan rap-nya tidak generik. Harapannya label K-pop lain belajar dari kesuksesan BTS jika ingin tetap relevan 5 sampai 10 tahun kedepan.

Saya menulis kritikan seperti ini murni dari rasa kasih sayang saya untuk K-pop. Kita hanya bisa berharap api yang berkobar sekarang akan berkelanjutan. K-pop memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang revolusioner. Bahkan bisa bersaing dengan musik pop barat. Akan tetapi, untuk saat ini masa depan K-pop masih terlihat suram.

Tags:

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *