LOADING

Type to search

Bicara Kebebasan dan Fashion Bandung Bersama Woodensun

FEATURED INTERVIEW

Bicara Kebebasan dan Fashion Bandung Bersama Woodensun

Ferdin Maulana 28/10/2018
Share

Bandung, kota yang “sengaja” dibuat sebagai Leisure City dan Garden City oleh pemerintah Hindia-Belanda. “Parijs Van Java” julukan yang diberikan para pedagang Belanda kepada Bandung, kota yang penuh keindahan dengan taman-taman bunga, hotel, cafe, dan pertoko-an. Kini julukan tersebut lebih dikenal dengan “’Paris’ Van Java” yang menurut Sejarawan, Ridwan Hutagalung, muncul akibat perkembangan mode infrastruktur, seni, dan tentu saja fashion.

Selain dari sudut historis, Bandung nyatanya memiliki banyak industri tekstil. Anda pasti paham betapa antusiasnya ibu-ibu luar kota yang selalu melipir ke Factory Outlet saat mengunjungi Bandung. Berbagai subkultur di Bandung, seperti skateboarding dan musik juga berpengaruh dalam perkembangan fashion, terutama bagi anak-anak muda sehingga melahirkan distro-distro pada tahun 1990-an. Di Bandung, jiwa kolektif juga sangat kental sehingga muncul banyak aktifasi, terutama fashion. Mantan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dalam seminar nasional Bandung Fashion City juga mengamini bahwa Bandung memang Kota Fashion.

Untuk melakukan zoom­-in terhadap pergerakan fashion di Bandung, saya mengunjungi kantor Woodensun, salah satu brand clothing Bandung yang diinisiasi oleh anak-anak muda. Saya mengobrol bersama Arend Alfiyanto, salah satu pendiri Woodensun, mengenai arti kebebasan, situasi Fashion di Bandung, serta Woodensun itu sendiri.

Apasih yang mendorong maneh untuk mendirikan Woodensun? Apakah ada kegelisahan, atau keinginan untuk produktif?

Awal tahun 2014, Urang sama si Kur merasa gabut. Kita waktu itu lagi di bar bareng rada mabok haha, terus kepikiran mau bikin usaha furniture. Kita terinspirasi sama brand luar yang furniture-nya bagus-bagus. Si Kur kebetulan banyak perlengkapan dan kita emang tertarik ke ranah produksi perkayuan. Akhirnya, kita bikin di halaman belakang urang, dulu sih belum ada namanya.

Setelah itu, kita terinspirasi lagi dengan suatu Brand di Inggris yang memproduksi cruiser board. Konsep mereka kena banget ke kita, kita pengen bikin brand untuk belajar agar gimanasi hidup independen, dan ga bergantung sama orang. Kita juga pengen bikin lapangan kerja, dimana banyak orang yang terlibat.

Pas lagi mabok, urang ngomong sama si Kur sambil dengerin lagunya Wooden Shijps, terus kepikiran yaudah namanya Woodensun aja. Dulu urang punya band sama si Kur, dan urang emang kebagian untuk nulis lirik. Saat itu urang lagi suka banget sama astronomi, dan pernah baca buku soal matahari dan edaaan pisaan filosofinya.

Urang sama si Kur akhirnya nyewa workshop di Ujung Berung, kita bikin papan skateboard dan Cruiser. Di Bandung tuh pengen surfing, cuma ya kota gitukan terus ngeliat di Alibaba ada tuh penny board berbahan kayu, Woodensun akhirnya masuk dalam ranah skateboard dan kita banyak juga temen di lingkungan itu.

Saat kita Launching kita mikir kayaknya harus nambah orang, karena susah handle-nya. Dulu belum ada uang, kita ngajak orang-orang ikut Woodensun dengan tujuan mimpi haha. Terus, saat kita bikin video cruising di Bali, temen-temen kita pada ikut. Pulang dari sana akhirnya mereka tertarik untuk gabung, kebetulan ada yang punya agensi fotografi juga. Kita pindah ke Cinunuk karena demand penjualan mulai banyak. Di situ konsep “Easy and Freeliving” muncul, hidup bebas tanpa beban. Sempet ada pergantian tim juga karena ada dua orang yang cabut.

Konsep yang dibawa Woodensun yaitu Free Living Society, maksudnya gimana?

Dulu kita sempet bangkrut tahun 2016. Woodensun gapunya kantor jadi tim ketemu juga jarang, tapi kalo kita ga bangkrut, kita ga akan nemuin konsep-konsep yang sekarang. Dulu konsep Easy and Freeliving masih terburu-buru, akhirnya kita kembangin lagi jadi “Free Living Society”, yang menjadi latar belakang Easy and Freeliving. Konsep ini seperti film The Big Lebawsky, orangnya bebas tanpa masalah, tapi ya bullshit lah hidup tanpa masalah. Kita mau coba tantang dunia dulu sehingga muncul Free Living Society.

Di California itu ada namanya Slave City, tempat orang-orang terbuang, kayak veteran perang, junkies, dan filsuf susah makan. Di Amerika juga ada Rural community, mereka membuat jalan hidup alternatif. Urang ngelihat banyak di Indonesia, seperti suku-suku pedalaman dimana hukum pemerintah itu kurang berlaku, karena mereka punya budaya sendiri. Jalan hidup alternatif itulah yang menjadi Free Living Society.

Di konsep ini kita ngeliat dunia itu berkembang banget, kita pengen memacu pikiran orang untuk mikir udalah ayo pindah ke negara utopis kita aja, bebas. Belajar dari sejarah banyak banget orang yang ingin bebas, temen kita si Tama mikir kalo konsep kita mirip banget sama konspirasi New World Order haha, kita pengen bikin dunia yang kita idamkan.

Ngomongin soal konsep, cerita di balik video campaign yang ada orang-orang bertopeng putih itu gimanasih?

Biar absurd aja haha. Barudak jadi model ditopengin dengan karakter yang sudah dibuat untuk masing-masing. Jadi video itu bercerita tentang para pendahulu Free Living Society yang ingin menemukan lahan atau free living land. Seperti dulu kaum-kaum yang dipersekusi Inggris menemukan Amerika, atau kaum Viking menemukan Iceland tapi kita bawa ke zaman sekarang. Membawa mitos-mitos dunia juga seperti negara Agartha, atau misalkan kerajaan Nyiroro Kidul, membuat kita bertanya tempat itu sebenernya ada gasih?

Dari tadi banyak membahas kebebasan, nah arti kebebasan menurut Arend sendiri itu apa?

Kebebasan itu bagi urang saat urang udah merasa cukup tanpa kekurangan atau batasan. Misalkan abis gawe edan, pulang ke rumah atau pas ketemu si Kur ngajak giting santai hahaha. Escapism sih, saat semua orang menuju satu jalur, urang bisa milih jalan yang lain. Misalkan Woodensun gaikut pasar brand-brand lain dan kita percaya bisa bikin pasar sendiri, itu bebas. Tidak konvensional itu bagi urang bebas sih, tapi tetep harus ada pengemasan agar diterima masyarakat.

Kebebasan sama kejujuran menurut maneh sama ga?

Kebebasan itu hakikat semua orang, kalo kejujuran personal banget sih. Orang yang bebas pasti jujur, tapi tergantung konteks bebasnya dimana. Saat ngeliat orang yang bebas pasti bedalah, misalkan sama temen-temen kita pengen bebas, gamau kerja konvensional karena pengen usaha sendiri, tapi siapa tau orang-orang yang kerja konvensional juga merasa bebas dengan aturan yang ada. Kalo kata temen urang si Aldi, ya kebebasan hal yang mutlaklah.

Tadi sempet bilang “Escapism”, apa kebebasan berarti kabur?

Ngga juga sih, sama aja kayak misalkan ada orang yang mikir kalo mereka gabisa cocok sama realita, terus ngapain dipaksa? Mungkin mereka aja yang ga cocok sama realita yang ada. Di lain sisi, ada juga orang yang maksa dan mikir harusnya mereka yang adaptasi dengan realita. Seperti film Captain Fantastic, mereka gacocok dengan realita di negaranya, akhirnya kabur ke hutan haha.

Rintangan apa yang dihadapi Woodensun sebagai brand fashion, market-nya mendukung ga?

Yang megang pasar tuh masih brand-brand yang lama, kalo brand yang baru mah ngos-ngosan, masih susah untuk bersaing dan belum ada regenerasi. Apalagi konsep kita yang tidak pernah ikut trend. Kita fokus sama kualitas produknya. Kalo market kita banyaknya dari lingkungan temen-temen sih, mereka pada supportif. Kita gapernah maksa mereka untuk beli tapi mereka sendiri yang mau beli, sering lagi belinya hahaha. Support antar sesama brand juga kuat banget, ga ada yang saling gengsi atau terlalu kompetitif.

Arend sendiri memandang fashion di Bandung itu seperti apa? Misal industrinya, fashion-nya, atau konsumennya?

Aduuh gimana ya… takut jadi ngomongin orang. Kalo menurut urang bandung emang keras sih, Bandung kota maker kan? Masyarakatnya kurang konsumptif, pasarnya jadi sedikit. Fashion di Bandung sendiri menurut urang latah, apa-apa harus ngikutin brand luar. Kedepannya kalo industri kreatif Bandung masih gini-gini aja, berkembangnya mau ke arah mana sih? Apa masih tetep ngikutin orang? Harus punya identitaslah, jangan latah pengen kayak luar negeri banget atau Jakarta banget. Ga sedikit Brand-brand Bandung yang mirip. Jangan gengsilah untuk punya identitas sendiri dan bangga mengakui kalo kalian brand Bandung, harus punya local pride.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *