LOADING

Type to search

Kecil Bukan Masalah Asal Memuaskan

COLUMN

Kecil Bukan Masalah Asal Memuaskan

Adela 20/11/2017
Share

Kalau mau ditilik, kata sifat memiliki konteks yang beragam. Pengertiannya boleh merata antara satu subyek dengan subyek lain, tetapi maknanya bisa berubah apabila dihadapkan dengan kondisi saat itu. Seperti contoh, ambillah kata kecil. Saya tergelitik dengan kata sifat ini karena dirinya mengandung banyak konotasi . Misalnya, makna “kecil” bisa menjadi bermanfaat apabila dihadapkan dengan harapan (contoh: kemungkinan untuk sel kanker untuk ganas kembali sangat kecil) namun akan menjadi bumerang bila kalimat tersebut bernada kekecewaan (contoh: “nilai ulangan Matematika kamu kok kecil terus sih…”), dan masih banyak lagi.

Bayangkan skenario ini: “Kaki kamu kok kecil ya, nak?” tanya seorang ayah pada anak perempuannya. Seketika si anak merengut, tidak rela dibilang kecil karena dirinya sudah rajin minum susu. Rupanya perkataan sang ayah belum selesai. “Telapak kaki kecil lebih bagus, jadi gampang nyari sepatu. Gak perlu minta sepatu custom. Ribet!” Dijamin senyum anak tadi mengembang. Lagi-lagi sebuah perbedaan makna. Kata “kaki kecil” yang dipakai sang ayah tidak mengacu pada tinggi si anak, tetapi digunakan pada telapak kaki yang berukuran kecil.

Namun bagaimana si ayah benar-benar bermaksud ingin memberi tahu bahwa (tinggi) kakinya kecil? Tentu hal itu akan melukai hati si anak. Emosi yang kurang lebih sama akan dirasakan oleh lelaki, apabila ukuran penisnya diolok-olok karena kecil. Mungkin akan lebih bikin uring-uringan bila hal tersebut dikatakan oleh orang-orang yang tidak pernah melihat barang vitalnya.     `

Kala saya masih duduk di sekolah dasar, perfilman Indonesia sedang diramaikan dengan tema seksual, seperti film tentang sosok Mak Erot. Dasar otak saya yang masih lugu, pertanyaan mengenai figur perempuan tua itu sontak keluar dari mulut saya.

“Pak, Bu, Mak Erot itu siapa sih?” Seperti biasa bapak saya langsung berkelit, hanya ibu saya yang tenang menghadapi pemikiran. Jawabannya sungguh ringkas, tetapi sukses membungkan kemungkinan saya untuk bertanya kembali.

“Pokoknya Mak Erot itu dikenal telah berjasa bagi para lelaki. A wise woman, memperbaiki hajat hidup banyak orang.” ‘Wise woman!’—apanya yang wise? Kalau saya bisa mengerti perkataannya,  sudah tentu pernyataan tersebut akan saya pertanyakan; namun beliau sudah keburu menyuruh saya diam.

Seiring dengan bertambahnya, saya baru mengerti mengapa sosok Mak Erot begitu dielu-elukan bagi sebagian kaum adam. Terkadang lelaki dihampiri rasa insecurity terhadap ukuran penisnya, sama seperti dengan perempuan yang merasa tidak nyaman bila payudara dan bokongnya rata. Bukan apa-apa, pasalnya berhubungan dengan eksistensi penggunaan fungsi reproduksi dari masing-masing jenis kelamin. Tak jarang hal ini memiliki keterkaitan dengan sex appeal tersendiri.

Dan “Teenage Dream”, Katy Perry merilis sebuah lagu yang berhubungan dengan manhood appreciation bertajuk “Peacock”. Agaknya lagu itu menjadi tonggak awal dari kesadaran saya terhadap

Are you brave enough to let me see your peacock?

Don’t be a chicken boy, stop acting like a bi-otch

I’mma peace out if you don’t give me the payoff

(Come on baby, let me see what you hidin’ underneath)

Are you brave enough to let me see your peacock?

What you’re waiting for, it’s time for you to show it off

Don’t be a shy kinda guy I’ll bet it’s beautiful

(Come on baby, let me see what you hidin’ underneath)

Namun, bagaimana bila saya mengatakan bahwa ketakutan Anda sama sekali tidak rasional?

Apakah ini murni pemikiran saya sendiri? Tentu tidak. Saya bertanya pada tujuh responden untuk dimintai keterangannya secara sukarela perihal urusan maha personal milik lelaki ini. Sekitar enam dari tujuh menyatakan tidak keberatan dengan ukuran penis pasangannya dan tidak menjadikan hal itu sebagai pokok masalah dari hubungan mereka. Terdengar hypocrite? Tentu saja ya. Beberapa dari mereka mengaku akan menyiratkan sedikit kekecewaan bila ternyata ukurannya “tidak sesuai ekspektasi”. Bila sang perempuan sudah kadung kecewa tanpa lebih membuka diri, bisa-bisa mengganggu. Lagipula, kita ini siapa toh, menuntut yang muluk-muluk. Bukankah kesempurnaan semata-mata hanya pada Bunda Dorce?

Responden tersebut juga berpesan melalui saya, jangan kecil hati apabila barang Anda kecil. Yang terpenting adalah bagaimana Anda bisa menggunakannya dengan baik. Kepuasan tidak berkisar dipersoalan ukuran penis semata, tetapi bagaimana usaha masing-masing pihak dalam mencapai orgasme yang memuaskan.

Intinya, wejangan singkat ini mencoba untuk membesarkan hati Anda. Tidak perlu risau akan anugerah yang Anda anggap kurang “memadai”. Belajarlah untuk lebih mensyukuri apa yang  telah diberikan, suatu hal yang masih kurang diapresiasi oleh manusia. Wujudkanlah rasa gratitude Anda melalui komitmen untuk memaksimalkannya dengan baik. Yang terpenting adalah keinginan dan performa Anda dalam memuaskan pasangan. Hingga waktu yang tepat menyambut Anda dan pasangan dengan suka cita, kelak Anda akan mengerti.

 

Ilustrasi oleh Marco Hanif Samudro

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *